Review Leg 2 Semifinal AFF Cup 2016 : Que Ngoc Hai, The Star

Menegangkan. The Conjuring 2 pun tidak bisa menyamai ketegangan yang tercipta saat menonton Leg 2 semifinal Piala AFF 2016 antara Indonesia versus Vietnam tadi malam (7/12). 120 menit pendukung sepakbola Indonesia dan Vietnam dibuat menahan napas, jengkel, gregetan, sebelum akhirnya wasit Fu Ming meniup peluit panjang di akhir babak 2 extra time. Indonesia lolos ke final Piala AFF untuk kelima kalinya.

Memainkan formasi yang belum pernah dipakai sebelumnya yaitu 4-2-3-1, pelatih Indonesia, Alfred Riedl, jelas menerapkan strategi counter attack sejak menit awal untuk mengamankan kemenangan Indonesia pada Leg 1 semifinal di Stadion Pakansari Sabtu pekan lalu. Pilihan yang wajar karena Vietnam memang tampil all out.

Data pertandingan dari situs http://www.affsuzukicup.com menunjukkan Vietnam mencapai grafik tertinggi mereka selama Piala AFF 2016. Total 19 kali percobaan mencetak gol ke gawang Indonesia dengan 9 kali tendangan akurat ke gawang Kurnia Meiga dan 10 kali bola melenceng. Indonesia hanya mencetak 2 kali tendangan bersih ke gawang Vietnam dan 5 kali tendangan tidak akurat. Hanya 7 kali selama 120 menit Indonesia memiliki peluang mencetak gol ke gawang Vietnam.

Riedl memang menerapkan strategi defensif dan membiarkan Le Cong Vinh dkk. menguasai bola sebanyak – banyaknya. Dua holding miedfielder yang diperankan oleh Bayu Pradana dan Manahati Lestusen cukup mampu membendung pola permainan cepat lawan.

Pertengahan babak pertama Indonesia mulai sedikit melepaskan diri dari tekanan walau tidak leluasa. Barisan gelandang enerjik Vietnam mampu terus menekan dan menjadi mesin permainan.

Menit -54, Indonesia berhasil unggul lewat gol Stefano Lilipaly. Bola liar didepan gawang Tranh Nguyen Manh akibat kesalahan antisipasinya dan sapuan tidak jelas dari Que Ngoc Hai, membuat Lilipaly tinggal mencocor bola ke gawang Vietnam.

AFF SUZUKI CUP 2016 Final Rounds Semi Finals Leg 2, Vietnam 7 December 2016

Pujian layak didapatkan Vietnam karena dalam keadaan tertinggal 0-1 dan kartu merah untuk kiper mereka sehingga Que Ngoc Hai menjadi kiper dadakan tidak menyurutkan semangat Vietnam. Dukungan penuh penonton di Stadion Nasional My Dinh membuat Vietnam mampu mencetak dua gol di menit -83 lewat Vu Van Thanh dan menit 90 melalui kecerdikan Vu Minh Tuan. Vietnam memaksa pertandingan masuk ke babak extra time.

Meski lawan hanya bermain dengan 10 orang dan Indonesia masih memiliki penyerang agresif di lapangan pada diri Zulham Zamrun dan Ferdinan Sinaga tidak membuat Indonesia tampil ofensif walau penjagaan lawan sudah melonggar. Beruntung Indonesia masih dapat memanfaatkan keunggulan jumlah pemain ketika Ferdinan Sinaga lolos dari penjagaan bek lawan dan berhadapan dengan Que Ngoc Hai yang terpaksa menjegal di menit -97 perpanjangan waktu babak pertama sehingga wasit Fu Ming memberikan hukuman penalti. Manahati Lestusen mengkonversi penalti tersebut dengan sempurna.

Que Ngoc Hai kembali menjadi “bintang” seperti yang pernah dialaminya pada semifinal Piala AFF 2014 ketika melawan Malaysia. Sempat disinggung pada tulisan preview semifinal 3 hari yang lalu, ia memang menjadi titik lemah pertahanan Vietnam. Kepanikannya membuahkan gol pertama untuk Indonesia, gol kedua Indonesia lahir akibat kesalahannya pula. Walau di menit – menit akhir babak kedua perpanjangan waktu, Que Ngoc Hai melakukan taktik mirip permainan futsal dan membiarkan gawangnya kosong melompong untuk membalikkan hal itu, namun tak pelak ia- lah man of the match.

Masalah stamina menjadi isu terbesar Indonesia pada semifinal tadi malam. Dua gol yang dicetak Vietnam memang disebabkan juga oleh faktor konsentrasi tetapi stamina ikut berperan disitu. Pada babak perpanjangan waktu setelah mencetak gol kedua, para pemain Indonesia memilih untuk bertahan. Memang pilihan strategi adalah bermain aman mempertahankan keunggulan namun sangat jelas terlihat para pemain sudah kehabisan tenaga.

Kritik saya tujukan kepada duet penyerang Ferdinan Sinaga dan Zulham Zamrun. Masuk sebagai pemain pengganti seharusnya mereka mampu menunjukkan kelebihan dalam hal kecepatan dan olah bola. Namun keduanya banyak menyia – nyiakan peluang, banyak bola yang lepas dari kaki mereka. Seharusnya keduanya memberikan tekanan agar Vietnam tidak leluasa membangun serangan. Hal yang logis mengingat Indonesia sedang unggul jumlah pemain.

Calon lawan Indonesia di final, ditentukan nanti malam pada leg 2 semifinal Thailand vs Myanmar, keduanya menerapkan gaya sepakbola yang tidak jauh berbeda dengan Vietnam. Pertandingan yang menguras fisik dan stamina tadi malam, anggaplah menjadi latihan tersendiri timnas Indonesia untuk meningkatkan ketahanan fisik.

Final leg pertama akan dimainkan di Indonesia pada 14 Desember 2016, sampai kita tahu calon lawan dan calon stadion tempat pelaksanaan pertandingan, kita nikmati euforia ini. Menpora pun boleh bersenang hati, karena timnas sepakbola mencapai target yang diinginkannya. Tapi bagi rakyat Indonesia sangat merindukan juara.

#INDONESIA_BISA

Sumber foto : http://www.affsuzukicup.com

 

Preview Leg 2 Semifinal AFF CUP 2016 : Seandainya Dimainkan, Cecarlah Que Ngoc Hai

Kemenangan Indonesia atas Vietnam pada pertandingan pertama semifinal Piala AFF 2016 di Stadion Pakansari Cibinong hari Sabtu pekan lalu menjadi modal penting untuk menjalani laga kedua di Vietnam esok hari ( 7/12 ).

Walaupun Vietnam memiliki simpanan 1 gol, tetapi Indonesia masih diatas angin. Kemenangan Indonesia pekan lalu membuat rekor pertemuan Indonesia – Vietnam di Piala AFF sejak tahun 1996 menjadi 3 kali kemenangan untuk Indonesia dan 4 kali imbang. Stadion My Dinh Hanoi yang memiliki kapasitas 40 ribu penonton juga bukan tempat asing bagi beberapa pemain seperti Rizky Pora, Kurnia Meiga, Boaz Solossa, Manahati Lestusen dan Fachrudin. Bahkan Zulham Zamrun mempunyai kenangan manis ketika mencetak gol ke gawang Vietnam yang juga dijaga Tranh Nguyen Manh pada Piala AFF 2014. Ketika itu Indonesia bermain imbang 2-2 dengan tuan rumah.

Melihat kembali video penampilan timnas Indonesia pada Piala AFF 2014 di stadion My Dinh lalu membandingkan dengan penampilan Vietnam pekan lalu di Cibinong, ada satu kesamaan yaitu pemain belakang mereka mudah lengah. Pemain nomor 15 Vietnam, Que Ngoc Hai, baik di Piala AFF 2014 atau semifinal Piala AFF 2016 membuat kesalahan. Pada pertandingan tahun 2014 dia lengah menjaga dan mengamankan bola hasil heading Dinh Tienh Thanh (tidak diturunkan di semifinal hari Sabtu kemarin), sedangkan pada semifinal 3 hari yang lalu dia gagal membaca arah jatuhnya bola dan menjatuhkan Stefano Lilipaly di kotak penalti yang berujung pada gol kedua Indonesia.

Gol pertama Indonesia yang dicetak Hansamu Yama pun diawali kesalahan pemain belakang Vietnam setelah gagal melakukan clearance bola umpan jauh pemain Indonesia sehingga dapat direbut Boaz Solossa dan menghasilkan corner kick yang dimanfaatkan Hansamu Yama.

221114d.jpg
Zulham Zamrun vs Que Hoc Hai Piala AFF 2014

Para penyerang Indonesia pada semifinal kedua nanti bisa memanfaatkan situasi gagal fokus para pemain bertahan Vietnam. Pada semifinal pertama dua kesalahan mampu dikonversi menjadi gol. Umpan – umpan jauh baik melalui tengah atau lebar lapangan sepertinya bisa dimanfaatkan untuk membongkar lini pertahanan Vietnam. Kelemahan Vietnam adalah mengantisipasi umpan – umpan panjang.

Bisa jadi inilah kenapa pelatih Vietnam, Nguyen Huu Thang, mempunyai barisan gelandang enerjik didepan para pemain bertahan untuk mengatasi kelemahan tersebut.  mereka intens melakukan tekanan bahkan di sepertiga pertahanan lawan agar lawan tidak mempunyai kesempatan mengirimkan umpan kepada para pemain depannya. Indonesia  memang sempat kesulitan mengatasi pressing berlapis Vietnam dan membangun serangan. Sehingga pola permainan Indonesia memanfaatkan umpan jauh yang dikirimkan langsung dari area pertahanan ke arah pertahanan Vietnam. Jika ingin memaksimalkan kembali pola seperti ini maka Indonesia harus memasang pemain bertahan yang memiliki ketenangan dan passing yang bagus.

Berbicara pemain bertahan, duet Fachrudin dan Yanto Basna dapat diturunkan pada semifinal besok. Namun penampilan apik Hansamu Yama dan Manahati Lestusen pada semifinal pertama tidak bisa dikesampingkan begitu saja. Jika ingin melakukan pola umpan – umpan jauh maka Manahati bisa diturunkan karena ia juga memiliki pengalaman bermain sebagai seorang gelandang.

Ada resiko tersendiri jika menurunkan Yanto Basna. Ia merupakan seorang pemain bertahan yang kerap kali keluar dari posisinya untuk menghadang lawan. Melihat permainan Vietnam kemarin jelas terbaca bahwa pemain depan mereka seperti Le Cong Vinh dan Nguyen Van Quyet selalu bergerak turun ke lini tengah mendekati pemain yang menguasai bola. Pola seperti ini selain memang Vietnam beberapa kali terlihat memainkan pola umpan pendek juga untuk menarik pemain bertahan lawan sehingga meninggalkan pos nya. Yanto Basna sering kewalahan menghadapi lawan yang memiliki pergerakan seperti itu. Pertandingan Indonesian Soccer Championship antara Persib dan Sriwijaya Fc pada bulan September lalu membuktikan hal itu ketika Yanto Basna terus – terusan mengejar Beto Goncalves dan menciptakan ruang kosong di pertahanan sendiri.

Selain para pemain bertahannya yang sering gagal fokus, hal lain yang bisa dimanfaatkan Indonesia pada pertandingan besok adalah memainkan sisi emosional para pemain Vietnam. Pressing tinggi yang diterapkan Nguyen Huu Thang kerap kali membuat pemainnya melakukan tackle – tackle keras. Walaupun jumlah kartu kuning yang diterima para pemain Vietnam dari pertandingan babak grup sampai semifinal kemarin lebih sedikit dari pemain Indonesia, tetapi jika ingin mencoba, buatlah kesal Nguyen Trong Hoang, pemain nomor 8 Vietnam, karena ia sering kebablasan melakukan tackling.

Pressing intens Vietnam tidak sejalan dengan kesempatan mencetak gol yang mereka ciptakan. Dalam empat pertandingan yang sudah dilalui,  Vietnam hanya mampu membuat 23 kali percobaan mencetak gol ke gawang lawan. Indonesia, 46 kali dalam 4 pertandingan.

Kedua penyerang tunggal yang juga merupakan kapten masing – masing negara, Le Cong Vinh dan Boaz Solossa akan memainkan peran besar pada pertandingan nanti. Boaz memiliki keunggulan selain sebagai target man ia juga mampu mengoyak pertahanan lawan juga dibekali passing yang akurat. Le Cong Vinch, Vietnamese David Beckham, lebih sebagai target man sejauh ini ia sudah mencetak 2 gol sedangkan Boaz 3 gol dan 1 assist.

Indonesia memiliki kekuatan disisi kiri pada diri Rizky Pora kemampuannya sebagai full back sangat membantu Abduh Lestaluhu dan juga sejauh ini sudah mencetak 3 assist dan 1 umpan kunci. Riedl’s Favorite ini mengalami peningkatan pesat di timnas dibandingkan penampilannya ketika di Piala AFF 2014. Ia masih sering luput dari skema pertahanan lawan karena mereka biasanya lebih siap mengantisipasi Andik Vermansyah, ini merupakan keuntungan Rizky Pora.

Hasil imbang dan menang akan meloloskan Indonesia ke final. Kalaupun kalah, Indonesia harus kalah dengan selisih 1 gol dan wajib mencetak gol (misal 3-2 atau 4-3) agar tetap mampu lolos dalam sistem agresifitas gol. Kalah meski hanya 1-0 menutup kans Indonesia.

Kedua negara akan memikul beban dan menanggung tekanan yang hebat karena target keduanya adalah lolos ke final. Vietnam bisa jadi akan merasakan tekanan yang lebih hebat karena dituntut menang didepan publik sendiri.

Oh ya, soal tertekan dihadapan pendukung sendiri Vietnam pernah mengalami nasib naas. Pada semifinal leg pertama Piala AFF 2014, Vietnam menang 2-1 atas Malaysia di Stadion Shah Alam Malaysia. Selang 4 hari kemudian, mereka ditekuk Malaysia dengan skor 4-2 di Stadion My Dinh. Semua gol diawali kesalahan pemain bertahan Vietnam yang tidak siap mengantisipasi umpan jauh Malaysia. Tahukah Anda? Que Ngoc Hai terlibat  dalam 3 kesalahan.

#INDONESIABISA

 

 

AFF 2016 : Preview Indonesia vs Vietnam

Pertandingan pertama semifinal Piala AFF 2016 (AFF Championship) antara Indonesia lawan Vietnam akan dipertandingan di Stadion Pakansari Cibinong Bogor pada 3 Desember 2016 jam 19.00 WIB.

Vietnam lolos dengan raihan poin sempurna. Tiga kemenangan atas Myanmar, Malaysia dan Kamboja menjadikan mereka pemuncak Grup B. 5 gol mereka cetak di babak grup sedangkan 2 gol bersarang mereka. Striker senior, Le Cong Vinh sejauh ini menjadi pencetak gol terbanyak dengan 2 gol.

Sedangkan Indonesia maju ke semifinal setelah menjalani partai hidup mati melawan Singapura. Menang dan disaat bersama Filipina dikalahkan Thailand membuat Boaz Solossa dkk lolos dramatis. Total poin 4 (1 menang, 1 imbang, dan 1 kalah) menyamai capaian Alfred Riedl ketika menangani Indonesia pada Piala AFF 2014. Hanya saja ketika itu Indonesia kalah bersaing dari Filipina dan calon lawan di semifinal hari Sabtu nanti, Vietnam.

Sejak Piala AFF edisi pertama pada tahun 1996 hingga tahun 2016 yang merupakan edisi ke-11, Indonesia dan Vietnam sudah  6 kali bertemu di ajang dua tahunan ini. Indonesia, melihat catatan, berada diatas angin karena Vietnam belum pernah sekalipun mengalahkan Indonesia. Sedangkan Indonesia membukukan 2 kemenangan selebihnya kedua negara berbagi hasil seri.

Memang Vietnam cukup bisa menepuk dada mereka karena pernah menjadi juara Piala AFF 2008 sedangkan Indonesia masih rekor menjadi runner up terbanyak dengan 4 kali menjadi runner up.

Vietnam beberapa tahun terakhir muncul sebagai salah satu kekuatan Asia Tenggara baik di level senior maupun usia. Tim Vietnam U-20 menjadi salah satu wakil Asia pada Piala Dunia U-20 Korea Selatan 2017 karena menjadi salah satu finalis pada Piala Asia U-19 di Bahrain bulan Oktober lalu. Sedangkan timnas senior tahun depan akan berjibaku pada babak 3 kualifikasi Piala Asia 2019.

Kekuatan dan Kelemahan Vietnam

Melihat permainan Vietnam yang diasuh Nguyen Huu Thang, yang pada bulan Juni lalu membawa Vietnam meraih Trophy Aya Bank, menerapkan permainan impresif dengan pressing tinggi. Prinsip permainan mereka adalah secepat mungkin mengambil bola dari kaki lawan meskipun masih berada dalam daerah pertahanan lawan.

Vietnam bukanlah tim yang akan berusaha memegang bola lama – lama. Cukup satu dua sentuhan bola akan dilepaskan menuju ruang kosong di pertahanan lawan. Keunggulan mereka dalam kecepatan berlari membuat skema ini selalu merepotkan bek – bek lawan.

 

viet3

Seperti dalam gambar diatas ketika satu pemain menguasai bola digaris tengah lapang, pemain yang berada didepannya akan segera mencari ruang – ruang yang kosong untuk mendapatkan bola. Nampaknya ini adalah pola yang terus dijadikan menu latihan Vietnam karena para pemainnya sudah fasih menjalankan pola ini.

Dalam pertandingan melawan Myanmar dan Malaysia, sisi kiri Vietnam selalu menjadi sisi yang lebih aktif. Pada saat bersamaan justru sisi kanan Indonesia menjadi sisi terlemah dalam bertahan.

Formasi 4-3-3 yang dipakai oleh Vietnam membuat full back mereka pun agresif. Sisi kiri yang sudah disinggung diatas dihuni para pemain dengan komunikasi yang bagus sehingga tekanan ke pertahanan lawan lewat sisi kanan bisa maksimal. Belum lagi, pemain yang berada ditengah sering membantu bergerak ke sisi tersebut.

Melakukan pressing intens kepada lawan membutuhkan stamina yang bagus. Ini juga dimiliki oleh Vietnam ketika pemain mereka selalu terlihat “nafsu” mengejar bola. Bahkan tak jarang tackle keras dilakukan dalam upaya merebut bola dari penguasaan lawan.

Keunggulan Vietnam lainnya adalah para pemain inti dan cadangan yang sudah “panas” karena Nguyen Huu Thang menerapkan rotasi dalam 3 pertandingan grup B. Sementara pergantian pemain Indonesia cenderung sama, jika saja Fachrudin dan Yanto Basna hukuman akumulasi kartu kuningnya tidak diputihkan maka dipastikan Indonesia akan menurunkan duet centre back yang belum pernah turun bertanding. Dalam ujicoba pun hanya Abdul Rahman dan Manahati Lestusen bergiliran main mengganti kuartet bek Indonesia saat ini. Itupun mereka berdua lebih sering ditempatkan sebagai full back.

Namun disisi lain pola permainan high pressure juga menjadi titik lemah mereka. Seringkali 2-3 pemain Vietnam mengurung 1 pemain lawan yang menguasai bola. Hal ini tidak saja terjadi diareal tengah lapangan tetapi juga ketika mereka mempertahankan areal kotak penalti mereka.

viet1.png

Banyak celah yang tercipta. Gambar diatas diambil dari pertandingan melawan Myanmar. Dua pemain Myanmar dibiarkan tidak terjaga sementara 1 pemain bertahan tersisa jaraknya berjauhan sehingga peluang mencetak gol dapat terjadi.

viet2.png

Situasi yang sama juga terjadi, ketika Myanmar memanfaatkan lebar lapangan. Satu pemain Myanmar dijaga dua pemain bertahan Vietnam sedangkan 3 pemain Myanmar dikotak penalti dibiarkan tidak terjaga. 3 Pemain bertahan Vietnam seperti ditunjukkan dalam gambar diatas lebih fokus melihat bola daripada mengawasi pemain Myanmar.

Vietnam rupanya menerapkan pertahanan terbaik adalah menyerang. Memang ini terlihat dengan hanya dua gol yang bersarang di jala gawang Tran Nguyen Manh. Berharap saja mereka lupa lanjutan dari kutipan pernyataan Sun Tzu tersebut bahwa “pertahanan terbaik adalah menyerang, bertahan adalah saat untuk merencanakan serangan”.

Selain itu masalah efektifitas mencetak gol pun tidak dimiliki Vietnam. Meski diperkuat striker senior Lee Cong Vinh, tetapi peluang mencetak gol sekalipun sudah dimulu gawang sering disia – siakan para pemain depan Vietnam. Hanya 5 gol dicetak Vietnam, sedangkan Indonesia yang tidak menjalani pertanding grup dengan mulus masih dapat mencetak 6 gol.

Masalah lainnya adalah kedisiplinan. Memang baru satu kartu kuning yang mereka terima, tetapi satu kartu merah sudah mereka dapat atas nama Truong Dinh Luat ketika menghadapi Kamboja. Selain itu pada saat melawan Malaysia para pemain tengah mereka pun seringkali melakukan tackling – tackling keras.

Inilah kelemahan – kelemahan yang dapat dimanfaatkan timnas Indonesia pada pertandingan nanti. Beruntung timnas Indonesia dihuni oleh para pemain dengan olah bola yang bagus seperti Rizky Ripora, Andik Vermansyah, Boaz Solossa. Mereka pun dapat menarik lawan dan membuat rekan mereka berada di ruang kosong yang memungkinkan untuk berlari dan menerima bola.

Kuncinya adalah tidak panik ketika diserang lawan. Rasanya pula Alfred Riedl harus melatih strategi counter attack dengan baik karena beberapa kali Vietnam kesulitan mengatasi lawan yang punya kecepatan menyusun serangan balik.

Kemenangan tanpa kebobolan apalagi dengan selisih gol yang tinggi sangat diharapkan karena hanya berjarak 4 hari setelah pertandingan di Stadion Pakansari, Indonesia yang akan dijamu di Stadion Mi Dinh Vietnam. Recovery dipotong waktu perjalanan ke Vietnam tentunya sangat singkat sedangkan  para pemain Vietnam seperti disebutkan diatas memiliki stamina lebih mumpuni daripada pemain Indonesia.

AFF Championship 2016 : Sejarah Belum Memihak

Tim Nasional Indonesia saat tengah menjalani pemusatan latihan di Tangerang dibawah arahan pelatih Alfred Riedl. 40 pemain sepakbola pilihan menjalani berbagai program latihan agar dapat menjadi bagian skuad Piala AFF 2016. Hanya 23 pemain yang akan diberangkatkan ke Filipina tergantung kepada hasil ujicoba melawan Myanmar (4/11) dan Vietnam (8/11). Meski Riedl mengatakan ada kemungkinan 24 pemain yang didaftarkan tetapi sejauh ini bayangan starting eleven sudah dapat diprediksi.

Irfan Bachdim, Boaz Solossa, Zulham Zamrun, Andik Vermansyah, Evan Dimas, Andrittany Ardhyasa, Manahati Lestusen sepertinya akan menjadi pilihan Riedl untuk mengisi formasi sebelas pemain.

Riedl berusaha memberikan kesegaran di timnas. Nama – nama senior seperti Firman Utina, Hamka Hamzah, M.Ridwan, Titus Bonai, Ian Kabes tidak lagi dipanggil. Justru timnas kali ini di dominasi para pemain usia 20 tahunan. Sejalan dengan keinginan Riedl yang ingin mengembangkan para pemain eks timnas U-19 didikan Indra Sjafri. Muchlis Hadi Ning Syaifulloh, I Putu Gede, Hansamu Yama, Muhammad Hargianto, Rudolof Yanto Basna, Bayu Pradana, dan Septian David Maulana merupakan tumpuan timnas Indonesia di Piala AFF 2016.

crop_d18154da3fbf36995fb022563dc5ec55

Jika kita melihat calon lawan Indonesia di Grup A Piala AFF yaitu Thailand, Filipina, dan Singapura. Mayoritas skuad mereka diisi oleh para pemain dengan rentang usia 21 – 28 tahun. Hanya beberapa pemain saja yang berusia 30 tahun. Indonesia hanya memiliki sekitar 3 pemain berusia 30 tahunan. Secara usia Indonesia mampu bersaing.

Tetapi masalah terbesarnya adalah pembekuan PSSI selama setahun mengakibatkan timnas tidak menjalani pertandingan internasional. Sebelum dibekukan laga terakhir timnas senior Indonesia terjadi pada bulan Maret 2015 dengan hasil kalah dari Kamerun dan menang atas Myanmar. Sedangkan timnas U-23 yang diperkuat Evan Dimas Dkk terakhir kali berlaga di Sea Games 2015 dengan prestasi tempat keempat.

Sedangkan penantang Indonesia di Grup A semuanya berstatus aktif dan rata – rata pemain menjalani laga kompetitif internasional baik di timnas U-23 atau senior. Ambil contoh Tanaboon Kesarat dan Chanatip Songkrasin dari Thailand, Shahfiq Ghani dan Sahil Suhaimi dari Singapura, Atau Daniel Gadia dan Paolo Bugas dari Filipina, mereka adalah pemain – pemain timnas U-23 yang kini diandalkan di timnas senior negara masing – masing jelang AFF Cup 2016.

Dari mulai Sea Games 2015 hingga kualifikasi Piala Dunia 2018, rata – rata pemain yang dipersiapkan oleh setiap negara menjalani untaian kompetisi tersebut. Memang Indonesia tertolong dengan masih adanya beberapa turnamen level klub dalam negeri pada masa pembekuan maupun sehabis pembekuan. Namun tentunya persaingan antar negara akan menyajikan hal yang berbeda.

Pengalaman dapat menjadi kunci

Bagaimana bermain dibawah tekanan suporter asing, bagaimana menghadapi sebelas pemain terbaik dari negara lain, bagaimana mempersiapkan mental membawa nama negara berusaha yang terbaik untuk mempersembahkan kemenangan untuk negara, dan masih banyak lagi yang bisa dijadikan alasan kenapa pengalaman dapat berperan penting.

Inilah yang kurang dari timnas Indonesia. Ditambah dengan perjalanan Indonesia di AFF Cup 2016 akan menentukan nasib Indonesia pada cabang sepakbola Sea Games 2017. Menpora memberikan syarat bahwa jika ingin sepakbola bertanding di Sea Games tahun depan, maka timnas Indonesia minimal harus menjadi peringkat dua ( runner up ) di AFF Cup 2016 yang akan dimulai pada 19 November 2016.

Dua partai ujicoba melawan Malaysia dan Vietnam pada awal bulan September dan Oktober dengan hasil menang dan imbang belum bisa dijadikan ukuran karena kedua pertandingan tersebut dijalani di dalam negeri. Plus timnas Malaysia saat ini berada dalam grafik menurun. Dukungan penonton tuan rumah sangat besar tapi ini akan berbalik ketika tampil di negara lain. Ini sesuatu yang harus bisa diatasi pula.

Masalah pengalaman yang berujung pada mental bertanding adalah masalah akut yang belum pernah dicarikan solusinya secara bagus oleh PSSI baik sebelum ataupun sesudah pembekuan. Seringkali performa timnas Indonesia bagus di dalam negeri namun ketika harus menjalani pertandingan dengan status tandang hasilnya memble.

Dua lawan timnas Indonesia nanti yaitu Singapura dan Thailand memiliki sejarah unggul di AFF Cup. Sejak tahun 1996, AFF Champioship edisi pertama (ketika itu masih dikenal dengan nama Tiger Cup), pertemuan Indonesia dengan Thailand sudah terjadi 8 kali. Thailand menang 6 kali sedangkan Indonesia hanya bisa menang 2 kali.

Sementara dengan Singapura, Indonesia sudah bertemu sebanyak 7 kali. Singapura menang 4 kali, imbang 2 kali. Indonesia hanya mampu menang sekali atas Singapura pada AFF Championship 2010 lewat gol tunggal Andik Vermansyah. Sementara dengan Filipina, Indonesia bertemu sebanyak 6 kali dengan hasil 5 kemenangan untuk Indonesia dan 1 kemenangan untuk Filipina. Tapi dengan catatan dari dua edisi terakhir AFF Championship, Filipina adalah semifinalis, sementara Indonesia naik turun.

Catatan memasukkan dan kemasukan gol Indonesia melawan tiga negara tersebut :

  1. Indonesia vs Thailand : 10 – 16 (memasukkan disebut pertama);
  2. Indonesia vs Singapura : 5 – 11;
  3. Indonesia vs Filipina : 18 – 4.

*gol dalam adu penalti tidak dihitung*

Pelatih Pengalaman, Semangat Fresh

Alfred Riedl akan menjalani AFF Championship yang ke -8 pada tahun 2016 ini. Prestasi terbaik yang diraih pelatih asal Austria ini adalah runner up tahun 1998 bersama Vietnam dan runner up tahun 2010 bersama Indonesia. Kegagalan bersama Vietnam, Laos dan Indonesia pernah dia alami sebelumnya.

Berkaca pada AFF Championship 2010, ia mengorbitkan nama Irfan Bachdim, Arif Suyono, Ahmad Bustomi dan Cristian Gonzales dalam starting eleven timnas Indonesia. Saat itu penampilan Indonesia disebut – sebut sebagai yang terbaik meski pada partai puncak antiklimaks.

Pada AFF Championship 2014 situasinya hampir mirip dengan sekarang. Dualisme organisasi dan kompetisi membuat bakat – bakat terbaik sepakbola tersendat untuk dapat memperkuat timnas sehingga timnas ketika datang ke Vietnam ketika itu bermasalah dengan kekompakan dan stamina. Hasilnya, meski ia mengorbitkan nama baru seperti Evan Dimas dan Rizky Pora, hancur lebur.

Kini ia lebih memilih untuk mengutamakan pemain – pemain muda. Tidak ada lagi dualisme kompetisi atau organisasi, walau sekali lagi timnas hanya melakukan maksimal empat pertandingan ujicoba sebelum turun di turnamen dua tahunan ini.

Melihat susunan pemain yang diturunkan dalam ujicoba melawan Myanmar (4/11) dan Vietnam (8/11) lini belakang Indonesia diisi 5 pemain yang tidak  bermain di Piala AFF 2014. Begitu pula dengan lini tengah Indonesia, 5 pemain anyar. Sedangkan untuk urusan pencetak gol hanya Lerby Eliandry pemain fresh.

Hasil dua ujicoba tersebut memang jauh dari kata memuaskan. Jika sejak ujicoba pertama melawan Malaysia dibuat grafik, maka performa timnas sedang berada di titik rendah. Myanmar (hampir) menang atas Indonesia, sedangkan Vietnam jelas – jelas mengalahkan Indonesia.

Memang mengkhawatirkan tapi bukan berarti tidak bisa diperbaiki. Riedl dikenal sebagai pelatih yang mampu membangkitkan motivasi anak asuhnya. Apalagi AFF Championship bukanlah sesuatu yang asing untuknya, meski ia mengakui sendiri timnas Indonesia adalah tim tersulit yang pernah ditangani.

Ia masih kesulitan menemukan kekompakan antar pemain. Belum lagi formasi 4-4-2 tidak berjalan dengan baik di lapangan. Masih ada waktu 10 hari lagi menuju partai pertama melawan Thailand. Riedl tentunya harus teliti memilih siapa saja pemain yang akan didaftarkan ke AFF.

Semangat muda para pemain yang pernah merasakan juara Piala AFF U-19 adalah salah satu modal Riedl mengatasi minimnya pengalaman ujicoba internasional. Para pemain baru ini diharapkan mampu mengulang penampilan hebat mereka pada tahun 2013. Semangat yang tinggi sering bisa menutupi kekurangan di atas lapangan.

Modal lainnya adalah pengalaman Boaz Solossa. Ia diharapkan mampu menularkan pengalaman bertanding di Piala AFF. Boaz adalah pemain berpengalaman di timnas Indonesia. Sempat melewatkan 4 edisi Piala AFF tapi penampilannya di kompetisi dalam negeri masih membuktikan ia adalah salah satu penyerang terbaik yang dimiliki Indonesia.

Evaluasi hasil ujicoba melawan Myanmar dan Vietnam akan dilaksanakan pada 11 – 15 November 2016 di Tangerang. 5 hari tersebut juga akan menentukan siapa saja yang akan dipilih Riedl untuk membawa nama Indonesia di AFF Championship 2016.

 

Russian Rosswell

Apakah balon udara atau pesawat makhluk asing (UFO) yang jatuh pada tahun 1947 di Roswell Amerika Serikat, masih menjadi perdebatan hingga saat ini. Klaim fasilitas militer tersembunyi yang dikenal dengan Area 51 yang menyimpan puing -puing pesawat yang jatuh juga jasad pilotnya, membuat popularitas insiden UFO Rosswell mendunia. Namun kandasnya suatu benda yang diduga pesawat milik alien bukan hanya terjadi di Rosswell tetapi juga di belahan dunia lain.

%d1%80%d0%b0%d0%b9%d0%be%d0%bd_%d0%b3%d0%be%d1%80%d0%bd%d1%8f%d0%ba%d0%b0

Dalgenorsk Rusia, 29 Januari 1986. Kota kecil dengan populasi sekitar 37 ribu jiwa (sensus 2013) dengan industri pertambangan zync sebagai salah satu pekerjaan mayoritas warga, 30 tahun lalu dikejutkan dengan satu ledakan keras yang diawali dengan penampakan bola api membelah langit yang jatuh menghantam Height 611 (nama lain Gunung Izvestkovaya di Dalgenorsk).

Bola api merah melesat menabrak salah satu bukit di gunung tersebut tanpa suara. Diperkirakan kecepatannya mencapai 54 Km/jam dengan ketinggian 700 – 800 meter di atas tanah. Bola api ini menghantam gunung sekitar pukul 08.00 malam. Banyak saksi mata yang melihat peristiwa ini. Beberapa diantaranya memperlihatkan perbedaan sudut pandangan ketika menjelaskan detik – detik bola api tersebut hancur menabrak bukit.

Ada yang menyatakan hantaman disertai kilatan cahaya, ada pula yang mengatakan benda tersebut bergerak dahulu kesana kemari diatas salah satu bukit memancarkan beragam cahaya sebelum jatuh. Tabrakan benda misterius dengan bukit memicu kebakaran hutan yang berlangsung selama 1 jam. Dari beberapa kisah yang beredar tidak ditemukan adanya tindakan dari aparat berwenang setelah peristiwa misterius ini terjadi.

2 Februari 1986, sekelompok mengunjungi lokasi tersebut. Disana mereka menemukan batang kayu yang terbakar, lubang dengan luas sekitar 3×3 Meter (keterangan lain menyebutkan 2×2 meter), lelehan – lelehan berwarna perak pada beberapa objek di sekitar lokasi tersebut. Semuanya dikumpulkan dan dibawa ke museum lokal yang dikepalain oleh Valeri Viktorovich Dvuzhilni.

Setelah berada dimuseum, mereka memfokuskan penelitian pada lelehan – lelehan warna perak yang nampak seperti logam lunak. Beberapa zat digunakan dalam tes untuk mengetahui kandungan zat lelehan tersebut namun tidak ada reaksi apa – apa. Untuk mendapatkan jawaban Valeri Viktorovich Dvuzhilni kemudian mengontak V.Berlizov seorang pengalaman dalam bidang hal – hal yang bernuansa luar angkasa karena pernah tergabung dalam tim ekspedisi meteor Sikhot alin pada tahun 1947 untuk meneliti penemuan di Height 611. Hanya saja  V.Berlizov cukup lama dalam membalas ajakan sang kepala museum sehingga tiga hari kemudian Valeri Viktorovich Dvuzhilni memimpin sendiri tim ke lokasi untuk menggali lebih banyak bukti dan informasi.

Ketika berada di lokasi mereka menemukan bahwa benda tersebut menabrak dan memecah hamparan batu seluas 2 meter kubik, dan menguapkan salju seluas 10 meter persegi. Selain itu juga ditemukan batuan sedimen yang mengandung magnet. Bebatuan yang berada dibukit tersebut seperti batuan sedimen yang mengandung 85 % silica terbelah dan sehitam arang. Ditemukan pula satu benda seberat tiga puluh gram  yang tidak diketahui jenisnya. Benda tersebut mempunyai butiran – butiran hitam yang mengeras. Butiran tersebut memiliki diameter yang berbeda dari mulai 2 milimeter, terbesar sekitar 5 milimeter.

russias-roswell-burnt-soil

Sepulangnya dari lokasi mereka meneliti bukti yang dikumpulkan dengan bantuan  perusahaan pertambangan Bor and Dalnopolimetall. Salah satu yang diteliti adalah butiran hitam dengan diameter 2 milimeter. Hasil ujicoba mengungkap bahwa butiran tersebut memiliki kandungan campuran timbal yang tinggi dan memiliki tujuh belas unsur kimia dalam tabel mendeleev.

Sedangkan butiran terbesar  memiliki kandungan krom, nikel, dan alumunium juga sangat keras. Dibutuhkan gergaji khusus untuk membelah butiran besar tersebut. Setelah terbelah diketahui struktur dalam butiran seharusnya mengkristal agar bisa sekeras itu namun ternyata strukturnya sangat lembut bahkan tak berbentuk seperti sabun.

Beberapa temuan lainnya seperti benda menyerupai jaring kecil dengan 18 kandungan zat berbeda didalamnya dengan 17 jalinan kecil.  Menggunakan mikroskop elektron ditemukan permukaan jaring tersebut berlapis jalinan kuarsa setebal 17 mikron. Jalinan – jalinan tersebut saling mengikat satu sama lain dalam ukuran yang pas.

russias-roswell-ocmamku-tree

Batang pohon yang terbakar juga memiliki satu ujung yang mengkilap seperti dipernis. Kesimpulan dari semua temuan menurut Bor and Dalnopolimetall adalah tidak ada jenis produk olahan pabrik yang menghasilkan satu benda dengan begitu banyak kandungan zat didalamnya untuk tujuan apapun.

Tetapi laporan lain hasil penelitian IZMIRAN (Institute of Earth magnetism, ionosphere and radiowaves propagation) yang pernah terlibat dalam proyek rahasia penelitian UFO pada tahun 1978 sampai 1991 menyebutkan bahwa bola misterius tersebut berasal dari bumi sedangkan kuarsa yang terkandung dalam bukti – bukti yang dikumpulkan berasal dari Kholodnensky di wilayah Baikal Utara.

Memang dari kedua hasil penelitian dari kedua lembaga tersebut tidak dapat menyebutkan apa sebenarnya benda misterius berbentuk bola api merah yang menghantam Height 611. Apalagi selama pengumpulan bukti, foto yang digunakan adalah foto hitam putih sehingga sulit untuk meneliti dari hasil dokumentasi.

Namun selang setahun kemudian sekitar bulan November 1987, warga setempat kembali menyaksikan beberapa kali benda misterius serupa terbang diatas Dalgenorsk. Pada salah satu peristiwa, benda misterius tersebut berputar – putar  memancarkan cahaya diatas lokasi tabrakan. Dari beberapa kesaksian benda yang muncul beberapa bulan kemudian mirip dengan yang mengalami tabrakan pada tahun 1986.

Was it air ballon or alien’s ship? nobody knows.

 

sumber : wikipedia.org

alienjigsaw.com

 

 

 

 

 

 

 

FIFA Women’s World Cup 2016, All Asian Final, Buah Visi 100 Tahun.

Lari mereka kencang, bola tendangan mereka melaju keras, taktik mereka mengalir mulus di atas lapangan membuat negara seperti Inggris, Spanyol, Amerika Serikat bertekuk lutut. Mereka adalah Timnas sepakbola putri Jepang U-17. Babak grup hingga babak final pada 21 Oktober 2016 di Stadion Internasional Amman Yordania dilewati tanpa cela.

Jepang tampil di Piala Dunia Wanita U-17 tahun 2016 Yordania sebagai salah satu wakil Asia bersama tuan rumah Yordania (kalah dibabak grup) dan Korea Utara, lawan mereka di final nanti. Benua Asia tentunya berpesta karena berhasil mencetak sejarah All Asian Final di Piala Dunia Junior.

Tidak banyak yang bisa diketahui dari Korea Utara, yang juga tanpa kekalahan masuk ke final, karena informasi dari negara yang terus berseteru dengan Korea Selatan ini menutup dan “diisolir” dari pergaulan dunia. Namun jika kita melihat kiprah timnas sepakbola putra dan putri baik level junior maupun senior, pengasingan mereka dari mata dunia tidaklah berpengaruh besar. Sepakbola seperti menjadi salah satu jalan bagi mereka mengenal dunia bahkan beberapa pesepakbola putra juga berkiprah di klub luar negeri.

Sedangkan Jepang dikenal dengan visi 100 tahun dalam pembangunan sepakbola. Visi yang ditujukan mengangkat sepakbola jepang saat ini berjalan dan menuai hasil memuaskan. Contoh sederhana, Jepang kini merupakan negara eksportir pemain ke benua Eropa. Situasi tersebut bukan hanya berlaku pada sepakbola laki – laki tapi juga wanita.

Menyoal prestasi, timnas wanita memang lebih mentereng daripada timnas putra. Timnas putri Jepang pernah menjadi juara dunia pada tahun 2011. Prestasi yang mendongkrak jumlah penonton stadion Liga Sepakbola Wanita Jepang (Nadeshiko Div.1).

Dapat dikatakan bahwa kesuksesan menjadi juara dunia plus star factor, kapten timnas wanita Homare Sawa ketika itu mendapatkan kontrak besar dari sponsor, semakin memuluskan pencapaian visi 100 tahun. Terbukti sepakbola putri menjadi cabang baru dalam turnamen nasional antar sekolah.

Salah satu cara dalam usaha mewujudkan visi 100 tahun adalah dengan meleburkan sepakbola dengan komunitas masyarakat. Prakteknya yaitu klub dari setiap daerah harus bekerja sama dengan perusahaan lokal, sekolah sepakbola lokal. Selain mempromosikan dan memberikan tempat untuk bakat – bakat muda ini juga membuat ikatan klub dengan masyarakat sehingga jumlah penonton yang datang ke stadion akan banyak dan tentunya berimbas kepada stabilitas finansial klub.

Visi 100 tahun ini bukan hanya menyasar kepada pemain muda, tetapi juga menyiapkan klub profesional Jepang tahan banting jika krisis ekonomi mendera. Ya sepakbola Jepang hampir runtuh ketika krisis ekonomi tahun 1997. Visi ini merupakan hasil pengalaman mereka.

Pemain muda adalah target paling utama. JFA (Federasi Sepakbola Jepang) menebar sumber daya ke setiap sekolah sepakbola, kursus pelatih dan pemandu bakat. Jejaring diciptakan yang melibatkan sekolah – sekolah umum dalam pelatihan dan turnamen antar sekolah.

Tidak cukup dengan itu, anak – anak muda juga diberikan satu sosok idola yang dekat dengan kesenangan khas anak – anak. Film kartun Captain Tsubasa menjadi inspirasi anak – anak Jepang agar bermain sepakbola dan mereka memiliki hasrat seperti Tsubasa yang dikisahkan sukses di level dunia. Role Model memang diperlukan. Keberhasilan timnas wanita Jepang di tingkat dunia adalah model acuan anak – anak lainnya.

Deadline visi itu masih lama, namun buahnya sudah dapat dinikmati.

Meski dengan fakta bahwa timnas pria dan wanita Jepang adalah pelanggan Piala Dunia, tetap saja keberhasilan timnas wanita U-17 ini masih membuat terhenyak apalagi jika menonton gaya mereka bermain. Rasanya dari beberapa highlight pertandingan – pertandingan Piala Dunia U-17, hanya Jepang yang memang mantap dalam artian sangat enak untuk dinikmati.

Meski memang sadar dan tentunya tidak sebanding, rasanya kembali harus bertanya bagaimana visi pembangunan sepakbola Indonesia? Apakah 100 tahun atau dari tahun ke tahun ganti?.

Insiden UFO, Nha Trang 1966

Perang Vietnam yang juga dikenal dengan nama Perang Indochina 2 merupakan peperangan yang pecah di tahun 1960an walau perang yang juga merupakan perang saudara antara Vietnam Utara dan Vietnam Selatan ini telah diawali sejak tahun 1955. Pada tahun 1960an, Amerika Serikat ikut terlibat sebagai pendukung Vietnam Selatan disisi lain Uni Sovyet adalah penyokong Vietnam Utara.

Bukan persaingan ideologi, Vietcong atau Rambo yang akan dituliskan disini. Namun seperti judul, pertempuran Vietnam juga menyimpan kisah – kisah yang masih belum dapat ditemukan jawabannya, salah satunya adalah UFO (Unidentified Flying Object).

Salah satu insiden terjadi di pangkalan militer Amerika Serikat (AS) pada bulan Juni 1966. Pangkalan yang terletak di Nha Trang sebuah wilayah yang kini memiliki banyak hotel, ketika itu menjadi basis pertahanan AS dengan 4.000 tentara. Pangkalan ini juga dilengkapi dengan landasan pesawat, gudang, juga dermaga.

Satu malam di bulan Juni ketika para tentara tengah beristirahat berkumpul menonton film, sekira pukul 21.45 malam, tiba – tiba langit di bagian utara menyala terang. Cahaya yang pada awalnya disangka sebagai flare langsung menarik perhatian para tentara dan seketika mereka tahu bahwa ini bukanlah flare karena punya pola pergerakan sendiri. Seorang saksi menyatakan dari bergerak lambat ke bergerak cepat.

Tinggi cahaya tersebut diperkirakan sekitar 25 ribu kaki atau 7.620 Meter tetiba menukik turun sehingga membuat kepanikan lalu berhenti diatas kepala tentara dengan jarak sekitar 150an meter. Cahaya itu diam menggantung di udara menerangi pangkalan militer AS Nha Trang yang berada di lembah.

Semua mesin dan kendaraan mati total. Ketika cahaya itu datang 8 bulldozer tengah membersihkan pepohonan untuk membuat jalan dekat pangkalan langsung mendadak mati.

Sekejap cahaya itu langsung bergerak menanjak terbang lurus ke atas dan menghilang dari pandangan. Kendaraan dan mesin tetap tidak bisa dinyalakan. Menurut saksi mata, hingga 4 menit lebih semua mesin mati total.

Kejadian ini dikabarkan menarik perhatian Pemerintah AS yang menurunkan tim untuk menyeliki kejadian ini. Hanya sampai saat ini belum diketahui apa dan siapa yang datang malam itu di Nha Trang.

sumber : 1 2