Status Galau Adalah Lebih Baik Untuk Saat Ini

Hingar bingar pemilihan presiden Indonesia untuk masa jabatan 2014 – 2019 masih belum reda. Riuh rendah telah terjadi bahkan sebelum masa kampanye baik di media (cetak, elektronik) hingga diberbagai media sosial yang dimiliki secara individual. Keramaian ini baru pertama kali dirasakan sejak pemilihan presiden diberikan mandatnya kepada rakyat langsung. Tiga kali pemilihan Presiden yang diikuti rasanya berjalan dengan tensi biasa – biasa saja, tapi kali ini sangat panas bukan lagi demam.

pemilu_2014_c

Setiap hari menjelang tanggal 9 Juli beranda Facebook selalu dipenuhi dengan teman – teman yang berbagi link sebuah situs mengenai informasi – informasi dari setiap pasangan capres – cawapres. Pagi hingga malam tak pernah absen informasi mengenai setiap person yang terlibat dalam pemilihan presiden ini dikupas. Jika itu belum cukup maka biasanya di box comment link tersebut kita akan temukan adu argumen antar pendukung. Tak jarang adu argumen ini dibalut emosi yang berujung pada block, unfriend dan unfollow.

Klik link yang ada lalu kita pun diarahkan ke sumber informasi tersebut. Saling serang, saling lempar argumen pun terjadi disana. Hal ini diperparah dengan sudah terbaginya media baik cetak dan elektronik antara memilih satu atau dua (pilih aku atau dia by Gamma Band). Saking kentaranya disalah satu televisi kita tidak akan menemukan apapun selain kebaikan dari pasangan tertentu dan kejelekan pasangan saingannya. Ini dibalas pula oleh media yang mengusung pasangan saingan yang mengupas habis kejelekan pasangan lain. Sulit mencari media yang netral, berdiri ditengah diantara mereka yang bersaing. Memang para pemilik media tersebut sudah turun ke ranah politik makanya sulit untuk menjadi netral.

Tetapi bagaimanapun media – media ini akan sepakat dan netral kalau soal iklan. Tidak ada alergi dan anti untuk memasang iklan dari kedua pasangan, karena ini pemasukan buat mereka.

Menarik memang mengamati bagaimana sikap facebook friends mengekspresikan sikap politik mereka. Kita lihat untuk pasangan tertentu mempunyai icon gambar dengan garis merah yang membagi dua satu frame. Kemudian pasangan lainnya memiliki logo iconik dengan latar putih dan objek merah. Macam – macam bukan hanya foto tetapi juga lewat permainan – permainan kata.

Hanya disadari atau tidak, pilpres ini jelas – jelas memecah pertemanan. Memang didunia nyata ini tidak terlalu nampak tapi didunia maya sangatlah jelas. Perlu disadari dunia maya sangat mungkin mengalir ke dunia nyata. Sejatinya pemilihan presiden adalah untuk mempersatukan bangsa, mempertahankan keutuhan negara, menjaga kedaulatan bangsa, tapi apakah itu kita lihat kemarin – kemarin?.

9 Juli telah kita lewati, tugas sebagai anggota masyarakat telah ditunaikan dengan memberikan hak suara sesuai pilihan masing – masing. Banyak sekali teman(diluar yang sering dan sengit berpromosi calon dukungan mereka) berharap 9 Juli segera terlewati dan kehidupan akan kembali berjalan normal. Timeline atau beranda tak dipenuhi dengan emosi, sumpah serapah, saling hujat, saling hina. Pada masa – masa seperti itu lebih baik beranda dipenuhi status galaunisasi hati akibat kondisi kesayangan tak ditemui. Ketimbang hanya menjumpai emosi – emosi dunia maya yang sebagian besar saya yakin hanya pada berani di dunia maya.

Harapan tinggal harapan. Kini lembaga – lembaga quick count menjejerkan hasil perhitungan mereka dengan hasil sesuai pasangan jagoan mereka masing – masing. Televisi bahkan sejak siang hari tanggal 9 Juli telah membuat satu acara quick count khusus yang diisi dengan berbagai hiburan. Saling klaim antar kontestan pun terjadi yang menurut saya sangatlah tidak mendidik, Ga bener, kekanak – kanakan!!.. Bagaimana mungkin masyarakat diarahkan untuk mempercayai hasil survey yang bukan merupakan sebuah hasil resmi. Bagaimanapun KPU ( Komisi Pemilihan Umum ) akan menjadi sasaran amuk massa jika hasil resmi pada tanggal 22 Juli nanti berbeda dari apa yang diklaim oleh masing – masing pihak. Lihat saja.

Kecerobohan hasil sebuah euforia atau saling klaim ini memang sengaja dimunculkan??? Jika belum pecah, maka kita ini sudah retak. Rentan untuk pisah dan dipisahkan. Tujuan sejati pemilihan pemimpin negara sudah terlupakan, karena saat ini daripada akal kita lebih banyak mengedepankan perasaan yang seharusnya kadar keduanya dijaga pada batas imbang. Entahlah apa yang akan terjadi saat KPU merilis hasil resmi yang berdasar pada fisik kertas suara yang telah dicoblos oleh para pemilih diseluruh Indonesia. Harapannya tentu semuanya tetap damai – damai saja.

Beruntung saat ini sedang ada Piala Dunia 2014, karena semua suara bersatu padu ketika bola disepak dan dimainkan. Semua setuju untuk terkejut ketika Brazil dicabik Jerman, fokus menuju final Piala Dunia yang akhirnya mempertemukan Argentina dan Jerman tetap menjadi perhatian utama. Tak terbayang bagaimana panasnya tensi para pendukung masing – masing calon kalaulah FIFA tidak menyesuaikan jadwal dengan KPU walaupun keduanya belum pernah dan memang ga janjian untuk bikin jadwal bareng. Karena meskipun kita sedang menjalani ibadah shaum, cenderung kita terlupa dan mengumbar emosi.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

2 thoughts on “Status Galau Adalah Lebih Baik Untuk Saat Ini”

  1. Ah, tulisan yang menarik! Kita memang perlu belajar lebih hati-hati dalam meresponi infomasi, karena kebenaran dan persepsi punya banyak wajah yang berbeda. Yang diperlukan adalah kecerdasan, bukannya netralitas ataupun kemasabodoan. Makanya saya lebih suka berbisik, daripada berteriak frontal tentang situasi yang ada, seperti saya sudah tulis dalam Bisikan Tentang Cinta, Bangsa, dan Dunia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s