FIFA Women’s World Cup 2016, All Asian Final, Buah Visi 100 Tahun.

Lari mereka kencang, bola tendangan mereka melaju keras, taktik mereka mengalir mulus di atas lapangan membuat negara seperti Inggris, Spanyol, Amerika Serikat bertekuk lutut. Mereka adalah Timnas sepakbola putri Jepang U-17. Babak grup hingga babak final pada 21 Oktober 2016 di Stadion Internasional Amman Yordania dilewati tanpa cela.

Jepang tampil di Piala Dunia Wanita U-17 tahun 2016 Yordania sebagai salah satu wakil Asia bersama tuan rumah Yordania (kalah dibabak grup) dan Korea Utara, lawan mereka di final nanti. Benua Asia tentunya berpesta karena berhasil mencetak sejarah All Asian Final di Piala Dunia Junior.

Tidak banyak yang bisa diketahui dari Korea Utara, yang juga tanpa kekalahan masuk ke final, karena informasi dari negara yang terus berseteru dengan Korea Selatan ini menutup dan “diisolir” dari pergaulan dunia. Namun jika kita melihat kiprah timnas sepakbola putra dan putri baik level junior maupun senior, pengasingan mereka dari mata dunia tidaklah berpengaruh besar. Sepakbola seperti menjadi salah satu jalan bagi mereka mengenal dunia bahkan beberapa pesepakbola putra juga berkiprah di klub luar negeri.

Sedangkan Jepang dikenal dengan visi 100 tahun dalam pembangunan sepakbola. Visi yang ditujukan mengangkat sepakbola jepang saat ini berjalan dan menuai hasil memuaskan. Contoh sederhana, Jepang kini merupakan negara eksportir pemain ke benua Eropa. Situasi tersebut bukan hanya berlaku pada sepakbola laki – laki tapi juga wanita.

Menyoal prestasi, timnas wanita memang lebih mentereng daripada timnas putra. Timnas putri Jepang pernah menjadi juara dunia pada tahun 2011. Prestasi yang mendongkrak jumlah penonton stadion Liga Sepakbola Wanita Jepang (Nadeshiko Div.1).

Dapat dikatakan bahwa kesuksesan menjadi juara dunia plus star factor, kapten timnas wanita Homare Sawa ketika itu mendapatkan kontrak besar dari sponsor, semakin memuluskan pencapaian visi 100 tahun. Terbukti sepakbola putri menjadi cabang baru dalam turnamen nasional antar sekolah.

Salah satu cara dalam usaha mewujudkan visi 100 tahun adalah dengan meleburkan sepakbola dengan komunitas masyarakat. Prakteknya yaitu klub dari setiap daerah harus bekerja sama dengan perusahaan lokal, sekolah sepakbola lokal. Selain mempromosikan dan memberikan tempat untuk bakat – bakat muda ini juga membuat ikatan klub dengan masyarakat sehingga jumlah penonton yang datang ke stadion akan banyak dan tentunya berimbas kepada stabilitas finansial klub.

Visi 100 tahun ini bukan hanya menyasar kepada pemain muda, tetapi juga menyiapkan klub profesional Jepang tahan banting jika krisis ekonomi mendera. Ya sepakbola Jepang hampir runtuh ketika krisis ekonomi tahun 1997. Visi ini merupakan hasil pengalaman mereka.

Pemain muda adalah target paling utama. JFA (Federasi Sepakbola Jepang) menebar sumber daya ke setiap sekolah sepakbola, kursus pelatih dan pemandu bakat. Jejaring diciptakan yang melibatkan sekolah – sekolah umum dalam pelatihan dan turnamen antar sekolah.

Tidak cukup dengan itu, anak – anak muda juga diberikan satu sosok idola yang dekat dengan kesenangan khas anak – anak. Film kartun Captain Tsubasa menjadi inspirasi anak – anak Jepang agar bermain sepakbola dan mereka memiliki hasrat seperti Tsubasa yang dikisahkan sukses di level dunia. Role Model memang diperlukan. Keberhasilan timnas wanita Jepang di tingkat dunia adalah model acuan anak – anak lainnya.

Deadline visi itu masih lama, namun buahnya sudah dapat dinikmati.

Meski dengan fakta bahwa timnas pria dan wanita Jepang adalah pelanggan Piala Dunia, tetap saja keberhasilan timnas wanita U-17 ini masih membuat terhenyak apalagi jika menonton gaya mereka bermain. Rasanya dari beberapa highlight pertandingan – pertandingan Piala Dunia U-17, hanya Jepang yang memang mantap dalam artian sangat enak untuk dinikmati.

Meski memang sadar dan tentunya tidak sebanding, rasanya kembali harus bertanya bagaimana visi pembangunan sepakbola Indonesia? Apakah 100 tahun atau dari tahun ke tahun ganti?.

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s