Preview Leg 2 Final Piala AFF 2016 : Imbangi Pressing Ketat Lawan

Pertama bagi timnas sepakbola Indonesia. Sejak Piala AFF tahun 2004, sistem home and away pada babak semifinal dan final mulai diterapkan mengganti sistem satu pertandingan pada gelaran sebelumnya. Kemenangan Indonesia atas Thailand pada Leg pertama Final AFF Championship 2016 adalah yang pertama kali dialami Indonesia. Pada final sebelumnya yang dijalani Indonesia sejak sistem kandang tandang digunakan, setiap leg pertama (pertandingan pertama) selalu berakhir dengan kekalahan. Ini terjadi pada Piala AFF 2004, kalah oleh Singapura 1-3 dan pada Piala AFF 2010 kalah 0-3 atas Malaysia.

Sedangkan pertama yang kedua adalah meskipun sejak sistem ini diperkenalkan Indonesia belum pernah bertemu Thailand di final tetapi pertemuan kedua negara dalam sistem ini terjadi pada semifinal Piala AFF 2008. Ketika itu Thailand menang di pertandingan pertama lewat gol Teerasil Dangda. Jadi kemenangan hari Rabu kemarin adalah yang pertama kali bagi Indonesia mengalahkan Thailand di sistem home and away.

Jadi apakah ini pertanda baik? sesuai dengan cocokologi yang ramai diluar sana dengan memperbandingkan timnas Portugal pada Euro 2016 dan timnas Indonesia saat ini? Tentunya kita tidak bisa menggantungkan asa pada hal tersebut karena masih ada 90 menit di Stadion Rajamangala Bangkok pada 17 Desember nanti.

Thailand menjanjikan 90 menit yang brutal untuk Indonesia hari Sabtu nanti. Rasanya melebihi tekanan Vietnam pada semifinal lalu di Hanoi. Apalagi dengan kemampuan memainkan bola dan menciptakan peluang lebih bagus dari Vietnam tentunya skuad Garuda asuhan Alfred Riedl mesti melupakan kemenangan di Cibinong hari Rabu yang lalu karena perjalanan menuju juara masih panjang dan terjal, saat ini kita belum meraih apa – apa.

Pada pertandingan  pertama dua hari lalu, Thailand tidak terlalu aktif menyerang melalui kedua sisi lebar lapangan. Mereka menerapkan 4-1-4-1 ketika bertahan dengan mencoba memutus serangan Indonesia lewat garis pertahanan yang tinggi dan pressing ketat ketika dua atau tiga pemain menjaga satu lawan.

Ini memang gaya permainan Thailand sejak awal Piala AFF 2016. Gaya bertahan yang tidak berbeda jauh dengan Vietnam. Perbedaannya adalah Thailand lebih tajam ketika menyerang. Kemampuan membuka ruang di pertahanan lawan lebih baik berbekal komunikasi antar pemain yang sudah demikian solid. Perpindahan pemain dari satu posisi ke posisi lain juga sangat luwes sehingga setiap areal lapangan bisa mereka tutup.

3 gelandang milik Thailand yaitu Pokklaw A-nan, Chanatip Songkrasin, dan Sarawut Masuk memiliki peran bukan hanya sebagai pengolah serangan, pengumpan, tetapi juga sebagai pencetak gol. Pokklaw A-nan (nomor punggung 21) merupakan pemain paling mobile di lapangan. Ia bebas bergerak ke setiap sisi lapangan termasuk turun ke garis tengah berdampingan dengan Saarach Yooyen (nomor punggung 6) ketika bertahan. Ia adalah supplier bola bagi dua gelandang lain plus striker Teerasil Dangda. Pergerakannya harus diawasi oleh lini tengah Indonesia.

Satu gol Thailand ke gawang Indonesia dua hari yang lalu merupakan kombinasi akurasi umpan dan cara para pemain Thailand membelah fokus pemain bertahan Indonesia untuk menyediakan ruang di kotak penalti. Meski Peerapat Notchaiya di sisi kiri dan Tristan Do di sisi kanan lebih menjaga kedalaman pada pertandingan pertama namun mereka sesekali ikut membantu serangan. Peerapat Notchaiya patut mendapatkan perhatian karena ia memiliki akurasi umpan yang bagus.

Menghadapi Indonesia di kandang sendiri bisa jadi Thailand kembali ke formasi 3-5-2 bahkan menduetkan Siroch Chattong dengan Teerasil Dangda sejak awal karena mereka butuh mencetak gol. Mereka berdua bertanggung jawab atas kemenangan Thailand ketika menghadapi Indonesia di pertandingan pertama Grup A.

Namun celah pertahanan Thailand masih tetap terbuka lebar. Pressing lawan dengan menggunakan dua sampai tiga pemain membuat ada ruang kosong. Bahkan dua sisi lebar lapangan tidak sepenuhnya berhasil mereka tutup.

Thailand pun rentan dengan serangan balik. Tercatat 2 serangan balik Indonesia dengan mengarahkan bola ke sisi kanan dan kiri lapangan membuat Thailand cukup kerepotan. Boaz Solossa dan Lerby Eliandry merupakan aktor pada dua serangan balik tersebut.

thai1
Pemain Thailand selalu kalah jumlah ketika menghadapi Counter attack

Indonesia harus menampilkan permainan seperti pada babak kedua pertandingan pertama. Menerapkan pressing intens, menekan sejak lawan menguasai bola di areal pertahanan mereka. Pola umpan pendek dan memperbanyak cut inside bisa dijadikan senjata utama kembali.

Menekan lawan sejak dini harus diutamakan karena gol Indonesia yang dicetak Rizky Pora dua hari yang lalu diawali pressing hampir digaris tengah Thailand. Selain itu ketika pemain bertahan Thailand menguasai bola dan akan membangun serangan, biasanya barisan gelandang plus gelandang bertahan sudah jauh naik ke pertahanan Indonesia menciptakan jarak yang jauh dengan para pemain bertahan mereka. Ini peluang untuk memberikan tekanan pada mereka bahkan mengisolasi tiga pemain bertahan mereka.

thai2
Jarak yang cukup jauh antara pemain bertahan dan barisan gelandang Thailand.

Pressing ketat yang dilakukan Indonesia di babak kedua dua hari lalu sukses membuat Thailand tidak dapat mencetak satu pun tembakan on target atau off target. Percobaan mencetak gol tidak bisa mereka lakukan. Total 6 kali tembakan Thailand ke gawang Indonesia ( 2 on target dan 4 off target) semua terjadi dibabak pertama.

Wajib dimiliki para pemain Indonesia adalah bermain ngotot, disiplin dan keberanian. Selain itu mereka pun harus bisa membaca arah pergerakan bola sehingga dapat memberikan tekanan berarti kepada lawan.

Cederanya Andik Vermansyah pada pertandingan pertama dapat ditutupi oleh Zulham Zamrun. Permasalahan yang dapat timbul adalah Zulham telat panas. Babak pertama ia seperti kebingungan dan tidak bertahan dengan baik sehingga Manahati Lestusen beberapa kali bergerak ke arah kanan. Ia baru menemukan kenyamanan ketika babak kedua dimulai. Memang masih ada opsi lain seperti Bayu Gatra hanya saja ia belum pernah diturunkan sama sekali di Piala AFF 2016 ini.

Thailand mudah kehilangan fokus ketika babak kedua. Pada pertandingan pertama Grup A Indonesia mencetak 2 gol di babak kedua dan itu diulangi pada pertandingan pertama final kemarin. Menariknya hanya dalam hitungan menit saja Indonesia bisa mencetak 2 gol. Pertandingan grup dalam tempo 3 menit sedangkan dalam pertandingan final dalam tempo 5 menit.

Hal itu dapat berarti dua hal. Pertama stamina pemain Thailand tidak terlalu baik. Karena dengan permainan cepat dan menekan, stamina bisa cepat habis yang merupakan kelemahan dalam permainan dengan pola pressing tinggi. Kedua shock factor. Gol Boaz Solossa di pertandingan babak grup dan Rizky Pora dua hari lalu berhasil mengejutkan Thailand dan ternyata mereka butuh waktu cukup lama untuk kembali membenahi fokus dalam bertahan. Sehingga Indonesia perlu menghadirkan kejutan – kejutan baik melalui pergerakan pemain atau penciptaan peluang agar selalu merusak konsentrasi pemain Thailand.

Bayu Pradana sebagai tandem Manahati Lestusen dalam formasi 4-2-3-1 harus mampu menunjukkan kegigihan yang sama seperti rekannya. Manahati mau berlari ke berbagai sisi lapangan untuk merebut bola atau ikut membantu serangan. Bayu Pradana harus menandinginya sejak mereka berdua merupakan pemutus serangan lawan dan pemain yang mengawali serangan.

Dengan kemenangan di leg pertama, peluang Indonesia terbuka lebar. Skor identik dengan semifinal pertama ketika melawan Vietnam bukan berarti pola permainan menunggu seperti pada semifinal kedua dapat diterapkan kembali. Lebih baik mengimbangi kecepatan permainan Thailand dengan pressing ketat dan kedisiplinan. Thailand akan ofensif dan itu akan membuka banyak sekali celah di pertahanan mereka.

Jika Kiatisuk Senamuang, pelatih Thailand, di pertandingan pertama mampu menutup serangan Indonesia dari sisi sayap dan kecolongan di lini tengah, maka pada pertandingan kedua para pemain Indonesia harus bisa memadukan dua hal ini ditambah dengan melepas tembakan dari luar kotak penalti saat memungkinkan.

Kesimpulannya, pemain Indonesia harus tampil gigih, tidak lagi berhati – hati dalam artian tidak kalah mental pada pertandingan besok malam.

Oh ya, tahukah anda ada 3 final yang dijalani Thailand sejak Piala AFF menggunakan sistem home and away? Fakta menariknya adalah jika mereka kalah dalam pertandingan pertama final biasanya pada pertandingan kedua mereka hanya mampu bermain imbang atau menang dengan skor tipis lalu gagal menjadi juara. Ini terjadi pada Piala AFF 2007, Singapura menang di leg pertama dengan skor 2-1 dan leg kedua 1-1. Piala AFF 2008 Vietnam menang atas Thailand di leg pertama dengan skor 2-1 dan imbang 1-1 di leg kedua. Piala AFF 2012, Singapura mengalahkan Thailand 3-1 di leg pertama dan hanya kalah 0-1 di leg kedua. Jadi? Wallahu a’lam bishawab. Ah tidak usah berandai – andai, 90 menit adalah waktu yang lama dan perjuangan keras dan gigih harus ditunjukkan dan terus berdoa.

#INDONESIA_BISA

Advertisements

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s