Tentang Timnas U-19

Gagal. Kata ini kembali menyapa Indonesia ketika peluit panjang pertandingan timnas Indonesia U-19 vs Australia U-19 berbunyi. Pupus sudah harapan tampil di Piala Dunia U-20 Selandia Baru. Terasa sakit sekali karena selama setahun lebih, Evan Dimas, Maldini Pali, Ilham Udin, Ravi Murdianto dan yang lainnya adalah satu – satunya harapan para pendukung sepakbola Indonesia. Dibahu mereka-lah disandarkan mimpi – mimpi tinggi sepakbola Indonesia. Terlebih beberapa dari mereka mewakili sebuah kisah perjuangan anak kampung untuk mengharumkan nama bangsa.

Berbagai analisa kenapa kegagalan ini terjadi mengemuka. Mulai dari mereka “ditanggap” bagai rombongan sirkus ke kota – kota dengan tajuk Tour Nusantara. Pada awalnya tidak banyak yang mengkritik tour yang juga melibatkan salah satu pihak penyiaran ini, tetapi ketika bagaikan sinetron muncul tour episode ke-2 maka suara – suara penentangan mulai terdengar. Mesti diakui bahwa kualitas lawan di tour nusantara 1 dan 2 tidaklah sepadan sebagai pengukur kemajuan pelatnas U-19. Lawan – lawan yang tampil di tour nusantara 2 episode ini seringkali dipersiapkan hanya hitungan hari sebelum pertandingan dilaksanakan. Dari segi waktu persiapan saja sudah tidak sebanding. Pelatnas telah berbulan – bulan sedangkan lawan hanya seminggu sebelum pertandingan.

garudamudai

40 lebih ujicoba timnas U-19 di era teknologi informasi tentunya semakin memudahkan negara – negara lawan timnas u-19 di Piala Asia memantau perkembangan dan juga menelaah taktik, strategi dan formasi. Sayangnya sejak menjuarai Piala AFF U-19 Indonesia dibawah asuhan Indra Sjafri tidak pernah mengenal pola permainan selain yang mereka sering mainkan. Dua pemain sayap menjadi ujung tombak serangan Indonesia. Setelah berhasil merobek pertahanan lawan mereka akan kirim bola ke tengah kotak penalti, santapan striker dan gelandang Indonesia. Hanya saja gaya permainan ini untuk ditingkat kompetisi hanya manjur sampai babak kualifikasi Piala Asia ketika Indonesia mengalahkan Korea Selatan. Gaya menyerang text book ini tidak mempunyai variannya selain itu dari segi sumber daya pemain pun hanya mengandalkan yang itu – itu saja sehingga lawan sudah tahu siapa yang harus dijaga ketat dan kemana bola akan bergulir ketika berada dikaki pemain Indonesia.

Memang tidaklah salah ketika seorang pelatih konsisten dengan satu gaya permainan. Namun tidak ada salahnya juga mempunyai cadangan gaya permainan ketika yang utama menemui jalan buntu. Terlalu sering dimainkan maka metode permainan akan membawa kejenuhan bagi yang memainkan apalagi bagi penonton.

Kejenuhan juga yang rupanya menjadi faktor penyebab kegagalan timnas U-19. Satu tahun lebih berkumpul di pelatnas tentunya tidaklah sehat. Inilah kelemahan PSSI yang tidak mempunyai kompetisi untuk pemain muda. Jika kondisinya kita sudah mempunyai liga usia 19, tidak lagi diperlukan pelatnas panjang nan membosankan yang hingga hari ini masih dilakukan PSSI. Indonesia adalah satu – satunya negara di Grup B AFC U-19 Championship 2014 yang tidak memiliki liga junior. Uzbekistan punya Uzbekistan Youth League. Australia menggelar National Youth League, Uni Emirat Arab memiliki Liga U-19 dan U-21. Frekuensi pertandingan di setiap negara mencapai lebih dari 20 pertandingan dalam satu musim. Indonesia? bahkan ISL u-21 pun hanya memainkan standarnya 6 petandingan untuk satu klub jika tidak lolos ke semifinal dan final.

The bell had already rung even before AFC Championship. Semua faktor ini telah berakumulasi di Hassanal Bolkiah Trophy ( HBT ) 2014. Indonesia dikalahkan Vietnam lawan mereka di final AFC U-19 tahun 2013. Brunei Darussalam, Kamboja yang secara tradisi timnas junior dan seniornya mudah dilewati Indonesia, nyatanya di HBT nyaman untuk mengalahkan Indonesia. Meskipun berkelit bahwa juara bukanlah target, tetapi pemilihan timnas U-19 untuk tampil di HBT secara mendadak ( walau ada rumor permintaan dari panitia penyelenggara HBT ) tidak bisa dilepaskan dari target juara oleh PSSI.

Selepas kegagalan di HBT apa yang kemudian dilakukan oleh PSSI? bersama promotor mereka membawa timnas U-19 ke ujicoba lainnya tanpa memberikan kesegaran dalam pelatnas terutama dari segi metoda permainan.

Beberapa faktor lainnya menurut saya adalah menanjaknya popularitas para pemain yang mungkin membuat mereka cukup lelah. Apalagi ketika kekalahan dalam satu pertandingan mengundang kritikan pedas dari berbagai pihak. Entah berpengaruh atau tidak, karena saya pun tidak mengenal perannya ketika di AFF Cup tahun 2013 juga babak kualifikasi AFC Championship, namun sosok Rudy Keltjes yang kini menangani timnas U-21 tidak lagi berada di timnas U-19.

Pada akhir tulisan ini, saya hanya ingin mengucapkan dan menyampaikan rasa terimakasih dan penghargaan setinggi – tingginya bagi setiap pemain timnas U-19, pelatih Indra Sjafri, dan staf kepelatihannya. Meski kalah dan tidak berhasil ke Piala Dunia, tetapi timnas U-19 telah memberikan sesuatu yang langka, sesuatu yang telah lama tidak dirasakan Indonesia. Gelar juara AFF Cup tahun 2013 adalah spesial karena timnas senior pun masih bermimpi untuk menjadi juara pada kompetisi yang mempertemukan negara – negara Asia Tenggara ini. Rasa bangga dan puas mengangkangi dan mengalahkan Korea Selatan, negara yang telah lebih maju persepakbolaannya dari Indonesia. Dua prestasi yang sekali lagi bahkan belum bisa dilakukan timnas senior. Terimakasih.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

2 thoughts on “Tentang Timnas U-19”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s