Harimau : Raja Hutan, Fact or Myth?

The Jungle Book dan Tiger : The Old Hunter’s Tale merupakan dua film dari dua benua yang menjadikan harimau sebagai salah satu tokoh utama. Shere Khan, seekor harimau bengal, menjadi musuh Mowgli dalam the Jungle Book, sedangkan seekor Harimau Korea (kini dikenal sebagai Harimau Amur atau harimau siberia ) yang dijuluki , Penguasa Gunung Jirisan, menjadi lawan aktor Choi Min Sik di The Old Hunter’s Tale.

Kedua harimau tersebut muncul dalam film sebagai hasil rekayasa teknologi CGI (Computer Generated Image). Namun hasilnya mengesankan, kemampuan aktor di kedua film tersebut mampu membuat seakan mereka mempunyai lawan akting yang nyata.

Selain sama hasil rekayasa komputer, tentunya kesamaan lain dan sesuai dengan apa yang telah kita dengar selama ini kedua “kucing besar” ini digambarkan sebagai  raja hutan yang ditakuti bukan hanya oleh binatang lain termasuk sesama predator, tetapi juga oleh manusia.

Muncul rasa penasaran, kenapa harimau yang kini dijaga kelangsungan hidupnya agar tidak punah mendapatkan status Raja?. Memang agak sulit mendapatkan sumber pertama yang menyebutkan bahwa kucing yang masuk dalam genus panthera adalah penguasa hutan. Apakah dari luas wilayah yang bisa dijelajahi seekor harimau? ataukah dari kekuatannya? atau yang lainnya?.

inside right amur tiger by Sergei Belsky

Seekor harimau betina bisa memiliki wilayah perburuan seluas 20 km persegi. Harimau jantan lebih luas lagi yaitu mencapai 60 – 100 km persegi.  Dari segi kekuatan, seekor harimau bisa membunuh mangsa yang memiliki ukuran 2 kali lebih besar, mampu melompat  vertikal setinggi 4 – 5 meter dan melompat horizontal sejauh 6 meter, juga mempunyai suara yang menggelegar bahkan auman seekor harimau bisa terdengar sampai 3 kilometer. Bukan hanya itu, jika dihadapkan pada mangsa yang mempunyai kecepatan berlari, harimau sering kalah cepat, namun ia akan mengakalinya dengan cara berburu yang efektif, bersembunyi dan menyergap secara tiba – tiba. Satu pukulan dengan kaki depannya cukup untuk menghancurkan tengkorak seekor beruang.

Harimau adalah pemburu yang bekerja sendiri dan memang merupakan penyendiri. Wilayah kekuasaan yang luas tidak membuat mereka lupa berbagi, karena seringkali bisa ditemukan dua ekor harimau pada luas wilayah yang sama atau juga hewan pemangsa lain bisa berdampingan berburu mangsa di wilayah yang sama.

Hewan ikonik dalam kebudayaan manusia yang ironisnya justru hampir punah karena manusia itu sendiri sering dipercaya memiliki kekuatan mistis. Bukan hanya itu organ – organ tubuhnya dipercaya berbagai pengobatan, sehingga tidak aneh jika jumlah harimau semakin menyusut.

Tapi bukankah kita sering mendengar singa juga Raja Hutan? Sebagai dua kucing besar dan predator keduanya memang dipercaya sebagai raja. Namun keduanya menguasai dua hutan yang berbeda. Karena harimau hanya hidup di belahan benua Asia dari mulai Turki hingga Rusia, sedangkan singa di benua Afrika dan benua eropa. Singa dan harimau berbagi hutan yang sama hanya di negara India.

Membangkitkan rasa penasaran, siapakah raja diraja diantara keduanya? Ternyata pertanyaan tersebut telah mengusik pikiran manusia sejak dahulu, bahkan untuk membuktikannya pada arena sirkus Roma kuno sering dipertontonkan pertarungan antara singa vs harimau. Bahkan Kaisar Roma, Titus, memiliki harimau jagoan dari jenis harimau Bengal yang sering ia tarungkan melawan singa.

Gunga, seekor harimau yang dimiliki Raja dari Kerajaan Awadh (Oude/ Kini United Provinces dibawah Pemerintahan India), memiliki catatan 30 kali membunuh singa dalam pertarungan bahkan saat dipindahkan ke Kebun Binatang London (London Zoo) ia juga membunuh singa lain disana.

Salah satu pertarungan yang dicatat sejarah adalah pertarungan antara Atlas (seekor singa jenis Barbary yang merupakan salah satu jenis singa terbesar) melawan seekor harimau Bengal dengan reputasi pernah memakan manusia di daerah Shimla pada abad 19 yang diadakan Dinasti Gaekwad yang menguasai daerah Baroda (sekarang dikenal dengan nama daerah Vadodara dibawah pemerintahan India).

Kedua hewan ganas ini ditempatkan dalam sebuah arena dengan diameter 15.24 meter dan  dikelilingi pagar setinggi 1.83 meter, penonton mengelilingi mereka. Harimau Shimla (Kita singkat dengan sebutan Shimla biar ga kepanjangan ngetiknya hehehe) mempunyai tinggi 1,02 meter dan panjang tubur 3,05 meter. Sedangkan Atlas sang singa mempunyai ukuran tubuh lebih besar.

Selayaknya pertarungan antara dua petinju, catatan sejarah juga mengungkap pertarungan ini bisa dibagi menjadi 6 ronde. Dari salah satu sumber, ronde pertama Shimla langsung menyerang namun diakhir ronde atlas berhasil mendaratkan pukulan yang mengoyak telinga shimla, shimla yang berguling dilantai karena pukulan ini berhasil lolos dari atlas dan kemudian menjaga jarak.

Ronde dua, Shimla kembali menunjukkan agresivitasnya ia melompat sejauh 6 meter untuk kemudian mendarat dipunggung atlas. Keduanya terlibat saling memukul, mencakar selama tiga menit, Shimla tidak lagi menjaga jarak seperti di ronde pertama. Keduanya mengalami cedera berat. Shimla, meski bertubuh lebih kecil, namun ia memiliki kecepatan yang tidak bisa ditandingi Atlas.

Ronde Tiga, Shimla mulai tahu kelemahan atlas. Ia bergerak mengelilingi atlas. Ketika atlas lengah karena tidak bisa merespon kecepatan gerakan shimla, shimla kembali menyerang punggung atlas. Akhir ronde ini dua sayatan jelas nampak di punggung atlas. Secara teknis ia telah kalah dari shimla. Ronde empat, shimla mengulangi gerakan mengelilingi atlas yang sudah kehabisan napas, namun ia tetap memberikan perlawanan hebat. Ronde Lima, Atlas diselamatkan surai ketika shimla mengincar lehernya. Shimla yang mencoba menggigit leher atlas terhalangi oleh surai sehingga terpaksa mengendurkan serangan dan kesempatan ini dimanfaatkan atlas untuk melancarkan serangan dengan kaki depannya yang membuat shimla terlempar sejauh 6 meter. Ronde lima juga memperlihatkan atlas sudah kehabisan tenaga dan tak mampu mengimbangi gerakan akibat luka – lukanya.

Ronde enam, taktik mengelilingi tubuh atlas kembali dilancarkan shimla. Peluang terbuka, shimla langsung melancarkan serangan dengan kaki depan dan belakang selama 40 detik, atlas bertahan habis – habisan, ia berhasil melempar tubuh shimla tetapi itulah pertahanan terakhir atlas karena singa barbary ini kemudian jatuh dan mati.

Atlas dimakamkan bak pahlawan. Dinasti Gaekwad mengeluarkan dana sebesar 37 ribu Rupee untuk biaya pemakamannya.

Apakah ini membuktikan harimau lebih kuat dari singa? tidak selalu, karena mereka berdua saling mengalahkan dalam pertarungan bahkan di alam bebas sekalipun. Namun menurut beberapa keterangan memang harimau akan lebih kuat dan mempunyai kesempatan menang lebih besar daripada singa.

Salah satu alasannya karena singa adalah pemburu yang berburu berkelompok sedangkan harimau berburu mangsa sendirian. Dalam pertarungan satu lawan satu harimau lebih terlatih. Harimau dalam pertarungan akan memberikan segala kekuatannya untuk mengalahkan lawan dengan agresif dan juga penuh taktik.

Oh ya dalam hal berbagi dengan sesama mereka pun ternyata harimau lebih bisa berbagi. Seekor harimau jantan akan membiarkan harimau betina dan anaknya untuk makan terlebih dahulu. Singa jantan sebagai pemimpin kelompok akan mendapatkan jatah makan duluan meskipun yang berburu adalah singa betina.Jika dua harimau secara kebetulan berada di satu areal perburuan yang sama mereka juga bisa berbagi satu mangsa.

Namun keduanya tidak selalu bersaing karena di alam bebas, singa dan harimau bisa kawin dan melahirkan keturunan yang dinamai Lion – Tiger disingkat menjadi Liger.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
OLYMPUS DIGITAL CAMERA

 

Jadi dengan segala kekuatan dan pembuktian di arena pertarungan, harimau terbukti bisa mengungguli sesama raja hutan, maka apakah pantas disebut raja hutan? Rasanya ya, tetapi kembali seperti penjelasan diatas keduanya memang raja di hutan yang berbeda bahkan di India sekalipun mereka berbagi wilayah. Fakta lain seekor buaya bisa membuat singa melangkah mundur tetapi harimau tidak pernah takut kepada ancaman buaya.

sumber :

http://www.wikipedia.org

http://www.quora.com

http://www.nationalgeographic.com

 

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s