Persib : In pemain we trust..Janur..

5 poin dari 3 pertandingan Liga 1 hasil 2 kali imbang dan 1 kali menang, menempatkan Jajang Nurjaman (Janur), pelatih Persib di kursi panas. Ditambah dengan usulan perubahan jadwal yang diterima PT.Liga Indonesia Bersatu (PT.LIB), sehingga membuat 5 pekan awal Liga I memasukkan PS TNI dan Persegres, Persib seharusnya sudah mengumpulkan 7 poin seandainya laga melawan PS TNI di pekan 2 Liga I tidak berakhir imbang.

Memang Persib belum mengalami kekalahan, jika sudah, kursi pelatih tentunya akan merah membara. Hasil imbang di pekan 2 melawan PS TNI, telah membuat Janur sasaran kritikan pedas terutama dari bobotoh.

Ada beberapa hal yang nampaknya masih belum ditemukan solusi idealnya oleh Janur :

Pertama, regulasi harus menurunkan 3 orang pemain berusia maksimal 23 tahun minimal selama 45 menit atau 1 babak. Pada periode pertama kepelatihannya (2012 – 2016), Janur bukanlah pelatih yang sering mempromosikan pemain muda. Ia lebih suka memasang pemain yang sudah jadi, sudah berpengalaman. Ketika ia memegang posisi pelatih, Jajang Sukmara merupakan salah satu pemain muda berbakat Persib. Dipercaya oleh pelatih sebelumnya, Drago Mamic. Tetapi ketika Janur masuk, Jajang Sukmara kehilangan tempatnya di tim utama.

5907b6a080edf-gelandang-persib-bandung-febri-haryadi_663_382

Saat membawa Persib juara Liga Super Indonesia tahun 2014, Janur hanya memberikan porsi jam bermain sedikit kepada para pemain muda ketika itu seperti, M.Agung Pribadi, dan Rudiyana.

Periode kedua kepelatihannya ( 2016 – ….. ) , ia mulai mau memasang pemain muda. Febri “bow” Haryadi mendapatkan banyak kesempatan bermain karena Bow menempati posisi winger sesuai dengan skema permainan Janur yang lebih banyak mengandalkan lebar lapangan. Juga karena saat ia mengambil kembali tampuk pelatih dari Dejan Antonic, Persib kekurangan winger di sisi kanan setelah ditinggalkan M.Ridwan.

Tetapi dengan regulasi wajib pemain muda di liga I mau tidak mau ia harus menurunkan pemain muda. Sehingga ia memberikan kepercayaan kepada Gian Zola, Henhen Herdiana, Angga Febriyanto dan Ahmad Basith. Dua nama awal lebih sering diturunkan. Tetap saja Janur terlihat masih ragu dan kurang percaya dengan pemain muda. Regulasi minimal bermain 45 menit untuk pemain muda diterapkan oleh Janur sehingga sering sebelum kick off babak kedua dimulai Zola dan Henhen diganti pemain berusia lebih senior.

Sejauh ini Gian Zola sudah tampil 111 menit, Henhen 135 menit, Ahmad Basith 45 menit, Angga Febriyanto 36 menit, Fulgensius Billy Keraf 62 menit dan Febri Haryadi 180 menit.

Dua kali pergantian pemain muda ini bisa dibilang agak kurang tepat karena mereka diganti ketika tengah on fire. Gian Zola diganti di babak kedua ketika Persib menghadapi Arema, kemudian Billy Keraf diganti di menit 74 saat Persib menghadapi PS TNI.

Kedua, belum ditemukannya susunan sebelas pemain yang ideal. Jika saja, tanpa ada regulasi pemain muda rasanya susunan starting eleven tetap sudah dimiliki Janur. Sehingga Janur lebih mengandalkan kepada kemampuan individu setiap pemain.

Melihat di lini pertahanan, dari mulai sektor penjaga gawang sudah memiliki pilihan tetap, I Made Wirawan (3 pertandingan 270 menit). Sedangkan empat pemain bertahan, duet centre back dipercayakan kepada Vladimir Vujovic (3 pertandingan 270 menit)  dan Ahmad Jufriyanto (3 pertandingan 270 menit). Sedangkan disektor full back, terlihat Janur agak kebingungan karena terimbas peraturan pemain muda. Ia akan memasang Henhen (3 pertandingan 135 menit) di babak pertama dan Supardi Natsir (3 pertandingan 180 menit) di babak kedua untuk di full back kanan. Sedangkan di kiri Tony Sucipto (2 pertandingan 180 menit) sudah diturunkan dalam dua pertandingan. Pada pertandingan ketiga ia diistirahatkan dan perannya diganti oleh Supardi juga Wildansyah (1 pertandingan 45 menit).

Ditengah yang “banjir” pemain dengan tipe sama, Hariono diberikan kepercayaan turun di 2 pekan awal selama 180 menit full. Dedi Kusnandar diberikan kepercayaan di pekan 1 dan 3 dengan total 113 menit bermain. Kim Jeffrey Kurniawan tampil di pekan 2 selama 90 menit. Raphael Maitimo bermain di pekan 3 bermain 90 menit, Michael Essien diturunkan dalam setiap pertandingan dengan total menit bermain 136 menit. Ahmad Basith bermain dipekan 2 selama 45 menit.

5f5b3b3b-74a8-4782-8006-b5a60af92648_169

Sedangkan di sektor gelandang serang dan penyerang, ada 3 pemain yang menjadi pilihan yaitu Atep, Febri Haryadi dan Matsunaga Shohei. Atep bermain di 3 pertandingan dengan total 225 menit. Febri 2 pertandingan mengumpulkan 180 menit. Matsunaga Shohei bermain di 3 pertandingan sebanyak 225 menit. Gian Zola bermain pada dua pertandingan dengan 111 menit bermain, Billy Keraf turun di pekan 2 dan 3 dengan 62 menit bermain. Tantan diturunkan di pekan ketiga selama 76 menit. Angga Febriyanto pekan kedua selama 36 menit (cedera), dan Carlton Cole bermain di dua pertandingan mengumpulkan 61 menit bermain.

Dengan melihat kepada fakta tersebut, terlihat Janur masih terus merotasi skuadnya untuk menemukan komposisi ideal sambil beradaptasi dengan regulasi pemain muda di Liga I.

Ketiga, belum optimalnya beberapa pemain. Hal ini sangat kentara pada diri Matsunaga Shohei. Pemain asal Jepang ini semenjak datang ke Persib seperti kehilangan sentuhannya seperti yang pernah ia tampilkan bersama Persiba Balikpapan. Padahal Matsunaga sudah bergabung sejak Piala Presiden 2017, namun penampilannya tidak kunjung membaik. Pada pekan kedua melawan PS TNI, ia sangat mudah dihentikan oleh pemain lawan bahkan jarang pula mengancam gawang lawan. Ia adalah pilihan Janur sendiri dan ditunjukkan dengan selalu memberikan tempat bagi Matsunaga di lapangan meski datang dari bangku cadangan.

Dua pemain yang menjadi sorotan di Persib musim ini, Michael Essien dan Carlton Cole, belum sepenuhnya dipercaya oleh Janur dengan alasan stamina yang masih harus diperbaiki. Memang kedua pemain sempat absen beberapa bulan dari lapangan hijau sebelum bergabung dengan Persib. Tetapi diluar itu, sepertinya memang Janur masih enggan memberikan kepercayaan penuh kepada kedua ditambah sekali lagi regulasi wajib pemain muda. Atau ini tanda – tanda Janur masih grogi menangani dua pemain eks liga Inggris tersebut? seperti yang pernah ia kemukakan ketika Essien datang.

Jika melihat pada pemain berstatus marquee player di klub lain, apa yang ditunjukkan oleh Michael Essien dan Carlton Cole (non marquee player) masih kurang namun tidak terlepas dari kesempatan yang diberikan Janur kepada mereka selama 3 pekan Liga I.

persib-arema-imbang.jpg

Khusus untuk Carlton Cole, meskipun memiliki posisi striker murni, tetapi Janur saat ini lebih memilih penyerang bertipe forward seperti Atep, Matsunaga Shohei, Tantan dan “memaksa”  Febri sebagai goal getter. Janur masih menunggu Sergio Van Dijk (SVD) sembuh karena memang telah terbiasa bekerjasa sama dengan SVD. Sejauh ini baru Atep yang subur dengan 2 gol, sedangkan gol persib lain disumbang Essien 1 gol dan Febri 1 gol.

Keempat, last but not least. Janur merupakan seorang pelatih yang jarang melakukan perubahan. Sejak membawa Persib meraih gelar Liga Super Indonesia tahun 2014, skema permainannya selalu sama. Kekuatannya ada pada kemampuan individu para winger. Seiring dengan waktu, meski masih bisa diandalkan tetapi pelatih lawan sudah demikian paham dengan gaya permainan ini. Febri ketika tampil di Indonesia Soccer Championship tahun 2016, masih sulit dihentikan lawan. Tetapi sekarang, lawan sudah tahu bagaimana menghambat Febri. Ini merupakan salah satu bukti Janur harus merubah gaya permainannya.

Jarang melakukan perubahan juga ditunjukkan dalam pergantian pemain. Henhen yang selalu diganti Supardi, membuat lawan sudah dapat mengantisipasi apa yang terjadi di babak kedua.

Baru dipekan 3 saat menghadapi Sriwijaya, Janur sedikit berani merombak lini depan dengan menurunkan Tantan dan terbukti berhasil. Gerakan – gerakan Tantan berhasil membuat pertahanan Sriwijaya lengah.

Pekan ini di awal bulan Mei, Persib akan menjalani jadwal padat. Rabu (03/05) tandang ke Gresik dan Minggu (07/05) kembali ke Bandung untuk menghadapi Persipura. Kunci keberhasilan Janur dalam dua pertandingan tersebut adalah apa yang ia tunjukkan pada saat melawan Sriwijaya yaitu mendobrak pola tetapnya.

Penuh dengan pemain mumpuni, Janur harus segera menetapkan pola permainan baru yang efektif. Regulasi pemain muda bukanlah sesuatu yang sulit untuk klub karena klub yang lain pun bisa, tinggal keberanian dan kepercayaan yang harus dimiliki Janur karena tanpa itu, kursinya akan semakin panas.

 

Advertisements

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s