Catatan Persib di Piala Presiden 2017

Kekalahan Persib di semifinal Piala Presiden 2017 memang menyesakkan. Tendangan penalti Kim Jeffrey Kurniawan yang gagal menemui jala gawang PBFC menjadi kesimpulan soal ketidak beruntungan Persib di malam itu.

Selalu ada hikmah di setiap kejadian. Hilangnya peluang Persib mempertahankan gelar Piala Presiden setidaknya memperlihatkan masih banyak hal harus dipersiapkan Persib menuju Liga 1 (mudah – mudahan tidak mundur lagi). Beberapa kelemahan Persib yang tercatat selama Piala Presiden adalah :

  1. Komposisi pemain belum ideal.

Cederanya Sergio Van Dijk pada perempatfinal melawan Mitra Kukar membuat Jajang Nurjaman (Janur) kehilangan formasi idealnya. Striker muda, Angga Febriyanto, diberikan kesempatan turun pada semifinal leg pertama hanya karena itu penampilan perdananya terlihat ia belum bisa seperti seniornya. Sehingga Janur lebih menyerahkan posisi ujung tombak kepada Matsunaga Shohei. Walau ia ketika kali pertama datang ke Persib sebagai striker dan berduet dengan Cristian “el loco” Gonzalez tapi di klub lain ia lebih banyak bermain sebagai gelandang serang. Ia kurang bisa mengeksplorasi kemampuannya jika menjadi ujung tombak karena ia membutuhkan areal lebar lapangan.

2. Kedua sisi sayap  tak seimbang

Jika pada fase grup, Febri Haryadi di sisi kanan yang menggila, pada tahap perempatfinal dan semifinal justru sisi kiri yang lebih menonjol. Peran Atep atau Matsunaga Shohei terlihat mampu memberikan kontribusi bahkan lebih tajam dalam urusan mencetak gol. Febri Haryadi tidak bisa diporsir terus menerus. Ia masih belum mekar sepenuhnya. Gaya bermain yang masih mengedepankan egoisme perlu dirubah agar ia paham betul bagaimana bermain dengan efektif dan efisien. Bukan sekali, satu celah di pertahanan lawan keburu tertutup karena Febri ingin mempertontonkan aksi dribbling melewati satu atau dua pemain. Berharap, karena ia mengikuti seleksi timnas Indonesia U-22, Luis Milla sebagai pelatih timnas akan memberikan pelajaran yang penting bagi pemain muda ini. Karena jika hanya di klub rasanya akan begitu – begitu saja.

3. Kebobolan terbanyak diantara 4 semifinalis

Kembalinya duet soulmate Vladimir Vujovic dan Ahmad Jufrianto nyatanya tidak memberikan jaminan keamanan di pertahanan. Persib mencetak 12 gol sampai semifinal leg kedua tapi kebobolan 6 gol. Ada sesuatu yang hilang setelah kedua pemain ini terpisah setahun ( Ahmad Jufriyanto bermain untuk Sriwijaya FC pada 2016). Di turnamen pra musim ini, justru Vujovic lebih menjadi penyelamat Persib melalui gol yang ia cetak. Pada dua leg semifinal, 3 gol yang dicetak PBFC semuanya berasal dari situasi corner kick. Bahkan gol Dirkir Glay ke gawang Persib hari Sabtu yang lalu membuktikan lemahnya pertahanan Maung Bandung.

092870000_1488790610-KIRIM_MG_6388

 

4. Skema permainan dan pergantian selalu sama

Tidak ada salahnya jika seorang pelatih memiliki gaya khas. Setiap pelatih selalu memiliki gaya permainan yang ia sukai. Namun jika kita melihat pada tahun 2014 saat Persib menjadi juara Liga Super Indonesia sampai dengan saat ini, gaya permainan yang ia terapkan tidak  mengalami perubahan. Perubahan hanya terjadi pada siapa pemain yang memainkan gaya tersebut. Serangan dari sayap, satu penyerang tunggal yang disokong tiga atau dua gelandang serang sudah sangat dipahami oleh lawan. Selain itu selama turnamen pra musim Piala Presiden 2017, pergantian pemain yang dilakukan oleh Janur terutama di babak perempatfinal sampai semifinal cenderung sama. Sehingga sekali lagi, lawan pun sudah memprediksi hal ini dan menyiapkan counter strategy. Lawan yang tampil dengan kualitas pemain tidak terlalu mentereng pun bisa merepotkan.

5. Mental bertanding yang lemah

Efek psywar lawan ternyata betul – betul efektif. Menggoyahkan mental bertanding Persib. Penjaga gawang sekelas I Made Wirawan pun yang sudah banyak memainkan pertandingan skala nasional dan internasional tampil bak pemain kemarin sore. Belum lagi ketika melihat pada semifinal leg pertama di Kalimantan, Persib seperti kebingungan, psywar ini merontokkan mental semua pemain. Agak aneh memang jika Persib yang dihuni beberapa pemain berpengalaman gugup menghadapi lawan yang sudah menyerang bahkan sebelum peluit kickoff dibunyikan.

6. There’s only one Hariono

Ahmad Basith, Dedi Kusnandar bukanlah pemain bertipe seperti Hariono. Sekalipun Kim Jeffrey Kurniawan yang memiliki “napas kuda” ia tidak sama persis. Pada pertandingan melawan Persiba Balikpapan ketika Hariono tidak turun, lini tengah Persib tidak dapat memberikan sokongan baik ke depan ataupun belakang. Persib perlu memiliki back up sepadan. Persib butuh pemain “kasar” yang mau beradu fisik dengan lawan untuk merebut bola plus memiliki kemampuan mengumpan yang baik.

7. Pemain asing tidak maksimal

Bukan tidak mungkin jika awalnya Janur menumpukan harap kepada Erick Weeks atau Matsunaga Shohei. Ketika penampilan mereka tidak juga memuaskan, Janur tidak memiliki cadangan skema permainan dan kembali mengandalkan pemain – pemain seperti Febri Haryadi.

Itulah beberapa catatan saya mengenai perjalanan Persib di Piala Presiden 2017. Memang masih ada satu poin lainnya yaitu Janur yang belum terlalu percaya sepenuhnya kepada para pemain muda. Ia masih mencoba mengandalkan sosok senior dalam setiap permainan. Well ini cuma pra musim, selayaknya pra musim ini digunakan untuk mencari kelemahan dan memperbaiki, juga untuk meningkatkan yang bagus menjadi lebih bagus.

 

Advertisements

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s