Welcome Back Riedl

Seandainya PSSI bisa mengamankan Jacksen F Tiago sebagai pelatih timnas mungkin kemajuan akan terlihat. Setidaknya dari 2 laga melawan China di kualifikasi Piala Asia, Indonesia mampu menyuguhkan permainan yang membuat China cukup kerepotan. Hasil seri dan kalah tipis adalah bukti bahwa ada fondasi yang baru juga gaya bermain yang fresh dibawa oleh pelatih asal Brazil ini.

Seandainya Jacksen F Tiago masih ditimnas. Tanpa perlu berandai – andai kembali PSSI mengontrak kembali pelatih berkebangsaan Austria, Alfred Riedl. Memang banyak suporter mengharapkan ‘Opa’ Riedl kembali membesut timnas setelah ia digusur secara paksa ketika kubu Arifin Panigoro menguasai PSSI. Entah bagaimana kelanjutan tuntutan Riedl melalui FIFA untuk mengklaim sisa gaji ditunggak PSSI karena Djohar Arifin tidak mau melunasinya dengan alasan kontrak Riedl adalah personal bersama Nirwan Bakrie.

Alfred dan Jacksen punya karakter sama. Mereka sama – sama keras dalam hal prinsip bekerja. Jacksen berulang kali menegaskan bahwa dimasanya tidak ada istilah pemain titipan. Sementara Riedl pada masa persiapan AFF 2010 berseberangan dengan Andi Darussalam karena Riedl mengusir rekan Andi saat rapat tim karena yang bersangkutan tidak ada sangkut pautnya dengan persiapan tim. Belum lagi jika diingat Boaz Solossa dicoret Riedl karena tak kunjung datang ke pelatnas padahal Boaz adalah striker yang diperlukan.

Keduanya juga senang mengorbitkan para pemain baru ke timnas. Okto Maniani, Ahmad Bustomi adalah dua contoh pemain yang bersinar setelah gelaran AFF 2010. Zulham Zamrun, Ahmad Jufriyanto adalah diantara pemain yang muncul di era Jacksen F Tiago.

Hanya sekarang pertanyaannya apakah Riedl dapat kembali membawa euforia yang sama seperti pada Piala AFF 2010. Apa yang diberikan Riedl ketika itu, dirasakan para pendukung timnas, adalah sebuah optimisme dengan gaya bermain menyerang. Bagaimana Indonesia begitu tangguh difase grup AFF 2010 ketika mengandaskan dua lawan terkuat Malaysia dan Thailand. Meskipun diakhiri dengan sebuah ending antiklimaks ketika Indonesia kembali menjadi runner up setelah dihempaskan Malaysia. Bagi Riedl runner up 2010 melengkapi tiga gelar runner up sebelumnya yang dia raih bersama timnas Vietnam dalam Piala Tiger 1998, Sea Games 1999, 2003 dan 2005.

Euforia 2010 sangat terbantu dengan dua wajah asing ditubuh timnas. Bahkan optimisme ketika itu semakin meriah karena media televisi menangkap wajah ala artis pada diri Irfan Bachdim. Sedangkan Cristian Gonzales merupakan sosok “asing” pertama yang bermain di timnas Indonesia. Mengingat Irfan bukanlah seorang naturalisasi.

Saking luasnya media coverage pada waktu itu ada yang menganggap bahwa kekalahan timnas dipartai puncak karena para pemain terlalu dimanjakan dengan berbagai liputan. Tapi bagi saya perilaku PSSI sendiri yang membuat Indonesia kalah waktu itu. Sebelum Leg pertama partai final ada satu anjuran dari petinggi PSSI yaitu jika wajah Markus Horison ditembak laser oleh penonton maka Indonesia akan walk out. Itulah yang kemudian terjadi pada babak kedua. Memang tidak sampai walk out meski official tim sudah mengajak para pemain untuk meninggalkan lapangan. Apa dasarnya pertandingan terhenti hanya karena sebuah lampu laser? inilah logika yang tidak masuk akal dari para petinggi PSSI waktu itu. Ketika pertandingan kembali berjalan setelah terhenti beberapa menit, Indonesia kehilangan konsentrasi dan dibobol 3 gol.

PSSI menunjukkan sikap kurang percaya diri ketika itu sehingga merebaklah isu suap, entah benar atau tidak. Setegas – tegasnya pelatih akan kembali kepada para sikap petinggi PSSI. Sikap para petinggi inilah yang akan sangat bisa mempengaruhi mental bertanding para pemain. Pelajaran AFF 2010 layak dijadikan pengalaman berharga bagi PSSI. Itupun jika PSSI sekarang berpikir.

Alfred punya beban yang lebih berat saat ini. Begitu banyak masyarakat yang membela Riedl ketika ia “diusir” ketika itu. Sekarang ia kembali ketika timnas sudah menunjukkan sebuah fondasi yang kokoh dalam asuhan Jacksen F Tiago. Ekspektasi masyarakat menginginkan apa yang mereka rasa pada tahun 2010 dan bahkan kali ini menghasilkan sesuatu yang nyata yaitu gelar juara. Target juara Piala AFF tahun 2014 sudah disematkan kepada Riedl saat ia menerima kembali pinangan PSSI. Namun semuanya kembali ke PSSI apakah mereka pun bisa menunjukkan sikap juara atau sebaliknya.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s