Fish diary

2 minggu terakhir, saya mencoba menyelami kembali hobi lama yang sempat terhenti beberapa tahun yaitu memelihara ikan. Meski ga terlalu intens atau bener – bener penggila ikan, tapi saya menikmati keberadaan ikan disekitar saya ( kalimat yang belum jelas apa maknanya bahkan saya sendiri ga tahu bagaimana kalimat ini tiba – tiba muncul). Hanya memang melihat ikan – ikan berenang sedikit membantu menenangkan pikiran, menemukan kembali keseimbangan dalam kehidupan ( kalimat lain yang blur maknanya ).

Dua jenis ikan yang saya beli adalah sepat rawa (Trichogaster trichopterus) dan ikan mirip koki tapi cilik berwarna hitam. Saya beli satu bungkus 5000 perak aja. Sepat rawa dijual dua ekor dalam satu bungkus, sedangkan ikan hitam itu dijual tiga ekor dalam satu kantong plastik. Untuk pemesanan silahkan lihat nomor dibawah ini. Awalnya ini hanya sebagai sebuah hiburan sambil mengenalkan si kecil kepada dunia binatang sehingga tidak infrastruktur utama maupun penunjang ( teu pira rek nyebut aquarium )yang saya sediakan hanya toples saja. Bahkan untuk oksigen saya hanya sediakan tanaman yang biasa terapung dalam air saja.

Ikan Sepat
Ikan Sepat

Ternyata si kecil hanya cuek saja menanggapi piaraan perdananya. Mau tak mau, karena saya orang sensitip, ga tegaan, akhirnya saya rawat mereka dengan penuh kasih sayang. Belilah mesin penghembus udara meski tanpa filter, toh masih dalam toples kecil saja. Beli pula tubifex worm (cacing kering kotak) karena makanan ikan biasa yang bulat warna pink, merah atau juga hijau seringkali diabaikan ikan. Bukan hanya saat ini, tapi beberapa tahun yang lalu pun ikan – ikan tidak terlalu semangat jika diberi makanan ini. Lebih baik cacing kering, cacing beku, cacing hidup, dan cacing – cacingan ( cabe – cabean ver.cacing ).

Dari awalnya iseng biasa koleksi ditambah pula dengan 5 ekor ikan neon tetra. Warnanya yang terang dan adanya gurat merah dikedua sisi bodynya, memang tidak seterang neon, tapi cukuplah memberi ornamen cahaya di toples itu. Ikan ini kecil banget dan sering berada didasar toples secara didasar lebih minim cahaya supaya mereka kelihatan. Ikan ini dijual satu ekor @2500, ceban dapet 5. (Harga bisa berubah – rubah sesuai penjual).

Menyadari melihat ikan – ikan ini berenang dalam toples yang sempit tipe RSSSSSSS adalah hiburan tersendiri, kemudian koleksi pun ditambah dengan ikan helikopter. Dia memang tidak pernah terbang, hanya gerakan sirip di kedua sisi tubuhnya yang berputar – putar membuat ia dijuluki helikopter. Penasaran dengan namanya, lantas cari – cari info di google, kemudian terkuaklah identitas sebenarnya dari si helikopter. Ikan ini adalah sejenis ikan buntal ( Puffer Fish, ga tahu puffer fish inget aja Miss Puff di Spongebob Squarepants ). Ikan buntal helikopter yang saya miliki adalah jenis green spotted puffer fish.

brackish-water-fish

Ikan ini lucu banget. Gerakan siripnya terus wajahnya yang bulet terkesan innocent bikin saya tambah betah melihat toples (beli aquarium sih, kasian banget !!!). Saking lucunya hanya dalam tempo 13 jam, ikan neon tetra ludes, hilang semua tanpa jejak WTF!!!!. Kecurigaan saya sudah tidak bisa dielakkan mendarat ke tiga ikan buntal ini. Ternyata mereka tidak sepolos yang saya kira. Mereka adalah karnivora, pemakan daging, blood sucking, killer, Oh My God!!!.

Ikan buntal ini ternyata penyuka makanan hidup alias yang masih hidup (nya terus kumaha? asa muter kalimat teh). Kesukaannya lebih kepada kerang kecil, udang, sesekali bisa dikasih cacing darah. Dugaan saya bisa benar bahwa mereka adalah pembunuhnya, karena si neon tetra, sepat rawa, ikan koki hitam, hidup dalam harmonisasi, keseimbangan hidup tanpa saling menganggu.

Seribu sayang, seringkali para penjual ikan hias luput untuk menjelaskan pakan apa yang baik untuk si ikan, terus bagaimana habitat si ikan, apakah bagus untuk hidup dalam lingkungan multiras. Seringkali para penjual ini tidak menjelaskan dan bukan hanya sekarang tetapi dulupun sudah seperti ini. Beli ya beli tanpa penjelasan. Contoh kecil yang sering terjadi adalah ikan yang baru dibeli tidak mau sedikitpun menyentuh makanan yang diberikan dan ini karena penjual males jelasin sedangkan pembeli ga nanya – nanya. Inilah simbiosis mutualisma dalam kesalahan memelihara ikan. Untungnya saat ini ada mbah google yang baik hati memberikan informasi seputar ikan sehingga perawatan bisa lebih tepat.

Oh ya, nasib si buntal ternyata tidak bertahan lama. Karena kesulitan mencari udang kecil dan kerang sawah yang saya berikan pun tidak mereka icip – icip akhirnya satu persatu mereka pergi ke alam baka. Pastinya dengan tenang dan syahdu. Sempat saya belikan ikan – ikan kecil (dijual murah banget ga pake harga satuan, tapi harga borongan ceban aja bisa dapet 50 ekor, mungkin ini ikan dari kasta sudra) mirip ikan mas terus koki juga ada yang kecil banget untuk mereka konsumsi, nyatanya tidak satupun diminati si Ikan buntal.

Survivor sampai saat ini adalah si sepat rawa dan ikan mirip koki hitam. Nasib si ikan borongan satu persatu menyusul si ikan buntal, yang membuat saya berpikir akan melepaskan mereka saja ke alam liar. Atau akan saya tawarkan kematian yang terhormat dan layak menjadi pakan Alligator fish yang terus – terusan mengganggu pikiran saya membuat hati ini ingin memiliki.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

3 thoughts on “Fish diary”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s