Gado2 Senin Pagi

Senin pagi diakhir bulan September. Esok, 1 Oktober 2013 adalah peringatan hari kesaktian Pancasila. Hari yang mungkin oleh generasi saat ini tidak terlalu diingat padahal tanggal 30 September – 1 Oktober 1965 adalah salah satu hari terpenting dalam perjalanan bangsa ini dengan kejadian pemberontakan G 30 S PKI.

Hari ini, 30 September 2013, bagi generasi 90an sebelum tahun 1998 akan “diperingati” dengan pemutaran film pemberontakan PKI yang disutradarai oleh Arifin C Noer. Film yang belum pernah saya tonton sampai habis ini biasa diputarkan oleh TVRI sebagai bagian dari peringatan hari Kesaktian Pancasila. Adegan yang paling saya ingat adalah ketika 7 jendral TNI AD didatangi rumahnya satu persatu oleh pasukan Cakrabirawa yang sudah didompleng oleh paham komunis. Tegang menegangkan bagi saya yang saat itu masih duduk di bangku SD.

Saat ini sebagian orang akan menganggap film ini sebagai propaganda. Sebagian lagi mengatakan bahwa inilah momen yang dimanfaatkan Mayjen.Soeharto untuk naik ke kursi Presiden, didukung teori lain yang mendapatkan “akses” setelah era reformasi 1998 mengatakan bahwa ini adalah semacam kudeta terencana untuk menggulingkan Presiden Soekarno. Bahkan ada juga yang bilang bahwa Central Intellegence Agency ( CIA ) juga mempunyai peran dalam pemberontakan yang menimbulkan efek ketidakstabilan kehidupan negara saat itu. Wajar saja jika dikaitkan dengan CIA, karena Amerika sedang gencar-gencarnya berkampanye melawan Komunis.

Meski banyak yang berteori bahwa ini adalah sebuah drama politik namun bagi saya tetap percaya bahwa apapun yang terjadi dibalik semua kisah itu, beruntung pemberontakan itu bisa diredam walaupun menimbulkan efek menyakitkan pada orang – orang ,bahkan sampai keturunan mereka, yang diindikasi terlibat partai itu.

Karena jika itu menang maka rasanya tidak akan ada demokrasi dinegara ini. Berhasil diredam pun lalu demokrasi masih dijalankan, ketimpangan – ketimpangan banyak terjadi seperti yang kita lihat sekarang.

Ah tapi sudahlah, mungkin sebagai generasi yang lahir jauh setelah kudeta berdarah itu, kita hanya cukup tahu dan cukup sadar tentang apa dan bagaimana jika ada satu kudeta yang saat ini lebih sering kita lihat terjadi dinegara – negara lain.


Runner Up (Kembali)

Menyoal kesaktian, bagi timnas U-23 keampuhan mereka lenyap diberondong pasukan Maroko U-20 tadi malam di Stadion Gelora Sriwijaya Palembang. Sebuah perjalanan antiklimaks bagi Kurnia Meiga dkk walaupun tadi malam stadion dipenuhi pendukung Indonesia tidak seperti dalam pertandingan babak grup dan semifinal.

Jika ada yang bisa dikomentari adalah pemilihan pemain dari Rahmad Darmawan sendiri. Pemilihan pemain penggedor pertahanan lawan dengan pemain – pemain bertipe cepat seperti Sunarto, Andik Vermansyah dan Bayu Gatra tidak berhasil karena lini tengah gagal dikuasai.

Bahkan Bayu Gatra terlihat kikuk ditempatkan disayap kiri, beberapa kali salah passing memutuskan alur serangan Indonesia. Tidak terlihat pula kerjasama yang apik antara Andik dan Sunarto. Dedi Kusnandar gagal mengamankan area tengah bersama Rasyid Bakrie. Pertahanan layak diacungi jempol karena mampu bertahan dengan baik walau akhirnya kalah setelah memimpin terlebih dahulu dibabak pertama.

Analisis sederhana adalah Rahmad Darmawan telat bereaksi ketika Maroko terus menerus menggempur pertahanan Indonesia. Tak ada perubahan taktik untuk merebut penguasaan bola dari Maroko. Bahkan Bayu Gatra yang semalam tidak berada pada peak performance masih juga dipertahankan sampai pertandingan usai meski sering kali bola lepas dari penguasaannya.

Saya lebih condong melihat kenapa Syamsir Alam tidak dimainkan mengganti Sunarto. Betul memang ia belum mencetak satu gol pun di Islamic Solidarity Games plus minim peluang selama dua pertandingan. Namun pada pertandingan terakhir melawan Turki, Syamsir Alam yang bermain full 120 menit, mampu berkali – kali memenangkan duel dengan pemain lawan untuk kemudian menyalurkan bola kepada rekan – rekannya. Jika dilihat fungsinya sebagai pemantul bola, maka ia bisa dibilang bagus.

Agung Suprianto memang punya kecepatan tetapi sering pula gagal mendistribusikan bola dengan baik. Melihat skema permainan bola diumpan ke striker, lantas striker mengumpan kembali ke penyerang sayap. Bahkan jika diperhatikan komposisi pemain dalam final semalam lebih menyerupai ketika mengalami kekalahan atas Palestina.

Mungkin bagi Rahmad Darmawan lebih memprioritaskan rotasi pemain untuk memberikan kesempatan kepada para pemain lain berlaga. Memang inilah sebuah seleksi tetapi kekalahan tetaplah menyakitkan, euforia timnas U-19 saat menjuarai AFF Cup akhirnya terputus.

Ehm saya membayangkan jika malam tadi menang, mungkin pagi ini lebih indah. Anyway terimakasih untuk timnas U-23,perjalanan kalian masih panjang.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s