Lestarikan Playmaker

courtesy of www.worldsoccertalk.com
courtesy of http://www.worldsoccertalk.com

Dalam 2-3 bulan terakhir, para penikmat sepakbola Indonesia disuguhi dengan pertandingan – pertandingan kesebelasan nasional Indonesia dari berbagai level. Bulan Agustus timnas senior bertanding dengan Filipina, timnas u-23 menguji Brunei, timnas U-16 masuk final AFF Cup U-16, dan saat ini kita sedang melihat perjuangan timnas U-19 dalam AFF Cup U-19. Sedangkan nanti malam, timnas U-23 akan melakoni debut di Islamic Solidarity Games melawan Maroko.

Ada beberapa persamaan yang bisa dilihat dari penampilan timnas berbagai level ini. Indonesia kini banyak mempunyai stok pemain bertipe penyerang sayap. Titus Bonai, Andik Vermansyah, Ian Kabes, Boaz Solossa, Ferdinand Sinaga, Maldini dan beberapa pemain lainnya adalah pelari cepat, pendobrak kedua flank pertahanan lawan. Sehingga baik di timnas senior, U-23 dan U-19, orientasi permainan lebih menekankan kepada permainan sayap. Gaya klasik,menyisir sayap pertahanan lawan dan mengirim umpan ke kotak penalti.

Persamaan lainnya adalah minim playmaker. Jika U-19 mempunyai the rising star Evan Dimas, sementara di timnas senior dan U-23, justru kesulitan mencari pemain pengatur ritme permainan ini. Sementara timnas asuhan Indra Sjafri sedang menikmati satu servis dari Evan Dimas,bagaimana seandainya ia harus absen? Bebannya cukup berat, karena bukan saja sebagai “penata permainan” tapi juga sebagai sumber gol, karena pola permainan timnas U-19 tanpa seorang targetman.

Timnas senior yang paling membutuhkan kehadiran seorang playmaker. Stok gelandang yang ada saat ini seperti Ahmad Bustomi, Taufiq, Immanuel Wanggai, aslinya adalah gelandang bertahan. Wanggai dan Bustomi belakangan diberi beban lain yaitu selain menjaga kedalaman pertahanan juga sebagai titik awal penyusunan serangan.

Banyak yang menyarankan agar Firman Utina dipanggil kembali oleh timnas senior karena minimnya pemain bertipe playmaker. Namun patut diingat pula, Firman sejatinya adalah seorang gelandang yang lebih bertipe ofensif. Dia tidak terlalu fasih mengatur permainan. Sementara Egi Melgiansyah yang gemilang pada Sea Games 2011 juga merupakan gelandang bertahan meskipun dia mempunyai kemampuan mengatur permainan, tetapi fungsinya lebih kepada merebut bola.

Kini pemain bertipe playmaker di Indonesia cukup langka. Eka Ramdani yang sempat akrab sebagai playmaker di Persib,justru saat ini lebih sering menghabiskan waktu istirahat karena cedera. Kondisi saat ini, di negara kita cukup langka pemain bertipe playmaker.

Dalam satu wawancara Rahmad Darmawan, pelatih Arema dan timnas u-23, menyebutkan bahwa sistem permainan yang jamak di Indonesia saat ini tidak membutuhkan peran playmaker. Pelatih yang juga anggota Marinir ini menyebutkan bahwa Indonesia butuh pemain yang kemampuan seperti Ahmad Bustomi dan Firman Utina. Bustomi memiliki passing bagus sedangkan Firman bagus pada agresivitas. Sulit mencari dua karakter ini pada satu pemain.

Mengingatkan saya pada satu artikel yang menyebutkan bahwa tipe pemain seperti Paul Scholes, Xavi Hernandez dan Andrea Pirlo adalah spesies yang hampir punah. Senada seperti yang dikatakan Rahmad Darmawan, pola permainan saat ini yang lebih mengakomodir pada kecepatan dan pada gelandang -gelandang yang mempunyai mobilitas tinggi.

Tetapi seorang pemain berjiwa playmaker tetap dibutuhkan. Pemain tengah yang mempunyai kreatifitas,mengatur ritme permainan tetap harus eksis dalam permainan. Secara mudah kita bisa melihat bagaimana permainan timnas U-23 saat melawan Brunei. Ibarat mobil mereka terus ngebut,menyerang dari sayap, mengajak bek sayap lawan terus berlari,tetapi tidak efektif. Ketika melawan Brunei, lawan mampu menjaga pertahanan dengan baik, meskipun punggawa – punggawa muda Indonesia terus mencecar kedua bek sayap mereka. Jika lawan mempunyai kemampuan melakukan counter attack yang cepat dan mematikan, maka habislah Indonesia.

Selalu menekan pedal gas 100 km/jam tentunya membutuhkan fisik yang prima. Apakah kita mampu bertarung dengan kecepatan seperti itu, konstan selama 90 menit?. Beruntung Brunei lebih sibuk menjaga pertahanan. Meskipun begitu sesekali serangan balik mereka membuat gawang Indonesia dalam status bahaya.

Pemain berjiwa Playmaker tetap merupakan sosok yang vital sekalipun permainan lebih ditumpukan kepada para pemain sayap. Seorang playmaker akan bisa mengatur kapan mesti kencang, kapan mesti lambat, apakah harus terus menumpukan serangan pada sektor sayap?. Dengan adanya playmaker, tentunya sisi kreatifitas permainan akan lebih luas.

Kedepan, Indonesia perlu melestarikan pemain – pemain bertipe playmaker ini. Meskipun sekali lagi,saat ini penyerang sayap lebih mendominasi tetapi butuh seseorang yang mengatur mereka,karena para pemain penggedor sayap ini seringkali lupa diri dan memaksakan diri untuk unjuk kemampuan.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s