Transisi atau negosiasi?

Menpora telah mengumumkan nama – nama orang yang menjadi bagian menjadi tim transisi untuk mengurusi sepakbola karena dibekukannya PSSI oleh Menpora membuat tidak ada lagi lembaga yang mengurusi sepakbola.

Menarik jika kita menelusuri background nama – nama orang yang masuk menjadi tim transisi ini. Tanpa perlu disebutkan satu persatu, pertanyaan apakah tim ini bisa bekerja optimal muncul. Karena beberapa nama mempunyai pekerjaan utama. Seperti Ridwan Kamil dan Lodewijk F Paulus. Terselip satu nama yang menjadi bagian dari kisruh PSSI vs LPI yaitu yang sekarang menjabat Walikota Solo.

Tentunya Menpora telah mempertimbangkan matang – matang setiap orang yang menjadi bagian tim transisi ini. Seperti Ridwan Kamil yang menurut beberapa sumber akan lebih difungsikan sebagai mediator dengan FIFA karena dinilai mempunyai kemampuan komunikasi baik di level internasional. Namun tidak bisa dipungkiri munculnya nama “kang Emil” membuat pro kontra dikalangan bobotoh.

Ada yang menganggap ini merupakan usaha untuk menarik simpati bobotoh, ada pula yang mengkhawatirkan bahwa ini akan membebani Walikota Bandung tersebut dalam usahanya “beberes Bandung”. Pun ini adalah sesuatu yang beresiko dan bisa membahayakan citra Ridwan Kamil sendiri.

Menpora yang berusaha menempatkan sepakbola kembali ke jalurnya memang mau tidak mau harus terus bermain ofensif. Karena ia sendiri miskin strategi. Langkah – langkahnya pun bisa dibilang tidak fokus. Seperti ketika ia melarang Arema dan Persebaya untuk tampil di QNB League karena ilegal tetapi dikemudian hari meralat boleh saja tampil asal tanpa PSSI.

PSSI yang anti kritik dan anti saran terus bermain bertahan dan melakukan counter attack. Penghentian kompetisi dengan alasan Force Majeure karena tidak mendapatkan pelayanan Pemerinth membuka sisi kelemahan mereka yang tidak dapat berdiri sendiri namun itu tetap saja  membuat mereka keras kepala tidak terbuka.

Apa yang terjadi hari ini adalah akibat penyelenggaraan liga itu sendiri. Silahkan dikoreksi tetapi rasanya sangat jarang sekali ada klub yang tengah menjalani kompetisi dikenai sanksi karena terlambat membayar gaji pemain berbulan – bulan. Adapun yang pernah dikenakan pengurangan poin adalah atas rekomendasi FIFA karena aduan beberapa pemain asing. Kita lihat di Serie A Parma yang sudah bangkrut saja sampai dikenakan pengurangan 7 poin karena tidak bisa membayar pemain dan staf.

Apakah kejadian hari ini membuat mereka sadar? Silahkan nilai sendiri. Mungkin anggapan bahwa mereka takut kehilangan periuk nasi ada benarnya.

Kita lihat di Mata Najwa ketika pihak klub berbicara mereka seperti tertekan dan tidak bebas berekspresi. Meski terlihat mereka ingin bebas bicara tidak terikat status sebagai anggota PSSI. Mereka pun jengah dengan kondisi “peperangan” ini.

Terbaik tentunya sudah kita dengar selama ini adalah kedua pihak saling berbicara berdiskusi dengan pikiran terbuka dan tidak mengumbar emosi apalagi egoisme.

Dualisme lembaga dan kompetisi pernah kita alami. Tak perlu mengalami itu lagi karena manfaatnya tidak ada dan yang pasti para pemain dan klub yang menjadi hujatan dari suporter kedua kubu. Luka dualisme belumlah kering tak perlu disiram air garam.

Sadarlah menpora dan pssi.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s