living in a silence world

AI (Artificial Intellegence) atau intelegensia/kecerdasan buatan. Banyak dianggap sebagai komputer dimana sebuah sistem yang bisa memproses informasi ditanamkan oleh manusia, sehingga komputer bisa melaksanakan tugas yang biasanya dikerjakan manusia.Walaupun ini lebih kepada perangkat lunak yang ditanamkan kedalam perangkat keras.

Beberapa film telah mengusung tema “AI”. Seperti film “AI” Will Smith yang bercerita masa depan manusia akan memiliki robot – robot sebagai pembantu, pekerja pabrik dan dalam beberapa profesi yang biasanya diserahkan kepada manusia. Terminator dengan bintang Arnold Schwarzeneger juga mengusung tema AI ketika manusia membuat sistem pertahanan online dengan nama Skynet. Sebuah sistem yang mampu mendeteksi ancaman, bahkan semua perangkat persenjataan terhubung secara online ke dalam Skynet sehingga sistem bisa menggerakkan sendiri armada senjatanya.

Film animasi “Wall E”, Tron, Star Trek, weird science hingga dengan tema yang agak – agak menyerempet keluaran Jepang, Robo Geisha. Namun baru – baru ini saya menonton film Joaquin Phoenix “HER” yang bisa dibilang berbeda dari film lain ketika si tokoh utama jatuh cinta pada satu sistem operasi yang bernama Samantha yang disuarakan aktris Scarlet Johansson.

Sedikit mengupas film Her, si tokoh utama menjalani hidup yang penuh dengan kesunyian. Istrinya menuntut cerai dan selama hidup menunggu proses perceraian ia hanya menghabiskan waktu dengan rutinitas biasa, bekerja dan bermain game. Ia jarang berinteraksi dengan teman kerjanya. Kemudian ia membeli sebuah gadget dengan sistem yang bisa berpikir, mengolah semua informasi, dan terus menerus mampu memperbaiki dan meningkatkan kemampuan lewat semua informasi yang didapatnya.

HER

Awalnya hanya berperan sebagai job organizer, tetapi karena sistem ini diberikan kemampuan berinteraksi dan kembali ia mampu berpikir mulailah Theodore, si tokoh utama, sering mengobrol dengan Samantha. Saking hebatnya Samantha memiliki kemampuan merasa dan tentunya dengan kemampuan seperti itu ia adalah jiwa tanpa raga. Ada dalam ketiadaan. Kesepian yang berpadu dengan ramahnya teman berakhir dengan sebuah perasaan saling memiliki walaupun karena hebatnya kemampuan berpikir sistem ini menarik diri, memutuskan hubungan dari para pelanggan, karena kecewa dengan keadaan mereka sekarang. WTF!!!!!!

Dari semua film yang mengusung tema AI ada satu persamaan bahwa pada akhirnya kecerdasan buatan ini terlibat dalam sesuatu yang lebih jauh dengan para user dan selalu melibatkan perasaan. Memang ini bisa saja merupakan sebuah bumbu menarik dalam sebuah film. Pun bagaimana dalam Terminator pada akhirnya manusia berperang melawan mesin juga ketika robot yang ditugasi melindungi pemimpin pemberontakan manusia lebih dari sekedar menjalankan tugasnya, mempunyai ikatan batin dengan yang dilindungi.

Apakah ini masa depan? kalau film merupakan sebuah ramalan apa yang akan terjadi tentunya kita mesti hati – hati karena dimasa depan interaksi dengan sesama manusia akan semakin berkurang dan peneman sejati kita adalah mesin. Meskipun lambat laun hal ini mulai terjadi, ketika perangkat gadget bisa menghubungkan manusia dengan manusia berbeda jarak, maka gadget adalah sesuatu yang sangat penting dimiliki dan jangan pernah sampai ketinggalan. Bahkan dikala kita sepi menunggu sesuatu seringkali yang menghibur meramaikan suasana hati adalah gadget. Walau saat ini gadget belum bisa diajak ngobrol tapi dimasa depan siapa yang tahu.

Kesamaan lainnya adalah para tokoh utama diceritakan kesepian ataupun tidak terlalu mempunyai keakraban dengan sesama manusia lainnya. Kecenderungannya adalah mereka haus akan kebersamaan dengan manusia lain.

Memang gadget, pengembangannya saat ini lebih dari sekedar alat komunikasi. Tetapi juga diarahkan agar para user mau menghabiskan waktunya berlama – lama dengan gadget mereka. Seringkali kita melihat seorang tertawa, senyum, bahkan cemberut dengan mata menatap gadget. Kehadiran media sosial juga ikut mendorong durasi waktu yang dihabiskan dengan gadget lebih lama.

Kita memang tidak perlu takut akan hadirnya perang antara manusia vs mesin, tetapi yang mungkin kita harus waspada adalah jumlah waktu interaksi yang bisa jadi semakin sedikit didunia nyata. Meski disisi lain, manusia terus berusaha menciptakan mesin yang menyerupai manusia namun rasanya belum akan sampai ke tahap seperti dalam film. Atau mungkin sudah juga, ah entahlah. Inilah yang mesti dijaga, secanggih apapun gadget tetap interaksi dengan sesama manusia lainnya tidak boleh menjadi hilang begitu saja. Kalau hilang maka “we’re living in a silence world”. Hal yang mudah tapi sulit karena sedemikian terikatnya kita dengan gadget.

Satu hal yang membuat saya tertarik menulis sesuatu yang singkat ini, ketika setelah menonton tuntas film HER, anak perempuan saya “ngobrol” dengan game Talking Tom bahkan memperlihatkan mainan barunya. Well she’s just 2 years old but………….

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s