Movie Review : The Boy, The Lonely Boy

Just like every characters in psycho killer movie, they are die hard.

Melihat potongan – potongan cuplikan film ini dalam trailer di Youtube sekira 2 bulan yang lalu, cukup menarik, tampak menegangkan dan buktinya film ini cukup mampu menghadirkan nuansa horor.

THE BOY. Film yang dibintangi Lauren Cohan (sebagai Greta Evans) dan Rupert Evans (sebagai Malcolm, pemilik toko grosir), diawali dengan kedatangan Greta Evans ke sebuah rumah mewah terpencil yang bernama Heelshire Residence di pedalaman Inggris.

TheBoy-Featured-1050x683

Mencoba mendapatkan uang untuk masa depan anaknya, Greta menerima tawaran sebagai pengasuh anak pasangan Heelshire. Namun seketika ia mendapatkan “anak” yang harus diasuhnya adalah sebuah boneka yang diberi nama Brahms.

Majikannya, The Heelshires, menuntut Greta memperlakukan Brahms selayaknya manusia. Dibangunkan, dibacakan puisi, diperdengarkan musik, dinina bobokan dan segalanya.

Tidak bisa dipungkiri inilah yang membangun suasana tegang dalam film The Boy. Penampakan Brahms seperti boneka Ventriloquist yang sering terlihat, hanya saja dengan kisah boneka ini harus diasuh layaknya manusia juga di rumah tersebut hanya diisi 3 orang (pasangan The Heelshire yang kemudian pergi, Greta) dan sesekali Malcolm memberikan efek sepi dan terkucil yang ikut memberikan nuansa horor.

Adegan per adegan, dimulai dengan suara – suara anak kecil, Brahms menghilang dan muncul tiba – tiba, secara bertahap membuat film ini menarik untuk ditonton.

Hanya saja ketika film tengah mendaki ke puncak cerita, kehadiran Cole suami Greta yang tiba – tiba muncul di ruang biliard dan ikut terlibat dalam cerita rasanya sesuatu yang bisa dihapus dari kisah ini.

Karena Brahms yang ditinggalkan oleh The Heelshire bersama Greta dengan berbagai catatan dan peraturan sebenarnya sudah cukup untuk dijadikan kisah utama. Apalagi dengan catatan bahwa Never Leave Brahms Alone dan Greta yang mulai terlibat asmara dengan Malcolm sudah sangat cocok sebagai puncak cerita film ini.

Memang film ini menghadirkan kisah tidak terprediksi karena kemudian Brahms bukanlah hanya sesosok boneka mati. Hanya seandainya Cole tidak ada pun film ini sudah sukses sebagai film horor.

Well the conclusion is if you are a horror addict you wouldn’t want to miss this one. But the presence of Cole is just something annoying in this movie.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s