Malam Yang Indah

Evan Dimas mengambil ancang – ancang. Dihadapannya kiper Vietnam yang sepanjang 120 menit mampu membendung peluang pemain Indonesia,bersiap untuk kembali menggagalkan tendangan kapten Indonesia ini. Evan Dimas berlari, bola diarahkan ke kanan kiper, Van truong bereaksi cepat. Bola ditepis keluar.

Antiklimaks!!. Dalam dua pengalaman menonton perjuangan Indonesia di final sepakbola yang berujung pada adu penalti, takdir pasukan Garuda tak pernah baik. Sea Games 1997 Jakarta, playmaker muda asal Persebaya yang menjadi rising star, Uston Nawawi, gagal menundukkan kiper Thailand dalam final sepakbola Sea Games.

Selepas Evan Dimas,nampaknya nasib buruk akan segera jatuh pada tim asuhan Indra Sjafri, karena Zulfandi kembali gagal menundukkan Van Truong. Sementara Ravi Murdianto tak mampu membendung sepakan 12 pas para pemain Vietnam.

Kutukan gagal menjadi kampiun antar negara Asean semakin menguat dibenak saya. Sea Games 1997, setelah Uston Nawawi gagal menceploskan bola, Aples Gideon Tecuari pun menemui kegagalan. Sea Games 2011 giliran Ferdinand Sinaga dan Gunawan Dwi Cahyo yang gagal.

Belum berselang bulan, timnas U-16 pun gagal dalam adu penalti di final AFF U-16 melawan Malaysia. Meski sesungguhnya mereka tinggal menahan Malaysia beberapa menit lagi saja untuk menjadi juara melalui pertarungan dalam waktu normal. Tapi inilah sepakbola yang selalu menghadirkan ketidakpastian. Batas antara tangis kebahagiaan dan kesedihan sangatlah tipis.

2-1 Vietnam memimpin. Kapten Vietnam, Nguyen Tuan Anh, melangkah ke kotak penalti. Jika ini berhasil, maka harapan Indonesia menjadi juara kali pertama diajang ini musnah seketika. Namun Tuhan rupanya menjawab kesabaran para pendukung Indonesia yang sudah sangat rindu melihat Garuda mengepak sayap terbang tinggi. Melambung. Ya kapten Vietnam menemui kegagalan layaknya kapten Indonesia.

Ketegangan semakin terasa. Indonesia butuh gol untuk menyeimbangkan kedudukan. Takdir nampaknya akan berbaik pada kita sekarang. Dimas Drajat mampu merobek gawang Vietnam. Skor imbang. Kedua penendang kelima dari dua tim bersiap. Vietnam kembali unggul setelah Ravi Murdianto gagal menepis bola.

Giliran penendang Indonesia selanjutnya. I Putu Gede. Bek Indonesia ini terlihat ragu.Setidaknya itu yang tertangkap mata saya. Sempat maju kemudian mundur kembali ke barisan pemain Indonesia yang berdiri digaris tengah lapangan, ia kembali melangkah namun berhenti. Ia benarkan dahulu letak shin guard. Dalam beberapa penalti yang pernah saya lihat, gestur seorang penendang sangat menentukan keberhasilan tendangan penalti. Jujur saja, gestur I Putu Gede memompa irama jantung lebih kencang. Gol!!!!. Indonesia menyamakan kedudukan. Takdir menjadi juara didepan mata meski adu penalti kini memasuki sudden death.

Kegagalan kapten Vietnam nampaknya memang menjadi titik balik ketangguhan Vietnam. Mereka yang seharusnya sudah menikmati keunggulan dipaksa kembali menahan napas, kembali berjuang. Padahal mereka seharusnya sudah mengakhiri ini dan mengangkat trofi juara.

Namun istilah bola itu bundar,menggelinding kemana disuka memang terbukti. Selepas kegagalan Nguyen Tuan Anh, Indonesia kembali diatas angin. Masing – masing tiga pemain dari Indonesia dan Vietnam berhasil melaksanakan tugas dengan baik.

Pham Duc Huy melangkah menuju bola dititik 12 pas. Bola ditendang keras. Arahnya cenderung lurus meski diarahkan ke kiri Ravi Murdianto. Kiper asal klub Perserang Serang yang dalam adu penalti ini selalu mengambil gerakan mendahului bola, kali ini bergerak searah. Bola ditepis kembali ke arah Pham Duc Huy. Kami berteriak, karena ini kesempatan emas Indonesia untuk mengakhiri drama yang penuh dengan ketegangan. Air mata kami sudah siap membludak, dan semoga saja hanya untuk kebahagiaan.

Digaris tengah lapang, Ilham Udin menerima pelukan kawan – kawannya, memberikan restu agar ia bisa membuat gol dan membuat Indonesia berjaya. Ilham Udin Armaiyn, pemain yang harus menempuh waktu selama 8 jam untuk berlatih sepakbola, ditumpukan kepadanya harapan semua pendukung sepakbola Indonesia. Si kidal yang selama 120 menit menghadirkan teror disisi kanan pertahanan Vietnam adalah penentu bagi Indonesia saat ini.

Bola dihadapinya. Ancang – ancang ia ambil. Seketika semua seakan berhenti, menunggu apakah ini penuntas dahaga kami??. Jebreettttt, bola ditendang ke arah kiri, sedikit saja melayang diatas permukaan tanah, kiper bergerak ke arah yang benar, menjatuhkan diri membentangkan tangan, bola membentur tiang dalam dan gooooooooooollllllllllll. Indonesia Juara, Indonesia Juara, Allahuakbar.

Tangis yang sudah diujung pelupuk mata, kini mengalir untuk sebuah kebahagiaan. Dahaga tertuntaskan, Indonesia mengangkat trofi,ya kami Juara. Layar TV mempertontonkan Indra Sjafri yang mengepal – ngepal tangan, para pemain Indonesia berpelukan larut dalam kebahagiaan.

Malam itu, meski saya tak melihat pengalungan medali, penyerahan piala dan victory lap, namun semuanya sudah cukup. Cukup membuat saya bahagia,bahkan sangat bahagia. Sembari duduk diteras,mendengarkan respon – respon pemerhati diradio, yang semuanya berbahagia, mengingatkan tulisan yang saya buat sebelum AFFU U-19 digelar dengan judul “are we being cursed?” karena kegagalan -kegagalan akrab bagi Indonesia dikompetisi AFF. Kini kutukan itu telah terangkat dan semoga untuk selamanya.

Ada satu dalam hati berbisik ” kesampaian juga akhirnya,saya bisa melihat Indonesia juara”. Alhamdulillah. Terimakasih Evan Dimas dkk.

video highlight: courtesy of youtube

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s