Inggris Terancam

Dua negara dengan dua liga yang menjadi sorotan di Eropa. Dua negara dengan kompetisi yang menjadi acuan beberapa tahun terakhir. Dua liga yang menenggelamkan pamor Serie A, Bundesliga, Ligue 1 dan Eredivisie. Tapi dua kompetisi terketat di eropa ini tidak menunjukkan gemerlapnya di Brazil. Keduanya tenggelam jauh di hutan Amazon. Terseok – seok mencoba bertahan hidup di Amazonia. Satu sudah menegaskan akan mencoba lagi 4 tahun mendatang, sementara yang satu masih menggantungkan harapan pada Italia.

courtesy of www.mirror.co.uk
courtesy of http://www.mirror.co.uk

Luis Suarez bites England!! Sesuatu yang ironis karena Luis Suarez merupakan salah satu punggawa Liverpool dan pagi dini hari tadi merupakan penjagal bagi Inggris, malaikat maut. Semoga saja nasibnya tidak seperti Ahn Jung Hwan pasca satu golnya ke gawang Buffon pada perempatfinal Piala Dunia 2002. Dipecat oleh Perugia karena si pemilik merasa sakit hati Italia yang membesarkan Ahn Jung Hwan justru dipulangkan oleh pemain Korea Selatan ini.

Besar, megah, populernya kompetisi dalam negeri ternyata tak berdampak banyak pada timnas Inggris. Boleh dibilang kegemerlapan Inggris karena datangnya para investor dari luar Inggris seperti Roman Abramovich atau Sheikh Mansoor yang dengan kekuatan finansialnya mendatangkan pemain dengan label bintang ke Premiere League. Walau secara popularitas menanjak, tetapi disisi lain tidak begitu bagi para pemain asli Inggris.

Kesempatan mereka untuk bermain semakin rendah. Tengoklah lima klub besar Arsenal, Manchester United, Manchester City, Chelsea, Liverpool yang didominasi oleh para pemain asing. Joe Hart dan James Milner adalah orang Inggris yang aktif selama musim 2013-2014 bermain untuk Manchester City. Wayne Rooney, Phil Jones, Rio Ferdinand, Michael Carrick, Ashley Young dan Danny Wellbeck adalah para pemain aktif untuk Manchester United. Meski jumlah menit bermain mereka variatif artinya tidak selalu mereka turun bersamaan dan bahkan ada yang turun dari bangku cadangan. Chelsea hanya punya 4 pemain Inggris aktif yang semuanya sudah masuk ke level veteran yaitu John Terry, Frank Lampard, Gary Cahill dan Ashley Cole. Hanya Lampard dan Cahill yang dipanggil Roy Hodgson. Sementara runner up Liverpool mengirimkan para pemain inti mereka Raheem Sterling, Daniel Sturridge, Glen Johnson, Steven Gerrard, dan Jordan Henderson.

Pada dua pertandingan Piala Dunia Brazil 2014 ketiga klub diatas duo manchester dan Liverpool mendominasi line up dengan pemain pengganti yang diturunkan dari Arsenal (Jack Wilkshere saat melawan Italia) dan Southampton (Adam Lallana dan Rickie Lambert) serta Everton ( Ross Barkley ). Namun ternyata perpaduan para pemain inti dari klub besar tersebut tak mampu menghasilkan 3 poin pertama bagi Inggris. Bahkan media dan fans Inggris setuju bahwa para pemain Inggris main dibawah form mereka, tidak menunjukkan kemampuan mereka.

Memang tidak sepenuhnya salah para pemain. Roy Hodgson sang pelatih yang terakhir memegang Uni Emirat Arab pada tahun 2007 hanya punya satu pengalaman berkompetisi di piala dunia ketika memimpin Swiss pada Piala Dunia 1994 dengan rekor 1 menang, 1 imbang dan 2 kali kalah. Apakah masalah kegugupan? rasanya agak aneh kalau pelatih dengan pengalaman berjubel seperti Roy gugup dipanggung Piala Dunia. Pun kondusifitas di internal tim Inggris diberitakan baik di era pelatih yang pernah menangani Inter Milan ini. Bahkan Roy disenangi oleh para pemain.

Bagaimana dengan taktik? semuanya berjalan dengan baik. Menugaskan dua pemain untuk menghadang Andrea Pirlo dikerjakan dengan baik. Hanya saja Pirlo bukanlah pemain biasa saja. Deep Lying playmaker yang masuk jajaran salah satu yang terbaik dalam ancaman punahnya pemain dengan fungsi ini. Set up membongkar pertahanan lawan pun sudah dilakukan dengan baik oleh para pemain hanya rendahnya kualitas menjadi hal yang luput sehingga semuanya menjadi percuma. Pertahanan meninggalkan lubang yang besar Gary Cahill dan Phill Jagielka tak mampu mencegah bola mendarat di gawang Joe Hart.

Secara keseluruhan Roy Hodgson meraih nilai cukup baik dalam taktik. Tetapi secara kualitas yang berujung pada kemenangan tidaklah cukup. Plus para pemain Inggris tidak menunjukkan kualitas yang seharusnya. Mungkin juga karena faktor cuaca yang pernah dikeluhkan Domenico Criscito yang menyebutkan cuaca panas di Manaus menyebabkan ia berhalusinasi. Dengan dua kekalahan ini, Roy Hodgson sepertinya akan semakin dipandang nyinyir oleh publik Inggris karena semenjak ia ditunjuk menjadi manajer Inggris pun ia dipandang sebelah mata. Ironi bagi pelatih yang dianggap “pahlawan nasional” di Swiss.

Roy, pelatih yang mampu membuat timnya ofensif, akan habis – habisan pada laga terakhir melawan Kosta Rika. Bukan hal mudah karena dengan kemenangan atas Uruguay, Kosta Rika tidak akan merasa kecil lagi dan yakin bahwa mereka pantas berada di Piala Dunia. Inggris menggantungkan asa agar Italia mampu meraih 6 poin pada dua pertandingan mereka sementara Inggris sudah berniat akan membabat Kosta Rika. Jika ini terjadi, well ini adalah keberuntungan sempurna.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s