Tanpa (Harus) Gaduh

Firman Utina dan Manajemen PT. PBB ( Persib Bandung Bermartabat) akhirnya mengakhiri kesalahpahaman yang terjadi lebih kurang 2 minggu akibat miskomunikasi antara Firman dan manajemen.

Lebih kurang 2 minggu. Hanya dalam waktu itu, kegaduhan ini sudah menjalar kemana – mana. Ada yang menyalahkan pemain, tak kurang juga menyalahkan manajemen, ada pula yang bersikap netral.

Pangkal permasalahan ini seperti yang terungkap di media – media sebetulnya tidak terlalu berat. Pertama, pemain dilarang curhat soal “jeroan” manajemen lewat media sosial pribadi. Hal yang wajar – wajar saja, karena Firman Utina bukanlah pemain sepakbola pertama yang diperingatkan soal ini. Para pemain timnas Italia pernah dilarang beraktifitas di media sosial pada Piala Dunia 2014. Penggunaan media sosial pribadi saat ini juga masih menjadi isu hangat karena seringkali seorang pemain secara sengaja atau tidak melakukan hal – hal yang kurang pantas dalam akun media sosial mereka.

Jika soal media sosial tidak prinsip, maka alasan lainnya menunjukkan kenapa kegaduhan ini timbul. Adanya larangan para pemain untuk menjalin kontrak dengan sponsor diluar sponsor yang dimiliki klub lebih meyakinkan untuk menjadi sebuah alasan ketidaksepahaman.

Iklim sepakbola Indonesia yang memang belum sehat – sehat amat dari segi finansial, dibuat lebih menderita ketika PSSI dibekukan dan liga sepakbola nasional berhenti. Reaksi klub – klub umumnya berujung pada 2 hal . Ada yang membubarkan tim dan ada yang mempertahankan namun mengurangi drastis nilai kontrak. PT. Liga memberikan acuan nilai kontrak menjadi 25 % dari nilai ketika liga masih berjalan.

Reaksi pemain lebih beragam. Ada yang memilih main tarkam, ada yang berpindah – pindah klub mengikuti turnamen level kabupaten/kota dalam waktu singkat, ada yang banting stir mencoba karir di bidang lain, hanya segelintir yang mencoba peruntungan bermain di luar negeri.

Adanya turnamen – turnamen amatir level nasional, nyatanya juga tidak bisa menolong kondisi ini. Hanya bersifat pertolongan sementara untuk klub. Turnamen selesai, para pemain pun dibubarkan klub. Karena tidak ada lagi pemasukan untuk klub terutama dari tiket.

Sponsor yang menempel di setiap jersey tentunya juga akan menghitung ulang nilai kontrak mereka. Kompetisi berhenti berarti mereka kehilangan media untuk mempromosikan perusahaan ataupun produk mereka. Untuk apa mahal – mahal membayar klub jika pertandingan saja tidak ada.

foto-persib-bandung-vs-pbr-firman-SIM_5142

Kembali ke masalah Firman Utina, inti masalahnya rasanya ada pada pengurangan pendapatan. Namun tentunya ini bukanlah salah klub, karena klub adalah peserta kompetisi. Penyelenggara adalah PT.Liga yang diberi mandat oleh PSSI.

Manajemen membela diri bahwa selepas menjuarai Piala Presiden, para pemain mendapatkan revenue sharing yang mencapai 70 % dari nilai hadiah uang Piala Presiden plus ditambah dengan berbagai bonus sebagai juara. Hitung – hitungan yang beredar di media sosial (entah resmi atau tidak) 1,7 Miliar dibagikan kepada pemain, sementara sisanya dipotong pajak hadiah dan pemasukan untuk klub termasuk membayar segala bentuk pengeluaran ketika mengikuti Piala Presiden. Rasanya masih dalam batas kewajaran.

Firman Utina merupakan bagian tidak terpisahkan dari kemenangan Persib di Liga Super Indonesia 2014. Bahkan ia adalah wakil kapten ketika Atep tidak bermain. Kegaduhan yang ia timbulkan kemarin, mengingatkan kembali bobotoh kepada sosok Eka Ramdani dan yang terbaru adalah Ferdinan Sinaga. Bobotoh kadung cinta kepada kedua sosok ini namun harus menerima kekecewaan ketika mereka memilih pergi. Pada akhirnya kekecewaan tersebut berujung pertanyaan “ada apa dengan manajemen?”. Apalagi saat media sosial menemukan kejayaannya, pertanyaan – pertanyaan menimbulkan banyak prediksi dan tak jarang sikap menyalahkan manajemen tanpa tahu apa yang sesungguhnya terjadi.

Sesungguhnya kepergian seorang pemain adalah hal yang biasa saja. Mengundang reaksi itu adalah konsekuensi pasti. Cristiano Ronaldo yang dikabarkan galau antara bertahan atau pergi dari Real Madrid akan membuat sikap fans Galacticos beragam apalagi kalo ia jadi pindah ke klub lain, bukan tidak mungkin fans menghukum manajemen dengan berbagai sumpah serapah karena ia adalah sosok pemain idaman setiap klub.

Tidak wajarnya memang ketika pemain mencurahkan ketidaksepahaman tersebut ke media. Ini adalah sesuatu yang disesalkan karena bukan hanya ia memancing berbagai reaksi, tapi juga ia seharusnya sadar bahwa ia adalah anggota EXCO APPI ( Asosiasi Pemain Profesional Indonesia ) yang dituntut bersikap profesional.

Tapi ya sudahlah, semuanya telah terjadi dan perdamaian sudah dicapai. Tetap bergabung atau tidak, selayaknya kita menyampaikan terimakasih kepada Firman Utina ikut membantu Persib merengkuh berbagai piala selama 2 tahun ini. Bukan hanya untuk Firman ucapan terimakasih disampaikan, tetapi kepada mereka yang telah memutuskan untuk pergi, dan tentunya kepada mereka yang tetap bertahan ditengah krisis sepakbola Indonesia.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s