Preview Leg 2 Final Piala AFF 2016 : Imbangi Pressing Ketat Lawan

Pertama bagi timnas sepakbola Indonesia. Sejak Piala AFF tahun 2004, sistem home and away pada babak semifinal dan final mulai diterapkan mengganti sistem satu pertandingan pada gelaran sebelumnya. Kemenangan Indonesia atas Thailand pada Leg pertama Final AFF Championship 2016 adalah yang pertama kali dialami Indonesia. Pada final sebelumnya yang dijalani Indonesia sejak sistem kandang tandang digunakan, setiap leg pertama (pertandingan pertama) selalu berakhir dengan kekalahan. Ini terjadi pada Piala AFF 2004, kalah oleh Singapura 1-3 dan pada Piala AFF 2010 kalah 0-3 atas Malaysia.

Sedangkan pertama yang kedua adalah meskipun sejak sistem ini diperkenalkan Indonesia belum pernah bertemu Thailand di final tetapi pertemuan kedua negara dalam sistem ini terjadi pada semifinal Piala AFF 2008. Ketika itu Thailand menang di pertandingan pertama lewat gol Teerasil Dangda. Jadi kemenangan hari Rabu kemarin adalah yang pertama kali bagi Indonesia mengalahkan Thailand di sistem home and away.

Jadi apakah ini pertanda baik? sesuai dengan cocokologi yang ramai diluar sana dengan memperbandingkan timnas Portugal pada Euro 2016 dan timnas Indonesia saat ini? Tentunya kita tidak bisa menggantungkan asa pada hal tersebut karena masih ada 90 menit di Stadion Rajamangala Bangkok pada 17 Desember nanti.

Thailand menjanjikan 90 menit yang brutal untuk Indonesia hari Sabtu nanti. Rasanya melebihi tekanan Vietnam pada semifinal lalu di Hanoi. Apalagi dengan kemampuan memainkan bola dan menciptakan peluang lebih bagus dari Vietnam tentunya skuad Garuda asuhan Alfred Riedl mesti melupakan kemenangan di Cibinong hari Rabu yang lalu karena perjalanan menuju juara masih panjang dan terjal, saat ini kita belum meraih apa – apa.

Pada pertandingan  pertama dua hari lalu, Thailand tidak terlalu aktif menyerang melalui kedua sisi lebar lapangan. Mereka menerapkan 4-1-4-1 ketika bertahan dengan mencoba memutus serangan Indonesia lewat garis pertahanan yang tinggi dan pressing ketat ketika dua atau tiga pemain menjaga satu lawan.

Ini memang gaya permainan Thailand sejak awal Piala AFF 2016. Gaya bertahan yang tidak berbeda jauh dengan Vietnam. Perbedaannya adalah Thailand lebih tajam ketika menyerang. Kemampuan membuka ruang di pertahanan lawan lebih baik berbekal komunikasi antar pemain yang sudah demikian solid. Perpindahan pemain dari satu posisi ke posisi lain juga sangat luwes sehingga setiap areal lapangan bisa mereka tutup.

3 gelandang milik Thailand yaitu Pokklaw A-nan, Chanatip Songkrasin, dan Sarawut Masuk memiliki peran bukan hanya sebagai pengolah serangan, pengumpan, tetapi juga sebagai pencetak gol. Pokklaw A-nan (nomor punggung 21) merupakan pemain paling mobile di lapangan. Ia bebas bergerak ke setiap sisi lapangan termasuk turun ke garis tengah berdampingan dengan Saarach Yooyen (nomor punggung 6) ketika bertahan. Ia adalah supplier bola bagi dua gelandang lain plus striker Teerasil Dangda. Pergerakannya harus diawasi oleh lini tengah Indonesia.

Satu gol Thailand ke gawang Indonesia dua hari yang lalu merupakan kombinasi akurasi umpan dan cara para pemain Thailand membelah fokus pemain bertahan Indonesia untuk menyediakan ruang di kotak penalti. Meski Peerapat Notchaiya di sisi kiri dan Tristan Do di sisi kanan lebih menjaga kedalaman pada pertandingan pertama namun mereka sesekali ikut membantu serangan. Peerapat Notchaiya patut mendapatkan perhatian karena ia memiliki akurasi umpan yang bagus.

Menghadapi Indonesia di kandang sendiri bisa jadi Thailand kembali ke formasi 3-5-2 bahkan menduetkan Siroch Chattong dengan Teerasil Dangda sejak awal karena mereka butuh mencetak gol. Mereka berdua bertanggung jawab atas kemenangan Thailand ketika menghadapi Indonesia di pertandingan pertama Grup A.

Namun celah pertahanan Thailand masih tetap terbuka lebar. Pressing lawan dengan menggunakan dua sampai tiga pemain membuat ada ruang kosong. Bahkan dua sisi lebar lapangan tidak sepenuhnya berhasil mereka tutup.

Thailand pun rentan dengan serangan balik. Tercatat 2 serangan balik Indonesia dengan mengarahkan bola ke sisi kanan dan kiri lapangan membuat Thailand cukup kerepotan. Boaz Solossa dan Lerby Eliandry merupakan aktor pada dua serangan balik tersebut.

thai1
Pemain Thailand selalu kalah jumlah ketika menghadapi Counter attack

Indonesia harus menampilkan permainan seperti pada babak kedua pertandingan pertama. Menerapkan pressing intens, menekan sejak lawan menguasai bola di areal pertahanan mereka. Pola umpan pendek dan memperbanyak cut inside bisa dijadikan senjata utama kembali.

Menekan lawan sejak dini harus diutamakan karena gol Indonesia yang dicetak Rizky Pora dua hari yang lalu diawali pressing hampir digaris tengah Thailand. Selain itu ketika pemain bertahan Thailand menguasai bola dan akan membangun serangan, biasanya barisan gelandang plus gelandang bertahan sudah jauh naik ke pertahanan Indonesia menciptakan jarak yang jauh dengan para pemain bertahan mereka. Ini peluang untuk memberikan tekanan pada mereka bahkan mengisolasi tiga pemain bertahan mereka.

thai2
Jarak yang cukup jauh antara pemain bertahan dan barisan gelandang Thailand.

Pressing ketat yang dilakukan Indonesia di babak kedua dua hari lalu sukses membuat Thailand tidak dapat mencetak satu pun tembakan on target atau off target. Percobaan mencetak gol tidak bisa mereka lakukan. Total 6 kali tembakan Thailand ke gawang Indonesia ( 2 on target dan 4 off target) semua terjadi dibabak pertama.

Wajib dimiliki para pemain Indonesia adalah bermain ngotot, disiplin dan keberanian. Selain itu mereka pun harus bisa membaca arah pergerakan bola sehingga dapat memberikan tekanan berarti kepada lawan.

Cederanya Andik Vermansyah pada pertandingan pertama dapat ditutupi oleh Zulham Zamrun. Permasalahan yang dapat timbul adalah Zulham telat panas. Babak pertama ia seperti kebingungan dan tidak bertahan dengan baik sehingga Manahati Lestusen beberapa kali bergerak ke arah kanan. Ia baru menemukan kenyamanan ketika babak kedua dimulai. Memang masih ada opsi lain seperti Bayu Gatra hanya saja ia belum pernah diturunkan sama sekali di Piala AFF 2016 ini.

Thailand mudah kehilangan fokus ketika babak kedua. Pada pertandingan pertama Grup A Indonesia mencetak 2 gol di babak kedua dan itu diulangi pada pertandingan pertama final kemarin. Menariknya hanya dalam hitungan menit saja Indonesia bisa mencetak 2 gol. Pertandingan grup dalam tempo 3 menit sedangkan dalam pertandingan final dalam tempo 5 menit.

Hal itu dapat berarti dua hal. Pertama stamina pemain Thailand tidak terlalu baik. Karena dengan permainan cepat dan menekan, stamina bisa cepat habis yang merupakan kelemahan dalam permainan dengan pola pressing tinggi. Kedua shock factor. Gol Boaz Solossa di pertandingan babak grup dan Rizky Pora dua hari lalu berhasil mengejutkan Thailand dan ternyata mereka butuh waktu cukup lama untuk kembali membenahi fokus dalam bertahan. Sehingga Indonesia perlu menghadirkan kejutan – kejutan baik melalui pergerakan pemain atau penciptaan peluang agar selalu merusak konsentrasi pemain Thailand.

Bayu Pradana sebagai tandem Manahati Lestusen dalam formasi 4-2-3-1 harus mampu menunjukkan kegigihan yang sama seperti rekannya. Manahati mau berlari ke berbagai sisi lapangan untuk merebut bola atau ikut membantu serangan. Bayu Pradana harus menandinginya sejak mereka berdua merupakan pemutus serangan lawan dan pemain yang mengawali serangan.

Dengan kemenangan di leg pertama, peluang Indonesia terbuka lebar. Skor identik dengan semifinal pertama ketika melawan Vietnam bukan berarti pola permainan menunggu seperti pada semifinal kedua dapat diterapkan kembali. Lebih baik mengimbangi kecepatan permainan Thailand dengan pressing ketat dan kedisiplinan. Thailand akan ofensif dan itu akan membuka banyak sekali celah di pertahanan mereka.

Jika Kiatisuk Senamuang, pelatih Thailand, di pertandingan pertama mampu menutup serangan Indonesia dari sisi sayap dan kecolongan di lini tengah, maka pada pertandingan kedua para pemain Indonesia harus bisa memadukan dua hal ini ditambah dengan melepas tembakan dari luar kotak penalti saat memungkinkan.

Kesimpulannya, pemain Indonesia harus tampil gigih, tidak lagi berhati – hati dalam artian tidak kalah mental pada pertandingan besok malam.

Oh ya, tahukah anda ada 3 final yang dijalani Thailand sejak Piala AFF menggunakan sistem home and away? Fakta menariknya adalah jika mereka kalah dalam pertandingan pertama final biasanya pada pertandingan kedua mereka hanya mampu bermain imbang atau menang dengan skor tipis lalu gagal menjadi juara. Ini terjadi pada Piala AFF 2007, Singapura menang di leg pertama dengan skor 2-1 dan leg kedua 1-1. Piala AFF 2008 Vietnam menang atas Thailand di leg pertama dengan skor 2-1 dan imbang 1-1 di leg kedua. Piala AFF 2012, Singapura mengalahkan Thailand 3-1 di leg pertama dan hanya kalah 0-1 di leg kedua. Jadi? Wallahu a’lam bishawab. Ah tidak usah berandai – andai, 90 menit adalah waktu yang lama dan perjuangan keras dan gigih harus ditunjukkan dan terus berdoa.

#INDONESIA_BISA

Preview Leg Pertama Final AFF Cup 2016 : Pertahanan Thailand Bukan Benteng Baja

Latihan timnas Indonesia dipenuhi dengan teriakan motivasi. Stefano Lilipaly dan pemain lainnya optimis leg pertama final Piala AFF 2016 dapat dimenangkan Indonesia. Headline – headline berita tersebut memenuhi media cetak dan elektronik. Semua senada bahwa ada optimisme menjelang laga pertama final Piala AFF 2016 yang akan dipertandingkan besok malam (Rabu,14/12) di Stadion Pakansari Cibinong Bogor.

Thailand sejauh ini merupakan tim terkuat di Piala AFF 2016 dengan status tidak terkalahkan. 12 gol telah mereka jaringkan ke gawang lawan sementara hanya 2 gol yang bersarang di jala gawang mereka dalam 5 pertandingan Piala AFF 2016 dari mulai babak grup hingga fase semifinal.

Teerasil Dangda memimpin daftar pencetak gol terbanyak sementara dengan torehan 5 gol. 3 gol ia sarangkan ke gawang Kurnia Meiga saat Thailand mengalahkan Indonesia 4-2. Pencetak gol terbanyak lainnya milik Thailand adalah Sarawut Masuk dengan 3 gol. Thailand hanya membawa 2 striker murni pada turnamen dua tahunan ini. Selain Teerasil, ada Siroch Chattong yang sudah mencetak 1 gol.

Meski hanya membawa dua striker murni dan biasanya pelatih Thailand, Kiatisuk Senamuang, memasang striker tunggal dalam permainan, tetapi pasukan War Elephants, didukung gelandang agresif seperti Chanatip Songkrasin, Mongkol Tossakrai dan Adul Lahsoh.

Formasi 3-5-2 yang diterapkan Kiatisuk Senamung membuat gelandang – gelandang serang milik Thailand bisa diberdayakan untuk membantu daya gedor. Dua striker milik mereka baru mencetak 7 gol sisanya 5 gol disarangkan pemain tengah mereka.

5 orang gelandang di lini tengah Thailand diisi oleh satu defensive miedfield yang diemban pemain dengan nomor punggung 6 yaitu Sarach Yooyen. Ia bukan hanya membantu kinerja 3 centre back tapi juga berperan sebagai pembagi bola dan pengatur tempo. Dua winger biasanya ditempati pemain yang berposisi asli sebagai pemain bertahan. Sementara tiga gelandang diturunkan di sektor tengah sebagai penggedor pertahanan lawan membantu striker tunggal.

Serangan Thailand yang dapat dibilang berbahaya biasanya diawali kombinasi umpan dari sisi kiri. Theerathon Bunmathan (Nomor Punggung 3) atau Peerapat Nothecaiya (nomor punggung 2) meski berposisi asli sebagai pemain bertahan namun tidak canggung untuk ikut menyerang dan memberikan umpan dari sisi ini. Baik melakukan kombinasi umpan maupun memberikan umpan lambung ke kotak penalti kedua pemain ini fasih menjalankannya.

Keunggulan lainnya dari Thailand adalah pressing yang tinggi yang didukung dengan kehadiran 5 orang gelandang. Selain itu, ketika satu pemain Thailand menguasai bola maka pemain lainnya membagi peran untuk memberikan opsi umpan. Ada yang berlari ke ruang kosong, ada yang mendekati bola. Pemain depan Thailand pun dalam positioning ketika menyerang biasanya menempatkan diri diantara dua pemain bertahan lawan yang memungkinkan mereka untuk mempunyai ruang yang cukup untuk berlari membawa bola.

Belum ada yang mampu mengalahkan tetapi adakah kelemahan mereka? Tentunya ada dan bukan hanya satu kelemahan saja. Pressing tinggi yang diterapkan Thailand adalah untuk menutup lubang di sektor pertahanan mereka. Dengan memasang 3 orang centre back areal lebar lapangan tidak tertutup seluruhnya. Bahkan sisi kanan pertahanan yang ditempati winger, Tristan Do, adalah sisi terlemah mereka ketika bertahan.

tha4

Gambar diatas menunjukkan ruang kosong di sisi kanan pertahanan Thailand yang dapat ditembus oleh penyerang Singapura. Tristan Do selalu terlambat untuk turun membantu pertahanan. Filipina, Singapura, Myanmar dan Indonesia sangat menyadari hal ini dan seringkali mengawali serangan dari sisi kanan. Dalam beberapa pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2018 beberapa gol yang bersarang di gawang Thailand selalu ada yang tercipta dari sisi kanan.

tha5

Gambar diatas menunjukkan serangan Indonesia yang diawali Rizky Pora. 3 pemain bertahan fokus melihat pergerakan Rizky Pora dan membiarkan Andik Vermansyah dan Boaz Solossa tidak terjaga.

Dengan hanya 3 pemain belakang, perhatian mereka dalam menjaga lawan pun sering ditujukan kepada pemain yang menguasai bola sehingga meninggalkan ruang kosong yang tidak tercover. Apalagi jika winger lawan memanfaatkan lebar lapangan, maka biasanya satu orang berusaha melakukan man to man marking, sementara dua pemain bertahan lainnya tertarik mendekati sehingga banyak ruang kosong tercipta di kotak penalti.

tha3
Khairul Amri (jersey Merah no.10) berhasil menarik perhatian 3 centreback Thailand untuk memberikan ruang kosong di sisi kiri.

Sebetulnya bukan hanya sisi kanan yang menjadi kelemahan Thailand namun sisi kiri pun demikian. Dalam pertandingan melawan Filipina, Phil Younghusband hampir menjebol gawang Thailand menyambut bola lambung dari sisi kiri. Myanmar pada dua pertandingan semifinal juga memanfaatkan lebar lapangan dan berkali – kali masuk ke kotak penalti Thailand membahayakan gawang yang dijaga Kawin Thamsatchanan.

Salah satu pemain bertahan Thailand yang sering melakukan kesalahan adalah Adison Promsak. Dalam pertandingan melawan Myanmar beberapa kali bola dalam penguasaanya bisa direbut.

Gelandang bertahan Sarach Yooyen pun sering terlambat memberikan bantuan ketika bertahan. Perannya sebagai pembagi bola juga membuka kelemahan lainnya. Jika ia dapat ditekan oleh 1 – 2 pemain sehingga membatasi ruang geraknya akan memperbesar kemungkinan Thailand kesulitan menyusun serangan.

Pertahanan Thailand pun tidak terlalu tangguh ketika menghadapi umpan – umpan lambung. Lerby Eliandry dan Boaz Solossa sudah membuktikan hal itu lewat dua gol mereka dalam pertandingan lawan Thailand di babak grup.

Mau tidak mau, Indonesia harus mengambil inisiatif serangan terlebih dahulu agar Thailand tidak leluasa membangun serangan. Thailand sering kesulitan menghadapi tim yang bermain terbuka dan memiliki kemampuan sepadan. Filipina dan Singapura dikalahkan melalui skor tipis. Sedangkan Myanmar pada leg 2 semifinal menerapkan permainan terbuka dan mampu menyaingi pressing Thailand hanya saja tidak diimbangi dengan kemampuan mereka mengatasi serangan balik Thailand.

Jika pertahanan Thailand begitu terbuka maka kenapa baru Indonesia yang mampu menjebol gawang Thailand? Silahkan lihat cuplikan – cuplikan pertandingan Thailand melawan Filipina, Singapura dan Myanmar. Bagi saya adalah masalah ketenangan dan tidak tajamnya penyerang ketiga negara tersebut. Kalau saja mereka lebih tenang, bisa jadi catatan kebobobolan Thailand lebih dari 2 gol.

Tidak tenangnya para pemain depan tersebut dapat muncul karena predikat Thailand sebagai tim nomor satu di Asia Tenggara. Seringkali lawan yang menghadapi Thailand di Piala AFF akan berhati – hati fokus dulu untuk bertahan dengan sesekali melakukan serangan balik.

Predikat tim terbaik tersebut memang menggetarkan setiap lawan. Tetapi perlu diingat, Indonesia mampu melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan lawan lainnya, yaitu mencetak 2 gol ke gawang Thailand hanya dalam tempo 3 menit saja. Ini membuktikan predikat Thailand tidak menjamin mereka akan tangguh dalam bertahan.

Indonesia rasanya sudah lebih siap menghadapi pertemuan kedua dengan Thailand di Piala AFF 2016. Peningkatan permainan Indonesia dilakukan per pertandingan. Stamina yang sering menjadi masalah ketika menghadapi permainan intens lawan bisa jadi lebih siap diatasi setelah laga kedua semifinal di Vietnam pekan lalu.

Masih menjadi ganjalan adalah pertahanan Indonesia terutama fokus dimenit – menit akhir babak kedua. 10 gol di gawang Kurnia Meiga, 5 gol terjadi pada babak pertama dan 5 gol terjadi pada babak kedua. Sedangkan dalam urusan mencetak gol, Indonesia lebih tajam pada babak kedua karena menjaringkan 8 gol dan 2 gol dicetak pada babak pertama.

Jika menurunkan formasi 4-2-3-1 maka Indonesia akan bermain defensif, sedangkan yang dibutuhkan adalah mencetak gol dan menang dengan selisih besar sehingga harus bermain ofensif. Hal ini dikarenakan laga kedua final di Thailand akan ditandingkan pada tanggal 17 Desember, waktu yang sempit untuk recovery.

Membuat Lawan Shock

Berbicara tentang formasi, seandainya berani mengambil resiko Alfred Riedl dapat memasang 3-5-2 juga untuk mengimbangi jumlah dan peran para gelandang Thailand. Hal ini pernah dilakukan oleh Joachim Loew, manajer timnas Jerman, ketika menghadapi Italia pada babak perempatfinal Euro 2016. Formasi tersebut bukanlah sesuatu yang asing untuk pemain Indonesia. Mereka tumbuh dan berkembang dalam formasi tersebut bahkan sampai ke awal – awal era 2000an masih banyak pelatih Indonesia yang menerapkan formasi itu. Terbaru adalah Djajang Nurjaman ketika Persib menang atas Perseru Serui di pekan – 31 Indonesian Soccer Championship. Jika memasang formasi yang sama, bisa dipastikan Riedl membuat shock Kiatisuk.

Mengingat Italia di Euro 2016, maka satu gelandang yang ditempatkan di depan 3 centreback, mau tidak mau harus ditekan sedini mungkin. Ketika ia ditekan dan tidak bebas bergerak maka ia kesulitan membantu pertahanan dan sulit untuk membagi bola dalam situasi serangan balik.

Alfred Riedl juga harus mempertimbangkan baik – baik darimana ia akan menyuruh para pemain mengawali serangan. Memang dengan formasi ini sisi lebar lapangan Thailand terbuka dan berkali – kali dimanfaatkan lawan. Namun juga tentunya hal ini sudah dapat diprediksi oleh Thailand. Meski diatas sisi kanan Thailand adalah kelemahan mereka tetapi juga tidak ada salahnya menerapkan serangan dari sisi yang belum dapat mereka perkirakan. Karena siapa tahu, Thailand memang sengaja membuka kedua sisi kanan dan kiri agar mampu mengendalikan arah serangan lawan.

Kenapa tidak melakukan serangan dari sektor tengah  yang berarti memperbanyak pemain dengan kemampuan penguasaan bola mumpuni dan memperbanyak cut inside?

Thailand bukanlah tim yang super, bahkan mereka saat ini sedang membangun reputasi kembali setelah terjadinya gap generasi pemain sepakbola.

Inilah saat terbaik Indonesia merengkuh gelar pertama Piala AFF.

#INDONESIA_BISA

Preview Final Piala AFF 2016 : Learning by Doing

Pertandingan leg 2 semifinal antara Thailand vs Myanmar di Stadion Rajamangala Bangkok tadi malam meloloskan tuan rumah setelah pertandingan berakhir dengan kemenangan The War Elephants, julukan timnas sepakbola Thailand.

Empat gol yang dicetak Sarawut Masuk, Theerathon Bunmathan, Siroch Chattong dan Chanatip Songkrasin melengkapi kemenangan Thailand sebelumnya di leg pertama semifinal. Thailand lolos ke final dengan agregat 6-0.

Dengan hasil tersebut final Piala AFF 2016 mempertemukan Indonesia vs Thailand untuk yang ketiga kalinya. Dua pertemuan sebelumnya terjadi pada final Piala AFF tahun 2000 dan tahun 2002. Dalam dua pertemuan tersebut Thailand mengalahkan Indonesia. Sama dengan Indonesia, Thailand untuk kelima kalinya menjadi finalis. Bedanya dengan Indonesia, dalam 4 kali final selalu menjadi runner up, sedangkan Thailand sukses 4 kali juara.

Pelatih Thailand, Kiatisuk Senamuang, juga menjalani final yang kelimanya pada Piala AFF 2016. Sebagai pemain ia 3 kali membawa Thailand juara (Piala AFF 1996, 2000, 2002) sedangkan sebagai pelatih ia membawa Thailand juara pada Piala AFF 2014.  Pelatih Indonesia, Alfred Riedl, menjalani final ketiga. Pada dua kesempatan final  sebelumnya  bersama Vietnam pada tahun 1998 dan Indonesia pada tahun 2010  semuanya berakhir dengan prestasi juara 2.

Rekor pertemuan Indonesia – Thailand pada Piala AFF hingga saat ini adalah 9 kali pertemuan dengan 7 kemenangan untuk Thailand dan 2 kemenangan untuk Indonesia. Indonesia mengalahkan Thailand dalam perebutan juara 3 Piala AFF 1998 lewat adu penalti dan pada pertandingan babak grup  A Piala AFF 2010 Indonesia, dalam debut Alfred Riedl menangani timnas Indonesia, mengalahkan Thailand lewat dua gol penalti Bambang Pamungkas.

Melihat catatan pertemuan tersebut memang Thailand masih unggul atas Indonesia. Rekor pertemuan kedua pelatih Kiatisuk Senamuang vs Alfred Riedl sejauh ini imbang, keduanya berhasil saling mengalahkan di Piala AFF . Ketika masih menangani timnas Vietnam, Alfred Riedl tercatat 2 kali memimpin Vietnam bertemu Thailand yaitu pada Piala AFF 1998 dan Piala AFF 2007. Hasilnya 1 kemenangan, 1 imbang, dan 1 kalah. Menjadikan rekor Alfred Riedl  vs  Thailand sejauh ini adalah 2 menang, 1 imbang, 2 kalah.

Pengalaman mau tidak mau akan berperan dalam pertandingan final yang digelar dengan sistem home and away. Beberapa pemain Thailand yang menjuarai Piala AFF 2014 masih menjadi pilihan utama. Nama – nama seperti penjaga gawang Kawin Thamsatchanan, Sarach Yooyen, Charyl Chappuis, dan Adul Lahsoh tentunya berambisi untuk memenangkan gelar Piala AFF 2016 yang akan didedikasikan bagi Raja Bhumibol Adulyadej yang mangkat pada 13 Oktober lalu.

Susunan pemain inti yang tidak banyak berubah sejak Piala AFF 2014 menjadi kekuatan tersendiri untuk Thailand. Sejak berakhirnya Piala AFF 2014 sampai dengan awal Piala AFF  2016, Thailand menjalani 21 pertandingan internasional. Mulai dari babak 2 Kualifikasi Piala Dunia 2018 dan Piala Asia 2019, babak 3 Kualifikasi Piala Dunia 2018, dan beberapa pertandingan ujicoba. Semua pertandingan tersebut dijalani dengan susunan pemain yang hanya sedikit mengalami perubahan.

Pertandingan final ini tentunya akan menjadi tantangan berat untuk skuad Indonesia apalagi di pertandingan Grup A, mereka dikalahkan Thailand 2-4. Jika kekompakan sudah dimiliki skuad Thailand sejak lama, Indonesia mengalami peningkatan per pertandingan dalam hal komunikasi dan kekompakan. Pertandingan semifinal melawan Vietnam hari Rabu kemarin, dalam hemat penulis adalah terberat yang pernah dijalani timnas Indonesia pada Piala AFF 2016. Kedisiplinan, kekompakan, komunikasi, dan stamina benar – benar diuji pada pertandingan di Stadion My Dinh tersebut. Dapat dikatakan, Indonesia  is learning by doing. Hal ini disebabkan persiapan yang tidak sempurna akibat pembekuan PSSI oleh Menpora dan sanksi FIFA.

Gaya menyerang dan gaya bertahan sudah diterapkan oleh Alfred Riedl dalam 5 pertandingan Piala AFF 2016. Diharapkan para pemain pun sudah lebih siap menghadapi pertandingan pertama final yang tinggal berjarak 5 hari.

Satu modal bagus yang dimiliki Indonesia adalah ketajaman mencetak gol. Belum pernah ada negara yang mampu membobol gawang Thailand di Piala AFF 2016 kecuali Indonesia. Itupun dilakukan dalam tempo waktu tiga menit saja. Inilah yang sempat mengejutkan Kiatisuk Senamuang.

Pertahanan Thailand memang bermasalah. Mudah ditembus. Pertandingan semalam menunjukkan para penyerang Myanmar dapat leluasa untuk mengancam gawang Thailand. Beruntung penampilan bagus kiper Kawin Thamsatchanan plus kurang tajamnya pemain depan Myanmar membuat gawang mereka tetap bersih dari kebobolan.

Dalam 5 hari persiapan ini, skuad Indonesia perlu menumbuhkan semangat tersendiri, menemukan motivasi mereka untuk tampil sebagai satu tim dan berjuang keras. Karena mereka harus menghadapi tim yang ngotot banget dalam bermain. Kegigihan dalam bermain sering timbul tenggelam pada para pemain Indonesia. Jika selama ini disebutkan bahwa karena faktor stamina, namun seringkali kelemahan tersebut dapat tertutupi jika memiliki semangat keras.

Indonesia akan terlebih dahulu menjamu Thailand pada 14 Desember 2016 di Stadion Pakansari Cibinong Bogor. 3 hari kemudian, tepatnya 17 Desember 2016,  giliran Indonesia bertanding di Stadion Rajamangala. Bagaimana peluang Indonesia? Rasanya besaaar.

#INDONESIA_BISA

 

 

 

Review Leg 2 Semifinal AFF Cup 2016 : Que Ngoc Hai, The Star

Menegangkan. The Conjuring 2 pun tidak bisa menyamai ketegangan yang tercipta saat menonton Leg 2 semifinal Piala AFF 2016 antara Indonesia versus Vietnam tadi malam (7/12). 120 menit pendukung sepakbola Indonesia dan Vietnam dibuat menahan napas, jengkel, gregetan, sebelum akhirnya wasit Fu Ming meniup peluit panjang di akhir babak 2 extra time. Indonesia lolos ke final Piala AFF untuk kelima kalinya.

Memainkan formasi yang belum pernah dipakai sebelumnya yaitu 4-2-3-1, pelatih Indonesia, Alfred Riedl, jelas menerapkan strategi counter attack sejak menit awal untuk mengamankan kemenangan Indonesia pada Leg 1 semifinal di Stadion Pakansari Sabtu pekan lalu. Pilihan yang wajar karena Vietnam memang tampil all out.

Data pertandingan dari situs http://www.affsuzukicup.com menunjukkan Vietnam mencapai grafik tertinggi mereka selama Piala AFF 2016. Total 19 kali percobaan mencetak gol ke gawang Indonesia dengan 9 kali tendangan akurat ke gawang Kurnia Meiga dan 10 kali bola melenceng. Indonesia hanya mencetak 2 kali tendangan bersih ke gawang Vietnam dan 5 kali tendangan tidak akurat. Hanya 7 kali selama 120 menit Indonesia memiliki peluang mencetak gol ke gawang Vietnam.

Riedl memang menerapkan strategi defensif dan membiarkan Le Cong Vinh dkk. menguasai bola sebanyak – banyaknya. Dua holding miedfielder yang diperankan oleh Bayu Pradana dan Manahati Lestusen cukup mampu membendung pola permainan cepat lawan.

Pertengahan babak pertama Indonesia mulai sedikit melepaskan diri dari tekanan walau tidak leluasa. Barisan gelandang enerjik Vietnam mampu terus menekan dan menjadi mesin permainan.

Menit -54, Indonesia berhasil unggul lewat gol Stefano Lilipaly. Bola liar didepan gawang Tranh Nguyen Manh akibat kesalahan antisipasinya dan sapuan tidak jelas dari Que Ngoc Hai, membuat Lilipaly tinggal mencocor bola ke gawang Vietnam.

AFF SUZUKI CUP 2016 Final Rounds Semi Finals Leg 2, Vietnam 7 December 2016

Pujian layak didapatkan Vietnam karena dalam keadaan tertinggal 0-1 dan kartu merah untuk kiper mereka sehingga Que Ngoc Hai menjadi kiper dadakan tidak menyurutkan semangat Vietnam. Dukungan penuh penonton di Stadion Nasional My Dinh membuat Vietnam mampu mencetak dua gol di menit -83 lewat Vu Van Thanh dan menit 90 melalui kecerdikan Vu Minh Tuan. Vietnam memaksa pertandingan masuk ke babak extra time.

Meski lawan hanya bermain dengan 10 orang dan Indonesia masih memiliki penyerang agresif di lapangan pada diri Zulham Zamrun dan Ferdinan Sinaga tidak membuat Indonesia tampil ofensif walau penjagaan lawan sudah melonggar. Beruntung Indonesia masih dapat memanfaatkan keunggulan jumlah pemain ketika Ferdinan Sinaga lolos dari penjagaan bek lawan dan berhadapan dengan Que Ngoc Hai yang terpaksa menjegal di menit -97 perpanjangan waktu babak pertama sehingga wasit Fu Ming memberikan hukuman penalti. Manahati Lestusen mengkonversi penalti tersebut dengan sempurna.

Que Ngoc Hai kembali menjadi “bintang” seperti yang pernah dialaminya pada semifinal Piala AFF 2014 ketika melawan Malaysia. Sempat disinggung pada tulisan preview semifinal 3 hari yang lalu, ia memang menjadi titik lemah pertahanan Vietnam. Kepanikannya membuahkan gol pertama untuk Indonesia, gol kedua Indonesia lahir akibat kesalahannya pula. Walau di menit – menit akhir babak kedua perpanjangan waktu, Que Ngoc Hai melakukan taktik mirip permainan futsal dan membiarkan gawangnya kosong melompong untuk membalikkan hal itu, namun tak pelak ia- lah man of the match.

Masalah stamina menjadi isu terbesar Indonesia pada semifinal tadi malam. Dua gol yang dicetak Vietnam memang disebabkan juga oleh faktor konsentrasi tetapi stamina ikut berperan disitu. Pada babak perpanjangan waktu setelah mencetak gol kedua, para pemain Indonesia memilih untuk bertahan. Memang pilihan strategi adalah bermain aman mempertahankan keunggulan namun sangat jelas terlihat para pemain sudah kehabisan tenaga.

Kritik saya tujukan kepada duet penyerang Ferdinan Sinaga dan Zulham Zamrun. Masuk sebagai pemain pengganti seharusnya mereka mampu menunjukkan kelebihan dalam hal kecepatan dan olah bola. Namun keduanya banyak menyia – nyiakan peluang, banyak bola yang lepas dari kaki mereka. Seharusnya keduanya memberikan tekanan agar Vietnam tidak leluasa membangun serangan. Hal yang logis mengingat Indonesia sedang unggul jumlah pemain.

Calon lawan Indonesia di final, ditentukan nanti malam pada leg 2 semifinal Thailand vs Myanmar, keduanya menerapkan gaya sepakbola yang tidak jauh berbeda dengan Vietnam. Pertandingan yang menguras fisik dan stamina tadi malam, anggaplah menjadi latihan tersendiri timnas Indonesia untuk meningkatkan ketahanan fisik.

Final leg pertama akan dimainkan di Indonesia pada 14 Desember 2016, sampai kita tahu calon lawan dan calon stadion tempat pelaksanaan pertandingan, kita nikmati euforia ini. Menpora pun boleh bersenang hati, karena timnas sepakbola mencapai target yang diinginkannya. Tapi bagi rakyat Indonesia sangat merindukan juara.

#INDONESIA_BISA

Sumber foto : http://www.affsuzukicup.com

 

Preview Leg 2 Semifinal AFF CUP 2016 : Seandainya Dimainkan, Cecarlah Que Ngoc Hai

Kemenangan Indonesia atas Vietnam pada pertandingan pertama semifinal Piala AFF 2016 di Stadion Pakansari Cibinong hari Sabtu pekan lalu menjadi modal penting untuk menjalani laga kedua di Vietnam esok hari ( 7/12 ).

Walaupun Vietnam memiliki simpanan 1 gol, tetapi Indonesia masih diatas angin. Kemenangan Indonesia pekan lalu membuat rekor pertemuan Indonesia – Vietnam di Piala AFF sejak tahun 1996 menjadi 3 kali kemenangan untuk Indonesia dan 4 kali imbang. Stadion My Dinh Hanoi yang memiliki kapasitas 40 ribu penonton juga bukan tempat asing bagi beberapa pemain seperti Rizky Pora, Kurnia Meiga, Boaz Solossa, Manahati Lestusen dan Fachrudin. Bahkan Zulham Zamrun mempunyai kenangan manis ketika mencetak gol ke gawang Vietnam yang juga dijaga Tranh Nguyen Manh pada Piala AFF 2014. Ketika itu Indonesia bermain imbang 2-2 dengan tuan rumah.

Melihat kembali video penampilan timnas Indonesia pada Piala AFF 2014 di stadion My Dinh lalu membandingkan dengan penampilan Vietnam pekan lalu di Cibinong, ada satu kesamaan yaitu pemain belakang mereka mudah lengah. Pemain nomor 15 Vietnam, Que Ngoc Hai, baik di Piala AFF 2014 atau semifinal Piala AFF 2016 membuat kesalahan. Pada pertandingan tahun 2014 dia lengah menjaga dan mengamankan bola hasil heading Dinh Tienh Thanh (tidak diturunkan di semifinal hari Sabtu kemarin), sedangkan pada semifinal 3 hari yang lalu dia gagal membaca arah jatuhnya bola dan menjatuhkan Stefano Lilipaly di kotak penalti yang berujung pada gol kedua Indonesia.

Gol pertama Indonesia yang dicetak Hansamu Yama pun diawali kesalahan pemain belakang Vietnam setelah gagal melakukan clearance bola umpan jauh pemain Indonesia sehingga dapat direbut Boaz Solossa dan menghasilkan corner kick yang dimanfaatkan Hansamu Yama.

221114d.jpg
Zulham Zamrun vs Que Hoc Hai Piala AFF 2014

Para penyerang Indonesia pada semifinal kedua nanti bisa memanfaatkan situasi gagal fokus para pemain bertahan Vietnam. Pada semifinal pertama dua kesalahan mampu dikonversi menjadi gol. Umpan – umpan jauh baik melalui tengah atau lebar lapangan sepertinya bisa dimanfaatkan untuk membongkar lini pertahanan Vietnam. Kelemahan Vietnam adalah mengantisipasi umpan – umpan panjang.

Bisa jadi inilah kenapa pelatih Vietnam, Nguyen Huu Thang, mempunyai barisan gelandang enerjik didepan para pemain bertahan untuk mengatasi kelemahan tersebut.  mereka intens melakukan tekanan bahkan di sepertiga pertahanan lawan agar lawan tidak mempunyai kesempatan mengirimkan umpan kepada para pemain depannya. Indonesia  memang sempat kesulitan mengatasi pressing berlapis Vietnam dan membangun serangan. Sehingga pola permainan Indonesia memanfaatkan umpan jauh yang dikirimkan langsung dari area pertahanan ke arah pertahanan Vietnam. Jika ingin memaksimalkan kembali pola seperti ini maka Indonesia harus memasang pemain bertahan yang memiliki ketenangan dan passing yang bagus.

Berbicara pemain bertahan, duet Fachrudin dan Yanto Basna dapat diturunkan pada semifinal besok. Namun penampilan apik Hansamu Yama dan Manahati Lestusen pada semifinal pertama tidak bisa dikesampingkan begitu saja. Jika ingin melakukan pola umpan – umpan jauh maka Manahati bisa diturunkan karena ia juga memiliki pengalaman bermain sebagai seorang gelandang.

Ada resiko tersendiri jika menurunkan Yanto Basna. Ia merupakan seorang pemain bertahan yang kerap kali keluar dari posisinya untuk menghadang lawan. Melihat permainan Vietnam kemarin jelas terbaca bahwa pemain depan mereka seperti Le Cong Vinh dan Nguyen Van Quyet selalu bergerak turun ke lini tengah mendekati pemain yang menguasai bola. Pola seperti ini selain memang Vietnam beberapa kali terlihat memainkan pola umpan pendek juga untuk menarik pemain bertahan lawan sehingga meninggalkan pos nya. Yanto Basna sering kewalahan menghadapi lawan yang memiliki pergerakan seperti itu. Pertandingan Indonesian Soccer Championship antara Persib dan Sriwijaya Fc pada bulan September lalu membuktikan hal itu ketika Yanto Basna terus – terusan mengejar Beto Goncalves dan menciptakan ruang kosong di pertahanan sendiri.

Selain para pemain bertahannya yang sering gagal fokus, hal lain yang bisa dimanfaatkan Indonesia pada pertandingan besok adalah memainkan sisi emosional para pemain Vietnam. Pressing tinggi yang diterapkan Nguyen Huu Thang kerap kali membuat pemainnya melakukan tackle – tackle keras. Walaupun jumlah kartu kuning yang diterima para pemain Vietnam dari pertandingan babak grup sampai semifinal kemarin lebih sedikit dari pemain Indonesia, tetapi jika ingin mencoba, buatlah kesal Nguyen Trong Hoang, pemain nomor 8 Vietnam, karena ia sering kebablasan melakukan tackling.

Pressing intens Vietnam tidak sejalan dengan kesempatan mencetak gol yang mereka ciptakan. Dalam empat pertandingan yang sudah dilalui,  Vietnam hanya mampu membuat 23 kali percobaan mencetak gol ke gawang lawan. Indonesia, 46 kali dalam 4 pertandingan.

Kedua penyerang tunggal yang juga merupakan kapten masing – masing negara, Le Cong Vinh dan Boaz Solossa akan memainkan peran besar pada pertandingan nanti. Boaz memiliki keunggulan selain sebagai target man ia juga mampu mengoyak pertahanan lawan juga dibekali passing yang akurat. Le Cong Vinch, Vietnamese David Beckham, lebih sebagai target man sejauh ini ia sudah mencetak 2 gol sedangkan Boaz 3 gol dan 1 assist.

Indonesia memiliki kekuatan disisi kiri pada diri Rizky Pora kemampuannya sebagai full back sangat membantu Abduh Lestaluhu dan juga sejauh ini sudah mencetak 3 assist dan 1 umpan kunci. Riedl’s Favorite ini mengalami peningkatan pesat di timnas dibandingkan penampilannya ketika di Piala AFF 2014. Ia masih sering luput dari skema pertahanan lawan karena mereka biasanya lebih siap mengantisipasi Andik Vermansyah, ini merupakan keuntungan Rizky Pora.

Hasil imbang dan menang akan meloloskan Indonesia ke final. Kalaupun kalah, Indonesia harus kalah dengan selisih 1 gol dan wajib mencetak gol (misal 3-2 atau 4-3) agar tetap mampu lolos dalam sistem agresifitas gol. Kalah meski hanya 1-0 menutup kans Indonesia.

Kedua negara akan memikul beban dan menanggung tekanan yang hebat karena target keduanya adalah lolos ke final. Vietnam bisa jadi akan merasakan tekanan yang lebih hebat karena dituntut menang didepan publik sendiri.

Oh ya, soal tertekan dihadapan pendukung sendiri Vietnam pernah mengalami nasib naas. Pada semifinal leg pertama Piala AFF 2014, Vietnam menang 2-1 atas Malaysia di Stadion Shah Alam Malaysia. Selang 4 hari kemudian, mereka ditekuk Malaysia dengan skor 4-2 di Stadion My Dinh. Semua gol diawali kesalahan pemain bertahan Vietnam yang tidak siap mengantisipasi umpan jauh Malaysia. Tahukah Anda? Que Ngoc Hai terlibat  dalam 3 kesalahan.

#INDONESIABISA

 

 

AFF 2016 : Preview Indonesia vs Vietnam

Pertandingan pertama semifinal Piala AFF 2016 (AFF Championship) antara Indonesia lawan Vietnam akan dipertandingan di Stadion Pakansari Cibinong Bogor pada 3 Desember 2016 jam 19.00 WIB.

Vietnam lolos dengan raihan poin sempurna. Tiga kemenangan atas Myanmar, Malaysia dan Kamboja menjadikan mereka pemuncak Grup B. 5 gol mereka cetak di babak grup sedangkan 2 gol bersarang mereka. Striker senior, Le Cong Vinh sejauh ini menjadi pencetak gol terbanyak dengan 2 gol.

Sedangkan Indonesia maju ke semifinal setelah menjalani partai hidup mati melawan Singapura. Menang dan disaat bersama Filipina dikalahkan Thailand membuat Boaz Solossa dkk lolos dramatis. Total poin 4 (1 menang, 1 imbang, dan 1 kalah) menyamai capaian Alfred Riedl ketika menangani Indonesia pada Piala AFF 2014. Hanya saja ketika itu Indonesia kalah bersaing dari Filipina dan calon lawan di semifinal hari Sabtu nanti, Vietnam.

Sejak Piala AFF edisi pertama pada tahun 1996 hingga tahun 2016 yang merupakan edisi ke-11, Indonesia dan Vietnam sudah  6 kali bertemu di ajang dua tahunan ini. Indonesia, melihat catatan, berada diatas angin karena Vietnam belum pernah sekalipun mengalahkan Indonesia. Sedangkan Indonesia membukukan 2 kemenangan selebihnya kedua negara berbagi hasil seri.

Memang Vietnam cukup bisa menepuk dada mereka karena pernah menjadi juara Piala AFF 2008 sedangkan Indonesia masih rekor menjadi runner up terbanyak dengan 4 kali menjadi runner up.

Vietnam beberapa tahun terakhir muncul sebagai salah satu kekuatan Asia Tenggara baik di level senior maupun usia. Tim Vietnam U-20 menjadi salah satu wakil Asia pada Piala Dunia U-20 Korea Selatan 2017 karena menjadi salah satu finalis pada Piala Asia U-19 di Bahrain bulan Oktober lalu. Sedangkan timnas senior tahun depan akan berjibaku pada babak 3 kualifikasi Piala Asia 2019.

Kekuatan dan Kelemahan Vietnam

Melihat permainan Vietnam yang diasuh Nguyen Huu Thang, yang pada bulan Juni lalu membawa Vietnam meraih Trophy Aya Bank, menerapkan permainan impresif dengan pressing tinggi. Prinsip permainan mereka adalah secepat mungkin mengambil bola dari kaki lawan meskipun masih berada dalam daerah pertahanan lawan.

Vietnam bukanlah tim yang akan berusaha memegang bola lama – lama. Cukup satu dua sentuhan bola akan dilepaskan menuju ruang kosong di pertahanan lawan. Keunggulan mereka dalam kecepatan berlari membuat skema ini selalu merepotkan bek – bek lawan.

 

viet3

Seperti dalam gambar diatas ketika satu pemain menguasai bola digaris tengah lapang, pemain yang berada didepannya akan segera mencari ruang – ruang yang kosong untuk mendapatkan bola. Nampaknya ini adalah pola yang terus dijadikan menu latihan Vietnam karena para pemainnya sudah fasih menjalankan pola ini.

Dalam pertandingan melawan Myanmar dan Malaysia, sisi kiri Vietnam selalu menjadi sisi yang lebih aktif. Pada saat bersamaan justru sisi kanan Indonesia menjadi sisi terlemah dalam bertahan.

Formasi 4-3-3 yang dipakai oleh Vietnam membuat full back mereka pun agresif. Sisi kiri yang sudah disinggung diatas dihuni para pemain dengan komunikasi yang bagus sehingga tekanan ke pertahanan lawan lewat sisi kanan bisa maksimal. Belum lagi, pemain yang berada ditengah sering membantu bergerak ke sisi tersebut.

Melakukan pressing intens kepada lawan membutuhkan stamina yang bagus. Ini juga dimiliki oleh Vietnam ketika pemain mereka selalu terlihat “nafsu” mengejar bola. Bahkan tak jarang tackle keras dilakukan dalam upaya merebut bola dari penguasaan lawan.

Keunggulan Vietnam lainnya adalah para pemain inti dan cadangan yang sudah “panas” karena Nguyen Huu Thang menerapkan rotasi dalam 3 pertandingan grup B. Sementara pergantian pemain Indonesia cenderung sama, jika saja Fachrudin dan Yanto Basna hukuman akumulasi kartu kuningnya tidak diputihkan maka dipastikan Indonesia akan menurunkan duet centre back yang belum pernah turun bertanding. Dalam ujicoba pun hanya Abdul Rahman dan Manahati Lestusen bergiliran main mengganti kuartet bek Indonesia saat ini. Itupun mereka berdua lebih sering ditempatkan sebagai full back.

Namun disisi lain pola permainan high pressure juga menjadi titik lemah mereka. Seringkali 2-3 pemain Vietnam mengurung 1 pemain lawan yang menguasai bola. Hal ini tidak saja terjadi diareal tengah lapangan tetapi juga ketika mereka mempertahankan areal kotak penalti mereka.

viet1.png

Banyak celah yang tercipta. Gambar diatas diambil dari pertandingan melawan Myanmar. Dua pemain Myanmar dibiarkan tidak terjaga sementara 1 pemain bertahan tersisa jaraknya berjauhan sehingga peluang mencetak gol dapat terjadi.

viet2.png

Situasi yang sama juga terjadi, ketika Myanmar memanfaatkan lebar lapangan. Satu pemain Myanmar dijaga dua pemain bertahan Vietnam sedangkan 3 pemain Myanmar dikotak penalti dibiarkan tidak terjaga. 3 Pemain bertahan Vietnam seperti ditunjukkan dalam gambar diatas lebih fokus melihat bola daripada mengawasi pemain Myanmar.

Vietnam rupanya menerapkan pertahanan terbaik adalah menyerang. Memang ini terlihat dengan hanya dua gol yang bersarang di jala gawang Tran Nguyen Manh. Berharap saja mereka lupa lanjutan dari kutipan pernyataan Sun Tzu tersebut bahwa “pertahanan terbaik adalah menyerang, bertahan adalah saat untuk merencanakan serangan”.

Selain itu masalah efektifitas mencetak gol pun tidak dimiliki Vietnam. Meski diperkuat striker senior Lee Cong Vinh, tetapi peluang mencetak gol sekalipun sudah dimulu gawang sering disia – siakan para pemain depan Vietnam. Hanya 5 gol dicetak Vietnam, sedangkan Indonesia yang tidak menjalani pertanding grup dengan mulus masih dapat mencetak 6 gol.

Masalah lainnya adalah kedisiplinan. Memang baru satu kartu kuning yang mereka terima, tetapi satu kartu merah sudah mereka dapat atas nama Truong Dinh Luat ketika menghadapi Kamboja. Selain itu pada saat melawan Malaysia para pemain tengah mereka pun seringkali melakukan tackling – tackling keras.

Inilah kelemahan – kelemahan yang dapat dimanfaatkan timnas Indonesia pada pertandingan nanti. Beruntung timnas Indonesia dihuni oleh para pemain dengan olah bola yang bagus seperti Rizky Ripora, Andik Vermansyah, Boaz Solossa. Mereka pun dapat menarik lawan dan membuat rekan mereka berada di ruang kosong yang memungkinkan untuk berlari dan menerima bola.

Kuncinya adalah tidak panik ketika diserang lawan. Rasanya pula Alfred Riedl harus melatih strategi counter attack dengan baik karena beberapa kali Vietnam kesulitan mengatasi lawan yang punya kecepatan menyusun serangan balik.

Kemenangan tanpa kebobolan apalagi dengan selisih gol yang tinggi sangat diharapkan karena hanya berjarak 4 hari setelah pertandingan di Stadion Pakansari, Indonesia yang akan dijamu di Stadion Mi Dinh Vietnam. Recovery dipotong waktu perjalanan ke Vietnam tentunya sangat singkat sedangkan  para pemain Vietnam seperti disebutkan diatas memiliki stamina lebih mumpuni daripada pemain Indonesia.

AFF Championship 2016 : Sejarah Belum Memihak

Tim Nasional Indonesia saat tengah menjalani pemusatan latihan di Tangerang dibawah arahan pelatih Alfred Riedl. 40 pemain sepakbola pilihan menjalani berbagai program latihan agar dapat menjadi bagian skuad Piala AFF 2016. Hanya 23 pemain yang akan diberangkatkan ke Filipina tergantung kepada hasil ujicoba melawan Myanmar (4/11) dan Vietnam (8/11). Meski Riedl mengatakan ada kemungkinan 24 pemain yang didaftarkan tetapi sejauh ini bayangan starting eleven sudah dapat diprediksi.

Irfan Bachdim, Boaz Solossa, Zulham Zamrun, Andik Vermansyah, Evan Dimas, Andrittany Ardhyasa, Manahati Lestusen sepertinya akan menjadi pilihan Riedl untuk mengisi formasi sebelas pemain.

Riedl berusaha memberikan kesegaran di timnas. Nama – nama senior seperti Firman Utina, Hamka Hamzah, M.Ridwan, Titus Bonai, Ian Kabes tidak lagi dipanggil. Justru timnas kali ini di dominasi para pemain usia 20 tahunan. Sejalan dengan keinginan Riedl yang ingin mengembangkan para pemain eks timnas U-19 didikan Indra Sjafri. Muchlis Hadi Ning Syaifulloh, I Putu Gede, Hansamu Yama, Muhammad Hargianto, Rudolof Yanto Basna, Bayu Pradana, dan Septian David Maulana merupakan tumpuan timnas Indonesia di Piala AFF 2016.

crop_d18154da3fbf36995fb022563dc5ec55

Jika kita melihat calon lawan Indonesia di Grup A Piala AFF yaitu Thailand, Filipina, dan Singapura. Mayoritas skuad mereka diisi oleh para pemain dengan rentang usia 21 – 28 tahun. Hanya beberapa pemain saja yang berusia 30 tahun. Indonesia hanya memiliki sekitar 3 pemain berusia 30 tahunan. Secara usia Indonesia mampu bersaing.

Tetapi masalah terbesarnya adalah pembekuan PSSI selama setahun mengakibatkan timnas tidak menjalani pertandingan internasional. Sebelum dibekukan laga terakhir timnas senior Indonesia terjadi pada bulan Maret 2015 dengan hasil kalah dari Kamerun dan menang atas Myanmar. Sedangkan timnas U-23 yang diperkuat Evan Dimas Dkk terakhir kali berlaga di Sea Games 2015 dengan prestasi tempat keempat.

Sedangkan penantang Indonesia di Grup A semuanya berstatus aktif dan rata – rata pemain menjalani laga kompetitif internasional baik di timnas U-23 atau senior. Ambil contoh Tanaboon Kesarat dan Chanatip Songkrasin dari Thailand, Shahfiq Ghani dan Sahil Suhaimi dari Singapura, Atau Daniel Gadia dan Paolo Bugas dari Filipina, mereka adalah pemain – pemain timnas U-23 yang kini diandalkan di timnas senior negara masing – masing jelang AFF Cup 2016.

Dari mulai Sea Games 2015 hingga kualifikasi Piala Dunia 2018, rata – rata pemain yang dipersiapkan oleh setiap negara menjalani untaian kompetisi tersebut. Memang Indonesia tertolong dengan masih adanya beberapa turnamen level klub dalam negeri pada masa pembekuan maupun sehabis pembekuan. Namun tentunya persaingan antar negara akan menyajikan hal yang berbeda.

Pengalaman dapat menjadi kunci

Bagaimana bermain dibawah tekanan suporter asing, bagaimana menghadapi sebelas pemain terbaik dari negara lain, bagaimana mempersiapkan mental membawa nama negara berusaha yang terbaik untuk mempersembahkan kemenangan untuk negara, dan masih banyak lagi yang bisa dijadikan alasan kenapa pengalaman dapat berperan penting.

Inilah yang kurang dari timnas Indonesia. Ditambah dengan perjalanan Indonesia di AFF Cup 2016 akan menentukan nasib Indonesia pada cabang sepakbola Sea Games 2017. Menpora memberikan syarat bahwa jika ingin sepakbola bertanding di Sea Games tahun depan, maka timnas Indonesia minimal harus menjadi peringkat dua ( runner up ) di AFF Cup 2016 yang akan dimulai pada 19 November 2016.

Dua partai ujicoba melawan Malaysia dan Vietnam pada awal bulan September dan Oktober dengan hasil menang dan imbang belum bisa dijadikan ukuran karena kedua pertandingan tersebut dijalani di dalam negeri. Plus timnas Malaysia saat ini berada dalam grafik menurun. Dukungan penonton tuan rumah sangat besar tapi ini akan berbalik ketika tampil di negara lain. Ini sesuatu yang harus bisa diatasi pula.

Masalah pengalaman yang berujung pada mental bertanding adalah masalah akut yang belum pernah dicarikan solusinya secara bagus oleh PSSI baik sebelum ataupun sesudah pembekuan. Seringkali performa timnas Indonesia bagus di dalam negeri namun ketika harus menjalani pertandingan dengan status tandang hasilnya memble.

Dua lawan timnas Indonesia nanti yaitu Singapura dan Thailand memiliki sejarah unggul di AFF Cup. Sejak tahun 1996, AFF Champioship edisi pertama (ketika itu masih dikenal dengan nama Tiger Cup), pertemuan Indonesia dengan Thailand sudah terjadi 8 kali. Thailand menang 6 kali sedangkan Indonesia hanya bisa menang 2 kali.

Sementara dengan Singapura, Indonesia sudah bertemu sebanyak 7 kali. Singapura menang 4 kali, imbang 2 kali. Indonesia hanya mampu menang sekali atas Singapura pada AFF Championship 2010 lewat gol tunggal Andik Vermansyah. Sementara dengan Filipina, Indonesia bertemu sebanyak 6 kali dengan hasil 5 kemenangan untuk Indonesia dan 1 kemenangan untuk Filipina. Tapi dengan catatan dari dua edisi terakhir AFF Championship, Filipina adalah semifinalis, sementara Indonesia naik turun.

Catatan memasukkan dan kemasukan gol Indonesia melawan tiga negara tersebut :

  1. Indonesia vs Thailand : 10 – 16 (memasukkan disebut pertama);
  2. Indonesia vs Singapura : 5 – 11;
  3. Indonesia vs Filipina : 18 – 4.

*gol dalam adu penalti tidak dihitung*

Pelatih Pengalaman, Semangat Fresh

Alfred Riedl akan menjalani AFF Championship yang ke -8 pada tahun 2016 ini. Prestasi terbaik yang diraih pelatih asal Austria ini adalah runner up tahun 1998 bersama Vietnam dan runner up tahun 2010 bersama Indonesia. Kegagalan bersama Vietnam, Laos dan Indonesia pernah dia alami sebelumnya.

Berkaca pada AFF Championship 2010, ia mengorbitkan nama Irfan Bachdim, Arif Suyono, Ahmad Bustomi dan Cristian Gonzales dalam starting eleven timnas Indonesia. Saat itu penampilan Indonesia disebut – sebut sebagai yang terbaik meski pada partai puncak antiklimaks.

Pada AFF Championship 2014 situasinya hampir mirip dengan sekarang. Dualisme organisasi dan kompetisi membuat bakat – bakat terbaik sepakbola tersendat untuk dapat memperkuat timnas sehingga timnas ketika datang ke Vietnam ketika itu bermasalah dengan kekompakan dan stamina. Hasilnya, meski ia mengorbitkan nama baru seperti Evan Dimas dan Rizky Pora, hancur lebur.

Kini ia lebih memilih untuk mengutamakan pemain – pemain muda. Tidak ada lagi dualisme kompetisi atau organisasi, walau sekali lagi timnas hanya melakukan maksimal empat pertandingan ujicoba sebelum turun di turnamen dua tahunan ini.

Melihat susunan pemain yang diturunkan dalam ujicoba melawan Myanmar (4/11) dan Vietnam (8/11) lini belakang Indonesia diisi 5 pemain yang tidak  bermain di Piala AFF 2014. Begitu pula dengan lini tengah Indonesia, 5 pemain anyar. Sedangkan untuk urusan pencetak gol hanya Lerby Eliandry pemain fresh.

Hasil dua ujicoba tersebut memang jauh dari kata memuaskan. Jika sejak ujicoba pertama melawan Malaysia dibuat grafik, maka performa timnas sedang berada di titik rendah. Myanmar (hampir) menang atas Indonesia, sedangkan Vietnam jelas – jelas mengalahkan Indonesia.

Memang mengkhawatirkan tapi bukan berarti tidak bisa diperbaiki. Riedl dikenal sebagai pelatih yang mampu membangkitkan motivasi anak asuhnya. Apalagi AFF Championship bukanlah sesuatu yang asing untuknya, meski ia mengakui sendiri timnas Indonesia adalah tim tersulit yang pernah ditangani.

Ia masih kesulitan menemukan kekompakan antar pemain. Belum lagi formasi 4-4-2 tidak berjalan dengan baik di lapangan. Masih ada waktu 10 hari lagi menuju partai pertama melawan Thailand. Riedl tentunya harus teliti memilih siapa saja pemain yang akan didaftarkan ke AFF.

Semangat muda para pemain yang pernah merasakan juara Piala AFF U-19 adalah salah satu modal Riedl mengatasi minimnya pengalaman ujicoba internasional. Para pemain baru ini diharapkan mampu mengulang penampilan hebat mereka pada tahun 2013. Semangat yang tinggi sering bisa menutupi kekurangan di atas lapangan.

Modal lainnya adalah pengalaman Boaz Solossa. Ia diharapkan mampu menularkan pengalaman bertanding di Piala AFF. Boaz adalah pemain berpengalaman di timnas Indonesia. Sempat melewatkan 4 edisi Piala AFF tapi penampilannya di kompetisi dalam negeri masih membuktikan ia adalah salah satu penyerang terbaik yang dimiliki Indonesia.

Evaluasi hasil ujicoba melawan Myanmar dan Vietnam akan dilaksanakan pada 11 – 15 November 2016 di Tangerang. 5 hari tersebut juga akan menentukan siapa saja yang akan dipilih Riedl untuk membawa nama Indonesia di AFF Championship 2016.