Salah Langkah

Konferensi Asia Afrika merupakan sebuah konferensi yang didasarkan pada keinginan untuk lepas dari segala bentuk penjajahan. Kerjasama ekonomi, saling memajukan satu sama lain juga menjadi landasan dari konferensi yang tahun ini telah menginjak usia 60 tahun dan tengah kembali diperingati dari tanggal 22 – 24 April 2015 bertempat di Jakarta dan Bandung.

Semangat persatuan melandasi pertemuan antar negara – negara dikawasan Asia Afrika, akan tetapi di Jakarta pada waktu yang bersamaan PSSI berselisih melawan Kemenpora dan BOPI. Masing – masing kuat dengan pendiriannya. PSSI tetap tak mau turut dengan keputusan Menpora sementara Menpora yang telah mengeluarkan keputusan pembekuan PSSI juga tidak mau mundur barang sejengkal pun dari keputusannya.

Jika dirunut ke belakang apa yang terjadi hari ini merupakan mata rantai kegagalan PSSI sendiri. Ketika pertama kali menjabat, Imam Nahrawi langsung disuguhkan dengan kasus sepakbola gajah di divisi utama antara PSIS dan PSS Sleman.  Belum lagi ia juga harus melihat timnas U-19 dan U-23 gagal di AFC U-19 Championship dan Asian Games. Masalah lainnya adalah gaji pemain yang kembali tidak terbayar dibeberapa klub.

Kemudian Menpora membentuk tim sembilan yang beranggotakan Ricky Yakobi, Oegroseno, Djoko Susilo, Imam Prasodjo, Gatot Dewa S Broto, Budiarto Shambazy, Nur Hasan, Eko Tjiptadi, Yunus Husein. Tim ini mulai bekerja sejak awal tahun 2015 dan menghasilkan 5 rekomendasi untuk Menpora terkait sepakbola nasional yaitu :

1.Seluruh klub peserta ISL segera melunasi tunggakan gaji pemain, pelatih dan ofisial klub, disertai bukti pelunasan.

2. Seluruh klub harus menyertakan dokumen kontrak kerja pemain, pelatih, dan ofisial kepada BOPI dan operator liga yakni PT Liga Indonesia.

3. Operator ISL dan seluruh klub peserta harus menyerahkan NPWP, bukti pembayaran dan pelunasan pajak, serta persayatan lain yang telah ditetapkan BOPI.

4. Khusus persayaratan garansi bank dapat dipenuhi klub paling lambat pada pertengahan musim kompetisi ISL 2015.

5. Rekomendasi BOPI menjadi salah satu syarat yangharus dipenuhi dalam proses perizinan keramaian oleh kepolisian.

Inilah kemudian yang memicu masalah sampai dengan keluarnya keputusan Menpora tentang pembekuan PSSI. Kita lihat sebetulnya tidak ada yang buruk dan bertentangan terkait rekomendasi ini.

Namun nampaknya PSSI langsung menunjukkan resistensi. Memundurkan kick off liga dan kemudian menunda liga hingga hari ini. Belum lagi FIFA sepertinya tidak hanya dijadikan tempat berlindung tetapi juga tempat “ngeles” dan sebagai tameng mereka.

Menpora terlalu jauh bertindak? itu benar. Setuju tidak selayaknya ia membekukan PSSI. Membakar rumah untuk membasmi tikus bukanlah hal yang tepat, bukankan masih ada racun tikus dan alat penangkal lainnya?. Kebanyakan kasus sanksi FIFA karena intervensi pemerintah adalah adanya tindakan pemerintah mengambil alih pengelolaan sepakbola karena menganggap asosiasi sepakbola negara itu tidak becus mengurus sepakbola.

Niatan baik dari Menpora untuk membenahi sepakbola nampaknya kini menjadi buah simalakama. Maju kena mundur kena. Maju terus ia akan dikenal sebagai menteri yang membuat Indonesia diberikan sanksi FIFA plus kompetisi QNB League akan menjadi tidak jelas, sponsor – sponsor yang sudah menjalin kerjasama dengan beberapa klub bisa memutuskan kontrak imbasnya kepada para pemain kembali. Terus melangkah skenario dualisme PSSI akan terulang kembali, saling dendam saling hantam.

Mundur, ia akan jadi bahan tertawaan PSSI yang juga ikut memainkan perannya menghadirkan buah simalakama bagi sang menteri. Bukan hanya itu level kepercayaan masyarakat yang sudah jenuh melihat ketidakmampuan PSSI akan berubah menjadi ketidakpecayaan kepada kemampuan menteri membenahi masalah.

Saya menilai, Menpora Imam Nahrawi telah salah langkah, telah salah ambil keputusan dalam membongkar pertahanan lawan. Seakan menghadapi para pemain bertahan bertubuh jangkung, menpora terus melakukan umpan lambung langsung ke kotak penalti yang 90 % akan mentah. Awalnya bermain umpan terobosan namun habis kesabaran dan langsung memberikan bola – bola lambung. Ia seharusnya mengajak berlari para pemain bertahan atau meneruskan umpan – umpan terobosan.

Kenapa tidak ia langsung saja bertemu FIFA? karena meskipun FIFA dan anggotanya adalah rezim tertutup, tetapi mereka tidak dapat bergerak tanpa didampingi pemerintah. Penyelenggaraan kompetisi lokal maupun internasional, masalah kontrak pemain lokal dan asing, keamanan kompetisi, pemberantasan mafia skor, FIFA tidak dapat menuntaskan sendiri. Walau FIFA dan anggotanya adalah seperti negara didalam negara tetapi mereka tidak mampu menyelesaikan semua urusannya sendiri.

Kalau bertemu FIFA terlalu jauh, kenapa ia tidak bertemu PSSI saja? upayakan semangat rekonsiliasi untuk mencapai tujuan minimal tidak ada lagi pemain yang dihutang gajinya oleh klub. Itu saja sudah merupakan tindakan hebat dari Menpora. Sayang ia kini kebablasan karena sepertinya kehabisan kesabaran menghadapi keangkuhan PSSI.

PSSI perlu dirombak, PSSI perlu dibuka karena mereka bukanlah suatu organisasi tertutup yang dapat berdiri sendiri, tetapi bukan dengan cara ini pak menteri.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s