Running in the Rain

Sukabumi hujan. Gerimis masih cukup deras diluar sana membuat orang enggan untuk mulai beraktifitas. Meski akhirnya semua memilih untuk menerobos, tapi bagi para pengendara motor, rasa malas bertambah karena jemari tangan biasanya kaku kedinginan. Rasanya jika diperbolehkan saya sendiri ingin membakar api unggun disebelah meja kerja. Ya selain mencari suasana baru di kantor, karena kan katanya agar selalu fresh lingkungan kerja harus selalu memberikan sesuatu yang segar dan nyaman ditinggali, juga siapa tahu bisa sambil bakar ikan dikantor.

Hujan ini diperkirakan sampai dengan bulan Februari nanti. Mungkin puncaknya untuk tiap provinsi beda – beda. Ada yang sudah melewati puncak curah hujan ada yang masih menunggu padat merayap sampai puncak. Pastinya banjir sudah dimana – mana. Bahasanya pun sudah “terkepung” yang lebih memberi makna bahwa manusia sudah ga bisa ngapa – ngapain lagi, pasrah aja kalau air dateng.

Mungkin Water World-nya Kevin Costner satu hari bakal jadi kenyataan. Mungkin saja karena toh banyak yang prediksi akibat kenaikan suhu global, es mencair dan permukaan laut secara konstan terus naik. Belum lagi prediksi tentang perubahan cuaca. Kita sering mendengar istilah cuaca ekstrim untuk satu situasi dimana kita belum pernah mengalami atau cuaca menyebabkan bencana. Katanya nih, beberapa puluh tahun mendatang justru cuaca yang kita anggap ekstrim saat ini adalah cuaca keseharian.

Mungkin satu saat kita bakal hidup didalam satu kubah raksasa seperti dalam The Simpsons Movie. Ya walaupun difilm itu beda tujuan tapi sih intinya memproteksi orang – orang yang ada didalam kubah agar tidak terkontaminasi atau mengkontaminasi lingkungan sekitar. Bagaimana rasanya hidup didalam kubah? bagi anak – anak yang lahir sudah didalam kubah bisa jadi tidak terlalu penasaran dengan pengalaman hidup diluar kubah. Tapi bagi orang – orang tua atau senior citizen bisa jadi ingin keluar dari kubah. Bisa saja nanti ada pilihan tetap tinggal didalam atau silahkan ambil resiko sendiri.

illustration-courtesy of www.prisonplanet.com
illustration-courtesy of http://www.prisonplanet.com

Home sweet home they say. Seenak – enaknya tinggal didalam kubah, sejatinya memang kita harus terus berinteraksi dengan alam. Karena kita ini membentuk sinergi dengan alam sekitar. Alam butuh manusia dan manusia butuh alam. Sepertinya nanti akan terbagi dua, masyarakat kubah dan masyarakat non – kubah. Masyarakat yang hidup dengan teknologi vs masyarakat yang hidup apa adanya. Saya jadi ingat film Bruce Willis “Surrogates” ketika manusia sudah memilih untuk tinggal dirumah dan punya robot yang mirip untuk keluar rumah, kerja, sekolah, berinteraksi. Mereka menggunakan robot ini dengan alasan kondisi alam yang sudah berbahaya dan manusia rentan terkontaminasi penyakit. Hanya saja justru pencipta robot ini menjadi pemimpin orang – orang yang tidak mau “diwakili” robot. Yap begitulah karena sejatinya walau teknologi membantu kita tapi kita tidak boleh kehilangan interaksi dengan alam dan manusia lain.

Kalau suatu hari kota ini ditutup kubah karena cuaca ekstrim, bisa jadi saya akan kabur saja. Lebih baik hidup mengambil resiko daripada aman tapi hampa bagai burung dalam sangkar emas. Emas sih tapi ga bebas, ga bisa ngejual emasnya ke toko mas atau ke pegadaian. Meski saat ini celana basah, saya nunggu sampe kering. Walau kedinginan jemari kaku (makanya ngetik aja biar panas) tapi tidak akan ada duanya ketika merasakan hujan sambil memacu kendaraan. Pengalaman yang kadang – kadang sengaja saya cari diluar akibatnya bisa terkena flu. Tapi jujur aja, kadang – kadang saya nerobos hujan bukan karena urgent tetapi karena ingin.

Rasanya tiada duanya. Mungkin kalo anda pengen nyoba sesekali, silahkan. Syaratnya lepaskan semua beban pikiran takut sakit ini itu setelah hujan – hujanan. Lepaskan dulu semua beban pekerjaan ataupun beban lainnya. Berlarilah masuk ke derasnya hujan, ga usah nari – nari kaya Indihe, cukup berlari ke tempat tujuan dan apapun yang terjadi sesudahnya ya biarkan terjadi. Mau sambil nangis juga boleh, kalau memang ingin mensamarkan airmata dengan air hujan, walau keliatan sih hujan – hujanan ko matanya sembab. Mungkin ketika hujan – hujanan bisa kembali membangkitkan memori lama anda yang sudah lama tidak dirasakan atau setidaknya merasakan guyuran air hujan yang dingin tapi punya sensasi tersendiri.

Selamat berhujan ria.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

One thought on “Running in the Rain”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s