Creating Monster

Timnas U-23 yang dipersiapkan untuk Sea Games 2013 masih belum menunjukkan performa menjanjikan. Jika urusannya dalam hal mempressure lawan maka memang sudah bisa dibilang memberikan harapan.Tetapi penguasaan bola lewat sayap – sayap cepat ternyata belum menghasilkan jumlah gol yang sepadan.

Pada gelaran Islamic Solidarity Games (ISG) 2013, Indonesia hanya mencetak 3 gol dalam 4 pertandingan. Satu gol dari seorang penyerang melalui permainan terbuka. Satu gol dari penyerang melalui penalti saat melawan Palestina. Satu gol penalti dari seorang pemain bertahan pada pertandingan final. Ujicoba sebelum pertandingan melawan Timor Leste melawan PSS Sleman memang membuahkan gol dari seorang penyerang, Ferry Pahabol tetapi dalam pertandingan selanjutnya Indonesia ditekuk klub divisi I Persibat Batang dengan satu gol dilesakkan striker Persipura, Ricky Kayame.

timnas-isg-131001c

Total jika dihitung dari ISG maka Indonesia baru mencetak 5 gol. Skor – skor tipis sering dibukukan skuad asuhan Rahmad Darmawan. Meskipun penguasaan bola persentasenya lebih banyak untuk timnas U-23 dalam beberapa pertandingan namun sering hanya mentah ketika bola sudah memasuki kotak penalti lawan.

Kebanyakan striker yang dipanggil oleh Rahmad Darmawan bertipikal penyerang yang gemar beroperasi dari sisi sayap. Menusuk dan melakukan gerakan memotong ke kotak penalti memanfaatkan kecepatan yang mereka punya. Andik Vermansyah, striker/gelandang, Ferry Pahabol, Fandi Eko Utomo, plus Sunarto bukanlah tipe – tipe penyerang yang menunggu dikotak penalti. Mereka lebih banyak bergerak keluar menjemput bola. Hal serupa juga bisa ditemukan di timnas senior dan timnas U-19. Hanya saja sejauh ini,baru timnas U-19 yang sukses dalam perihal mengonversi peluang menjadi gol.

Perkembangan permainan sepakbola sekarang memang lebih memberikan peluang untuk pemain – pemain yang bertipe non striker murni. Bahkan saat ini duet striker murni sangat jarang dipakai dalam permainan. Tuntutan untuk mengambil penguasaan bola membuat para pelatih lebih memilih para pemain striker yang juga bisa memainkan peran gelandang. Penggunaan formasi dengan menempatkan striker tunggal yang disokong gelandang – gelandang tajam lebih dipilih saat ini. Fakta ini membuat striker murni menjadi semakin kehilangan tempat, karena para pelatih lebih memilih untuk memenuhi formasi dengan para gelandang kreatif. Penggunaan seorang striker mempunyai fungsi lain yaitu sebagai pemecah perhatian bek lawan sehingga gelandang – gelandang ini bisa leluasa mendobrak kotak penalti lawan.

Rahmad Darmawan, Jacksen F Tiago dan Indra Sjafri mengikuti trend ini. Rahmad Darmawan di Arema mengisi lini depan dengan Greg Nwokolo, Kayamba Gumbs, Beto Goncalves para pemain yang bisa membuat peluang, mengawali serangan. Seorang Patrich Wanggai yang lebih ke striker murni tidak mendapatkan jam bermain yang sama saat membela Persidafon. Jakcsen F Tiago di Persipura memang lebih mengutamakan para forward. Sementara Ilham Udin, Maldini Pali, mengapit Hadining Syaifullah di timnas U-19.

Pada kompetisi Indonesia masalahnya lebih pelik lagi karena pos striker murni biasanya diserahkan kepada para pemain asing. Jangan dulu berbicara pemain muda, pemain – pemain senior pun sudah kesulitan mendapatkan kesempatan. Sebagai contoh Jajang Mulyana di Mitra Kukar pada putaran 2 harus merelakan tempat pada Ilija Spasojevic. Padahal diputaran I LSI 2012/2013 ia menunjukkan performa positif.

Menciptakan monster dikotak penalti akan menjadi pekerjaan rumah bagi para pelatih klub Indonesia. Setidaknya memberikan kesempatan kepada para striker murni lokal jam bermain yang cukup sehingga bisa menunjukkan kemampuan. Tiper striker murni layaknya Bambang Pamungkas bukan lagi pemain yang diutamakan dalam tim. Bahkan beberapa pengamat sepakbola menjadikan posisi striker murni sebagai satu species yang terancam kepunahan, dying breed. Namun layaknya roda yang berputar satu saat nanti posisi ini akan kembali menjadi primadona dan pastinya ketika trend kembali berubah semuanya harus bisa menyesuaikan. Artinya striker murni tetap harus ada.

sumber:
http://www.republika.co.id
http://www.soccerlens.com
http://www.bleacherreport.com

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s