Musim Turnamen

Turnamen Piala Jenderal Sudirman secara resmi akan dibuka malam (10/11) ini oleh Presiden RI, Joko Widodo dengan pertandingan perdana Arema Cronus melawan Gresik United. Ini adalah turnamen “amatir” level nasional yang ketiga setelah Piala Kemerdekaan dan Piala Presiden. Meskipun yang mengikuti adalah 14 klub eks Liga Super Indonesia plus PS TNI, tapi masih bukanlah turnamen yang diadakan secara resmi federasi yang mengurusi sepakbola Indonesia, PSSI.

Menarik perhatian? menggairahkan? tentu saja!!. Saat Menpora dan PSSI masih berseteru sehingga kompetisi resmi dihentikan, adanya turnamen seperti ini bak penghapus dahaga pencinta sepakbola tanah air. Juga karena pembekuan ini masih akan lama (tampaknya) turnamen – turnamen seperti ini baik level nasional, provinsi, kabupaten/kota adalah penyambung hidup para pemain sepakbola yang status profesionalnya telah melebur menjadi amatir. Kedatangan FIFA dan AFC hanyalah memberikan humor yang sudah tidak lucu lagi bagi masyarakat Indonesia ketika mereka berkata “sepakbola Indonesia perlu direformasi”. Tanggapan yang terbaik adalah “kemana aja lo?!!!”.

Turnamen – turnamen yang bermunculan seperti hari ini bisa jadi merupakan kerinduan semua orang. Namun dari segi pebisnis, ditengah pembekuan, tentulah ini saatnya mereka beraksi memanfaatkan ketidakberdayaan PSSI dicekal Menpora. Sepakbola adalah sepakbola dan bisnis tetaplah bisnis. Gelaran Piala Presiden menyisakan tanya bagi saya apalagi jika melihat rencana gelaran Piala Jenderal Sudirman. Pertanyaan yang muncul adalah mengenai perputaran uang dalam jumlah WAH. Baik untuk match fee setiap tim yang bertanding sejak penyisihan grup sampai dengan hadiah juara 1, 2 dan 3 termasuk hadiah lainnya.

Seharusnya ini tamparan bagi PT. Liga Indonesia yang selama ini diamanati oleh PSSI menggelar kompetisi resmi. Meski tidak punya data pasti berapa uang yang mengalir ke kas klub dalam satu musim Liga Super Indonesia tapi rasanya dengan dua turnamen yang digelar Mahaka Sports and Entertainment, klub tidak akan kesulitan lagi menggaji pemain minimal nunggak gaji pemainnya ga lama – lama. Apalagi PT. Liga Indonesia merencanakan menggelar turnamen amatir pada Bulan Februari 2016 (kebayang pembekuannya belum cair sampai tahun depan).

Itu soal uang. Belum soal pemberdayaan pemain muda. Piala Jenderal Sudirman mensyaratkan ada dua pemain level U-21 turun sebagai starter. Maka kemudian jika kita berandai – andai, model turnamen seperti ini diterapkan di ajang Copa Indonesia yang telah lama mati suri tentu akan sangat baik bagi kas klub dan juga pemain muda.

Diluar itu semua, turnamen – turnamen level Kabupaten/Kota melibatkan perputaran uang yang tidak sedikit yang membawa ke pertanyaan lain, lantas kenapa klub – klub Indonesia kering sponsor selama ini?.

Banyak hal yang terlihat ditengah pembekuan ini. Hal – hal yang sebelumnya tak kasat mata justru dimasa suram ini menunjukkan diri sebagai potensi dimasa depan.

Tetapi tentu saja banyaknya turnamen level amatir ini menyimpan bahaya bagi para pelaku utama sepakbola. Kontrak per pertandingan, per turnamen tidak menjamin panjang hidup mereka. Belum lagi mengenai resiko cedera. Hampir dapat dipastikan pemain yang akan menanggung sebagian besar biaya jika terjadi cedera karena kontrak per turnamen dan setelah itu habis, klub tak punya pendapatan apa – apa. Jika ada kasus kekerasan dilapangan, komisi disiplin turnamen bukanlah absolut dan tidak memiliki kekuatan mengikat. Tak usahlah berbicara timnas, karena saya yakin ketika sanksi FIFA dicabut Indonesia harus berusaha sangat keras akibat para pemain yang terbiasa bermain di level tertinggi di negara ini melebur beserta para pemain amatir dengan level kompetensi yang masih belum terukur.

Maka sampai kapan musim turnamen ini akan berakhir? sedangkan hari ini kita masih melihat peperangan PSSI dan Menpora tak kunjung usai. Turnamen hanyalah jawaban sementara, sisipan semata, bukan ukuran pasti. Yah bagi masyarakat pastinya menikmati saja yang ada tanpa harus memikirkan pusing – pusing mengenai pencabutan sanksi FIFA. Kita puaskan dahaga sejenak karena musim ini seluruh siaran sepakbola bahkan luar negeri cukup langka dan mahal.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s