Euro 2016 : ANTI TIKI TAKA

Bertahan terkadang lebih penting daripada menyerang. Sepertinya itulah filosofi permainan beberapa negara yang bertarung di Euro 2016. Sebut saja Irlandia Utara, Wales, Islandia bahkan Italia membangun pusat permainan mereka lewat permainan bertahan untuk melancarkan serangan balik ke jantung pertahanan lawan. Italia dan Islandia terhenti di babak perempatfinal, sedangkan Wales menyudahi kiprah mereka di semifinal.

Mungkin Euro 2016 menjadi sebuah tempat kelahiran anti tiki taka. Gaya bermain yang menekankan pada penguasaan bola dengan tujuan memperbesar peluang mencetak gol yang dipopulerkan Barcelona dan timnas Spanyol, kini mulai bisa teratasi. Gaya bermain yang terkadang meniadakan penempatan striker murni dan mengganti dengan seorang gelandang agar aliran bola bisa terus lancar di Euro 2016 terhentikan.

Kekalahan Spanyol menjadi cermin bahwa tiki taka belum tentu dapat diandalkan di masa mendatang, seperti yang diungkapkan pemain bertahan Spanyol, Gerard Pique, bahwa saatnya Spanyol berganti gaya bermain. Spanyol kalah oleh formasi klasik 3-5-2. Formasi tersebut sudah tidak terlalu banyak digunakan karena sekarang yang sering digunakan pada level klub atau timnas adalah varian¬† formasi 4-4-2. Gaya Italia yang bertahan dan melakukan serangan balik dengan cepat, membunuh Spanyol yang dalam pertandingan tersebut “dibiarkan” banyak menguasai bola.

untitled

Bertahan tidak selamanya negatif. Seperti yang dikatakan Manajer Polandia, Adam Nawalka, bahwa dengan bertahan mereka sebenarnya mengendalikan lawan. Polandia meraih hasil imbang tanpa gol saat bertemu Jerman di fase grup. Adam Nawalka menegaskan bahwa penguasaan bola Jerman yang tinggi adalah bagian dari skenario mereka.

Kalau sebelumnya terkenal istilah Parkir Bis untuk gaya total defensif yang sering digunakan satu tim ketika berhadapan dengan tim yang memiliki kualitas pemain lebih baik dan mempunyai ketajaman, sekarang istilah itu tidak terlalu terdengar, mungkin berganti menjadi Efektif.

duet striker menjadi penting kembali.

Kekalahan Jerman dari Prancis di babak semifinal membuktikan bahwa posisi seorang Big Man di lini depan tetap diperlukan. Ketika menghadapi Turki di babak grup sebenarnya Joachim Loew telah mengganti gelandang serang Mario Goetze dengan striker murni Mario Gomez dan skema ini dipertahankan sampai dengan babak perempatfinal. Namun di semifinal Emre Can, seorang pemain tengah, yang menggantikan peran Mario Gomez dan Thomas Muller, yang belum mencetak satu gol pun di Euro 2016, diandalkan mengambil alih peran pencetak gol.

Skema tersebut gagal total meski Prancis “mempersilakan” Jerman menguasai bola sebanyak – banyaknya. Memasang 3 gelandang yang fasih bertahan dan menyerang yaitu Blaise Matuidi, Moussa Sissoko, dan Paul Pogba, akhirnya Prancis menumbangkan juara Piala Dunia 2014 tersebut.

Prancis mirip dengan Italia ketika menyerang. Mereka mengandalkan seorang striker yang mampu berduel dengan pemain bertahan lawan dengan kekuatan fisik yang dikombinasikan dengan seorang pelari cepat. Italia punya Graziano Pelle – Eder, Prancis memiliki Olivier Giroud – Antoine Griezzman.

Duet ini bisa ditempatkan sejajar seperti Wales yang memainkan Gareth Bale dan Hal Robson Kanu, atau seorang striker ditempatkan sendiri di lini depan. Bagaimana pun penempatannya pada prakteknya ada dua pemain dengan posisi asli penyerang. Ini meniadakan pola tanpa striker ataupun striker tunggal yang sempat menjadi trend karena para manajer memilih untuk memainkan banyak pemain tengah dengan harapan bisa banyak menguasai bola.

3-5-2, duet striker, ah memang seperti inilah sebuah trend yang akan tidak akan hilang tetapi berputar mengikuti perubahan arus waktu. Jika dalam beberapa tahun terakhir tiki – taka menjadi contoh permainan banyak tim, bisa jadi Euro 2016 mempopulerkan kembali gaya bermain klasik yang sempat ditinggalkan.

Oh ya, berdasar statistik 5 tim dengan penguasaan bola terbaik per pertandingan, semuanya telah angkat koper dari Prancis.

sumber : http://www.uefa.com

 

 

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s