Farewell Janur

Jajang Nurjaman akhirnya mundur dari kursi pelatih Persib pasca kalah 1-2 dari tuan rumah Mitra Kukar. Pengunduran diri jilid II ini akhirnya disetujui oleh manajemen Persib setelah jilid I, Janur, panggilan akrab Jajang Nurjaman, masih dipertahankan.

Jika dibandingkan dengan raihan Persib pada putaran pertama Indonesian Soccer Championship (ISC) tahun 2016 maka apa yang diraih Persib sampai dengan pekan ke -15 Liga 1 lebih buruk dari capaian tahun lalu. Pada ISC 2016, Persib menutup putaran pertama dengan raihan 27 poin. Saat ini, meski menang dalam dua pertandingan tersisa di putaran pertama (lawan Persija dan Perseru) menang maksimal poin hanya 26. Pada ISC 2016 hingga putaran pertama, Persib hanya kalah 4 kali, saat ini sampai dengan pekan-15, Persib sudah kalah 5 kali.

Memang beda – beda tipis, namun secara keseluruhan, permainan Persib mengalami penurunan drastis. Hingga pekan ke 15 Liga 1, Janur gagal membawa peningkatan signifikan. Meskipun dengan suntikan 2 pemain “lulusan” Liga Inggris, Janur masih terlihat bingung menentukan sebelas pemain terbaik yang mampu memberikan permainan bagus.

Ada beberapa hal yang menurut penulis bisa disimpulkan, kenapa Janur gagal pada tahun ini.

  1. Materi pemain tidak seimbang. Pada ISC, Persib memiliki Robertino Pugliara dan di putaran 2 ISC mendatang Marcos Flores sebagai playmaker. Kali ini Persib tidak memiliki pemain dengan tipe playmaker. Michael Essien dan Gian Zola bukan pemain yang mampu mengatur ritme permainan;
  2. Kondisi fisik Michael Essien dan Carlton Cole. Sebagai pemain berkelas dunia yang telah lebih dahulu dikenal bobotoh sejak lama, keduanya datang ke Persib dalam kondisi tidak fit. Ini hal yang selalu dikeluhkan oleh Janur bahwa kedua pemain tersebut sudah habis. Essien agak mending sering diturunkan dalam starting eleven atau muncul dari bangku cadangan, bahkan sudah mencetak 2 gol. Beda nasib dengan Cole yang sampai mundur pun, Janur enggan memainkannya. Kita bisa saja berargumen bahwa kedua pemain ini sudah melewati masa keemasan mereka, namun jika melihat penampilan Michael Essien dari pekan ke pekan, tidak nampak perubahan signifikan dari sisi stamina. Ini menunjukkan tim pelatih fisik Persib gagal memperbaiki kondisi fisik dan stamina kedua pemain tersebut, walau Janur terus berulang kali mengatakan bahwa fisik dan stamina kedua pemain tersebut sedang ditingkatkan;
  3. Pola permainan yang sama dari tahun ke tahun, membuat permainan Persib mudah dipatahkan. Janur memaksa menggunakan pola permainan yang sama meskipun materi pemain sudah tidak sebagus dulu. Kini praktis yang dijadikan andalan utama adalah kecepatan Febri Haryadi pun dengan catatan bahwa sejak ISC 2016, Febri sudah mudah dihadang lawan;
  4. Regulasi wajib menurunkan 3 pemain muda maksimal 1 babak. Sebagai pelatih yang jarang memberikan kesempatan kepada pemain muda, Janur kesulitan mengatasi hal ini. Jika saja tahun lalu, Persib masih memiliki skuad ideal selayaknya tahun 2014, bukan tidak mungkin Febri pun tidak akan diberikan menit bermain;
  5. Kehilangan kepercayaan terhadap pemain. Bahkan pada saat emergency dengan striker Sergio Van Dijk cedera panjang dan striker muda Angga Febriyanto masih demam panggung, ia enggan menurunkan Carlton Cole. Alasannya selalu sama kondisi fisik. Tantan pun jarang diberikan kesempatan bermain. Ia lebih percaya pada Matsunaga Shohei yang terlambat panas dan Raphael Maitimo yang dianggap pemain serba bisa atau multi posisi (Kedua pemain ini memang pilihan Janur sendiri). Kepercayaan pula yang membuatnya sekarang tidak segan membangkucadangkan pemain yang sekali berbuat kesalahan, sehingga sering kali menampilkan formasi yang tidak ideal karena pemain yang dibangkucadangkan tidak memiliki pengganti ideal;
  6. Terlalu mengandalkan Febri Haryadi, sedangkan pemain timnas U-22 ini belum sepenuhnya matang. Febri selalu mengulangi kesalahan yang sama yaitu telat dalam membuat keputusan.

Alarm penampilan Persib yang anjlok sebenarnya sudah berbunyi sejak pramusim Liga 1. Pemilihan pemain yang tidak seimbang dan kekalahan atas Bali United, imbang lawan PSMS seakan sudah menyiratkan bahwa jangan berharap banyak untuk saat ini.

All the good things must come to an end. Seandainya Janur tidak menerima tawaran untuk mengganti Dejan Antonic mungkin ia akan tetap diingat sebagai pelatih yang membawa masa keemasan Persib setelah 20 tahun tanpa gelar juara. Memang rasanya kejam, jika kita melupakan begitu saja masa lalu, tapi Janur seharusnya sudah menyadari bahwa puncak tertinggi itu telah ia raih bersama tim yang ia bela sebagai pemain dan pelatih.

Semua ada akhirnya, Persib kini akan memasuki masa transisi menuju masa baru. Kesabaran para bobotoh merupakan salah satu hal utama dalam masa peralihan ini, jangan sampai seperti era Dejan Antonic. Ketegasan manajemen dan kejelian manajemen pun sangat dibutuhkan sehingga bisa menempatkan sosok pengganti yang pas.

Anyway, Haturnuhun Coach Janur telah memberikan kami gelar juara.

Advertisements

Published by

catatanbujangan

masih bujangan sampai saat blog ini dibuat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s