Spanyol, Jerman dan Pep

What now?! Piala Dunia telah usai. Waktu beristirahat kembali pada jam normal, masuk kantor ga pake ngantuk, ga perlu geser – geser antena cari gambar yang bagus. At least itulah yang lekas hilang, ketika Phillip Lahm mengangkat trofi Jules Rimet pada Piala Dunia edisi ke-20 ini. Selebihnya sulit dicari. Well sedikit menambahkan, materi – materi siaran radio akan lebih fokus pada pergerakan klub dalam mempersiapkan skuadnya masing – masing.

hi-res-9c8b7374a650bf7bf6e5a1787d64847a_crop_north

Melihat bagaimana Jerman menjadi juara dunia seperti berkaca pada dominasi Spanyol sebelum Piala Dunia termahal sepanjang sejarah di Brazil. Ada satu kesamaan yaitu ketika di level klub mereka merajai eropa patokannya Liga Champions Eropa. Meskipun musim ini Real Madrid yang menjadi juara namun sejak musim 2009-2010 hingga 2013-2014 Bayern Muenchen telah menjadi finalis sebanyak 3 kali, 2 runner up dan sekali juara. Musim 2012/2013 menjadi istimewa karena Jerman menunjukkan dominasi baru eropa dengan menghadirkan Borussia Dortmund sebagai lawan final Bayern Muenchen.

Piala dunia 2006 adalah sebuah awal baru bagi Jerman. Gaya permainan baru dibawa eks striker timnas Jerman, Jurgen Klinsman. Tidak ada lagi istilah telat panas. Jerman bermain ofensif plus banyak berisikan para pemain muda. Banyak yang mengkritik permainan Jerman dan perubahan drastis yang dibawa Klinsi, panggilan akrab Jurgen Klinsman, apalagi hasilnya hanya berupa juara 3 setelah disemifinal dikalahkan Italia. Petualangan Klinsi berakhir tetapi Jerman melihat harapan baru pada sistem permainan ofensif ini dan mengangkat Joachim Loew, asisten Klinsi, sebagai pelatih utama. Meskipun dilihat dari pengalaman Loew belum sekalipun memegang klub besar dan hanya berprestasi di Liga Austria sebagai manajer.

Selain itu, munculnya para pemain yang lihai dalam penguasaan bola dan mampu meliuk – liuk di Bundesliga plus para pemain keturunan yang berasal dari berbagai negara semakin memperkaya materi pemain Jerman. Para pemain ini kemudian melakukan ekspansi merambah beberapa liga besar di Eropa, terlibat dalam berbagai formasi, taktik permainan, disisi lain Bundesliga pun tidak kekeringan bakat karena selalu ada bintang baru yang bersinar.

Bundesliga memang belum sehebat Barclays Premier League dalam hal marketing ataupun semenarik La Liga dengan persaingan Real Madrid dan Barcelona, tetapi jika sedikit melihat highlight pertandingan pekan per pekan, sebetulnya banyak sekali gol – gol yang lahir masuk dalam kategori gol terbaik. Ini menunjukkan ada kualitas tersendiri dari Bundesliga. Ada kualitas dari para pemain.

Philipp_Lahm_lifts_the_2014_FIFA_World_Cup_(cropped)

Well, pertanyaan selanjutnya adalah sejauh mana Jerman mampu menjaga konsistensi? Jika melihat ritme Spanyol ketika menguasai persepakbolaan mereka memulai dari Piala Eropa 2008, Piala Dunia 2010 dan menutup dengan Piala Eropa 2012. Apakah fasenya akan berbalik? tidak menjadi jaminan tentunya. Apalagi kita akan melihat apakah Phillip Lahm akan bertahan di timnas Jerman pada Piala Eropa 2016 Prancis. Tidak bisa dilepaskan, selain senioritas, bek sayap yang pada piala dunia 2006 dimainkan disayap kiri meskipun ia hanya fasih dengan kaki kanan ini adalah kunci permainan Jerman. Tak ada satu pertandingan pun yang dilewatkannya di Brazil 2014 bahkan dalam 4 pertandingan ia mengisi posisi gelandang bertahan. Posisi yang baru dikenalnya awal musim 2013-2014 dibawah arahan Josep Guardiola. Ia adalah elemen yang tidak tergantikan selama 8 tahun, Lothar Matthaus baru.

Guardiola_2010

Namun dibalik semua itu, rasanya baik Spanyol maupun Jerman mesti berterimakasih kepada satu sosok yang secara kebetulan berkarir pada negara yang kemudian menjadi juara dunia. Josep “Pep” Guardiola. Eks asuhan Johan Cruyff yang meneruskan filosofi permainannya dan menemukan Tiki – taka. Ia belum menjadi manager Barcelona ketika Spanyol menjuarai Euro 2008 tetapi ketika Spanyol menjadi juara dunia ia menukangi Barcelona dimana 8 pemain Barcelona bermain untuk Spanyol pada final Piala Dunia 2010. Sedangkan Jerman memasang 7 pemain Bayern Muenchen ketika mengalahkan Argentina pada final Piala Dunia Brazil 2014. Vicente Del Bosque dan Joachim Loew mungkin harus memberikan penghargaan bagi mantan gelandang bertahan Brescia ini. Karena selain memanfaatkan kekompakan para pemain yang telah terjalin di Barcelona dan Bayern Muenchen, filosofi permainan Pep Guardiola sedikit banyak rasanya mereka gunakan.

Persamaan lainnya antara Spanyol dan Jerman adalah sama – sama pernah memasang strategi False nine dalam partai menuju final. Spanyol mengusung 4-6-0 ketika 2010, sedangkan Jerman menggunakan 4-5-1 dengan ujung tombak Mesut Ozil ataupun Thomas Mueller dan hanya memanggil satu orang striker yaitu Miroslav Klose.

Apakah persamaan – persamaan ini akan kembali berulang pada Piala Dunia 2018 Rusia? masih panjang dan masih lama, bisa saja gaya bertahan dan pragmatis yang akan menjuarai dunia 4 tahun mendatang. Tapi selekasnya bagi negara – negara yang ingin menjadi juara dunia menghimbau klub agar mengontrak Pep Guardiola meski kembali kita bertanya apakah ia masih hebat 4 tahun atau 2 tahun mendatang.

Semuanya masih tanda tanya, saya hanya berharap wakil asia 4 tahun lagi lebih baik prestasinya dan Indonesia adalah satu wakil di Rusia.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s