Goalie Parades

Piala Dunia 2014 hampir menuntaskan babak 16 besar. Tinggal menunggu siapa pemenang antara Argentina versus Swiss serta Belgia yang akan bertemu Amerika Serikat. Brazil sudah mantap menghadapi Kolombia. Si Kuda Hitam Kostarika akan menghadapi Belanda dan Prancis bertemu Jerman dibabak perempat final. Sejauh ini level kejutan masih terjaga dengan hadirnya Kolombia dan Kostarika, karena semakin mendekati tahap akhir ternyata memang sebuah tradisi ikut menentukan.

Meksiko bagaimanapun memikat ketika bermain di babak grup, ternyata selama ini lekat dengan predikat “spesialis 16 besar”. Sejak Piala Dunia 1994 mereka selalu lolos dari babak grup dan kemudian pulang setelah babak 16 besar. Tahun ini, tradisi itu berulang. Mereka gagal mempertahankan kemenangan atas Belanda meskipun terusir dari Piala Dunia 2014 lewat sebuah “diving” Arjen Robben. Kebiasaan itu pula yang ada di Alexis Sanchez Dkk, karena Cili tidak pernah melebihi babak 16 besar seperti di Piala Dunia 1998, 2006 dan 2010.

Nigeria pun tidak pernah sanggup melompati babak 16 besar. Piala Dunia 1994 mereka dikalahkan oleh Roberto Baggio melalui 2 golnya. Prancis 1998 mereka dilumat Denmark dengan skor cukup besar. Sementara Yunani patut berbangga hati. Raihan tim yang dikapteni pemain gaek Giorgos Karagounis ini untuk pertama kalinya lolos ke 16 besar. Mereka menetapkan standar yang baru untuk junior – junior mereka 4 tahun mendatang. Sama halnya seperti Aljazair yang kali pertama lolos ke babak sudden death ini. Sayang, harapan agar Islam Slimani CS lolos harus dilupakan meskipun penjaga gawang Rais M’bolhi telah tampil mati – matian dalam laga ini.

Bagi Belgia dan Amerika Serikat fase 16 besar bukanlah sesuatu yang asing karena beberapa kali mereka berada disini, bahkan melewati 16 besar. Sama halnya seperti Swiss atau Argentina yang memang pernah menjadi juara turnamen 4 tahunan ini. Tradisi akan berpengaruh. Meskipun bagi sebagian pemain ada yang hanya mengetahui kesuksesan pendahulu mereka lewat kisah semata tetapi ada sebuah jejak yang masih bisa ditempuh yaitu adanya kepercayaan diri yang pasti bahwa mereka berhak disini dan bisa melewati ujian 16 besar ini.

1297573207030_ORIGINAL

Piala Dunia 2014 adalah ajang bagi para penjaga gawang. Guillermo Ochoa meneruskan tradisi Meksiko sebagai penghasil kiper mungil nan berkualitas lewat beberapa penyelamatannya. Tentunya yang akan selalu diingat adalah bagaimana ia menepis bola heading Neymar tepat digaris gawang ( goal line sudah membuktikan bahwa no-goal) ketika Meksiko menghadang Brazil dibabak grup. Sebuah tepisan yang melambungkan namanya dan membuatnya santai saja walau saat ini ia telah habis kontrak dengan AC Ajaccio.

Keylor Navas

Keylor Navas, tak bisa dipisahkan dari kesuksesan Kosta Rika. Tepisannya atas tendangan Theofanis Gekas membawa Kosta Rika ke tahap yang baru dan tetap menjaga predikat mereka sebagai kuda hitam( Jika sebelum piala dunia digelar, Belgia yang ramai diperbincangkan sebagai tim kuda hitam namun rasanya lebih fasih Kosta Rika dan Aljazair yang menyandang gelar itu). Navas memang telah lama diincar beberapa klub besar sejak penampilannya di Levante mengundang decak kagum.

Japan v Colombia: Group C - 2014 FIFA World Cup Brazil

Piala dunia edisi ke-20 ini adalah penantian panjang bagi Faryd Mondragon. Terakhir kali ia tampil membela Kolombia pada Prancis 1998. Tampil dalam 3 pertandingan babak grup dan menjadi tembok kokoh bagi Alan Shearer dan Michael Owen sehingga ia dinobatkan sebagai satu – satunya orang yang mencegah Inggris pesta gol ke gawang Kolombia. Kolombia memang pulang lebih awal tahun itu, hanya sekali menang atas Tunisia dan kalah dari Rumania serta Inggris membuat Faryd Mondragon mungkin tak pernah bermimpi kembali untuk tampil di Piala Dunia. Sejalan dengan absennya Kolombia dari 3 Piala Dunia.

Hanya 5 menit waktu yang dibutuhkannya untuk kembali tersenyum lebar merasakan kembali, menapak kembali dalam gempita Piala Dunia. Plus ia mendapatkan bonus gelar pemain tertua yang pernah tampil dalam sejarah Piala Dunia. 43 tahun dan 13 hari mengalahkan rekor Roger Milla pada Piala Dunia Italia tahun 1990. Bagaimana dengan kemampuannya? Dalam 5 menit ia membuktikan bahwa usia hanya angka saat memblok peluang Yoichiro Kakitani dari jarak dekat ( membuat saya ingat aksi heroik kiper gaek Gianluigi Buffon pada pertandingan terakhir Italia melawan Uruguay). Tahun 1998 ia akhiri dengan tangis duka, 2014 ia buka dengan tangis suka seiring Kolombia yang terus melaju.

Mondragon, Keylor Navas masih akan meneruskan perjuangan Piala Dunia sementara Ochoa akan segera menikmati hasil manis tepisan bola Neymar. Semoga saja kejutan itu akan tetap berlanjut tidak terhenti diperempatfinal.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s