Pemain Pilih Eksodus

Eksodus. Kata ini menggambarkan perubahan pola pikir para pemain sepakbola Indonesia ditengah perang yang tak kunjung usai antara Menpora vs PSSI.

Eksodus menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti perbuatan meninggalkan tempat asal oleh penduduk secara besar – besaran. Eksodus bisa disebabkan banyak hal. Bencana alam, faktor ketiadaan sumber daya alam, rendahnya tingkat penghasilan, dan keamanan serta kenyamanan dapat menjadi alasan terjadinya eksodus.

Dalam sepakbola Indonesia hari ini, tingkat penghasilan serta kenyamanan tidaklah didapat akibat pembekuan PSSI. Hanya mengandalkan turnamen singkat, tarkam yang tak tentu akan selalu ada, membuat para pemain profesional harus putar otak untuk mencari penghasilan.

Pindah ke negara asing adalah salah satu solusi. Meski belum secara besar – besaran skala kepindahannya, namun rasanya sebentar lagi ini akan menjadi trend apalagi sanksi FIFA tidak berlaku kepada pemain. Hanya klub, timnas dan organisasi. Dedi Gusmawan, Ryuji Utomo, dan Adam Alis memutuskan untuk ke Myanmar dan Bahrain mencari peruntungan. Ketiganya membuktikan diri dapat bersaing di liga asing. Stefano Lilipaly, pemain naturalisasi yang diawal QNB League bergabung bersama Persija memutuskan untuk bergabung bersama Telstar SC di Belanda selepas kompetisi terhenti. Pemain naturalisasi lain Greg Nwokolo dan Victor Igbonefo juga bermain di Thailand.

dedi-gusmawan-zeyar-shwe-myay_12nm8yffzjzjn16t17w1jns3bo

Menjelang akhir tahun 2015, Ahmad Jufriyanto, Yongki Ariwibowo, dan Bayu Gatra (masih menyelesaikan proses administrasi) bergabung bersama agensi MSG dan menjalani trial di Malaysia. Kabar terakhir Ahmad Jufriyanto memikat perhatian manajemen Terengganu FA dan masa trialnya diperpanjang. Dedi Kusnandar (Persib) juga dikabarkan diminati oleh klub Malaysia namun ia baru akan menentukan masa depannya selepas kontraknya usai di Persib pada Januari 2016.

Detik.com beberapa hari lalu menerbitkan artikel kenapa Liga Super Malaysia menjadi pelabuhan pemain Indonesia ketika kompetisi terhenti. Faktor finansial, fasilitas lebih baik, dan bahasa menjadi poin – poin alasan terpilihnya Liga Super Malaysia sebagai tempat peruntungan baru. Namun yang paling menarik adalah dicantumkannya kompetisi adem ayem. Berselang hari, Tantan menyatakan kejenuhannya menunggu pertandingan yang tak tentu selepas Persib gagal di Piala Jenderal Sudirman.

BF6299253F603E4F60F6780A239C8CDC

Poin terakhir rasanya menjadi poin utama kenapa para pemain memilih mencoba berkarir di luar negeri. Sejatinya mereka adalah para pemain sepakbola yang bermain untuk mencari pendapatan selain memang inilah keinginan hati mereka. Mereka tidak siap dengan kondisi seperti ini ketika kaki – kaki mereka dipaksa beristirahat banyak daripada berlari dan menendang bola. Mereka haus dengan aksi di lapangan hijau. Kondisi psikologis dan finansial bercampur aduk dalam setiap diri pemain.

Jika melihat fakta bahwa beberapa klub masih sering telat membayar gaji pemain berbulan – bulan, tetapi tidaklah memicu para pemain untuk pindah ke luar negeri. Karena mungkin walau gaji tersendat tapi masih ada bonus – bonus lain ketika kompetisi berjalan lancar. Itulah kelancaran kompetisi memberikan keamanan dan kenyamanan untuk pemain, karena mereka terus bekerja, terus berkarya, gaji macet tetap tidak jadi halangan.

Namun jika harus mencari blessing in disguise dalam pembekuan ini, adalah para pemain Indonesia dipaksa merubah pola pikir untuk tetap bertahan. Salah satunya adalah merambah liga sepakbola di luar negeri. Sudah lama dan sudah terbukti para pemain Indonesia mempunyai daya saing dan mampu bertanding melawan para pemain asing. Bahkan tidak jarang ketika satu pemain bermain di luar negeri ia membawa prestasi bagi klub yang dibelanya. Bambang Pamungkas, Elie Aiboy, Ristomoyo, dan paling baru Andik Vermansyah mencatatkan diri mereka dalam sejarah prestasi Selangor FC di Piala Malaysia.

Merekalah bukti sahih bahwa pemain Indonesia mempunyai kualitas dan mental untuk bersaing di negara asing. Keadaan yang memaksa mereka merubah zona nyaman dan mencoba karir di negara lain.

Sebetulnya ketika para pemain mulai menunjukkan keberanian mencoba peruntungan di negara lain ini adalah keuntungan untuk timnas Indonesia. Satu hal yang sering dikeluhkan dari timnas adalah mental bertanding yang kurang. Sayangnya timnas pun kena pembekuan jadi percuma saja untuk sementara ini.

Namun untuk para pemain ber – eksoduslah daripada hanya berdiam diri menunggu turnamen demi turnamen demi mendapatkan karir yang lebih baik. Mungkin jika pembekuan ini masih panjang Indonesia akan mendapatkan gelar Guinnes Book of Record sebagai negara dengan turnamen sepakbola terbanyak.

 

 

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s