Menjaga Momentum

“Mental timnas senior sudah sulit untuk ditingkatkan”. Itulah kurang lebih kicauan saya semalam ketika babak I Pra Piala Asia Indonesia melawan Cina memasuki menit 40 dan gawang I Made Wirawan sudah kecolongan 1 gol. Permainan lambat, minim pressure (seperti biasa), jarak yang sangat renggang antara pemain tengah dan pemain depan, plus lebih menunggu lawan diareal kotak penalti adalah ciri tetap atau juga karakter yang biasa dilakukan timnas senior saat bertemu lawan yang mereka anggap lebih “besar”.

courtesy of www.tempo.co
courtesy of http://www.tempo.co

Menilai sesuatu dengan satu anggapan itulah yang selama ini sangat berpengaruh pada performa timnas senior. Menilai sesuatu punya pengaruh kepada psikologis. Sesuatu akan kita takuti jika kita nilai menyeramkan, sesuatu akan berani kita hadapi jika kita pandang sesuatu itu dapat terkalahkan.

Memang rasanya tidak fair jika membandingkan kemampuan Korea Selatan U-19 dengan timnas Senior Cina. Kemampuan lebih baik tentunya dimiliki oleh para punggawa negeri tirai bambu. Hanya jika membandingkan bahwa dua negara ini adalah para pemain utama dipersepakbolaan Asia, maka ini akan fair. Dua nama besar di Asia, dua negara dengan sepakbola yang maju dikawasan Asia.

Kepercayaan diri timnas senior biasanya langsung rontok sedikit demi sedikit jika bertanding dengan nama -nama besar Asia. Mereka akan menerapkan permainan bertahan total dengan serangan balik yang kebanyakan berbuah sia – sia. Mereka akan memenuhi areal pertahanan sendiri, dua gelandang bertahan tidak akan berani keluar melewati garis tengah lapangan khawatir akan serangan balik mematikan dari lawan. Pun bola tidak akan lama – lama betah dikaki para pemain timnas, karena begitu bola mendarat dikaki mereka serta merta langsung diumpankan seringnya tanpa melihat dimana kawan dimana lawan yang penting bola menjauh dari pertahanan.

Kepercayaan diri yang luntur ini masih terlihat semalam sehingga saya berkicau seperti itu. Diluar “santainya” PSSI menghadapi Pra Piala Asia, timnas senior seakan disiapkan seadanya, masih beruntung 1 poin bisa diraih. Masih beruntung, dua kata yang selama ini menjadi awal dari sebuah alasan seakan kita tak perlu bersedih karena masih beruntung imbang, kita tak perlu kecewa karena masih beruntung kita kalah dengan selisih gol sedikit.

Hasil 1 poin semalam tidaklah beruntung. Indonesia masih menjadi juru kunci Grup C hasil 2 kali kalah 1 imbang. 2 pertandingan away ke Arab Saudi dan Cina harus bisa dimenangkan, serta Irak mesti dibabat di SUGBK jika PSSI punya impian untuk tampil di Piala Asia 2015. Jika punya mimpi.

Mimpi dan kepercayaan diri adalah sebuah jarak yang lebar antara timnas U-19 dan timnas senior. Timnas U-19 masih berbalut kepercayaan diri yang tinggi, siapapun lawannya bisa dikalahkan, siapapun lawannya mampu diimbangi.Plus anak – anak muda itu dibakar mimpi untuk berbuat yang terbaik bagi negara.

Inilah yang mesti dijaga dari Evan Dimas dkk. Menjaga agar mereka tetap berani bermimpi, menjaga mereka agar tetap percaya diri tanpa berlebihan. Menunggu mereka mekar (menjadi punggawa timnnas senior) butuh waktu sekitar 3 – 4 tahun lagi itupun dengan catatan mereka dibina dalam sistem yang baik dan ketat. Sistem yang lebih baik dari apa yang dipunyai PSSI sekarang.

Kompetisi yang dipunyai PSSI sekarang jauh dari ideal. Lihat saja LSI U-21 dimana setiap klub masuk dalam satu grup bertanding maksimal 8 kali semusim pada fase grup, jika lolos jumlah pertandingan akan bertambah tetapi tetap saja kurang dari 20 kali. Jika mereka ditempatkan disitu, maka kaki – kaki para punggawa timnas U-19 akan lebih banyak beristirahat, lebih banyak berlatih daripada bertanding.

Pagi ini dikoran, ramai diberitakan Erick Thohir yang saat ini resmi menjadi pemilik baru Inter Milan setelah membeli 70 % saham klub Italia tersebut. Erick juga masih punya satu klub lain di Major League Soccer yaitu DC United, pun didalam negeri ia termasuk sebagai pemegang saham Persib Bandung.

Momen ini bisa dimanfaatkan dalam usaha untuk menjaga para punggawa timnas U-19 tidak layu. Kenapa tidak PSSI menitipkan para pemain muda itu di Inter Milan ataupun DC United,setidaknya walau hanya berlatih bersama tetapi mereka berada di iklim sepakbola yang sehat. Masih ada klub lain di Australia yang dimiliki oleh pengusaha dalam negeri yaitu Brisbane Roar. Berada pada iklim sepakbola yang sehat sangat dibutuhkan oleh para pemain muda tersebut.Jangan dibiarkan mereka tumbuh pada iklim yang sudah banyak terkontaminasi, meskipun mekar tentunya tak akan sempurna.

Menjaga momentum adalah satu bagian yang sulit. Awalnya ketika timnas U-19 menang di AFF Cup, saya bermimpi timnas U-23 bisa menang di Islamic Solidarity Games, karena jika itu terjadi, momentum baik tersebut akan terjaga dan terus punya pengaruh.

Pertanyaannya apakah PSSI akan memanfaatkan momentum baik ini untuk berbenah diri atau tidak? Karena ini semua akan kembali kepada PSSI sebagai pengurus sepakbola Indonesia,atau cukup bahagia dengan pemasukan tiket saja? Jika tidak ada usaha sama sekali, nampaknya Indra Sjafri harus menjadi single fighter yang benar – benar tangguh.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s