Preview Leg Pertama Final AFF Cup 2016 : Pertahanan Thailand Bukan Benteng Baja

Latihan timnas Indonesia dipenuhi dengan teriakan motivasi. Stefano Lilipaly dan pemain lainnya optimis leg pertama final Piala AFF 2016 dapat dimenangkan Indonesia. Headline – headline berita tersebut memenuhi media cetak dan elektronik. Semua senada bahwa ada optimisme menjelang laga pertama final Piala AFF 2016 yang akan dipertandingkan besok malam (Rabu,14/12) di Stadion Pakansari Cibinong Bogor.

Thailand sejauh ini merupakan tim terkuat di Piala AFF 2016 dengan status tidak terkalahkan. 12 gol telah mereka jaringkan ke gawang lawan sementara hanya 2 gol yang bersarang di jala gawang mereka dalam 5 pertandingan Piala AFF 2016 dari mulai babak grup hingga fase semifinal.

Teerasil Dangda memimpin daftar pencetak gol terbanyak sementara dengan torehan 5 gol. 3 gol ia sarangkan ke gawang Kurnia Meiga saat Thailand mengalahkan Indonesia 4-2. Pencetak gol terbanyak lainnya milik Thailand adalah Sarawut Masuk dengan 3 gol. Thailand hanya membawa 2 striker murni pada turnamen dua tahunan ini. Selain Teerasil, ada Siroch Chattong yang sudah mencetak 1 gol.

Meski hanya membawa dua striker murni dan biasanya pelatih Thailand, Kiatisuk Senamuang, memasang striker tunggal dalam permainan, tetapi pasukan War Elephants, didukung gelandang agresif seperti Chanatip Songkrasin, Mongkol Tossakrai dan Adul Lahsoh.

Formasi 3-5-2 yang diterapkan Kiatisuk Senamung membuat gelandang – gelandang serang milik Thailand bisa diberdayakan untuk membantu daya gedor. Dua striker milik mereka baru mencetak 7 gol sisanya 5 gol disarangkan pemain tengah mereka.

5 orang gelandang di lini tengah Thailand diisi oleh satu defensive miedfield yang diemban pemain dengan nomor punggung 6 yaitu Sarach Yooyen. Ia bukan hanya membantu kinerja 3 centre back tapi juga berperan sebagai pembagi bola dan pengatur tempo. Dua winger biasanya ditempati pemain yang berposisi asli sebagai pemain bertahan. Sementara tiga gelandang diturunkan di sektor tengah sebagai penggedor pertahanan lawan membantu striker tunggal.

Serangan Thailand yang dapat dibilang berbahaya biasanya diawali kombinasi umpan dari sisi kiri. Theerathon Bunmathan (Nomor Punggung 3) atau Peerapat Nothecaiya (nomor punggung 2) meski berposisi asli sebagai pemain bertahan namun tidak canggung untuk ikut menyerang dan memberikan umpan dari sisi ini. Baik melakukan kombinasi umpan maupun memberikan umpan lambung ke kotak penalti kedua pemain ini fasih menjalankannya.

Keunggulan lainnya dari Thailand adalah pressing yang tinggi yang didukung dengan kehadiran 5 orang gelandang. Selain itu, ketika satu pemain Thailand menguasai bola maka pemain lainnya membagi peran untuk memberikan opsi umpan. Ada yang berlari ke ruang kosong, ada yang mendekati bola. Pemain depan Thailand pun dalam positioning ketika menyerang biasanya menempatkan diri diantara dua pemain bertahan lawan yang memungkinkan mereka untuk mempunyai ruang yang cukup untuk berlari membawa bola.

Belum ada yang mampu mengalahkan tetapi adakah kelemahan mereka? Tentunya ada dan bukan hanya satu kelemahan saja. Pressing tinggi yang diterapkan Thailand adalah untuk menutup lubang di sektor pertahanan mereka. Dengan memasang 3 orang centre back areal lebar lapangan tidak tertutup seluruhnya. Bahkan sisi kanan pertahanan yang ditempati winger, Tristan Do, adalah sisi terlemah mereka ketika bertahan.

tha4

Gambar diatas menunjukkan ruang kosong di sisi kanan pertahanan Thailand yang dapat ditembus oleh penyerang Singapura. Tristan Do selalu terlambat untuk turun membantu pertahanan. Filipina, Singapura, Myanmar dan Indonesia sangat menyadari hal ini dan seringkali mengawali serangan dari sisi kanan. Dalam beberapa pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2018 beberapa gol yang bersarang di gawang Thailand selalu ada yang tercipta dari sisi kanan.

tha5

Gambar diatas menunjukkan serangan Indonesia yang diawali Rizky Pora. 3 pemain bertahan fokus melihat pergerakan Rizky Pora dan membiarkan Andik Vermansyah dan Boaz Solossa tidak terjaga.

Dengan hanya 3 pemain belakang, perhatian mereka dalam menjaga lawan pun sering ditujukan kepada pemain yang menguasai bola sehingga meninggalkan ruang kosong yang tidak tercover. Apalagi jika winger lawan memanfaatkan lebar lapangan, maka biasanya satu orang berusaha melakukan man to man marking, sementara dua pemain bertahan lainnya tertarik mendekati sehingga banyak ruang kosong tercipta di kotak penalti.

tha3
Khairul Amri (jersey Merah no.10) berhasil menarik perhatian 3 centreback Thailand untuk memberikan ruang kosong di sisi kiri.

Sebetulnya bukan hanya sisi kanan yang menjadi kelemahan Thailand namun sisi kiri pun demikian. Dalam pertandingan melawan Filipina, Phil Younghusband hampir menjebol gawang Thailand menyambut bola lambung dari sisi kiri. Myanmar pada dua pertandingan semifinal juga memanfaatkan lebar lapangan dan berkali – kali masuk ke kotak penalti Thailand membahayakan gawang yang dijaga Kawin Thamsatchanan.

Salah satu pemain bertahan Thailand yang sering melakukan kesalahan adalah Adison Promsak. Dalam pertandingan melawan Myanmar beberapa kali bola dalam penguasaanya bisa direbut.

Gelandang bertahan Sarach Yooyen pun sering terlambat memberikan bantuan ketika bertahan. Perannya sebagai pembagi bola juga membuka kelemahan lainnya. Jika ia dapat ditekan oleh 1 – 2 pemain sehingga membatasi ruang geraknya akan memperbesar kemungkinan Thailand kesulitan menyusun serangan.

Pertahanan Thailand pun tidak terlalu tangguh ketika menghadapi umpan – umpan lambung. Lerby Eliandry dan Boaz Solossa sudah membuktikan hal itu lewat dua gol mereka dalam pertandingan lawan Thailand di babak grup.

Mau tidak mau, Indonesia harus mengambil inisiatif serangan terlebih dahulu agar Thailand tidak leluasa membangun serangan. Thailand sering kesulitan menghadapi tim yang bermain terbuka dan memiliki kemampuan sepadan. Filipina dan Singapura dikalahkan melalui skor tipis. Sedangkan Myanmar pada leg 2 semifinal menerapkan permainan terbuka dan mampu menyaingi pressing Thailand hanya saja tidak diimbangi dengan kemampuan mereka mengatasi serangan balik Thailand.

Jika pertahanan Thailand begitu terbuka maka kenapa baru Indonesia yang mampu menjebol gawang Thailand? Silahkan lihat cuplikan – cuplikan pertandingan Thailand melawan Filipina, Singapura dan Myanmar. Bagi saya adalah masalah ketenangan dan tidak tajamnya penyerang ketiga negara tersebut. Kalau saja mereka lebih tenang, bisa jadi catatan kebobobolan Thailand lebih dari 2 gol.

Tidak tenangnya para pemain depan tersebut dapat muncul karena predikat Thailand sebagai tim nomor satu di Asia Tenggara. Seringkali lawan yang menghadapi Thailand di Piala AFF akan berhati – hati fokus dulu untuk bertahan dengan sesekali melakukan serangan balik.

Predikat tim terbaik tersebut memang menggetarkan setiap lawan. Tetapi perlu diingat, Indonesia mampu melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan lawan lainnya, yaitu mencetak 2 gol ke gawang Thailand hanya dalam tempo 3 menit saja. Ini membuktikan predikat Thailand tidak menjamin mereka akan tangguh dalam bertahan.

Indonesia rasanya sudah lebih siap menghadapi pertemuan kedua dengan Thailand di Piala AFF 2016. Peningkatan permainan Indonesia dilakukan per pertandingan. Stamina yang sering menjadi masalah ketika menghadapi permainan intens lawan bisa jadi lebih siap diatasi setelah laga kedua semifinal di Vietnam pekan lalu.

Masih menjadi ganjalan adalah pertahanan Indonesia terutama fokus dimenit – menit akhir babak kedua. 10 gol di gawang Kurnia Meiga, 5 gol terjadi pada babak pertama dan 5 gol terjadi pada babak kedua. Sedangkan dalam urusan mencetak gol, Indonesia lebih tajam pada babak kedua karena menjaringkan 8 gol dan 2 gol dicetak pada babak pertama.

Jika menurunkan formasi 4-2-3-1 maka Indonesia akan bermain defensif, sedangkan yang dibutuhkan adalah mencetak gol dan menang dengan selisih besar sehingga harus bermain ofensif. Hal ini dikarenakan laga kedua final di Thailand akan ditandingkan pada tanggal 17 Desember, waktu yang sempit untuk recovery.

Membuat Lawan Shock

Berbicara tentang formasi, seandainya berani mengambil resiko Alfred Riedl dapat memasang 3-5-2 juga untuk mengimbangi jumlah dan peran para gelandang Thailand. Hal ini pernah dilakukan oleh Joachim Loew, manajer timnas Jerman, ketika menghadapi Italia pada babak perempatfinal Euro 2016. Formasi tersebut bukanlah sesuatu yang asing untuk pemain Indonesia. Mereka tumbuh dan berkembang dalam formasi tersebut bahkan sampai ke awal – awal era 2000an masih banyak pelatih Indonesia yang menerapkan formasi itu. Terbaru adalah Djajang Nurjaman ketika Persib menang atas Perseru Serui di pekan – 31 Indonesian Soccer Championship. Jika memasang formasi yang sama, bisa dipastikan Riedl membuat shock Kiatisuk.

Mengingat Italia di Euro 2016, maka satu gelandang yang ditempatkan di depan 3 centreback, mau tidak mau harus ditekan sedini mungkin. Ketika ia ditekan dan tidak bebas bergerak maka ia kesulitan membantu pertahanan dan sulit untuk membagi bola dalam situasi serangan balik.

Alfred Riedl juga harus mempertimbangkan baik – baik darimana ia akan menyuruh para pemain mengawali serangan. Memang dengan formasi ini sisi lebar lapangan Thailand terbuka dan berkali – kali dimanfaatkan lawan. Namun juga tentunya hal ini sudah dapat diprediksi oleh Thailand. Meski diatas sisi kanan Thailand adalah kelemahan mereka tetapi juga tidak ada salahnya menerapkan serangan dari sisi yang belum dapat mereka perkirakan. Karena siapa tahu, Thailand memang sengaja membuka kedua sisi kanan dan kiri agar mampu mengendalikan arah serangan lawan.

Kenapa tidak melakukan serangan dari sektor tengah  yang berarti memperbanyak pemain dengan kemampuan penguasaan bola mumpuni dan memperbanyak cut inside?

Thailand bukanlah tim yang super, bahkan mereka saat ini sedang membangun reputasi kembali setelah terjadinya gap generasi pemain sepakbola.

Inilah saat terbaik Indonesia merengkuh gelar pertama Piala AFF.

#INDONESIA_BISA

Advertisements

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s