Psywar or Mystic?

Menit – menit awal babak kedua derby Bandung antara Persib Bandung melawan Pelita Bandung Raya ( PBR ) kemarin (20/5), diramaikan dengan aksi “buang handuk” yang dilakukan oleh Ferdinan Sinaga. Ferdinan sengaja membuang handuk milik Kiper PBR, Dennis Romanovs, yang dililitkan ke jala gawangnya. Terlihat 2 kali Ferdinan membuang handuk itu walau kemudian bisa kembali diminta oleh Dennis bahkan puncaknya adalah saat Ferdinan menyiramkan air minum ke handuk tersebut. Wasit, untuk meredam suasana, kemudian menyuruh Dennis untuk menyimpan handuk itu diatas rumput.

handuk_babak_2_persi_ad4297b

Kejadian yang terbilang konyol ini, menurut Ferdinan dilakukan karena ia merasa terganggu melihat handuk dijala gawang. Entah apa maksud dari kata terganggu tersebut. Aksi buang handuk pun bukan yang pertama kali terjadi, dalam laga pertama Persib – PBR pun hal ini terjadi hanya bukan pemain yang menjadi pelakunya. Mungkin lain kali Dennis cukup membawa handuk kecil saja yang bisa dikantongi.

Apakah ini psychological warfare ( psywar )? sebuah teknik yang bermacam jenisnya ditujukan untuk mengganggu konsentrasi lawan ataupun emosi. Bisa saja, jika berkaca pada kekalahan Persib pada putaran pertama dan saat aksi itu berjalan kemarin skor dalam keadaan imbang 1 – 1. Kedisiplinan para pemain PBR plus mampu bertahan dengan baik menyebabkan para pemain Persib kesulitan membongkar pertahanan mereka. Jika ini adalah psywar ternyata efeknya harus menunggu sekian menit karena Ferdinan baru bisa mencetak gol penyeimbang pada menit – 82. Walau memang ini merupakan kesalahan Dennis dalam positioning, tetapi apakah psywar ini berhasil? Berhasil atau tidak, ternyata PBR sempat memimpin pertandingan saat Kim Jeffry Kurniawan membobol gawang I Made Wirawan.

Apakah ini semacam mistik? sama halnya ketika Titus Bonai akan menggetar-getarkan jala lawan sebelum tendangan pojok atau tendangan bebas diambil. Atau ketika Sutiono Lamso menemukan telur yang diletakkan digawang Barito Putra pada semifinal Liga Indonesia 1994/1995 kemudian diinjaknya yang mengakibatkan kemurkaan kiper Barito Putra, Abdillah. Atau juga seperti eks manajer Prancis, Raymond Domenech, memilih pemain timnas dengan latar belakang zodiak. Seperti juga pertandingan – pertandingan sepakbola di Afrika yang selalu melibatkan kehadiran dukun di stadion. Entahlah tapi selayaknya gol – gol yang terjadi ataupun tidak terjadi bukanlah hasil kepercayaan – kepercayaan semacam itu. Meskipun akhirnya Ferdinan Sinaga menyebutkan gol yang dicetaknya bukan karena handuk tetapi hasil kerjasama.

Pastinya kejadian ini akan menjadi bumbu dalam derby yang baru berumur dua musim di era Liga Super Indonesia. Hasil imbang kemarin menunjukkan PBR pun kini memiliki gengsi tersendiri saat harus menghadapi Persib yang disebut media sebagai “saudara tua” mereka. Musim ini bagi PBR cukup sukses karena dalam dua pertemuan mereka bisa menang sekali tanpa mengalami kekalahan. Musim depan derby ini rasanya akan lebih ramai.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s