Salahnya Dimana?

Seperti Malaysia vs Indonesia itulah menurut komentator semifinal AFF Cup 2014, Vietnam vs Malaysia (11/12) di stadion My Dinh Vietnam. Pertandingan akhirnya dimenangkan oleh Malaysia yang dikandang sendiri sepekan lalu harus kalah dengan skor 1-2. Skor pertandingan semalam pun hampir identik ketika Indonesia pada tahun 2004 mengalahkan Malaysia di Bukit Jalil Stadium Kuala Lumpur.

Miris ketika komentator tersebut harus menyebutkan laga 10 tahun yang lalu tersebut terlebih kita, masyarakat Indonesia, hanya sebagai penonton saat ini. Bahkan mengutuk para pemain yang memang bermain tanpa arah, tanpa visi dan seperti tanpa semangat.

Kita bertanya apa yang salah? Alfred Riedl sudah dikembalikan ke jabatannya sebagai pelatih timnas. Suasana kompetisi dalam negeri kondusif, tidak ada perpecahan liga seperti saat Andik Vermansyah dkk dihujat pada Piala AFF 2012. Bahkan ungkapan Andik Vermansyah selepas berhasil membuat gol tunggal kemenangan Indonesia atas Singapura 2 tahun lalu malah berbuah cibiran. Timnas saat ini menampilkan pemain – pemain terbaik dari Liga Super Indonesia pun jangan lupa tahun ini adalah tahun rekonsiliasi kompetisi setelah setahun sebelumnya Liga Super Indonesia dan Liga Primer Indonesia memecah belah timnas. Tapi apa yang ditampilkan sangatlah identik, satu kali hasil imbang, satu kali kemenangan, dan satu kali kekalahan pada babak grup dan gagal lolos ke semifinal. Inikah Karma?.

Jadwal kompetisi amburadul? Mr.Riedl, anda sudah di Indonesia bahkan sejak Piala AFF 2010, seharusnya hal ini tidaklah aneh. Kompetisi kita memang banyak libur terganggu agenda politik nasional sampai daerah. Belum lagi tahun ini babak 8 besar terhambat Asian Games meski yang ditampilkan timnas U-23. Disini juga terlihat sebaran pemain muda potensial tidak sepenuhnya tereksplor karena satu klub menyumbang hampir satu kesebelasan ke timnas U-23.

Jadwal mepet ke Piala AFF sehingga fisik pemain amburadul? bahkan tanpa kompetisi yang mepet pun anda sudah tahu, Mr. Riedl, para pemain Indonesia tidak semuanya mampu bermain konsisten 90 menit. Bukankah diluar para pemain yang tampil dibabak puncak Liga Super Indonesia, anda juga memanggil para pemain dari klub lain yang secara fisik lebih bugar?.

Belum padu? rasanya pemain – pemain yang dipanggil ke timnas masih muka – muka lama. Apakah keterpaduan permainan sulit dicapai? Memang strategi dan formasi yang dimainkan oleh mereka masing – masing di klub berbeda satu sama lain. Tetapi bukankah mereka sering bertemu di timnas? Setidaknya komunikasi sederhana seharusnya sudah terbangun.

Liga Super Indonesia adalah salah satu yang terbaik di kawasan Asia Tenggara. Istilah yang sangat familiar dengan para penggemar olahraga adalah kompetisi yang baik berbanding lurus dengan prestasi negara. Jika dibilang Liga Super Indonesia adalah salah satu liga yang diminati dikawasan ASEAN tetapi justru prestasi itu datang dari timnas U-19 yang masih asing dengan Liga Super Indonesia. Mungkin berlebihan jika dibilang terbaik tapi jika dibilang ter-ramai kita bisa menduduki posisi nomor satu. Ramai dalam artian banyak penonton.

Ada  dua kompetisi di kawasan Asia yang sama Рsama memakai singkatan ISL. Indonesia dan India dengan India Super League. Liga yang baru dibentuk Oktober 2014 dan memang bertujuan meningkatkan gairah penonton dan masyarakat mendukung sepakbola. Membuat sepakbola tenar menyaingi kriket maka itulah kenapa banyak veteran Eropa yang bermain disana, karena yang dikejar bukan pembinaan tetapi popularitas. Apakah Indonesia Super League begitu juga?

Well lantas apa yang salah sehingga tahun ini dengan pemain – pemain terbaik, Indonesia sama sekali kepayahan berlaga di Piala AFF. Bonus ga lancar seperti gaji beberapa pemain di beberapa klub? Tapi mungkin kita terlalu melebih – lebihkan soal gaji yang terhutang kepada pemain soalnya tiap awal musim hampir semua klub Liga Super Indonesia mampu menyodorkan kontrak ratusan juta sampai miliaran rupiah kepada pemain.

Masalah kebanggan membela negara? rasanya tidak ada pemain yang tidak girang bukan kepalang dipanggil membela negara. Filipina yang dihuni oleh para pemain half blood saja begitu trengginas dalam bermain.

Lantas apa yang salah? Ah mungkin saya saja terlalu banyak komentar, karena sebagai penonton ya bagaimana disuguhkannya saja, menang yang bangga, kalah ya terima saja dengan sebuah alasan klasik “ kita sudah bermain bagus tapi lawan bermain lebih bagus”.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s