Nasib Inggris Masih Buruk

Menit 91 lewat 40 detik. Perjuangan Inggris menahan juara dunia Piala Dunia Wanita, Jepang, nampaknya akan masuk ke perpanjangan waktu, tetapi…… Nahomi Kawasumi mendapatkan bola disisi kiri pertahanan Inggris, melihat peluang ia melepaskan umpan kepada Yuki Ogimi yang berlari diantara Laura Bassett dan Step Houghton. Bola lambung jatuh didekat Laura Bassett yang dengan insting pemain bertahan mencoba membuang bola. Sayang posisinya sedang tidak ideal, ia terpaksa meregangkan badan untuk menjangkau bola.

Arah bola tidak ke arah keluar malah menuju langsung ke arah gawang Inggris. Penjaga gawang Karen Bardsley kadung maju beberapa langkah dari gawangnya mencoba mengejar bola. Bola mengenai tiang gawang, jatuh ke tanah, memantul dan berhasil dibuang oleh kapten Step Houghton. Hanya saja kejadian seperti  gol Frank Lampard ke gawang Jerman yang tidak diakui pada Piala Dunia 2010 tidak akan terjadi lagi sejak FIFA menggunakan Goal Line Technology. Inggris memang mengalami nasib buruk di Piala Dunia baik putra maupun putri. Seandainya goal line technology yang mulai digunakan pada Piala Dunia Brazil 2014 belum digunakan mungkin hakim garis masih bisa silap mata.

Japan-vs-England

Laura Bassett tertunduk dilapangan. Menit akhir dan Inggris tidak bisa menyamakan kedudukan. Jepang lolos mengulang final Piala Dunia Wanita 2011 bertemu dengan Amerika Serikat. Inggris bukan hanya gagal ke final, tapi inilah semifinal pertama Inggris di Piala Dunia Wanita. Bahkan jika melihat perjalanan diawal, Inggris sempat terseok – seok dikalahkan Prancis dipertandingan pertama grup F.

Pemain bertahan Notts County ini beruntung, ia tidak mengalami nasib yang lebih buruk akibat gol bunuh dirinya ini, alih – alih banyak dukungan terhadap dirinya.

Sepakbola memang menyajikan banyak drama kemenangan dan kekalahan. Kemenangan dengan apapun kontroversi yang muncul tetaplah disambut sukacita. Tapi kekalahan, terlebih gol bunuh diri, bisa jadi tak akan terlepaskan dalam kenangan seorang pemain bahkan setelah karirnya berakhir.

Terlebih bagi Inggris, negeri dengan ekonomi sepakbola yang maju dan populer diseluruh dunia melalui Premiere League, kesempatan lolos ke semifinal sebuah turnamen merupakan suatu keistimewaan yang belum dirasakan oleh sepakbola pria. Bisa dibayangkan antusiasme yang tetiba hancur untuk memupus kerinduan tampil di final sebuah turnamen.

Memang Inggris masih punya peluang membawa gelar juara 3 namun mereka harus mengalahkan Jerman yang juga tampil sangat baik di turnamen ini diperkuat Celia Sasic, Anja Mittag dan Nadine Angerer yang mengingatkan saya pada sosok Oliver Kahn.

Laura Bassett harus segera bangkit jika ia dimainkan oleh manajer Mark Sampson pada pertandingan 4 Juli 2015 di Stadion Commonwealth Kanada. Tiada yang indah mengenai gol bunuh diri sekalipun sebuah pertandingan pada akhirnya berujung kemenangan. Inilah konsekuensi sebuah permainan yang sering memilih secara acak aktor utamanya.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s