Sanksi FIFA : islah atau kalah?

Tanpa batas waktu yang ditentukan. Begitu bunyi salah satu paragraf dalam surat FIFA yang ditandatangani oleh Sekjen,Jerome Valcke tentang sanksi terhadap PSSI.

image

Batas waktu yang tidak ditentukan kapan sanksi akan dicabut tergantung kepada islah antar PSSI dan Kemenpora. Meski awal minggu ini Wapres Jusuf Kalla telah memerintahkan Menpora Imam Nachrawi untuk mencabut pembekuan PSSI tapi akhirnya dimentahkan oleh dukungan Presiden Jokowi kepada Menpora asal Surabaya ini.

PSSI memang menderita penyakit. Kronis pula. Kompetisi menjadi sorotan utama Menpora yang menggandeng BOPI melakukan verifikasi kepada klub – klub yang bertanding.

image

Sayang PSSI dengan segala ketertutupannya malah menyerang balik Menpora dengan menunda dan akhirnya menyudahi kompetisi.

Menpora yang tidak mengakui Kongres PSSI yang memilih La Nyalla Mattalitti membentuk tim transisi dan berusaha menciptakan kompetisi sendiri. Saat tidak ada klub yang mau bergabung berhembuslah isu akan dibentuknya klub – klub baru dengan akhiran “nusantara”.

Indonesian super league had problem with clubs’s finance condition. Many players played without payment for months even after the competition was over. This situation happened every season without any action from indonesian FA (pssi)

.

Seharusnya apa yang dilakukan pendahulu menjadi pelajaran. Kegagalan Andi Mallarangeng semasa menjadi Menpora dengan membiarkan kompetisi terbelah seharusnya tidak diulangi oleh Menpora kabinet kerja.

Perlu pendekatan yang “lembut” kepada PSSI untuk mau berubah. Karena memang dari FIFA sendiri menutup akses pemerintah dan pihak lain diluar federasi untuk ikut campur urusan sepakbola.

Clubs financial condition were the basis for The Minister of sport and youth verified all clubs. Because as The minister said that Indonesia FA had breached FIFA rules itself by letting club with bad financial condition played in the competition and not gave them any sanction.

Tapi sekarang segalanya sudah terlalu kelewat batas. PSSI dengan pertahanan angkuhnya dan Menpora yang sudah kepalang basah. Kalah jadi abu menang jadi arang. Keduanya sama – sama mengorbankan klub,pemain dan sepakbola itu sendiri.

Indonesian FA showed their resistancy by delaying the start of the competition and finally after two games they called it off because the minister keep asking about clubs’s legal.

Sampai kapan ini akan terjadi. Sampai satu pihak mengaku kalah dan pihak lain tertawa. Islah rasanya belum akan ada. Ah seandainya Luis Figo tidak mundur mungkin sepakbola akan lebih demokratis.

Posted from WordPress for Android

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s