Ketidaksadaran = rating

Kiwil berteriak mengejar Wendy Cagur yang dikejar tak tertangkap ia kembali lagi ke arah Deni Cagur, memeluk sambil mengusap rambutnya. What an odd view to see!!?? . Entah ini diputar pada tanggal dan hari apa karena saya sudah lupa detil episodenya. Pastinya saya ingat situasi itu dan para penonton tertawa terbahak – bahak. Jauh sebelum itu Raffi Ahmad berlari ketika melihat Olga Syahputra, tampak malu – malu dan canggung mendekati Olga. Bahkan ketika Deni Cagur muncul diset, Raffi segera berlari, tak lama kemudian dalam sebuah situasi hampir terjadi baku pukul antara mereka berdua sampai petugas security pun turun tangan.

Mereka sebenarnya adalah sahabat. Semuanya tanpa terkecuali. Lantas? ketika itu yang dilihat Kiwil bukanlah Denni dan Wendy. Ia melihat Denni sebagai istrinya dan Wendy sebagai wanita yang mengancam istrinya bahkan sampai memasukkan ember ke kepala istrinya. Pun Raffi Ahmad tidak melihat Olga Syahputra sebagai sahabatnya yang senantiasa membocorkan rahasia pribadinya didepan publik, tetapi ia melihat Olga sebagai Laudya Cintya Bella dan Denni sebagai Chiko, kekasih Laudya.

Tak bohong kemampuan denni dan lainnya memanipulasi situasi memang menghasilkan sebuah kelucuan bagi penonton. Raffi dan Kiwil yang sedang dikelabui kesadarannya melalui hipnotis, dikerjain abis – abisan. Mereka berdua dihadapkan pada situasi canggung yang ternyata menghasilkan sebuah tontonan yang mampu membuat urat syaraf tertawa. Tertawa itu datang karena mereka berdua tidak sadar ada dalam situasi bohong – bohongan. Seperti biasa ketidaktahuan tetapi seakan – akan tahu seringkali menghasilkan kelucuan.

Sejauh mana tawa itu terus menggelegar? bagi saya tidak terlalu lama. Sebab ketika melihat emosi yang ditunjukkan oleh Kiwil dan Raffi Ahmad itu sungguhan, maka sudah tak ada lagi yang bisa ditertawakan. Justru berbalik kasihan. Bagaimana mungkin menipu seseorang dianggap sebagai sesuatu yang lucu. Jika adalah tipuan seperti biasa mungkin lucu, tetapi ketika kesadaran yang ditipu, mata melihat yang sebenarnya bukan gambaran asli berujung pada emosi natural yang terkuras, lantas dimana letak kelucuan itu?

Sayangnya pihak Televisi masih menganggap ini sebuah kelucuan. Raffi adalah yang pertama dan Kiwil adalah yang kedua. Mungkin ketiga dan keempat akan datang. Keduanya sama yaitu menggunakan permasalahan atau rahasia pribadi sebagai bahan untuk memancing tawa penonton. Mungkin saking terbukanya jaman, maka masalah pribadi pun bukan lagi memancing rasa penasaran tetapi bisa sebagai materi lelucon. Ironis memang apalagi melihat pentolan – pentolan acara itu kebanyakan memiliki background komedian.

Bagi pihak televisi memang ini tidak menjadi masalah. Selama rating memuaskan dan membuat acara ini dibanjiri promo berbagai macam produk. Sehingga tampaknya apapun akan dijalani untuk membuat rating tetap berada diatas. Habiskah kreatifitas orang – orang dibalik layar acara tersebut? tampaknya iya. Mengingat acara ini dijalankan setiap hari dan tertawa menjadi sesuatu yang wajib hadir ketika goyangan – goyangan khas sudah mulai tidak menarik lagi karena masyarakat sudah terbiasa.

Tapi, ah, mungkin saya saja yang terlalu sibuk menanggapi semua, karena dari beberapa artikel yang didapat dari mbah google katanya hipnotis – hipnotis yang kita lihat tidak lebih hanya sekedar adegan yang sudah diatur a.k.a boongan. Hanya mungkin sekalinya berbohong pun rasanya kehidupa pribadi tidak perlu dijadikan bahan lelucon yang habis – habisan diekspos.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

One thought on “Ketidaksadaran = rating”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s