(simpan dulu) harapan

Carlton Cole, mantan striker West Ham United dan Chelsea, bergabung dengan Persib Bandung sebagai pemain asing ke-4 di tahun 2017. Menjelang liga baru yang bernama Gojek Traveloka Liga 1, Persib memang membutuhkan penyerang baru karena baru memiliki Sergio Van Dijk (SVD) dan Angga Febriyanto. Pada beberapa kesempatan terakhir, Persib lebih memilih bermain tanpa striker murni karena SVD cedera meski bermain seperti itu agak kacau.

Kehadiran Carlton Cole menambah gempita Persib di Liga I setelah sebelumnya Michael Essien bergabung dengan status marquee player. (Saya belum bisa menemukan hubungan kenapa eks Chelsea yang dipilih oleh Persib, apakah karena sama – sama jersey biru?). Carlton Cole bergabung walau sebenarnya di Inggris pun ia memiliki beberapa tawaran termasuk dari klub no liga, Billericay Town.

Jika kehadiran keduanya sudah memberikan kehebohan tersendiri karena pernah tampil di pentas sepakbola Eropa dan dikenal para fans sepakbola luar negeri di Indonesia, pertanyaan selanjutnya apakah mereka mampu menambah kekuatan Persib di atas lapangan hijau?

Michael Essien tahun lalu bermain untuk Panathinaikos di Liga Super Yunani. Total 15 kali penampilan dan 1 gol sejak ia bergabung dari bulan Juni 2015. Essien mengalami cedera otot sehingga harus menepi lebih dari 3 bulan di Yunani. Performa Essien memang menurun secara bertahap apalagi dengan catatan cedera panjang yang pernah ia alami membuatnya menghabiskan waktu hampir setahun menyembuhkan cederanya.  Waktu istirahat terpanjang Essien karena cedera adalah 184 hari ketika masih bermain untuk Chelsea pada tahun 2012.

Essien-ball-fly

Essien tidak masuk dalam pilihan Panathinaikos menjelang Liga Super Yunani 2016/2017. Statusnya dibekukan dan 3 bulan kemudian dilepas oleh Panathinaikos. Sejak bulan November 2016 ia tidak memainkan laga kompetitif karena berstatus tanpa klub walau menjaga kebugaran dengan ikut latihan di Chelsea.

Sedangkan Carlton Cole terakhir kali bermain di laga kompetitif bersama klub Amerika Serikat, Sacramento United, di United League atau sekelas divisi II. Bergabung sejak bulan Agustus 2016, bermain 4 kali, kemudian pada bulan Oktober 2016 ia dilepas dan libur bermain sejak itu.  Cole menyadari bahwa kedatangannya ke Sacramento hanya menjadi pemain cadangan saja.  Menjadi cadangan dirasakannya pula ketika bergabung bersama Glasgow Celtic di Skotlandia. Dikontrak pada bulan Oktober 2015 dan dilepas pada Juni 2016 dengan mengoleksi 5 kali bermain dan satu gol saja. Ia gagal menggeser Leigh Griffiths dan tidak meyakinkan untuk dipertahankan oleh manajer Brendan Rodgers.

Untuk menjaga kebugaran, Cole berlatih di gimnasium milik West Ham United menunggu tawaran berbagai klub sejak ia belum memutuskan pensiun dari lapangan hijau. Satu tawaran yang sempat ditanggapi serius datang dari klub non liga, Billericay Town.

Melihat catatan gol striker yang menyandang status “living legend” West Ham United, ia bukanlah seorang penyerang yang subur untuk ukuran Liga Inggris. 9 musim menjadi bagian The Hammers (julukan West Ham United) ia mencatatkan 293 penampilan dan 68 gol di semua kompetisi. Rekor gol terbaiknya di Liga Inggris ketika ia berusia 25 tahun atau pada musim 2008/2009 dengan 10 gol. Musim selanjutnya ia juga mencetak 10 gol. Sedangkan rekor golnya bersama West Ham adalah 14 gol di divisi Championship ketika musim 2011/2012 West Ham terdegradasi dari liga Inggris.

159911_1

Setelah itu, produktifitas Cole terus menurun. Bahkan fans West Ham mulai ragu kepadanya. Meski dengan postur menjulang 1.91 meter, ia bukanlah ancaman duel udara. Sedangkan kontrol bolanya juga mendapatkan kritikan.  Jangankan mencetak 14 gol, mengulangi 10 gol semusim saja sulit meski terus diberikan kesempatan. Prestasi yang mendekati 10 gol hanya terjadi sekali di musim 2013/2014 dengan 6 gol di semua kompetisi.

Dengan melihat sejarah tersebut dari kedua pemain ini, rasanya jangan dulu membebankan harapan setinggi langit kepada mereka. Meski bisa berargumen bahwa level permainan di Liga I Indonesia tidak seperti di Inggris atau Eropa secara umum, namun masih banyak faktor lain yang dapat mempengaruhi kondisi optimal mereka. Salah satunya adalah soal kualitas lapangan.

Walaupun, kedatangan mereka menaikkan pamor kompetisi dan membuat bangga para bobotoh, namun pembuktian sebenarnya adalah 2 x 45 menit diatas lapangan. Karena mereka dikontrak bukan menjadi brand ambassador tapi untuk bermain. Mereka bukanlah eks liga Inggris pertama sebelumnya ada Marcus Bent di Mitra Kukar dan Lee Hendrie di klub Bandung FC di kompetisi LPI. Keduanya menunjukkan performa yang rata – rata saja.

Rasa penasaran memang tak bisa dihindarkan, bangga pun tak bisa dipangkas, namun janganlah terlalu berharap banyak dulu. Kedua pemain lama tidak bermain, masalah kebugaran semoga saja bisa diatasi cepat agar yang lainnya bisa beradaptasi dengan mudah.

Marquee Player : Bisa Berhasil , Bisa Gagal

PSSI seperti telah diketahui menetapkan peraturan baru dalam pelaksanaan Liga I yang menurut rencana digulirkan pada 15 April nanti. Pemberlakuan kuota pemain asing 2+1 ( 2 pemain asal non asia + 1 pemain asia ). Plus jika klub mampu diperbolehkan memiliki pemain asing ke – 4 namun harus berstatus Marquee player dengan syarat pernah bermain di tiga edisi terakhir Piala Dunia (Piala Dunia 2006, Piala Dunia 2010, dan Piala Dunia 2014) atau berasal dari 8 liga top Eropa serta berusia maksimal 35 tahun.

PSSI tidak merinci apakah pemain asing tersebut harus mempunyai menit bermain di tiga edisi piala dunia tersebut atau cukup menjadi bagian skuad Piala Dunia (cadangan atau tidak bermain).

Menurut definisinya Marquee merujuk pada bintang utama dalam sebuah pertunjukan. Sehingga pemain yang berstatus Marquee biasanya adalah pemain yang dinilai memiliki kelas dan kemampuan diatas rata – rata pemain pada satu liga tertentu.

Sebenarnya agak kontradiktif, karena Marquee player di beberapa liga yang menerapkan aturan ini, biasanya adalah “pemain sisa”. Sudah mulai kehilangan tempat di liga – liga utama eropa, rentan cedera, dan kemampuannya pun kadang tidak sehebat ketika masih muda karena biasanya para marquee player menyandang status lain yaitu pemain veteran.

Pada kompetisi di Indonesia, ini bukanlah konsep yang baru pada liga sempalan bentukan Arifin Panigoro, Liga Premier Indonesia, Lee Hendrie (eks Aston Villa) pernah didatangkan dengan status ini bermain untuk Bandung FC.

Marquee Player ( Pada Major League Soccer disebut designated player) memiliki gaji diatas rata – rata dan tidak dibatasi aturan pembatasan gaji.

Liga yang menerapkan aturan ini  secara umum memiliki tujuan promosi dan investasi. Promosi untuk meningkatkan citra kompetisi di mata pendukung sepakbola lokal dan mampu menarik sponsor. Membangun citra menarik ke luar negeri. Berkaitan dengan investasi, diharapkan dengan adanya para pemain berstatus kelas dunia pada satu kompetisi, para investor kakap akan mau menanamkan uang mereka pada kompetisi baik pada liga itu sendiri atau pada klub.

Ketika David Beckham datang ke LA Galaxy pada tahun 2007, mampu menaikkan pamor sepakbola di Amerika Serikat dan berbanding lurus terhadap keuntungan finansial. Rumus ini juga digunakan oleh Indian Super League (ISL). Liga yang berjalan setelah i-league usai dan berdurasi selama 3 bulan ini, mendatangkan banyak pemain veteran kelas dunia bahkan beberapa diantaranya sudah berstatus pensiunan. Mereka didatangkan sejalan dengan tujuan ISL untuk mempopulerkan sepakbola di India menyaingi olahraga kriket.

Dalam ukuran popularitas dan investasi kedatangan para pemain berstatus bintang utama ini berhasil menaikkan pamor dan finansial, bagaimana dengan prestasi klub itu sendiri?

a.espncdn.com

Pengalaman Tampines Rovers pada Singapore League tahun 2016 mendatangkan Jermaine Pennant (eks Liverpool, Stoke City, Real Zaragoza) bisa dijadikan cerminan. Jermaine Pennant ternyata tidak mampu memberikan kontribusi yang banyak kepada timnya. Riwayat cedera yang panjang membuat kecepatan yang menjadi ciri khasnya hilang. Selain itu penampilannya dilapangan tidak stabil. Hanya sesaat saja ketika para penonton berdecak kagum dengan kemampuannya. Selebihnya ia dijadikan kambing hitam kegagalan Tampines Rovers menjuarai Singapore League.

Meskipun pengelola S-League mengklaim bahwa kedatangan pemain Inggris ini mampu mendongkrak jumlah penonton di stadion sebanyak 25 %, namun secara umum tetap saja masyarakat Singapura masih banyak abai ke kompetisi sepakbola mereka. Jermaine Pennant bahkan mengkritik pengelola S-league yang menumpukan terlalu banyak harapan kepada dirinya karena jika S-league sendiri tidak berbenah dan klub – klub Singapura tanpa memiliki Marquee player pun sudah ngos – ngosan maka jangan harap sepakbola Singapura akan berkembang.

Kembali ke Liga I Indonesia. Upaya PSSI dengan re-branding kompetisi setelah pembekuan FIFA dengan nama baru dan aturan baru memang patut dinanti. Jika melihat pada ukuran untuk menaikkan popularitas, sesungguhnya Indonesia sudah tidak perlu berusaha keras mendatangkan pemain kelas dunia karena sepakbola kita sudah demikian merakyat, stadion pun selalu penuh.

Promo ke luar negeri? rasanya juga sepakbola kita sudah terkenal karena para pendukung sepakbola Indonesia termasuk yang aktif mempopulerkan klub dukungan mereka lewat media sosial.

Mungkin dengan ukuran investasi finansial, ya klub – klub Indonesia memerlukan sokongan dana yang terus mengalir. Baru segelintir saja klub yang mampu dari musim ke musim. Tetapi seperti apa yang dikatakan oleh Jermaine Pennant tentang S-League, PSSI sendiri harus memiliki rencana dan aksi yang pasti dalam melakukan pembenahan liga dalam negeri. Karena jika tidak, kedatangan pemain kelas dunia hanya akan mubazir dan membuat klub hanya merasakan efek sesaat saja tanpa kontinyu.

Memberikan bimbingan kepada pemain muda? Karena PSSI mewajibkan tiga pemain berusia 23 tahun diturunkan minimal 45 menit per pertandingan untuk Liga I, belum tentu juga akan tercapai. Karena haruslah didukung oleh peningkatan kualitas fasilitas dan tim kepelatihan yang ada di setiap klub. Jika ingin menjadikan pemain Marquee sebagai “guru” maka sediakanlah “kelas” yang juga mendukung pembelajarannya.

17126882_864339263704634_8562734581294301184_n

Kedatangan Michael Essien ke Persib Bandung dan menurut kabar berita akan segera datang, Peter Odemwingie ke Madura United, memang sudah membuat rasa penasaran dan harapan penonton membuncah. Sudah ramai di media sosial, tinggal menunggu aksi para pemain dunia ini di lapangan hijau saat Liga I resmi kick off pada 15 April nanti.

Tetapi jangan sampai kedatangan para pemain ini hanya “meramaikan” saja dan PSSI pun berpuas diri dengan kegaduhan ini. PSSI harus mampu dan memiliki rencana yang bagus dengan memberlakukan aturan ini. Harus ada timbal balik yang sepadan, ketika kita memberikan “panggung” kepada para bintang utama ini baik dalam pembinaan maupun pendanaan.

Mengenai harapan yang tinggi dari para penonton? emh lebih baik kita berkaca pada Jermaine Pennant. Bahkan secara finansial pun, PSSI dapat mengambil pengalaman kepada Liga Singapura yang di awal tahun 2017 ini hampir tidak terlaksana, karena klub eungap mencari dana.

 

 

 

Catatan Persib di Piala Presiden 2017

Kekalahan Persib di semifinal Piala Presiden 2017 memang menyesakkan. Tendangan penalti Kim Jeffrey Kurniawan yang gagal menemui jala gawang PBFC menjadi kesimpulan soal ketidak beruntungan Persib di malam itu.

Selalu ada hikmah di setiap kejadian. Hilangnya peluang Persib mempertahankan gelar Piala Presiden setidaknya memperlihatkan masih banyak hal harus dipersiapkan Persib menuju Liga 1 (mudah – mudahan tidak mundur lagi). Beberapa kelemahan Persib yang tercatat selama Piala Presiden adalah :

  1. Komposisi pemain belum ideal.

Cederanya Sergio Van Dijk pada perempatfinal melawan Mitra Kukar membuat Jajang Nurjaman (Janur) kehilangan formasi idealnya. Striker muda, Angga Febriyanto, diberikan kesempatan turun pada semifinal leg pertama hanya karena itu penampilan perdananya terlihat ia belum bisa seperti seniornya. Sehingga Janur lebih menyerahkan posisi ujung tombak kepada Matsunaga Shohei. Walau ia ketika kali pertama datang ke Persib sebagai striker dan berduet dengan Cristian “el loco” Gonzalez tapi di klub lain ia lebih banyak bermain sebagai gelandang serang. Ia kurang bisa mengeksplorasi kemampuannya jika menjadi ujung tombak karena ia membutuhkan areal lebar lapangan.

2. Kedua sisi sayap  tak seimbang

Jika pada fase grup, Febri Haryadi di sisi kanan yang menggila, pada tahap perempatfinal dan semifinal justru sisi kiri yang lebih menonjol. Peran Atep atau Matsunaga Shohei terlihat mampu memberikan kontribusi bahkan lebih tajam dalam urusan mencetak gol. Febri Haryadi tidak bisa diporsir terus menerus. Ia masih belum mekar sepenuhnya. Gaya bermain yang masih mengedepankan egoisme perlu dirubah agar ia paham betul bagaimana bermain dengan efektif dan efisien. Bukan sekali, satu celah di pertahanan lawan keburu tertutup karena Febri ingin mempertontonkan aksi dribbling melewati satu atau dua pemain. Berharap, karena ia mengikuti seleksi timnas Indonesia U-22, Luis Milla sebagai pelatih timnas akan memberikan pelajaran yang penting bagi pemain muda ini. Karena jika hanya di klub rasanya akan begitu – begitu saja.

3. Kebobolan terbanyak diantara 4 semifinalis

Kembalinya duet soulmate Vladimir Vujovic dan Ahmad Jufrianto nyatanya tidak memberikan jaminan keamanan di pertahanan. Persib mencetak 12 gol sampai semifinal leg kedua tapi kebobolan 6 gol. Ada sesuatu yang hilang setelah kedua pemain ini terpisah setahun ( Ahmad Jufriyanto bermain untuk Sriwijaya FC pada 2016). Di turnamen pra musim ini, justru Vujovic lebih menjadi penyelamat Persib melalui gol yang ia cetak. Pada dua leg semifinal, 3 gol yang dicetak PBFC semuanya berasal dari situasi corner kick. Bahkan gol Dirkir Glay ke gawang Persib hari Sabtu yang lalu membuktikan lemahnya pertahanan Maung Bandung.

092870000_1488790610-KIRIM_MG_6388

 

4. Skema permainan dan pergantian selalu sama

Tidak ada salahnya jika seorang pelatih memiliki gaya khas. Setiap pelatih selalu memiliki gaya permainan yang ia sukai. Namun jika kita melihat pada tahun 2014 saat Persib menjadi juara Liga Super Indonesia sampai dengan saat ini, gaya permainan yang ia terapkan tidak  mengalami perubahan. Perubahan hanya terjadi pada siapa pemain yang memainkan gaya tersebut. Serangan dari sayap, satu penyerang tunggal yang disokong tiga atau dua gelandang serang sudah sangat dipahami oleh lawan. Selain itu selama turnamen pra musim Piala Presiden 2017, pergantian pemain yang dilakukan oleh Janur terutama di babak perempatfinal sampai semifinal cenderung sama. Sehingga sekali lagi, lawan pun sudah memprediksi hal ini dan menyiapkan counter strategy. Lawan yang tampil dengan kualitas pemain tidak terlalu mentereng pun bisa merepotkan.

5. Mental bertanding yang lemah

Efek psywar lawan ternyata betul – betul efektif. Menggoyahkan mental bertanding Persib. Penjaga gawang sekelas I Made Wirawan pun yang sudah banyak memainkan pertandingan skala nasional dan internasional tampil bak pemain kemarin sore. Belum lagi ketika melihat pada semifinal leg pertama di Kalimantan, Persib seperti kebingungan, psywar ini merontokkan mental semua pemain. Agak aneh memang jika Persib yang dihuni beberapa pemain berpengalaman gugup menghadapi lawan yang sudah menyerang bahkan sebelum peluit kickoff dibunyikan.

6. There’s only one Hariono

Ahmad Basith, Dedi Kusnandar bukanlah pemain bertipe seperti Hariono. Sekalipun Kim Jeffrey Kurniawan yang memiliki “napas kuda” ia tidak sama persis. Pada pertandingan melawan Persiba Balikpapan ketika Hariono tidak turun, lini tengah Persib tidak dapat memberikan sokongan baik ke depan ataupun belakang. Persib perlu memiliki back up sepadan. Persib butuh pemain “kasar” yang mau beradu fisik dengan lawan untuk merebut bola plus memiliki kemampuan mengumpan yang baik.

7. Pemain asing tidak maksimal

Bukan tidak mungkin jika awalnya Janur menumpukan harap kepada Erick Weeks atau Matsunaga Shohei. Ketika penampilan mereka tidak juga memuaskan, Janur tidak memiliki cadangan skema permainan dan kembali mengandalkan pemain – pemain seperti Febri Haryadi.

Itulah beberapa catatan saya mengenai perjalanan Persib di Piala Presiden 2017. Memang masih ada satu poin lainnya yaitu Janur yang belum terlalu percaya sepenuhnya kepada para pemain muda. Ia masih mencoba mengandalkan sosok senior dalam setiap permainan. Well ini cuma pra musim, selayaknya pra musim ini digunakan untuk mencari kelemahan dan memperbaiki, juga untuk meningkatkan yang bagus menjadi lebih bagus.

 

Final Piala AFF 2016 Review : Kita Membantu Thailand Tetap Jadi King Of Asean

Dua gol penyerang UMT United, Siroch Chattong, di Stadion Rajamangala Bangkok, Sabtu 17 Desember 2016, ke gawang Indonesia, memupus sudah harapan tinggi Indonesia untuk memenangkan Piala AFF kali pertama.

Indonesia tampil menunggu di pertandingan Leg 2 Final Piala AFF 2016 pekan lalu. Tidak ada determinasi untuk merebut bola dari kaki lawan sejak dini, tidak ada pressing ketat di areal tengah lapangan. Menunggu dan menunggu lawan di wilayah pertahanan sendiri.

Kecerdikan Kiatisuk Senamuang, Pelatih Thailand, dengan mengembalikan formasi 3-4-2-1, memecah konsentrasi pertahanan dengan menurunkan duet Siroch Chattong dan Teerasil Dangda, mencecar sisi kanan yang merupakan sisi terlemah Indonesia, mematikan Rizky Pora dengan menurunkan Charryl Chappuis yang lebih mampu bertahan dibandingkan Pokklaw A-nan, ditambah motivasi untuk menang, membuat Indonesia kehilangan peluang terbaiknya untuk memenangkan Piala AFF 2016.

Perubahan Thailand di Leg 2 final tidak diantisipasi dengan baik oleh Alfred Riedl, pelatih Indonesia. Plus, mental bertanding Indonesia yang tiba – tiba menukik ketika harus tampil di Thailand membuat determinasi Indonesia di setengah waktu babak kedua sia – sia.

Takdir. Memang inilah takdir kita hanya saja jangan dijadikan dalih atas kekalahan ini. Perlu diingat bahwa takdir tergantung dari usaha. Jika melihat pada penampilan Indonesia hari Sabtu lalu, pantaslah kita hanya menggenggam gelar runner up  Piala AFF kelima kalinya.

Pesepak bola Indonesia tertunduk usai bertanding melawan Thailand pada final putaran kedua AFF Suzuki Cup 2016 di Rajamangala National Stadium, Bangkok, Thailand, Sabtu (17/12).

Thailand memang harus diakui King Of ASEAN. Negara pengoleksi gelar Piala AFF terbanyak, kualitas kompetisinya sudah lebih daripada Indonesia yang mementingkan kemeriahan saja, timnas level senior maupun usia bisa berbicara di tingkat Asia, juga pengoleksi medali emas sepakbola terbanyak di Sea Games baik di sepakbola putra dan putri. Bertahun – tahun, meski sempat menurun, namun Thailand berhasil menjaga reputasi sebagai nomor satu di sepakbola Asia Tenggara.

Tidak bisa dipungkiri predikat tersebut membuat negara – negara ASEAN lainnya gentar jika harus berduel diatas lapangan hijau. Singapura, Malaysia, Vietnam maupun Filipina akan berhati – berhati ketika menghadapi Thailand. Diluar Thailand, jika mereka bertemu satu sama lain termasuk dengan Indonesia, maka permainan menyerang yang akan ditampilkan. Pressing tinggi Vietnam saat melawan Indonesia akan berbeda cerita jika harus melawan Thailand.

Secara tidak disadari semuanya ikut “membantu” Thailand mempertahankan predikat tersebut. Jarang ada yang berani langsung tampil all out attack, berani mengambil resiko menantang Thailand. Thailand mungkin saja ketika bermain di ASEAN tidak mengeluarkan kemampuan terbaiknya karena predikat nomor satu sudah sangat banyak membantu mereka melemahkan mental bertanding lawan.

Singapura, Filipina, Myanmar di Piala AFF 2016 selama babak grup menghadapi negara lain, mampu membobol gawang lawan. Namun semuanya menguap begitu saja ketika menghadapi Thailand meski mendapatkan peluang besar mencetak gol. Ada rasa tidak tenang, terburu – buru jika harus menembakkan bola ke gawang Thailand.

Setelah Piala AFF 2016, Indonesia rasanya perlu melihat kembali perjalanannya di turnamen dua tahunan sejak 1996. Sebetulnya berkali – kali Indonesia mempunyai peluang bagus untuk menjadi juara. Lima kali ke final minimalnya 2-3 kali pernah merasakan juara.Singapura 4 kali ke final berhasil 4 kali membawa Piala AFF. Vietnam 2 kali ke final membawa satu gelar juara. Malaysia 3 kali tampil di final, 1 kali menjadi juara pada tahun 2010. Indonesia? 5 kali ke final 5 kali pula gagal.

Pertanyaannya ada apa dengan Indonesia? Apakah mental para pemain timnas tidak pernah dipersiapkan bertanding di final hanya cukup sampai semifinal? ataukah kaki – kaki mereka sudah keburu lelah menjalani pertandingan dari babak grup sampai semifinal? Kalau demikian bagaimana peluang Indonesia di Piala AFF 2018 yang akan menerapkan sistem home and away sejak babak grup? Apakah kita cepat berpuas diri? Atau kita tidak pernah belajar?

Pertanyaan – pertanyaan tersebut memenuhi benak saya sesaat setelah wasit meniup peluit panjang di Bangkok Sabtu kemarin. Pertanyaan yang semakin panjang untuk dinantikan jawabannya, menunggu kiprah timnas Indonesia dua tahun mendatang.

Namun satu hal yang pasti, tanpa meremehkan perjuangan keras para pemain, Sabtu lalu sepertinya semua bermain menunggu keajaiban saja. Pressing tinggi yang seharusnya dihadirkan untuk mengimbangi Thailand tidak muncul. Semuanya baru tersentak, ketika Siroch Chattong mendapat gol keberuntungan saat bola hasil sapuan Fahcrudin membentur badannya dan berbelok arah ke gawang Kurnia Meiga. Terkejut kemudian tergopoh – gopoh tanpa merencanakan perlawanan yang pas.

Kembali ke pernyataan diatas, disadari atau tidak, usaha kita ikut memberikan Thailand zona yang super nyaman, singgasana raja sepakbola Asia Tenggara. Kita belum berusaha berkelanjutan, tanpa putus, untuk menggoyang posisi Thailand. Satu pertandingan menang dan sudah membuat kebahagiaan kita membuncah padahal kita belum memenangkan apa – apa. Meski berkali – kali Thailand menunjukkan kelemahannya, namun berkali – kali pula kita tidak mencoba dengan kekuatan super keras.

2018. Masih banyak waktu tersisa untuk berbenah. Vo2 Max yang sering dijadikan alasan, mental bertanding yang dijadikan alasan, pemahaman taktik, dan segala macamnya harus segera dibenahi. Kompetisi di Indonesia yang menurut rencana akan dimulai pada bulan Maret 2017 jangan hanya menargetkan dipenuhi penonton dan bagus dalam rating TV saja. Harus ada perbaikan yang nyata meningkatkan dan membenarkan semua kesalahan – kesalahan. Jadwal ujicoba timnas harus tersusun rapi dan carilah lawan yang memiliki ranking FIFA diatas Indonesia. Mau tidak mau kita harus mulai melompat jauh bukan lagi berlari memperbaiki keadaan ini. .

Jangan lagi memberikan kenyamanan kepada Thailand. Mulailah menggoyang zona nyaman mereka, berikan penampilan ofensif diatas lapangan, beranilah mengambil resiko meruntuhkan dominasi Thailand.

Preview Leg 2 Final Piala AFF 2016 : Imbangi Pressing Ketat Lawan

Pertama bagi timnas sepakbola Indonesia. Sejak Piala AFF tahun 2004, sistem home and away pada babak semifinal dan final mulai diterapkan mengganti sistem satu pertandingan pada gelaran sebelumnya. Kemenangan Indonesia atas Thailand pada Leg pertama Final AFF Championship 2016 adalah yang pertama kali dialami Indonesia. Pada final sebelumnya yang dijalani Indonesia sejak sistem kandang tandang digunakan, setiap leg pertama (pertandingan pertama) selalu berakhir dengan kekalahan. Ini terjadi pada Piala AFF 2004, kalah oleh Singapura 1-3 dan pada Piala AFF 2010 kalah 0-3 atas Malaysia.

Sedangkan pertama yang kedua adalah meskipun sejak sistem ini diperkenalkan Indonesia belum pernah bertemu Thailand di final tetapi pertemuan kedua negara dalam sistem ini terjadi pada semifinal Piala AFF 2008. Ketika itu Thailand menang di pertandingan pertama lewat gol Teerasil Dangda. Jadi kemenangan hari Rabu kemarin adalah yang pertama kali bagi Indonesia mengalahkan Thailand di sistem home and away.

Jadi apakah ini pertanda baik? sesuai dengan cocokologi yang ramai diluar sana dengan memperbandingkan timnas Portugal pada Euro 2016 dan timnas Indonesia saat ini? Tentunya kita tidak bisa menggantungkan asa pada hal tersebut karena masih ada 90 menit di Stadion Rajamangala Bangkok pada 17 Desember nanti.

Thailand menjanjikan 90 menit yang brutal untuk Indonesia hari Sabtu nanti. Rasanya melebihi tekanan Vietnam pada semifinal lalu di Hanoi. Apalagi dengan kemampuan memainkan bola dan menciptakan peluang lebih bagus dari Vietnam tentunya skuad Garuda asuhan Alfred Riedl mesti melupakan kemenangan di Cibinong hari Rabu yang lalu karena perjalanan menuju juara masih panjang dan terjal, saat ini kita belum meraih apa – apa.

Pada pertandingan  pertama dua hari lalu, Thailand tidak terlalu aktif menyerang melalui kedua sisi lebar lapangan. Mereka menerapkan 4-1-4-1 ketika bertahan dengan mencoba memutus serangan Indonesia lewat garis pertahanan yang tinggi dan pressing ketat ketika dua atau tiga pemain menjaga satu lawan.

Ini memang gaya permainan Thailand sejak awal Piala AFF 2016. Gaya bertahan yang tidak berbeda jauh dengan Vietnam. Perbedaannya adalah Thailand lebih tajam ketika menyerang. Kemampuan membuka ruang di pertahanan lawan lebih baik berbekal komunikasi antar pemain yang sudah demikian solid. Perpindahan pemain dari satu posisi ke posisi lain juga sangat luwes sehingga setiap areal lapangan bisa mereka tutup.

3 gelandang milik Thailand yaitu Pokklaw A-nan, Chanatip Songkrasin, dan Sarawut Masuk memiliki peran bukan hanya sebagai pengolah serangan, pengumpan, tetapi juga sebagai pencetak gol. Pokklaw A-nan (nomor punggung 21) merupakan pemain paling mobile di lapangan. Ia bebas bergerak ke setiap sisi lapangan termasuk turun ke garis tengah berdampingan dengan Saarach Yooyen (nomor punggung 6) ketika bertahan. Ia adalah supplier bola bagi dua gelandang lain plus striker Teerasil Dangda. Pergerakannya harus diawasi oleh lini tengah Indonesia.

Satu gol Thailand ke gawang Indonesia dua hari yang lalu merupakan kombinasi akurasi umpan dan cara para pemain Thailand membelah fokus pemain bertahan Indonesia untuk menyediakan ruang di kotak penalti. Meski Peerapat Notchaiya di sisi kiri dan Tristan Do di sisi kanan lebih menjaga kedalaman pada pertandingan pertama namun mereka sesekali ikut membantu serangan. Peerapat Notchaiya patut mendapatkan perhatian karena ia memiliki akurasi umpan yang bagus.

Menghadapi Indonesia di kandang sendiri bisa jadi Thailand kembali ke formasi 3-5-2 bahkan menduetkan Siroch Chattong dengan Teerasil Dangda sejak awal karena mereka butuh mencetak gol. Mereka berdua bertanggung jawab atas kemenangan Thailand ketika menghadapi Indonesia di pertandingan pertama Grup A.

Namun celah pertahanan Thailand masih tetap terbuka lebar. Pressing lawan dengan menggunakan dua sampai tiga pemain membuat ada ruang kosong. Bahkan dua sisi lebar lapangan tidak sepenuhnya berhasil mereka tutup.

Thailand pun rentan dengan serangan balik. Tercatat 2 serangan balik Indonesia dengan mengarahkan bola ke sisi kanan dan kiri lapangan membuat Thailand cukup kerepotan. Boaz Solossa dan Lerby Eliandry merupakan aktor pada dua serangan balik tersebut.

thai1
Pemain Thailand selalu kalah jumlah ketika menghadapi Counter attack

Indonesia harus menampilkan permainan seperti pada babak kedua pertandingan pertama. Menerapkan pressing intens, menekan sejak lawan menguasai bola di areal pertahanan mereka. Pola umpan pendek dan memperbanyak cut inside bisa dijadikan senjata utama kembali.

Menekan lawan sejak dini harus diutamakan karena gol Indonesia yang dicetak Rizky Pora dua hari yang lalu diawali pressing hampir digaris tengah Thailand. Selain itu ketika pemain bertahan Thailand menguasai bola dan akan membangun serangan, biasanya barisan gelandang plus gelandang bertahan sudah jauh naik ke pertahanan Indonesia menciptakan jarak yang jauh dengan para pemain bertahan mereka. Ini peluang untuk memberikan tekanan pada mereka bahkan mengisolasi tiga pemain bertahan mereka.

thai2
Jarak yang cukup jauh antara pemain bertahan dan barisan gelandang Thailand.

Pressing ketat yang dilakukan Indonesia di babak kedua dua hari lalu sukses membuat Thailand tidak dapat mencetak satu pun tembakan on target atau off target. Percobaan mencetak gol tidak bisa mereka lakukan. Total 6 kali tembakan Thailand ke gawang Indonesia ( 2 on target dan 4 off target) semua terjadi dibabak pertama.

Wajib dimiliki para pemain Indonesia adalah bermain ngotot, disiplin dan keberanian. Selain itu mereka pun harus bisa membaca arah pergerakan bola sehingga dapat memberikan tekanan berarti kepada lawan.

Cederanya Andik Vermansyah pada pertandingan pertama dapat ditutupi oleh Zulham Zamrun. Permasalahan yang dapat timbul adalah Zulham telat panas. Babak pertama ia seperti kebingungan dan tidak bertahan dengan baik sehingga Manahati Lestusen beberapa kali bergerak ke arah kanan. Ia baru menemukan kenyamanan ketika babak kedua dimulai. Memang masih ada opsi lain seperti Bayu Gatra hanya saja ia belum pernah diturunkan sama sekali di Piala AFF 2016 ini.

Thailand mudah kehilangan fokus ketika babak kedua. Pada pertandingan pertama Grup A Indonesia mencetak 2 gol di babak kedua dan itu diulangi pada pertandingan pertama final kemarin. Menariknya hanya dalam hitungan menit saja Indonesia bisa mencetak 2 gol. Pertandingan grup dalam tempo 3 menit sedangkan dalam pertandingan final dalam tempo 5 menit.

Hal itu dapat berarti dua hal. Pertama stamina pemain Thailand tidak terlalu baik. Karena dengan permainan cepat dan menekan, stamina bisa cepat habis yang merupakan kelemahan dalam permainan dengan pola pressing tinggi. Kedua shock factor. Gol Boaz Solossa di pertandingan babak grup dan Rizky Pora dua hari lalu berhasil mengejutkan Thailand dan ternyata mereka butuh waktu cukup lama untuk kembali membenahi fokus dalam bertahan. Sehingga Indonesia perlu menghadirkan kejutan – kejutan baik melalui pergerakan pemain atau penciptaan peluang agar selalu merusak konsentrasi pemain Thailand.

Bayu Pradana sebagai tandem Manahati Lestusen dalam formasi 4-2-3-1 harus mampu menunjukkan kegigihan yang sama seperti rekannya. Manahati mau berlari ke berbagai sisi lapangan untuk merebut bola atau ikut membantu serangan. Bayu Pradana harus menandinginya sejak mereka berdua merupakan pemutus serangan lawan dan pemain yang mengawali serangan.

Dengan kemenangan di leg pertama, peluang Indonesia terbuka lebar. Skor identik dengan semifinal pertama ketika melawan Vietnam bukan berarti pola permainan menunggu seperti pada semifinal kedua dapat diterapkan kembali. Lebih baik mengimbangi kecepatan permainan Thailand dengan pressing ketat dan kedisiplinan. Thailand akan ofensif dan itu akan membuka banyak sekali celah di pertahanan mereka.

Jika Kiatisuk Senamuang, pelatih Thailand, di pertandingan pertama mampu menutup serangan Indonesia dari sisi sayap dan kecolongan di lini tengah, maka pada pertandingan kedua para pemain Indonesia harus bisa memadukan dua hal ini ditambah dengan melepas tembakan dari luar kotak penalti saat memungkinkan.

Kesimpulannya, pemain Indonesia harus tampil gigih, tidak lagi berhati – hati dalam artian tidak kalah mental pada pertandingan besok malam.

Oh ya, tahukah anda ada 3 final yang dijalani Thailand sejak Piala AFF menggunakan sistem home and away? Fakta menariknya adalah jika mereka kalah dalam pertandingan pertama final biasanya pada pertandingan kedua mereka hanya mampu bermain imbang atau menang dengan skor tipis lalu gagal menjadi juara. Ini terjadi pada Piala AFF 2007, Singapura menang di leg pertama dengan skor 2-1 dan leg kedua 1-1. Piala AFF 2008 Vietnam menang atas Thailand di leg pertama dengan skor 2-1 dan imbang 1-1 di leg kedua. Piala AFF 2012, Singapura mengalahkan Thailand 3-1 di leg pertama dan hanya kalah 0-1 di leg kedua. Jadi? Wallahu a’lam bishawab. Ah tidak usah berandai – andai, 90 menit adalah waktu yang lama dan perjuangan keras dan gigih harus ditunjukkan dan terus berdoa.

#INDONESIA_BISA

Preview Leg Pertama Final AFF Cup 2016 : Pertahanan Thailand Bukan Benteng Baja

Latihan timnas Indonesia dipenuhi dengan teriakan motivasi. Stefano Lilipaly dan pemain lainnya optimis leg pertama final Piala AFF 2016 dapat dimenangkan Indonesia. Headline – headline berita tersebut memenuhi media cetak dan elektronik. Semua senada bahwa ada optimisme menjelang laga pertama final Piala AFF 2016 yang akan dipertandingkan besok malam (Rabu,14/12) di Stadion Pakansari Cibinong Bogor.

Thailand sejauh ini merupakan tim terkuat di Piala AFF 2016 dengan status tidak terkalahkan. 12 gol telah mereka jaringkan ke gawang lawan sementara hanya 2 gol yang bersarang di jala gawang mereka dalam 5 pertandingan Piala AFF 2016 dari mulai babak grup hingga fase semifinal.

Teerasil Dangda memimpin daftar pencetak gol terbanyak sementara dengan torehan 5 gol. 3 gol ia sarangkan ke gawang Kurnia Meiga saat Thailand mengalahkan Indonesia 4-2. Pencetak gol terbanyak lainnya milik Thailand adalah Sarawut Masuk dengan 3 gol. Thailand hanya membawa 2 striker murni pada turnamen dua tahunan ini. Selain Teerasil, ada Siroch Chattong yang sudah mencetak 1 gol.

Meski hanya membawa dua striker murni dan biasanya pelatih Thailand, Kiatisuk Senamuang, memasang striker tunggal dalam permainan, tetapi pasukan War Elephants, didukung gelandang agresif seperti Chanatip Songkrasin, Mongkol Tossakrai dan Adul Lahsoh.

Formasi 3-5-2 yang diterapkan Kiatisuk Senamung membuat gelandang – gelandang serang milik Thailand bisa diberdayakan untuk membantu daya gedor. Dua striker milik mereka baru mencetak 7 gol sisanya 5 gol disarangkan pemain tengah mereka.

5 orang gelandang di lini tengah Thailand diisi oleh satu defensive miedfield yang diemban pemain dengan nomor punggung 6 yaitu Sarach Yooyen. Ia bukan hanya membantu kinerja 3 centre back tapi juga berperan sebagai pembagi bola dan pengatur tempo. Dua winger biasanya ditempati pemain yang berposisi asli sebagai pemain bertahan. Sementara tiga gelandang diturunkan di sektor tengah sebagai penggedor pertahanan lawan membantu striker tunggal.

Serangan Thailand yang dapat dibilang berbahaya biasanya diawali kombinasi umpan dari sisi kiri. Theerathon Bunmathan (Nomor Punggung 3) atau Peerapat Nothecaiya (nomor punggung 2) meski berposisi asli sebagai pemain bertahan namun tidak canggung untuk ikut menyerang dan memberikan umpan dari sisi ini. Baik melakukan kombinasi umpan maupun memberikan umpan lambung ke kotak penalti kedua pemain ini fasih menjalankannya.

Keunggulan lainnya dari Thailand adalah pressing yang tinggi yang didukung dengan kehadiran 5 orang gelandang. Selain itu, ketika satu pemain Thailand menguasai bola maka pemain lainnya membagi peran untuk memberikan opsi umpan. Ada yang berlari ke ruang kosong, ada yang mendekati bola. Pemain depan Thailand pun dalam positioning ketika menyerang biasanya menempatkan diri diantara dua pemain bertahan lawan yang memungkinkan mereka untuk mempunyai ruang yang cukup untuk berlari membawa bola.

Belum ada yang mampu mengalahkan tetapi adakah kelemahan mereka? Tentunya ada dan bukan hanya satu kelemahan saja. Pressing tinggi yang diterapkan Thailand adalah untuk menutup lubang di sektor pertahanan mereka. Dengan memasang 3 orang centre back areal lebar lapangan tidak tertutup seluruhnya. Bahkan sisi kanan pertahanan yang ditempati winger, Tristan Do, adalah sisi terlemah mereka ketika bertahan.

tha4

Gambar diatas menunjukkan ruang kosong di sisi kanan pertahanan Thailand yang dapat ditembus oleh penyerang Singapura. Tristan Do selalu terlambat untuk turun membantu pertahanan. Filipina, Singapura, Myanmar dan Indonesia sangat menyadari hal ini dan seringkali mengawali serangan dari sisi kanan. Dalam beberapa pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2018 beberapa gol yang bersarang di gawang Thailand selalu ada yang tercipta dari sisi kanan.

tha5

Gambar diatas menunjukkan serangan Indonesia yang diawali Rizky Pora. 3 pemain bertahan fokus melihat pergerakan Rizky Pora dan membiarkan Andik Vermansyah dan Boaz Solossa tidak terjaga.

Dengan hanya 3 pemain belakang, perhatian mereka dalam menjaga lawan pun sering ditujukan kepada pemain yang menguasai bola sehingga meninggalkan ruang kosong yang tidak tercover. Apalagi jika winger lawan memanfaatkan lebar lapangan, maka biasanya satu orang berusaha melakukan man to man marking, sementara dua pemain bertahan lainnya tertarik mendekati sehingga banyak ruang kosong tercipta di kotak penalti.

tha3
Khairul Amri (jersey Merah no.10) berhasil menarik perhatian 3 centreback Thailand untuk memberikan ruang kosong di sisi kiri.

Sebetulnya bukan hanya sisi kanan yang menjadi kelemahan Thailand namun sisi kiri pun demikian. Dalam pertandingan melawan Filipina, Phil Younghusband hampir menjebol gawang Thailand menyambut bola lambung dari sisi kiri. Myanmar pada dua pertandingan semifinal juga memanfaatkan lebar lapangan dan berkali – kali masuk ke kotak penalti Thailand membahayakan gawang yang dijaga Kawin Thamsatchanan.

Salah satu pemain bertahan Thailand yang sering melakukan kesalahan adalah Adison Promsak. Dalam pertandingan melawan Myanmar beberapa kali bola dalam penguasaanya bisa direbut.

Gelandang bertahan Sarach Yooyen pun sering terlambat memberikan bantuan ketika bertahan. Perannya sebagai pembagi bola juga membuka kelemahan lainnya. Jika ia dapat ditekan oleh 1 – 2 pemain sehingga membatasi ruang geraknya akan memperbesar kemungkinan Thailand kesulitan menyusun serangan.

Pertahanan Thailand pun tidak terlalu tangguh ketika menghadapi umpan – umpan lambung. Lerby Eliandry dan Boaz Solossa sudah membuktikan hal itu lewat dua gol mereka dalam pertandingan lawan Thailand di babak grup.

Mau tidak mau, Indonesia harus mengambil inisiatif serangan terlebih dahulu agar Thailand tidak leluasa membangun serangan. Thailand sering kesulitan menghadapi tim yang bermain terbuka dan memiliki kemampuan sepadan. Filipina dan Singapura dikalahkan melalui skor tipis. Sedangkan Myanmar pada leg 2 semifinal menerapkan permainan terbuka dan mampu menyaingi pressing Thailand hanya saja tidak diimbangi dengan kemampuan mereka mengatasi serangan balik Thailand.

Jika pertahanan Thailand begitu terbuka maka kenapa baru Indonesia yang mampu menjebol gawang Thailand? Silahkan lihat cuplikan – cuplikan pertandingan Thailand melawan Filipina, Singapura dan Myanmar. Bagi saya adalah masalah ketenangan dan tidak tajamnya penyerang ketiga negara tersebut. Kalau saja mereka lebih tenang, bisa jadi catatan kebobobolan Thailand lebih dari 2 gol.

Tidak tenangnya para pemain depan tersebut dapat muncul karena predikat Thailand sebagai tim nomor satu di Asia Tenggara. Seringkali lawan yang menghadapi Thailand di Piala AFF akan berhati – hati fokus dulu untuk bertahan dengan sesekali melakukan serangan balik.

Predikat tim terbaik tersebut memang menggetarkan setiap lawan. Tetapi perlu diingat, Indonesia mampu melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan lawan lainnya, yaitu mencetak 2 gol ke gawang Thailand hanya dalam tempo 3 menit saja. Ini membuktikan predikat Thailand tidak menjamin mereka akan tangguh dalam bertahan.

Indonesia rasanya sudah lebih siap menghadapi pertemuan kedua dengan Thailand di Piala AFF 2016. Peningkatan permainan Indonesia dilakukan per pertandingan. Stamina yang sering menjadi masalah ketika menghadapi permainan intens lawan bisa jadi lebih siap diatasi setelah laga kedua semifinal di Vietnam pekan lalu.

Masih menjadi ganjalan adalah pertahanan Indonesia terutama fokus dimenit – menit akhir babak kedua. 10 gol di gawang Kurnia Meiga, 5 gol terjadi pada babak pertama dan 5 gol terjadi pada babak kedua. Sedangkan dalam urusan mencetak gol, Indonesia lebih tajam pada babak kedua karena menjaringkan 8 gol dan 2 gol dicetak pada babak pertama.

Jika menurunkan formasi 4-2-3-1 maka Indonesia akan bermain defensif, sedangkan yang dibutuhkan adalah mencetak gol dan menang dengan selisih besar sehingga harus bermain ofensif. Hal ini dikarenakan laga kedua final di Thailand akan ditandingkan pada tanggal 17 Desember, waktu yang sempit untuk recovery.

Membuat Lawan Shock

Berbicara tentang formasi, seandainya berani mengambil resiko Alfred Riedl dapat memasang 3-5-2 juga untuk mengimbangi jumlah dan peran para gelandang Thailand. Hal ini pernah dilakukan oleh Joachim Loew, manajer timnas Jerman, ketika menghadapi Italia pada babak perempatfinal Euro 2016. Formasi tersebut bukanlah sesuatu yang asing untuk pemain Indonesia. Mereka tumbuh dan berkembang dalam formasi tersebut bahkan sampai ke awal – awal era 2000an masih banyak pelatih Indonesia yang menerapkan formasi itu. Terbaru adalah Djajang Nurjaman ketika Persib menang atas Perseru Serui di pekan – 31 Indonesian Soccer Championship. Jika memasang formasi yang sama, bisa dipastikan Riedl membuat shock Kiatisuk.

Mengingat Italia di Euro 2016, maka satu gelandang yang ditempatkan di depan 3 centreback, mau tidak mau harus ditekan sedini mungkin. Ketika ia ditekan dan tidak bebas bergerak maka ia kesulitan membantu pertahanan dan sulit untuk membagi bola dalam situasi serangan balik.

Alfred Riedl juga harus mempertimbangkan baik – baik darimana ia akan menyuruh para pemain mengawali serangan. Memang dengan formasi ini sisi lebar lapangan Thailand terbuka dan berkali – kali dimanfaatkan lawan. Namun juga tentunya hal ini sudah dapat diprediksi oleh Thailand. Meski diatas sisi kanan Thailand adalah kelemahan mereka tetapi juga tidak ada salahnya menerapkan serangan dari sisi yang belum dapat mereka perkirakan. Karena siapa tahu, Thailand memang sengaja membuka kedua sisi kanan dan kiri agar mampu mengendalikan arah serangan lawan.

Kenapa tidak melakukan serangan dari sektor tengah  yang berarti memperbanyak pemain dengan kemampuan penguasaan bola mumpuni dan memperbanyak cut inside?

Thailand bukanlah tim yang super, bahkan mereka saat ini sedang membangun reputasi kembali setelah terjadinya gap generasi pemain sepakbola.

Inilah saat terbaik Indonesia merengkuh gelar pertama Piala AFF.

#INDONESIA_BISA

Review Leg 2 Semifinal AFF Cup 2016 : Que Ngoc Hai, The Star

Menegangkan. The Conjuring 2 pun tidak bisa menyamai ketegangan yang tercipta saat menonton Leg 2 semifinal Piala AFF 2016 antara Indonesia versus Vietnam tadi malam (7/12). 120 menit pendukung sepakbola Indonesia dan Vietnam dibuat menahan napas, jengkel, gregetan, sebelum akhirnya wasit Fu Ming meniup peluit panjang di akhir babak 2 extra time. Indonesia lolos ke final Piala AFF untuk kelima kalinya.

Memainkan formasi yang belum pernah dipakai sebelumnya yaitu 4-2-3-1, pelatih Indonesia, Alfred Riedl, jelas menerapkan strategi counter attack sejak menit awal untuk mengamankan kemenangan Indonesia pada Leg 1 semifinal di Stadion Pakansari Sabtu pekan lalu. Pilihan yang wajar karena Vietnam memang tampil all out.

Data pertandingan dari situs http://www.affsuzukicup.com menunjukkan Vietnam mencapai grafik tertinggi mereka selama Piala AFF 2016. Total 19 kali percobaan mencetak gol ke gawang Indonesia dengan 9 kali tendangan akurat ke gawang Kurnia Meiga dan 10 kali bola melenceng. Indonesia hanya mencetak 2 kali tendangan bersih ke gawang Vietnam dan 5 kali tendangan tidak akurat. Hanya 7 kali selama 120 menit Indonesia memiliki peluang mencetak gol ke gawang Vietnam.

Riedl memang menerapkan strategi defensif dan membiarkan Le Cong Vinh dkk. menguasai bola sebanyak – banyaknya. Dua holding miedfielder yang diperankan oleh Bayu Pradana dan Manahati Lestusen cukup mampu membendung pola permainan cepat lawan.

Pertengahan babak pertama Indonesia mulai sedikit melepaskan diri dari tekanan walau tidak leluasa. Barisan gelandang enerjik Vietnam mampu terus menekan dan menjadi mesin permainan.

Menit -54, Indonesia berhasil unggul lewat gol Stefano Lilipaly. Bola liar didepan gawang Tranh Nguyen Manh akibat kesalahan antisipasinya dan sapuan tidak jelas dari Que Ngoc Hai, membuat Lilipaly tinggal mencocor bola ke gawang Vietnam.

AFF SUZUKI CUP 2016 Final Rounds Semi Finals Leg 2, Vietnam 7 December 2016

Pujian layak didapatkan Vietnam karena dalam keadaan tertinggal 0-1 dan kartu merah untuk kiper mereka sehingga Que Ngoc Hai menjadi kiper dadakan tidak menyurutkan semangat Vietnam. Dukungan penuh penonton di Stadion Nasional My Dinh membuat Vietnam mampu mencetak dua gol di menit -83 lewat Vu Van Thanh dan menit 90 melalui kecerdikan Vu Minh Tuan. Vietnam memaksa pertandingan masuk ke babak extra time.

Meski lawan hanya bermain dengan 10 orang dan Indonesia masih memiliki penyerang agresif di lapangan pada diri Zulham Zamrun dan Ferdinan Sinaga tidak membuat Indonesia tampil ofensif walau penjagaan lawan sudah melonggar. Beruntung Indonesia masih dapat memanfaatkan keunggulan jumlah pemain ketika Ferdinan Sinaga lolos dari penjagaan bek lawan dan berhadapan dengan Que Ngoc Hai yang terpaksa menjegal di menit -97 perpanjangan waktu babak pertama sehingga wasit Fu Ming memberikan hukuman penalti. Manahati Lestusen mengkonversi penalti tersebut dengan sempurna.

Que Ngoc Hai kembali menjadi “bintang” seperti yang pernah dialaminya pada semifinal Piala AFF 2014 ketika melawan Malaysia. Sempat disinggung pada tulisan preview semifinal 3 hari yang lalu, ia memang menjadi titik lemah pertahanan Vietnam. Kepanikannya membuahkan gol pertama untuk Indonesia, gol kedua Indonesia lahir akibat kesalahannya pula. Walau di menit – menit akhir babak kedua perpanjangan waktu, Que Ngoc Hai melakukan taktik mirip permainan futsal dan membiarkan gawangnya kosong melompong untuk membalikkan hal itu, namun tak pelak ia- lah man of the match.

Masalah stamina menjadi isu terbesar Indonesia pada semifinal tadi malam. Dua gol yang dicetak Vietnam memang disebabkan juga oleh faktor konsentrasi tetapi stamina ikut berperan disitu. Pada babak perpanjangan waktu setelah mencetak gol kedua, para pemain Indonesia memilih untuk bertahan. Memang pilihan strategi adalah bermain aman mempertahankan keunggulan namun sangat jelas terlihat para pemain sudah kehabisan tenaga.

Kritik saya tujukan kepada duet penyerang Ferdinan Sinaga dan Zulham Zamrun. Masuk sebagai pemain pengganti seharusnya mereka mampu menunjukkan kelebihan dalam hal kecepatan dan olah bola. Namun keduanya banyak menyia – nyiakan peluang, banyak bola yang lepas dari kaki mereka. Seharusnya keduanya memberikan tekanan agar Vietnam tidak leluasa membangun serangan. Hal yang logis mengingat Indonesia sedang unggul jumlah pemain.

Calon lawan Indonesia di final, ditentukan nanti malam pada leg 2 semifinal Thailand vs Myanmar, keduanya menerapkan gaya sepakbola yang tidak jauh berbeda dengan Vietnam. Pertandingan yang menguras fisik dan stamina tadi malam, anggaplah menjadi latihan tersendiri timnas Indonesia untuk meningkatkan ketahanan fisik.

Final leg pertama akan dimainkan di Indonesia pada 14 Desember 2016, sampai kita tahu calon lawan dan calon stadion tempat pelaksanaan pertandingan, kita nikmati euforia ini. Menpora pun boleh bersenang hati, karena timnas sepakbola mencapai target yang diinginkannya. Tapi bagi rakyat Indonesia sangat merindukan juara.

#INDONESIA_BISA

Sumber foto : http://www.affsuzukicup.com