Penantian Panjang

Kereteg. Kata dalam Basa Sunda dapat diartikan sebagai perasaan, insting atau firasat tentang sesuatu hal. Berkali – kali menonton Persib, walau hanya sebagai Bon Jovi ( Bobotoh Nu Lalajo Tv – Bobotoh yang nonton tv ) kereteg selalu memainkan perannya sebelum kick off dimulai. Jika kereteg-nya sudah malas atau datar, hampir 50 % diakhir babak II hanya hasil minimalis yang didapat tetapi jika sedari awal beberapa jam sebelum kick off sudah on fire hasil akhir pun biasanya sejalan. Entah karena sudah terlalu terikat emosi atau sudah menjadikan klub sepakbola ini sebagai bagian sehari – hari sehingga perasaan sebelum pertandingan pun bercampur aduk dengan emosi yang didapat dari hal lain. Tapi bukan cenayang, ingat itu !!. Kereteg bisa dimiliki siapapun, rasa cinta adalah syaratnya.

“Kereteg juara ini mah”. Jumat sore 7 November 2014, sekira pukul 16.00, rekan siar mengatakan itu sebelum kami on air membuka program special menyambut final Liga Super Indonesia (LSI) 2014. Memang hari Jumat itu diliputi rasa optimis. Jika dibandingkan dengan laga semifinal melawan Arema, jauh lebih menegangkan. Entah hari Selasa lalu itu, rasanya semua bobotoh dari pagi mula sudah dag dig dug menunggu laga semifinal. Bahkan pengalaman saya, semenjak peluit pertandingan dibunyikan hingga menit-120, terus berkeringat dan irama jantung tidak jelas notasinya.

Persipura bukan tim biasa. Tapi luar biasa. Semifinal AFC Cup 2014 adalah ukuran fasih performa mereka musim ini. Memang penampilan mereka di LSI 2014 tidak sebaik musim lalu saat menjadi juara. Namun tetap Persipura adalah mutiara yang berkilau beberapa tahun terakhir ini dan konsisten. Bukti mereka bukan lawan biasa saja, dibuktikan dalam 120 menit pertandingan final. Hanya butuh 10 pemain saja untuk merepotkan Persib. Penampilan eksepsional Yohanes Pahabol, Robertino Pugliara, dan sang Kapten Boaz Solossa menjadi mimpi buruk yang terus menerus hadir di pertahanan Maung Bandung.

Persib membiarkan Persipura menari – nari dipertahanan selepas unggul 2-1. Kelemahan yang secara terus menerus diulang meskipun pengalaman telah mengajarkan saat melawan Arema dan Persebaya. Lemahnya tekanan yang diberikan Persib tidak bisa dipungkiri karena energi yang terkuras dilaga semifinal sedangkan Persipura hanya bermain 90 menit melawan Pelita Bandung Raya. Juga pada laga final, Jajang Nurjaman hanya menghadirkan satu perubahan yaitu merumputnya Hariono dari menit awal dan menyimpan M.Taufiq.

Menahan napas, tercekat. Ketika Boaz Solossa menerima bola sodoran Robertino Pugliara dan meneruskannya ke gawang. I Made Wirawan tak kuasa menahan meskipun bola sempat ia tepis. Mungkin bukan tahun ini. Sempat terlintas dipikiran bahwa kerinduan 19 tahun tanpa gelar tak akan terlunaskan tahun ini. Persipura sangat tangguh, keluarnya Bio Pauline justru membuat mereka semakin bersemangat. Disisi lain Persib mulai kelelahan. Namun bagaimanapun, takdir yang pada akhirnya memainkan peran. Pada satu sorotan kamera Jajang Nurjaman sampai jatuh berguling ketika Boaz mencetak gol sedangkan Mettu Duaramuri mengepalkan tangan, memberikan tatapan tajam ke bench Persib.

Setelah skor imbang kedua tim bisa dibilang menahan diri. Persipura terlihat memang ingin membawa pertandingan ke babak adu penalti. Yohanes Pahabol dibiarkan sendirian didepan bersiap menerima long pass. Sementara Persib terus berusaha mengulang cerita semifinal tetapi anak – anak muda Persipura di sektor pertahanan tetap gigih melawan.

Semakin diatas angin ketika Vladimir Vujovic diusir wasit karena mengganggu kiper Dede Sulaiman. Persipura terlihat diatas angin. Hanya saja dengan sisa – sisa tenaga, Persib tak mau peluang gelar juara habis saat itu. Mereka tetap melawan dan menekan tidak membiarkan Persipura keluar dari pertahanannya. 120 menit tuntas. Adu ketajaman algojo penalti pun digelar.

Semua penendang sukses hingga tibalah saatnya Nelson Alom melangkah ke kotak penalti. Berkali – kali melihat eksekusi tendangan penalti baik dalam waktu normal ataupun adu penalti, membuat kita bisa sedikit memprediksi nasib si penendang dari ekspresi wajah, ketika ia menempatkan bola di titik penalti, pun saat mengambil ancang – ancang. Meskipun prediksi tidak menjamin sebuah kebenaran. Tetapi Nelson Alom terlihat ragu dan dengan keraguan pula ia lepaskan bola ke gawang I Made Wirawan. I Made Wirawan bergerak dengan benar searah dengan bola dan berhasil membuat penyelamatan yang akan dikenang selama karirnya.

Ahmad Jufriyanto melangkah. Digaris tengah lapangan semua pemain Persib tertunduk mengucap doa. Atep memperlihatkan ekspresi wajah yang menunjukkan bahwa doa itu benar – benar ia pintakan. Wajar ia adalah pemain terlama Persib bersama Hariono. Juga kedua pemain ini belum pernah merasakan gelar juara LSI. Kereteg kembali hadir hanya tak pasti antara gagal dan berhasil. Peluit wasit ditiup. Jufriyanto menatap Dede Sulaiman sebelum mengambil ancang – ancang dan mengarahkan bola ke kanan. Dede Sulaiman salah antisipasi. Goool!. Semuanya langsung larut dalam sukacita.

Dahaga 19 tahun tanpa gelar terbayarkan. Tak sedikit yang menitikkan air mata haru. Tua muda semua mengucap syukur. Tak terkira bahwa akhirnya bisa menyaksikan salah satu kejayaan Maung Bandung yang sudah lama tidak bersinar. Kata – kata membatasi tak bisa mengungkapkan dengan pasti perasaan ketika penendang kelima Persib berhasil menunaikan tugasnya dengan sempurna. Kami sangat bahagia. Terimakasih Maung Bandung.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s