Legenda Jalan Tol

Jam menunjukkan pukul 23.00 WIB. Beberapa pengemudi memilih mematikan mesin mobil karena tak kunjung bisa menggerakkan kendaraan akibat macet yang terlalu parah. Parah banget !!! bombastis….!! Minggu malam yang biasanya lancar jali sampai rumah ternyata harus terhalang akibat pembangunan jembatan yang diperparah penumpukan kendaraan buah ketidaksabaran beberapa pengemudi. Meski bersabar pun penumpukan pasti terjadi karena jalan disesaki kendaraan dari 2 arah berlawanan, sedangkan beberapa diantaranya merupakan truk – truk pengangkut barang yang memakan badan jalan.

Jalur Sukabumi – Jakarta telah bertahun – tahun disebut tidak lagi layak menyediakan akses yang cepat. Padat kendaraan dari dan menuju kedua kota, aktivitas kendaraan warga sekitar, aktivitas ekonomi warga sekitar, dan pabrik – pabrik yang berjejer terus menerus mengeluarkan kendaraan besar dan berat. Bombastis!!!.

Ada beberapa jalur alternatif memang yang bisa dilalui dengan memotong menuju pemukiman warga. Ataupun memotong jalan mengambil Cihideung Bogor bagi para pengemudi dari kedua kota. Hanya tidak semua memanfaatkan dengan berbagai alasan yang hanya mereka dan Tuhan yang Tahu. Mungkin salah satunya jika malam hari para pengemudi enggan mengambil jalan alternatif karena alur jalan yang mendaki gunung, lewati lembah, sungai mengalir indah ke samudra( Ost. Ninja Hattori ). Meskipun semuanya bisa dikatakan dalam kondisi beraspal dan mulus.

23.15 WIB laju kendaraan merayap dan berhenti lamaaaa sekali. Caringin dipadati kendaraan, menuju Lido pun rasanya jauh sekali. Walaupun jembatan yang sedang diperbaiki sudah terlewati tapi itu tidak berarti arus akan lancar, nyatanya harus kembali mengelus dada meskipun ini hanya istilah karena saya tak sekalipun ingin mengelus dada yang hampir meledak akibat kesal.

Kemacetan jalur Sukabumi – Jakarta via Ciawi merupakan suatu rutinitas harian yang telah mendarah daging menjadi satu tradisi. Tak pernah ada kata “lancar” jika bersangkutan dengan berkendara ke Ibukota. Kalaupun lancar itu pasti ada bumbu macet beberapa menit. Pun itu harus dilakukan malam hari. Begitu banyak titik kemacetan dijalur ini. Pihak yang berwenang memang berusaha untuk mengurai, tapi ini sudah benang kusut susah untuk dicari kedua ujungnya. Ya pabrik, Ya pasar, Ya kendaraan tambah banyak, Ya sudahlah.

Ada satu solusi yang memang ditawarkan dan diusahakan oleh pihak berwenang. Telah lama sekali ini terdengar sejak jaman sekolah SD. 20 tahun lalu, solusi ini telah terdengar dan kini telah menjadi folklore, cerita masyarakat, legenda. Legenda itu bernama “jalan tol Sukabumi – Jakarta”.

Saking melegendanya kisah ini, hampir semua orang terutama pendatang selalu bertanya kapan akan terwujud. Ketika kami para penduduk lokal ditanya seperti itu jawab kami hanya satu ” Kasih tau Ga Ya?!!!!”. Eh ini seriusan. “Mau tau aja ataaauuu mau tau banget??!!”. Seperti halnya banyak legenda, jalan tol ini menjadi sesuatu yang misterius. Katanya sebentar lagi, katanya sudah pembebasan lahan, katanya sudah digambar, katanya exit disini, katanya jalan masuknya disana, tapi ketika ditanya kapan? katanya sih udah mau, tunggu aja, ntar juga ada kok, sabar napa sih??!!.

Jalan tol ini sangat krusial, karena katanya merupakan jawaban absolut dari sumpah serapah setiap pengemudi kendaraan roda dua dan empat yang terjebak kemacetan dijalur Sukabumi – Jakarta. Masih katanya jika ini sudah terbangun dan beroperasi maka jarak tempuh ke Ibukota dan menuju kota Moci ya sekitar 2 jam lah, nawar dikit boleh.

Pastinya ahli sejarah, antropolog sedang menelusuri kebenaran legenda ini. Betulkah jalan tol ini akan terwujud dan menjadi oase ditengah dahaga? Sampai itu terwujud ya kita masih hidup dalam buaian, dalam mimpi yang tak berujung. Entah apa yang menyebabkan mimpi ini sulit sekali mencapai kenyataan.

Setiap mendengar kata “pembebasan lahan” senyum mengembang walau ga tahu apa dan kapan. Bisa jadi lahan dibebaskan dari tanaman merambat dan diganti tanaman produktif bagi ekonomi macam kentang, cabai, kangkung dan lainnya. Ya seperti orang bilang “sabar pangkal pandai”, maka untuk sementara pandai – pandailah menghemat bensin dengan mencari jalur alternatif. Setidaknya jalur Cipularang bisa digunakan yang berarti menuju arah kota Kembang, God Damn It!!!!!.

And the Legend Continues, saat pukul menunjukkan hampir pukul 00.00 dan kami masih diam dalam kemarahan. eventually it took 7 hours driving home pada jalur yang seharusnya bisa ditempuh dalam 3 jam perjalanan.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s