Mulai Dari Angka Nol, Ya??!!

Belencoso out. Dejan Antonic out , Hermawan goreng. Kembalikan Djanur. Persib tampil lebih bagus tanpa Dejan Antonic disisi lapangan. Komentar – komentar tersebut muncul pasca imbang melawan Mitra Kukar dan kemenangan atas Pusamania Borneo FC.

 

Munculnya komentar – komentar pedas tersebut adalah hal yang wajar mengingat selama dibesut Djajang Nurjaman (Djanur) Persib menjuarai Piala Walikota Padang, Piala Presiden dan memupus penantian 20 tahun lewat gelar Liga Super Indonesia.

 

Setelah kegagalan di Piala Jendral Sudirman, Persib memulai kembali semuanya dari awal. “Mulai dari Nol ya!!”, kalimat khas ketika kita mengisi kendaraan kita di SPBU seakan menggambarkan kondisi Sang Pangeran Biru, julukan khas Persib, saat ini. Makan Konate, Firman Utina, Ilija Spasojevic, Achmad Jufriyanto, Abdulrachman, Shahar Ginanjar, Dedi Kusnandar, yang paling menyakitkan tentunya kehilangan duo sehati M.Ridwan dan Supardi, dan peracik strategi tim sejak tahun 2013, Djanur, membuat Persib harus me-restart semuanya.

 

Gaya bermain 4-3-3 menghilang diganti 4-2-3-1. Penguasaan bola lewat sayap bergeser mulai dibagi lewat tengah. High pressure kepada lawan diterapkan. Umpan pendek mulai diimbangi dengan bola – bola langsung ke arah jantung pertahanan lawan.

037469900_1458267865-20160318-Turnamen-Piala-Bhayangkara-Bandung-HF6

Pendekatan taktik Dejan Antonic sebetulnya tidak terlalu berbeda dengan Djanur. Salah satunya bisa dilihat dari fungsi Juan Belencoso yang menyerupai Ilija Spasojevic. Pemantul bola, pembagi bola didepan, kemudian mencari posisi terbaik untuk menerima umpan. Meski sempat pendekatan membelah pertahanan lawan dari titik tengah lapangan digunakan, namun kala itu Juan Belencoso belum hadir dan Rahmad Hidayat dalam kondisi fit.

 

Sekarang lambat laun arah serangan kembali ditempatkan ke dua sayap. Hanya saja kali ini para pemain belum mendapatkan kesepahaman dalam bermain. Posisi kanan lapangan paling terlihat berusaha keras mencari kecocokan. Komunikasi Dias Angga dengan pemain depannya baik Kim Jeffrey atau Atep bahkan Tantan belum seciamik M.Ridwan dan Supardi.

 

Para pemain yang baru didatangkan masih berusaha membaur dengan pemain lama. Jika saja Hariono, Atep, Tantan dan yang lainnya tidak ada mungkin saja hasilnya lebih parah dari sekarang. Rahmad Hidayat yang langsung membius dengan gol – golnya nyatanya masih kesulitan menjaga ritme permainan seringkali menjadi titik buntu permainan Persib. Kim Jeffrey mempunyai skill bagus hanya saja “susurudukan teu puguh” kurang tenang baik dalam melepas umpan atau menguasai bola.

 

Sehingga saat Dejan Antonic menemani istrinya ke Hongkong dan Persib menjalani partai melawan Pusamania Borneo FC, poros tengah dipercayakan kepada dua pemain yang sudah sepaham satu sama lain,  Hariono dan M. Taufiq.

Lini pertahanan masih menyisakan lubang besar terutama di sisi kanan dan centre back. Vladimir Vujovic yang gampang gregetan jika permainan buruk merespon dengan luapan emosi. Hermawan penampilannya naik turun. Yanto Basna memang tangguh namun seringkali ia terlihat ragu dalam memutuskan tindakan selanjutnya ketika bola sudah berada dikakinya. Entah apa yang terjadi pada Dias Angga yang terlihat kedodoran ketika berhadapan dengan Hendra Bayaw (Mitra Kukar). Hanya ketenangan dari Tony Sucipto mampu memberikan rasa aman kepada bobotoh. Purwaka Yudi cukup bisa diandalkan.

 

Lini depan masih saling membangun komunikasi. Skill Samsul Arif seringkali tidak klop dengan positioning Juan Belencoso. Sehingga ada suara – suara agar striker Spanyol ini diganti, padahal masalahnya tidak ada suplai yang bagus kepada eks striker Kitchee SC. Atep? Lord Atep seperti biasa naik turun alias labil. Tantan dalam dua pertandingan terakhir Piala Bhayangkara mencoba memberikan sengatan kepada pertahanan lawan lewat kecepatan, olah bola dan body charge yang sejauh ini berhasil. David Laly seringkali duduk di bangku cadangan, dan Yandi Sofyan belum mengalami perkembangan berarti seperti juga alumnus SAD lainnya.

 

Alternatif memang dimiliki oleh Dejan Antonic namun sejauh ini ia masih belum mencoba semua. Solusi lini belakang terutama sayap kanan bisa saja dengan menempatkan Jajang Sukmara. Bersama pelatih asal Eropa, Drago Mamic, ia sukses. Siapa tahu ia menemukan kecocokan dengan Dejan Antonic. Rudiyana bisa lebih diberikan jam terbang, sudah terlalu lama ia ditempatkan dibangku cadangan.

 

Dibutuhkan kesabaran terutama dari bobotoh agar permainan Persib meraih stabilitas. Tidak akan mudah, karena sekarang kreasi permainan baru sedang dibangun dengan beberapa pondasi lama ditambah pondasi baru. Semoga saja kesabaran juga ada di manajemen dan tidak kembali ke kebiasaan buruk mengganti pelatih hampir setiap musim sebelum Djanur datang.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s