Salah Taktik

Persib Bandung dan Persipura Jayapura meneruskan tradisi baik klub – klub Indonesia diajang AFC Cup dengan lolos ke babak 16 besar. Bagi Persipura ini seperti rutinitas mereka bahkan musim lalu lolos hingga semifinal. Sedangkan Persib mengakhiri puasa kompetisi Asia selama 20 tahun dengan keikutsertaan kali ini sebagai juara Indonesian Super League 2014.

Pada babak 16 besar, Persib akan bertemu ( dengan posisi di grup saat ini ) antara Johor Darul Takzim Malaysia atau Kitchee SC Hongkong. Sementara Persipura akan bertemu South China Hongkong atau Pahang Malaysia ataupun juga Global FC Filipina. Semuanya akan ditentukan pada partai terakhir babak grup yang dimainkan pada tanggal 12 dan 13 Mei 2015.

Catatan kedua klub terhitung baik di AFC Cup. Baik Persib maupun Jayapura belum pernah sekalipun kalah. Persipura menang 4 kali dan 1 kali draw. Persib mencetak 3 kemenangan dan 2 kali draw. Persib mencetak 7 gol dan kemasukan 2 gol sedangkan Persipura mencetak 14 gol dan kebobolan 3 gol. Persipura menempatkan Boaz Solossa sebagai salah satu top skor dengan 4 gol. Atep Rizal dari Persib hanya terpaut 1 gol dengan torehan 3 gol.

Dua rekor yang baik mengingat kompetisi dalam negeri sedang “dipaksa” berhenti. Sejak pertengahan April 2015, QNB league dihentikan oleh PT. Liga setelah Menpora kembali mempertanyakan legalitas dua klub yaitu Arema dan Persebaya sekaligus melarang keikutsertaan mereka di QNB League.

Pada kondisi normal, pertanyaan dibabak 16 besar adalah seberapa besar peluang kedua klub Indonesia untuk mengalahkan lawan – lawannya, tetapi sekarang kita juga bertanya seberapa besar peluang FIFA menjatuhkan sanksi kepada Indonesia. Karena banyak pernyataan menyuarakan jika Indonesia disanksi FIFA maka  langkah kedua wakil Indonesia di AFC Cup otomatis terhenti. Meski hal ini belum pasti.

Patutkah Indonesia dikenai sanksi? Pantaskah kedua klub ini menerima nasib terhenti tanpa bertanding jika itu memang kenyataan yang kelak diterima?

Sepakbola memang cabang olahraga yang paling digemari di negeri ini. Meski hal ini tidak berbanding lurus dengan prestasi tim nasional dikancah internasional. Belum lagi dengan banyaknya permasalahan – permasalahan dalam kompetisi. Salah satunya adalah verifikasi klub. Inilah kemudian yang memunculkan verifikasi versi BOPI dan Kemenpora. Permasalahan gaji pemain yang tidak dibayar dan terjadi setiap musim seharusnya bisa dihindari jika verifikasi klub yang selama ini dilakukan PT. Liga sebelum kompetisi mulai dijalankan benar – benar.

Kita sadar iklim sepakbola kita memang belum bisa mendatangkan sponsor yang mumpuni untuk menutupi pengeluaran satu klub dalam semusim. Namun selama ini juga kita melihat, meski dana pas – pasan tetapi klub berani mengontrak pemain asing yang tentunya bayarannya sedikit diatas pemain Indonesia. Sepakbola kita belumlah menyesuaikan keadaan.

Tetapi apakah langkah Menpora sudah tepat? dengan segala verifikasi, pertanyaan legalitas, pelarangan izin keamanan, rencana memindahkan pengelolaan liga ke tim transisi, apakah sudah benar dalam kerangka perbaikan? Bagi saya niatannya baik hanya caranya yang terlalu terburu – buru dan sangat rawan menimbulkan konflik.

Menpora nampaknya menyenangi taktik ofensif, all out. Ia meninggalkan cara – cara persuasif. Mungkin ia lupa bahwa yang dihadapinya adalah PSSI. Organisasi yang sudah bertahun – tahun menutup diri, dan mengeksklusifkan diri dengan tameng FIFA. Menpora mengusik ketenangan para pengurus PSSI yang telah lama dalam zona nyaman mereka. Hasilnya tentu serangan balik.

Alih – alih mendapat simpati penuh masyarakat, justru Menpora yang kini terjepit. PSSI menyerang balik dengan isu sanksi FIFA, menghentikan kompetisi meskipun sebenarnya dengan mudah mereka bisa menjawab tantangan menpora tentang keabsahan Arema dan Persebaya. Jika PSSI yakin mereka benar ini hanya tinggal tunjuk dokumen resmi dari kedua klub tentang keabsahan mereka. Dengan penghentian kompetisi, justru bola panas ada di Menpora karena masalah pemain yang tidak digaji muncul lebih cepat. Lebih dari itu adalah pemutusan kontrak pemain.

Sekarang tim transisi akan menangani sementara sepakbola dan membentuk PSSI versi mereka. Bagaimana dengan yang sudah ada? statusnya dibekukan. Lantas bagaimana dengan FIFA yang telah mengakui PSSI? Seharusnya sejauh ini sudah ada rekonsiliasi antara kedua pihak bukan lantas terus berperang.

PSSI angkuh, Menpora tidak bermain cantik. Korbannya sepakbola, pemain, pelatih, pedagang kaos bola, pedagang makanan di stadion dan masih banyak lagi.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s