“Mencairnya” PSSI : HAMBAR

Pembekuan itu akhirnya mencair setelah Menpora, Imam Nahrawi, pada Selasa malam tanggal 10 Mei 2016. Dua alasan yang akhirnya meluluhkan sikap Imam Nahrawi adalah menghargai putusan Mahkamah Agung dan sikap FIFA. Menghargai. Kata ini mendasari kedua alasan tersebut. Entah bermakna sudah puas atau belum pokoknya PSSI kini aktif lagi. Genap satu tahun PSSI dibekukan? namun kalau diingat ice cream yang sudah mencair biasanya berasa hambar, apakah ini pun demikian?.

Sebelum soal hambar, pencabutan ini disambut suka cita seluruh pendukung klub – klub eks QNB League yang kini berkompetisi di Torabika Soccer Championship (TSC) 2016. Seakan meraih kemenangan yang sudah lama dinantikan. Karena hanya segelintir saja yang sejalan dengan Menpora, sisanya berseberangan dengan alasan jika ingin mengusir tikus dari sebuah gudang tak perlulah gudang tersebut dihancurkan. Hanya saja Menpora pun tahu akan sulit infiltrasi ke tubuh PSSI, maka pembekuan diambil sebagai jalan. Apa maksud ini semua? hanya mereka yang tahu. Adanya beberapa klub yang sudah dicoret dari keanggotaan PSSI lalu pro kepada Menpora, bisa jadi salah satu alasan. Namun entahlah.

Lantas selama setahun pembekuan ini apakah Menpora berhasil “menang”? Tidak juga jika kompetisi yang dijadikan patokan. Kompetisi Piala Kemerdekaan hanya diikuti klub – klub diluar QNB League. Piala Presiden, Piala Jendral Sudirman, Piala Bhayangkara, diikuti oleh klub – klub TSC setelah ada izin PSSI.

Masih soal kompetisi, Piala Kemerdekaan sempat meninggalkan catatan hutang untuk klub juara. Berbeda dengan kompetisi dengan restu PSSI lewat Event Organizer Mahaka, PT. GTS yang bergelimang uang dalam pelaksanaannya.

Bagaimana dengan sikap klub? mereka adalah anggota PSSI, pemilik suara PSSI, pembekuan tidak menggoyahkan kepatuhan mereka, walau diakhir mereka menuntut Kongres Luar Biasa (KLB) setelah Ketua Umum PSSI tersangkut masalah pidana.

Jika tuntutan diselenggarakannya KLB oleh para pemilik suara PSSI dianggap sebagai kemenangan Menpora rasanya hampa. Karena sejatinya Menpora tidak memberikan perubahan apa – apa dalam hal pelaksanaan organisasi sepakbola. Meski sering kali Menpora mencetuskan konsep – konsep pengelolaan sepakbola tapi tanpa kepatuhan klub kepada Imam Nahrawi semuanya sia – sia.

Jadi setahun ini Menpora gagal merombak sepakbola Indonesia? Bisa dibilang ya. Kalau pun Menpora ingin sedikit pembelaan mungkin munculnya beberapa operator kompetisi, penyiaran sepakbola yang lebih variatif, melihat Boaz Solossa berganti jersey klub, dan beberapa pemain keluar negeri untuk bertahan hidup adalah beberapa diantaranya. Walau untuk operator kompetisi yang terlibat nya si eta deui (orangnya masih terkait PSSI juga).

Hambar dong? menurut saya IYA. Karena apapun tujuan Menpora dibalik ini semua, gagal. Menyusun ulang sepakbola tidak, memperbaiki prestasi apalagi engga bingiiiit. Terus? ya sepakbola Indonesia masih gini – gini aja seperti sebelum pembekuan.

Taktik parkir bus PSSI gagal dibongkar strategi all out attack Menpora.

Menpora mencoba mempertahankan rasa manis dengan menambahkan gula ketika “mencairkan” PSSI. Nama manajer Portugal, Jose Mourinho diinginkan menjadi pelatih timnas. Hanya saja ini pun gagal menepis rasa hambar ketika pembekuan PSSI dicabut.

What about you, Mou?

 

 

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s