#dejan_don’t_out

Imbang di kandang itu sama dengan kalah. Kalimat ini pernah diucapkan oleh Alm.Ateng Wahyudi, Manajer Persib kepada Indra Thohir yang saat itu masih menangani Maung Bandung, julukan Persib. Inilah pula yang dirasakan bobotoh menerima hasil imbang Persib melawan Madura United di Bandung hari Sabtu pekan lalu.

#Dejanout. Hashtag yang menjadi populer di lini masa twitter sehabis pertandingan tersebut menandakan kekesalan bobotoh. Bukan hanya soal imbang tetapi sampai dengan saat ini pola permainan yang masih terlihat tidak sempurna menjadi kekecewaan lainnya.

Jika diingat pada awal kedatangan Dejan Antonic ke Persib sebetulnya ia cukup berhasil. Ujicoba melawan Bali United di Bandung berhasil ia menangkan. Lolos ke Final Piala Bhayangkara dan menjaga catatan pertandingan Persib hanya 2 kali kalah dari Arema. Memang dalam beberapa pertandingan, Persib menunjukkan masih butuh waktu untuk memproses skema permainan yang diinginkan Dejan. Meski tampil buruk tapi Persib dapat mempertahankan stabilitas permainan dan tidak mengalami kekalahan.

Pola permainan saat ini memang masih buruk. Komunikasi tidak berjalan, kekompakan masih bayang – bayang semu, dan gol yang tercipta baru satu kali lewat skema permainan terbuka. Ada beberapa faktor yang menyebabkan kondisi ini terjadi :

  1. Cedera Rahmad Hidayat.

Tidak bisa dipungkiri Rahmad Hidayat adalah penerjemah pola permainan yang diinginkan Dejan di Persib. Ia telah fasih memainkan posisinya dalam formasi 4-2-3-1 dan gaya pressing tinggi. Dalam dua pertandingan melawan Bali United dan PSS Sleman, ia menunjukkan selain sebagai playmaker juga pencetak gol yang handal.

2. Hail Lord

Lord Atep pada Torabika Soccer Championship (TSC) sering datang dari bangku cadangan. Biasanya ia mengganti David Laly atau juga Robertino Pugliara. Dalam tiga pertandingan terakhir di TSC melawan Bali United, Persiba Balikpapan, dan Madura United, ia mempunyai kesempatan untuk memberikan assist ataupun mencetak gol. Namun ia gagal melakukan semua itu. Atep ketika tidak memberikan assist terlihat ingin membuktikan dirinya bahwa ia masih mampu dan bangku cadangan bukanlah tempat baginya. Sayangnya sejauh ini ia tidak sukses dan malah memperlihatkan adanya masalah pada kekompakan antar pemain.

3. Persib Kehilangan winger yang mumpuni.

David Laly memang mempunyai olah bola yang bagus, kecepatan dan keberanian. Tapi ia sering kali menunjukkan tidak matang mengambil keputusan. Ia selalu ingin melewati satu atau dua pemain lawan membawa bola hingga ke garis tepi lapangan sebelum melepaskan umpan. Dalam melakukan “hobi” -nya ini banyak sekali momen bagus yang terpaksa hilang percuma. Samsul Arif? terlalu dipaksakan bermain di posisi flank meskipun punya kecepatan namun akurasi umpannya rendah.

Seharusnya Tantan bisa menjadi harapan tetapi ia yang dulu sangat tangguh dalam melindungi bola dan mendobrak pertahanan ketat lawan, sekarang mudah kehilangan bola. Sedangkan Febri Haryadi belum dinilai matang sejak ia masih menunjukkan belum terlalu bisa mengatur ritme permainannya.

4. No Playmaker.

Berkaitan dengan poin pertama, pengganti yang diharapkan bisa menjadi sutradara permainan bukanlah pemain tanpa pengalaman. Robertino Pugliara sudah lama malang melintang di sepakbola Indonesia, hanya saja selama ini ia masih kesulitan menempatkan dirinya dalam permainan. Sebetulnya masih ada Gian Zola di bangku cadangan namun belum pernah di coba dimainkan di TSC.

5. Kompak?

Kemana kekompakan para pemain saat ini? Rasanya jika kekompakan ini sudah terjalin, poin 1-4 bisa diatasi. Namun saat ini terlihat komunikasi yang tidak berjalan baik, para pemain masih menunjukkan ego yang tinggi dalam bermain. Apakah istilah bobotoh untuk Kim Jeffrey Kurniawan, si anak emas, ikut menyumbang sulitnya kekompakan ini terbangun?.

Kim Jeffrey rasanya dipilih karena staminanya. Memang masih ada M.Taufiq yang lebih matang hanya saja pergerakannya terbatas tidak seperti Kim. Dejan menginginkan pressing ketat dan M.Taufiq secara logika bukanlah pilihan yang tepat untuk itu sejak ia dalam bermain lebih banyak berputar di areanya sendiri.

Pandangan bobotoh yang berbeda terhadap Kim bisa saja malah menumbuhkan ego pemain.

Dejan Antonic mempunyai beban yang berat. Jeda TSC selama seminggu ini bisa dimanfaatkan untuk membangun komunikasi yang luwes antar pemain. Ketika Djajang Nurjaman pertama kali menangani Persib ia mempunyai keuntungan memanfaatkan koneksi M.Ridwan – Supardi dan membangun poros permainan Persib di sayap kanan. Kali ini Dejan belum mempunyai itu dan harus membangun dari awal.

Dejan layak diberikan waktu dan tidak seharusnya ia out cepat – cepat.

 

 

 

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s