KRISIS PLAYMAKER

Dua kekalahan Indonesia dari Myanmar dan Thailand dalam ajang AFF Youth Cup Vietnam 2016 membuat skuad muda Garuda kini harap – harap cemas menghadapi pertandingan ketiga yang dijadwalkan esok hari, Jumat 16 September 2016. Imbang atau kalah sama saja dengan menutup pintu langkah Indonesia ke babak semifinal.

Permainan timnas U19 sebenarnya menjanjikan. Torehan 4 gol dalam 2 partai awal membuktikan bahwa Indonesia mempunyai daya saing di turnamen yang pernah dijuarai pada tahun 2013 lalu. Sayangnya faktor persiapan yang singkat karena PSSI baru diaktifkan kembali dan ujicoba seadanya membuat potensi meraih poin di 2 pertandingan awal lenyap.

Ada kelemahan yang sangat kentara dalam permainan Timnas U19 arahan pelatih Eduard Tjong. Ketiadaan pengarah dan pengatur bola (playmaker) di lini tengah serta mudahnya lini tengah diterobos lawan karena gelandang bertahan yang tidak berfungsi. 

Diluar faktor kematangan bertanding yang menjadi kelemahan lainnya akibat tidak adanya kompetisi resmi, berdurasi panjang juga berjenjang yang dimiliki PSSI untuk usia muda, kehilangan seorang playmaker  merupakan kelemahan krusial sehingga membuat permainan tergesa – gesa dan mudah dihentikan lawan.

Jika pada tahun 2013 ada Evan Dimas yang kini mulai digunakan di timnas senior, pada tim yang sekarang tidak ada. Bola dialirkan dengan cepat dari kedua sisi lapangan memanfaatkan kecepatan winger – winger Indonesia meski hasilnya sering tidak sesuai.

Saat ini bukan hanya di usia muda namun juga senior, seorang playmaker menjadi spesies langka. Evan Dimas satu – satunya nama yang paling sering disebut akhir – akhir ini. Memang Indonesia masih memiliki Firman Utina, Eka Ramdani atau Ramdani Lestaluhu tetapi jika dibandingkan dengan ‘kelahiran’ winger – winger maka perbandingan jumlahnya sangat jomplang.

Sebutlah Anis Nabar, Zulham Zamrun, Ilhamudin, Maldini Pali, Terens Owang, Bayu Gatra dan masih banyak lagi. Mereka adalah spesies pemain sayap dan penyerang yang memiliki ketajaman berbekal kecepatan dan olah bola. Habitat mereka adalah disisi lapangan dan kesenangan mereka memang menyayat pertahanan lawan dari sisi lapangan.

Winger ini terus terlahir disisi lain kelahiran dirijen lapangan tengah terhambat. Entah karena kurikulum pembangunan sepakbola Indonesia yang mengakibatkan hal ini tapi ah rasanya kurikulum pun belum dimiliki PSSI. Jadi apa yang menghambat proses kelahiran seorang playmaker yang semakin langka dibandingkan dengan era 90an nama – nama  playmaker seperti Fachri Husaini, Ansyari Lubis, Yusuf Bachtiar, dan Uston Nawawi  bermain  bersama dalam satu kompetisi.

Cobalah ketika playmaker Indonesia di halaman google, beberapa hasil pencarian mungkin berjudul “playmaker top yang bermain di Indonesia” tetapi setelah ditelusuri ternyata nama – nama pemain asing lebih banyak disana. Apakah ini jawaban absolut? Bisa saja. Meski jika dirunut banyak jawaban yang bisa diajukan. Hanya hasil pencarian google tadi mengingatkan saya pada satu klub yang saat ini berkompetisi di Indonesian Soccer Championship yang enggan menggunakan playmaker muda binaan sendiri dan lebih memilih menempatkan pemain asing di posisi itu bahkan karena hasilnya belum memuaskan, kerinduan pada playmaker asing lainnya yang sebelumnya pernah berada di klub itu lebih mengemuka daripada menuntut memberikan kesempatan kepada pemain muda.

Jika ada jawaban bahwa ini akibat pembekuan PSSI bisa saja tapi tokh kita harus ingat bahwa sebelum dibekukan pun kondisi pembinaan sepakbola Indonesia masih beginih – beginih aja.

Posted from WordPress for Android

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s