Marquee Player : Bisa Berhasil , Bisa Gagal

PSSI seperti telah diketahui menetapkan peraturan baru dalam pelaksanaan Liga I yang menurut rencana digulirkan pada 15 April nanti. Pemberlakuan kuota pemain asing 2+1 ( 2 pemain asal non asia + 1 pemain asia ). Plus jika klub mampu diperbolehkan memiliki pemain asing ke – 4 namun harus berstatus Marquee player dengan syarat pernah bermain di tiga edisi terakhir Piala Dunia (Piala Dunia 2006, Piala Dunia 2010, dan Piala Dunia 2014) atau berasal dari 8 liga top Eropa serta berusia maksimal 35 tahun.

PSSI tidak merinci apakah pemain asing tersebut harus mempunyai menit bermain di tiga edisi piala dunia tersebut atau cukup menjadi bagian skuad Piala Dunia (cadangan atau tidak bermain).

Menurut definisinya Marquee merujuk pada bintang utama dalam sebuah pertunjukan. Sehingga pemain yang berstatus Marquee biasanya adalah pemain yang dinilai memiliki kelas dan kemampuan diatas rata – rata pemain pada satu liga tertentu.

Sebenarnya agak kontradiktif, karena Marquee player di beberapa liga yang menerapkan aturan ini, biasanya adalah “pemain sisa”. Sudah mulai kehilangan tempat di liga – liga utama eropa, rentan cedera, dan kemampuannya pun kadang tidak sehebat ketika masih muda karena biasanya para marquee player menyandang status lain yaitu pemain veteran.

Pada kompetisi di Indonesia, ini bukanlah konsep yang baru pada liga sempalan bentukan Arifin Panigoro, Liga Premier Indonesia, Lee Hendrie (eks Aston Villa) pernah didatangkan dengan status ini bermain untuk Bandung FC.

Marquee Player ( Pada Major League Soccer disebut designated player) memiliki gaji diatas rata – rata dan tidak dibatasi aturan pembatasan gaji.

Liga yang menerapkan aturan ini  secara umum memiliki tujuan promosi dan investasi. Promosi untuk meningkatkan citra kompetisi di mata pendukung sepakbola lokal dan mampu menarik sponsor. Membangun citra menarik ke luar negeri. Berkaitan dengan investasi, diharapkan dengan adanya para pemain berstatus kelas dunia pada satu kompetisi, para investor kakap akan mau menanamkan uang mereka pada kompetisi baik pada liga itu sendiri atau pada klub.

Ketika David Beckham datang ke LA Galaxy pada tahun 2007, mampu menaikkan pamor sepakbola di Amerika Serikat dan berbanding lurus terhadap keuntungan finansial. Rumus ini juga digunakan oleh Indian Super League (ISL). Liga yang berjalan setelah i-league usai dan berdurasi selama 3 bulan ini, mendatangkan banyak pemain veteran kelas dunia bahkan beberapa diantaranya sudah berstatus pensiunan. Mereka didatangkan sejalan dengan tujuan ISL untuk mempopulerkan sepakbola di India menyaingi olahraga kriket.

Dalam ukuran popularitas dan investasi kedatangan para pemain berstatus bintang utama ini berhasil menaikkan pamor dan finansial, bagaimana dengan prestasi klub itu sendiri?

a.espncdn.com

Pengalaman Tampines Rovers pada Singapore League tahun 2016 mendatangkan Jermaine Pennant (eks Liverpool, Stoke City, Real Zaragoza) bisa dijadikan cerminan. Jermaine Pennant ternyata tidak mampu memberikan kontribusi yang banyak kepada timnya. Riwayat cedera yang panjang membuat kecepatan yang menjadi ciri khasnya hilang. Selain itu penampilannya dilapangan tidak stabil. Hanya sesaat saja ketika para penonton berdecak kagum dengan kemampuannya. Selebihnya ia dijadikan kambing hitam kegagalan Tampines Rovers menjuarai Singapore League.

Meskipun pengelola S-League mengklaim bahwa kedatangan pemain Inggris ini mampu mendongkrak jumlah penonton di stadion sebanyak 25 %, namun secara umum tetap saja masyarakat Singapura masih banyak abai ke kompetisi sepakbola mereka. Jermaine Pennant bahkan mengkritik pengelola S-league yang menumpukan terlalu banyak harapan kepada dirinya karena jika S-league sendiri tidak berbenah dan klub – klub Singapura tanpa memiliki Marquee player pun sudah ngos – ngosan maka jangan harap sepakbola Singapura akan berkembang.

Kembali ke Liga I Indonesia. Upaya PSSI dengan re-branding kompetisi setelah pembekuan FIFA dengan nama baru dan aturan baru memang patut dinanti. Jika melihat pada ukuran untuk menaikkan popularitas, sesungguhnya Indonesia sudah tidak perlu berusaha keras mendatangkan pemain kelas dunia karena sepakbola kita sudah demikian merakyat, stadion pun selalu penuh.

Promo ke luar negeri? rasanya juga sepakbola kita sudah terkenal karena para pendukung sepakbola Indonesia termasuk yang aktif mempopulerkan klub dukungan mereka lewat media sosial.

Mungkin dengan ukuran investasi finansial, ya klub – klub Indonesia memerlukan sokongan dana yang terus mengalir. Baru segelintir saja klub yang mampu dari musim ke musim. Tetapi seperti apa yang dikatakan oleh Jermaine Pennant tentang S-League, PSSI sendiri harus memiliki rencana dan aksi yang pasti dalam melakukan pembenahan liga dalam negeri. Karena jika tidak, kedatangan pemain kelas dunia hanya akan mubazir dan membuat klub hanya merasakan efek sesaat saja tanpa kontinyu.

Memberikan bimbingan kepada pemain muda? Karena PSSI mewajibkan tiga pemain berusia 23 tahun diturunkan minimal 45 menit per pertandingan untuk Liga I, belum tentu juga akan tercapai. Karena haruslah didukung oleh peningkatan kualitas fasilitas dan tim kepelatihan yang ada di setiap klub. Jika ingin menjadikan pemain Marquee sebagai “guru” maka sediakanlah “kelas” yang juga mendukung pembelajarannya.

17126882_864339263704634_8562734581294301184_n

Kedatangan Michael Essien ke Persib Bandung dan menurut kabar berita akan segera datang, Peter Odemwingie ke Madura United, memang sudah membuat rasa penasaran dan harapan penonton membuncah. Sudah ramai di media sosial, tinggal menunggu aksi para pemain dunia ini di lapangan hijau saat Liga I resmi kick off pada 15 April nanti.

Tetapi jangan sampai kedatangan para pemain ini hanya “meramaikan” saja dan PSSI pun berpuas diri dengan kegaduhan ini. PSSI harus mampu dan memiliki rencana yang bagus dengan memberlakukan aturan ini. Harus ada timbal balik yang sepadan, ketika kita memberikan “panggung” kepada para bintang utama ini baik dalam pembinaan maupun pendanaan.

Mengenai harapan yang tinggi dari para penonton? emh lebih baik kita berkaca pada Jermaine Pennant. Bahkan secara finansial pun, PSSI dapat mengambil pengalaman kepada Liga Singapura yang di awal tahun 2017 ini hampir tidak terlaksana, karena klub eungap mencari dana.

 

 

 

Advertisements

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s