Timeline Singkat Persib Liga 1 Tahun 2017

  1. Pemain Baru : Supardi, Wildansyah, Dedi Kusnandar, Matsunaga Shohei (Jepang), Michael Essien ( Ghana /Marquee player), Carlton Cole ( Inggris), Raphael Maitimo, Fulgensius Billy Keraf, Iman Arif Fadhillah

2. Mempromosikan pemain muda : Gian Zola, Ahmad Basith, Puja Abdillah, Agung Mulyadi, Angga Febriyanto.

3. Pelatih Jajang Nurjaman mundur dari kursi kepelatihan, pasca kalah dari Bhayangkara FC, 5 Juni 2017.

4. Pertengahan bulan Juni 2017, Sergio Van Dijk dinyatakan tidak bisa tampil membela Persib tahun ini karena cedera berkepanjangan

5. Manajer, Umuh Muchtar mengkambinghitamkan Carlton Cole karena performa Persib terpuruk.

6. Melepas Carlton Cole diakhir putaran pertama. Mengontrak dua pemain baru yaitu Ezechiel N’Douassel (Chad) dan Purwaka Yudhi.

7. Pada akhir putaran pertama, Persib berada di peringkat 14.

7. Emral Abus ditunjuk menjadi pelatih Persib pada awal bulan September 2017.

8. Bulan Oktober 2017, Persib meminjamkan Jajang Sukmara, Ahmad Basith, Puja Abdillah dan Agung Mulyadi ke PSGC Ciamis untuk Babak Playoff Liga 2.

9. Pada akhir Liga 1, Persib terpuruk di peringkat 13.

Screenshot_33

10. Pemain paling banyak tampil : Ahmad Jufriyanto (31 Pertandingan, kurang lebih 2784 menit bermain);

11. Pemain muda paling sering tampil : Fulgensius Billy Keraf ( 24 Pertandingan/ 2 kali starting eleven 22 kali bermain dari bangku cadangan). Henhen Herdiana (23 Pertandingan/ 23 kali starting eleven).

12. Pemain cadangan yang paling sering mencetak gol : Fulgensius Billy Keraf (5 gol).

13. Pemain dengan kedisiplinan terburuk : Vladimir Vujovic ( 9 Kartu Kuning, 1 Kartu Merah), Michael Essien ( 9 Kartu Kuning ).

14. Pemain asing dengan caps terbanyak : Michael Essien ( 22 kali starting eleven, 6 kali bermain dari bangku cadangan)

15. Topscore : Raphael Maitimo ( 9 gol )

Screenshot_32.jpg

16. Top assist : Raphael Maitimo ( 7 Assist )

raphael-maitimo-persib-bandung_nqngq9i0zb2u13q9jyrw7mrqu
Man Of the Season ( 9 goals, 7 assists, 1 hattrick)

17. Pemain tanpa menit bermain : Iman Arif Fadhillah (Penjaga gawang ketiga)

18. Cleansheet : 11 kali Cleansheet .I Made Wirawan ( 2 kali cleansheet dari 10 kali bermain), M.Natshir (9 kali cleansheet dari 24 kali bermain).

19. Rekor Kandang – Tandang Persib :

Screenshot_34

20. Kemenangan terbesar : melawan Persegres (6-0) pada 5 Agustus 2017.

21. Kekalahan terbesar : melawan Madura United (1-3) pada 9 Juli 2017.

22. Back to back kemenangan : Persegres Gresik United ( 0-1 & 6-0)

23. Back to back kekalahan : Perseru Serui (2-1 & 0-2).

24. Back to back imbang : Arema ( dua kali bertemu skor 0-0), Semen Padang ( 0-0 & 2-2).

25. Best Youngster : Fulgensius Billy Keraf

billy_selebrasi_2_kukar_jat

27. Best game (my opinion) : Persib vs PSM Makassar 2-1, 5 Juli 2017.

Advertisements

Ending Liga 1 : Anti Klimaks.

Bhayangkara FC akhirnya menjadi Juara (sementara) Liga 1 Indonesia. Kenapa sementara? Sebab PT. Liga Indonesia Baru (PT.LIB) selaku pengelola Liga 1 belum mengeluarkan pengesahan juara kepada Bhayangkara FC masih menunggu jika Mitra Kukar mau melakukan banding terhadap keputusan Komisi Disiplin PSSI yang memberikan kemenangan kemenangan WO (3-0) kepada Bhayangkara FC karena Mitra Kukar dinilai menggunakan pemain yang sedang dalam hukuman kartu merah yaitu Mohammed Sissoko.

Persaingan tiga besar klasemen Liga 1 musim perdana berlangsung ketat. Sebelum keputusan WO dari Komisi Disiplin untuk Mitra Kukar, pemuncak klasemen adalah Bali United yang bersusah payah mengalahkan PSM Makassar di Stadion Andi Mattalatta pada 6 November yang lalu. Kemenangan Bali United menghentikan ambisi juara PSM Makassar yang sebelum pertandingan memiliki poin yang sama dengan Bali United yaitu 62 poin. Sedangkan saat itu, Bhayangkara FC masih memiliki 63 poin.

Harapan untuk melihat ketegangan penentuan juara hingga pekan – 34 mulai hangus ketika Komisi Disiplin menjatuhkan sanksi kepada Mitra Kukar.  Semakin menjadi abu, ketika dalam pertandingan semalam (8/11) antara Madura United vs Bhayangkara FC di Stadion Gelora Bangkalan Madura, 3 kartu merah diberikan kepada Madura United ditambah 3 gol Ilija Spasojevic maka pertandingan yang dijaga ketat dari luar stadion sampai ruang ganti pemain walau tanpa penonton, menjadi milik Bhayangkara FC. 68 poin untuk bhayangkara FC masih mungkin terkejar oleh Bali United apalagi di partai terakhir Irfan Bachdim dkk. akan menghadapi Persegres Gresik yang pekan lalu dihajar Sriwijaya FC 10-2.

Secara catatan gol, kemenangan dipartai ke – 34 akan menjadi milik Bali United karena mereka adalah tim paling produktif di Liga 1 dengan 73 gol plus striker mereka, Sylvano Comvalius, memecahkan rekor Peri Sandria dengan torehan 35 gol untuk sementara berbanding terbalik dengan Persegres yang menjadi tim dengan pertahanan buruk sudah kemasukan 101 gol.

Namun akhirnya yang “membunuh” harapan Bali United , selain WO Mitra Kukar dan 3 kartu merah untuk pemain Madura United, adalah rekor head to head dengan Bhayangkara FC. Dalam dua pertemuan, Bhayangkara selalu unggul atas mereka (menang 1-3 dan 2-3). Secara aturan jika ada dua tim dengan poin sama maka penentuan peringkat dilihat berdasarkan head to head pertemuan kedua tim, kemudian jika masih berimbang selisih gol yang akan jadi rujukan peringkat.

Mitra Kukar, Sang Penentu

Mau tidak mau, ending liga 1 yang antiklimaks ini menyisakan penyesalan dan banyak pertanyaan mengapa Mohammed Sissoko dimainkan Mitra Kukar ketika melawan Bhayangkara FC. Berikut Kronologis yang dihimpun dari beberapa sumber :

  1. Mohammed Sissoko mendapatkan kartu merah pada saat Mitra Kukar melawan PBFC tanggal 23 Oktober 2017.
  2. Regulasi Liga 1 pasal 57 mengenai sanksi pemain yang mendapatkan kartu merah adalah 1 kali tidak boleh bermain pada pertandingan berikutnya.Berdasarkan aturan tersebut, Mitra Kukar tidak memainkannya pada saat melawat ke Persib Bandung tanggal 27 Oktober 2017.
  3. Sehari kemudian, 28 Oktober 2017, Komisi Disiplin mengeluarkan keputusan bahwa Mohammed Sissoko disanksi 2 pertandingan dan denda Rp.100 juta.
  4. Anehnya, Mitra Kukar mengaku tidak tahu mengenai keputusan ini, karena dalam Nota Larangan Bertanding yang dirilis oleh PT.LIB sebelum laga melawan Bhayangkara FC, hanya Herwin Tri Saputra (Mitra Kukar) dan Indra Kahfi (Bhayangkara) yang dilarang bermain.
  5. Dimainkanlah, Mohammed Sissoko melawan Bhayangkara FC pada 3 November 2017, dengan skor akhir 1-1. Bhayangkara FC ditengarai mengetahui hukuman terhadap Sissoko dan kemudian selepas pertandingan mengajukan protes karena Mitra Kukar memainkan pemain yang sedang menjalani hukuman.
  6. 5 November 2017, Komisi Disiplin mengeluarkan keputusan memenangkan Bhayangkara dengan skor 3-0 karena Mitra Kukar memainkan Mohammed Sissoko.

Sejak keputusan Komisi Disiplin tersebut dirilis, Mitra Kukar diberikan waktu 7 hari untuk melakukan banding. Seyogyanya, banding dilakukan oleh Mitra Kukar karena mau tidak mau, dalam drama ini mereka menjadi lakon.

Apapun hasil banding mereka nantinya, setidaknya ada 1 hal yang dapat terungkap yaitu kurang profesionalnya PT.LIB. Karena Komisi Disiplin telah mengeluarkan keputusan tentang Mohammed Sissoko pada 28 Oktober dan pertandingan digelar 3 November, ada jarak 5 hari yang perlu dipertanyakan kepada PT.LIB kenapa tidak  mencantumkan Mohammed Sissoko di Nota Larangan Bertanding.

Mitra Kukar beralasan bahwa keputusan Komisi Disiplin masuk ke email yang dikelola CEO Mitra Kukar tetapi tidak terpantau dengan kemungkinan ia tengah dalam kesibukan. Apakah alasan tersebut email tidak terpantau juga digunakan PT.LIB ?

Kuda Hitam

Sambil menunggu keputusan dari Mitra Kukar apakah mengajukan banding atau tidak, memang kemunculan Bali United dan Bhayangkara FC kejar mengejar gelar juara diluar prediksi awal musim.

Dua klub yang muncul setelah mengakuisisi klub lain pada tahun 2015 ini ( Bali United mengakuisisi Persisam, Bhayangkara FC mengakuisisi Persikubar) berada diluar peta juara. Bali United yang lebih duluan diperhatikan karena mendatangkan beberapa pemain terkenal seperti Irfan Bachdim dan I Gede Sukadana.

Bhayangkara muncul belakangan ke peringkat atas dimotori eks pelatih timnas Filipina, Simon Mcenemy. Keberhasilan keduanya ke papan atas juga disebabkan ketidakstabilan yang dialami klub – klub langganan peringkat atas pada Liga 1 ini. Hal ini dapat terlihat dari pergantian pelatih klub – klub langganan papan atas tersebut.

PT.LIB Perlu Berbenah

Bukan hanya sekali ini PT.LIB melakukan kesalahan. Pada playoff Liga 2, PSBK Blitar dan Persewangi Banyuwangi adu jotos karena ketidakjelasan PT.LIB. Aturan pemain U-23 yang direvisi, padahal ini sudah merupakan suatu hal yang sangat baik. Sempat tertundanya babak 8 Besar Liga 2.

Dengan kesalahan pada Nota Larangan Bertanding, maka terlihat ada kelemahan administrasi pada PT.LIB yang harus diperbaiki musim depan agar tidak ada antiklimaks lagi.

Oh ya, rasanya Komisi Disipilin pun perlu menyelidiki lebih lanjut kenapa pemain Madura United sampai lepas emosi!!

 

 

Sea Games 2017 : Indonesia Sulit Membuat Peluang Gol.

Bersusah payah, akhirnya timnas sepakbola putra Indonesia berhasil lolos ke semifinal Sea Games Kuala Lumpul 2017. Dua pemain mencetak dua gol perdana mereka bagi timnas yaitu Ezra Walian dan Febri Haryadi, mengantarkan Indonesia ke posisi runner up grup B pada saat yang bersamaan Vietnam, pesaing Indonesia, dikalahkan Thailand.

Menuju semifinal, Indonesia memiliki masalah dengan kesuburan mencetak gol. Hanya mencetak 7 gol dalam 4 pertandingan. Hanya sekali Indonesia gagal mencetak gol yaitu ketika bermain imbang tanpa skor dengan Vietnam. Hal yang cukup mengkhawatirkan walau hanya memboyong 2 penyerang murni, Marinus Wanewar dan Ezra Walian, tapi timnas diisi oleh gelandang – gelandang haus gol seperti Febri Haryadi, Yabes Roni, Osvaldo Haay, dan Saddil Ramdani.

Namun pemusatan latihan nasional (Pelatnas) yang digelar dalam beberapa tahap rupanya masih menyisakan banyak masalah terutama di lini depan. Dalam beberapa kali ujicoba antar negara, Indonesia kesulitan mencetak gol dan menyusun peluang didepan gawang lawan.

Kalau mau dirunut, kesulitan menyusun satu skema mematikan didepan gawang lawan, bermula dari lini tengah. Hanya ada seorang kreator disana yaitu, Evan Dimas Darmono. Ia diapit oleh dua gelandang, yaitu M.Hargianto dan David Septian Maulana. M.Hargianto lebih sebagai gelandang bertahan dan David Septian Maulana menjalani peran menyokong tiga pemain didepan yakni dua winger dan seorang striker.

Evan Dimas berperan sebagai seorang playmaker yang beroperasi di lini pertahanan sendiri. Areal bermainnya nampak dibatasi, hanya lewat sedikit saja dari garis tengah lapangan. Nampaknya selain sebagai penjemput bola dari pemain bertahan dan menyalurkan ke para pemain depan, Evan Dimas juga berperan sebagai pemutus serangan lawan.

Menurut penulis, disinilah masalahnya. Evan Dimas akan lebih optimal jika dimainkan sebagai attacking miedfielder seperti peran yang selama ini ia lakukan sejak di timnas U-19 kala dilatih Indra Sjafri. Ia bukan hanya seorang kreator serangan, peluang tapi juga fasih mencetak gol. Membatasi pergerakan Evan Dimas, sama juga mempersempit peluang menambang gol, karena komunikasi, koordinasi para pemain depan belum terlalu baik.

David Septian Maulana meskipun telah mencetak 2 gol dan berfungsi sebagai penyerang lubang, namun belum memiliki koordinasi yang baik dengan striker tunggal didepannya. Bahkan terkadang kehilangan bola. Ia belum bisa menjalankan sebagai seorang kreator di lini depan dengan optimal.

Skema permainan timnas yang mengandalkan serangan dari kedua sisi sayap membuat pemain – pemain yang terpilih kebanyakan adalah winger dan minim kreator serangan. Kreatifitas para winger pun masih harus terus dibangun, karena seringkali hanya berlari lurus menjelajah sisi lapangan dan berusaha mengalahkan pemain lawan dengan kecepatan dan trik memainkan bola. Umpan – umpan yang memanjakan penyerang pun jarang diberikan.

Hal ini patut disayangkan, karena timnas menerapkan high pressing kepada lawan, namun belum diikuti dengan proses menyusun peluang mencetak gol yang rapih baru sebatas sporadis.

Rasanya satu diantara para winger ini bisa dicoba untuk menggantikan peran David Septian Maulana, karena minimnya pilihan.

Melawan Malaysia yang telah mengintip permainan Indonesia pada saat melawan Kamboja kemarin (24/8), daya dobrak Indonesia dari lini tengah perlu diperkuat. Mungkin Osvaldo Haay dapat menjalani peran ini. Kreasi lain perlu dilakukan, karena jika hanya mengandalkan serangan dari sayap, niscaya Malaysia akan siap mengantisipasi hal ini. Apalagi dari 7 gol yang diciptakan para pemain timnas, hanya dua berasal dari umpan sisi sayap. Satu gol berasal dari kreasi dari tengah, dua gol lagi berasal dari pergerakan cut inside para pemain winger.

Masalah menciptakan peluang mencetak gol dan membuat gol harus segera diatasi dalam waktu sehari ini, Jumat (25/8) karena Sabtu (26/8), Indonesia akan menghadapi tuan rumah, Malaysia di semifinal. Pengalaman kalah 0-3 dalam kualifikasi Piala Asia U-23 2018, bisa dijadikan pembelajaran.

Tampil tanpa Hansamu Yama, M.Hargianto dan Marinus Wanewar besok, Indonesia harus mempressing lawan sejak dini untuk mencegah lawan leluasa masuk ke areal pertahanan. Penguasaan bola yang baik di tengah dan depan, bisa menjamin hal itu.

 

 

Farewell Janur

Jajang Nurjaman akhirnya mundur dari kursi pelatih Persib pasca kalah 1-2 dari tuan rumah Mitra Kukar. Pengunduran diri jilid II ini akhirnya disetujui oleh manajemen Persib setelah jilid I, Janur, panggilan akrab Jajang Nurjaman, masih dipertahankan.

Jika dibandingkan dengan raihan Persib pada putaran pertama Indonesian Soccer Championship (ISC) tahun 2016 maka apa yang diraih Persib sampai dengan pekan ke -15 Liga 1 lebih buruk dari capaian tahun lalu. Pada ISC 2016, Persib menutup putaran pertama dengan raihan 27 poin. Saat ini, meski menang dalam dua pertandingan tersisa di putaran pertama (lawan Persija dan Perseru) menang maksimal poin hanya 26. Pada ISC 2016 hingga putaran pertama, Persib hanya kalah 4 kali, saat ini sampai dengan pekan-15, Persib sudah kalah 5 kali.

Memang beda – beda tipis, namun secara keseluruhan, permainan Persib mengalami penurunan drastis. Hingga pekan ke 15 Liga 1, Janur gagal membawa peningkatan signifikan. Meskipun dengan suntikan 2 pemain “lulusan” Liga Inggris, Janur masih terlihat bingung menentukan sebelas pemain terbaik yang mampu memberikan permainan bagus.

Ada beberapa hal yang menurut penulis bisa disimpulkan, kenapa Janur gagal pada tahun ini.

  1. Materi pemain tidak seimbang. Pada ISC, Persib memiliki Robertino Pugliara dan di putaran 2 ISC mendatang Marcos Flores sebagai playmaker. Kali ini Persib tidak memiliki pemain dengan tipe playmaker. Michael Essien dan Gian Zola bukan pemain yang mampu mengatur ritme permainan;
  2. Kondisi fisik Michael Essien dan Carlton Cole. Sebagai pemain berkelas dunia yang telah lebih dahulu dikenal bobotoh sejak lama, keduanya datang ke Persib dalam kondisi tidak fit. Ini hal yang selalu dikeluhkan oleh Janur bahwa kedua pemain tersebut sudah habis. Essien agak mending sering diturunkan dalam starting eleven atau muncul dari bangku cadangan, bahkan sudah mencetak 2 gol. Beda nasib dengan Cole yang sampai mundur pun, Janur enggan memainkannya. Kita bisa saja berargumen bahwa kedua pemain ini sudah melewati masa keemasan mereka, namun jika melihat penampilan Michael Essien dari pekan ke pekan, tidak nampak perubahan signifikan dari sisi stamina. Ini menunjukkan tim pelatih fisik Persib gagal memperbaiki kondisi fisik dan stamina kedua pemain tersebut, walau Janur terus berulang kali mengatakan bahwa fisik dan stamina kedua pemain tersebut sedang ditingkatkan;
  3. Pola permainan yang sama dari tahun ke tahun, membuat permainan Persib mudah dipatahkan. Janur memaksa menggunakan pola permainan yang sama meskipun materi pemain sudah tidak sebagus dulu. Kini praktis yang dijadikan andalan utama adalah kecepatan Febri Haryadi pun dengan catatan bahwa sejak ISC 2016, Febri sudah mudah dihadang lawan;
  4. Regulasi wajib menurunkan 3 pemain muda maksimal 1 babak. Sebagai pelatih yang jarang memberikan kesempatan kepada pemain muda, Janur kesulitan mengatasi hal ini. Jika saja tahun lalu, Persib masih memiliki skuad ideal selayaknya tahun 2014, bukan tidak mungkin Febri pun tidak akan diberikan menit bermain;
  5. Kehilangan kepercayaan terhadap pemain. Bahkan pada saat emergency dengan striker Sergio Van Dijk cedera panjang dan striker muda Angga Febriyanto masih demam panggung, ia enggan menurunkan Carlton Cole. Alasannya selalu sama kondisi fisik. Tantan pun jarang diberikan kesempatan bermain. Ia lebih percaya pada Matsunaga Shohei yang terlambat panas dan Raphael Maitimo yang dianggap pemain serba bisa atau multi posisi (Kedua pemain ini memang pilihan Janur sendiri). Kepercayaan pula yang membuatnya sekarang tidak segan membangkucadangkan pemain yang sekali berbuat kesalahan, sehingga sering kali menampilkan formasi yang tidak ideal karena pemain yang dibangkucadangkan tidak memiliki pengganti ideal;
  6. Terlalu mengandalkan Febri Haryadi, sedangkan pemain timnas U-22 ini belum sepenuhnya matang. Febri selalu mengulangi kesalahan yang sama yaitu telat dalam membuat keputusan.

Alarm penampilan Persib yang anjlok sebenarnya sudah berbunyi sejak pramusim Liga 1. Pemilihan pemain yang tidak seimbang dan kekalahan atas Bali United, imbang lawan PSMS seakan sudah menyiratkan bahwa jangan berharap banyak untuk saat ini.

All the good things must come to an end. Seandainya Janur tidak menerima tawaran untuk mengganti Dejan Antonic mungkin ia akan tetap diingat sebagai pelatih yang membawa masa keemasan Persib setelah 20 tahun tanpa gelar juara. Memang rasanya kejam, jika kita melupakan begitu saja masa lalu, tapi Janur seharusnya sudah menyadari bahwa puncak tertinggi itu telah ia raih bersama tim yang ia bela sebagai pemain dan pelatih.

Semua ada akhirnya, Persib kini akan memasuki masa transisi menuju masa baru. Kesabaran para bobotoh merupakan salah satu hal utama dalam masa peralihan ini, jangan sampai seperti era Dejan Antonic. Ketegasan manajemen dan kejelian manajemen pun sangat dibutuhkan sehingga bisa menempatkan sosok pengganti yang pas.

Anyway, Haturnuhun Coach Janur telah memberikan kami gelar juara.

Format Baru AFC Cup : Banyak Juaranya.

AFC Cup 2017 merupakan AFC Cup edisi ke – 14. Kompetisi antar negara level 2 yang diselenggarakan oleh AFC untuk tahun ini menggunakan format baru. Pengelompokan klub berdasarkan zona wilayah, dan ada 3 final sesuai zona wilayah masing – masing merupakan perubahan paling mencolok di AFC Cup 2017.

Perubahan pertama, pengelompokan klub berdasarkan wilayah. AFC membagi klub ke dalam 5 zona yaitu :

  1. zona asia barat (West Asia) yang berisikan klub dari negara Irak, Suriah, Jordania, Bahrain, Libanon, Oman , Yaman , Kuwait dan Palestina;
  2. Zona Asia Tengah ( Central Asia ), negara yang tergabung ke dalam zona ini adalah Tajikistan, Turkmenistan, Kyrgyzstan, dan Afghanistan;
  3. Zona Asia Selatan (South Asia) yang dihuni klub dari negara India, Maladewa, Bangladesh, Bhutan, Nepal, Pakistan dan Sri Lanka;
  4. Zona Asia Timur ( East Asia), yang dihuni Korea Utara, Taiwan, Mongolia, Guam, dan Macau;
  5. Zona Asean yaitu zona negara – negara Asia Tenggara

Dengan pemisahan klub berdasarkan zona ini pertemuan dua klub dari dua zona berbeda hanya terjadi pada babak Playoff pertama saja. Play off kedua sudah memisahkan klub sesuai zona masing – masing.

Pada babak grup AFC Cup 2017 Grup A – C diisi oleh klub zona asia barat, Grup D diisi oleh klub zona asia tengah, Grup E zona Asia Selatan, Grup F – H diisi klub dari zona asia tenggara, sedangkan zona asia timur menempati Grup I.

Jadi tidak ada lagi pertemuan antara klub Indonesia dengan klub Maladewa dengan format baru ini.

Perubahan Kedua, Setiap zona membuat semifinal dan final masing – masing terkecuali zona asia timur, asia tengah dan asia selatan karena hanya punya satu grup saja di babak grup, maka tiga zona ini akan bertanding di semifinal antar zona melawan juara zona asia tenggara.

Zona asia barat pada babak semifinal diisi juara grup A, Juara dan Runner up Grup B, dan Juara Grup C. Fase semifinal telah usai dengan hasil juara bertahan Al Quwa Al Jawiya Irak berhadapan dengan Al Wahda Suriah di babak final Asia Barat.

Zona asia tenggara yang diwakili 11 klub dari Filipina, Malaysia, Singapura, Kamboja, Myanmar dan Vietnam tersebar di Grup F, G, dan H juga telah menyelesaikan fase semifinal zona. Mereka yang bertanding di semifinal adalah juara dan runner up grup F, Juara grup G, dan Juara grup H. Pertandingan final zona asia tenggara mempertemukan Ceres Negros Filipina dengan Home United Singapura.

Setiap pertandingan final menggunakan sistem Home and Away.

Screenshot_4

Sedangkan klub dari zona asia timur, asia tengah dan asia selatan yang telah lolos dari babak grup ke fase semifinal antar zona adalah Bengaluru India, Istiklol Tajikistan, dan April 25 Korea Utara. Ketiga klub menunggu juara zona asia tenggara untuk kemudian bertarung di semifinal antar zona.

Setiap juara di semifinal akan bertanding di final antar zona dengan sistem home and away.

Pemenang final antar zona pada akhirnya akan bertemu dengan juara zona asia barat pada pertandingan bertajuk FINAL AFC CUP pada 4 November 2017 untuk menentukan juara sejati. Pertandingan final ini akan digelar satu kali.

Itulah dua perubahan mendasar pada AFC Cup 2017.

sumber : wikipedia.org

The Scape Goat : Carlton Cole

The ex West Ham’s striker had played in 3 matches ( 1 as starting, 2 as substitute player) collect 106 minutes, create 3 goal scoring chances, while the league already played 7 matches, still no goal from this “giant” striker. Unfit, lack of stamina is always the reason why the coach didn’t play him.

As Persib’s coach, Djajang Nurjaman, critisized by the fans because of the team’s bad performance, lack of creativity, and can’t find the ideal formation, he and the management put the blame on Carlton Cole as evasive maneuver.

Manajer Persib Bandung, H.Umuh Muhtar dan Pelatih Djajang Nurjaman secara bergantian melakukan usaha untuk menenangkan bobotoh, fans Persib Bandung, usai PBFC berhasil menahan imbang Persib di pekan ke – 7 Liga 1 Indonesia.

Pertama, seusai pertandingan melawan PBFC, Djanur sapaan akrab pelatih Persib mengungkapkan beberapa alasan kenapa Persib hanya mampu meraih 1 poin di Gelora Bandung Lautan Api pada Sabtu (20/5). Salah satu yang menggelikan tentunya menyalahkan Michael Essien karena gagal mengeksekusi penalti ke gawang PBFC.

Djanur beralasan bahwa Michael Essien berkeras mengambil penalti padahal seharusnya Vladimir Vujovic yang menendang penalti. Dia mengungkapkan ini semua sudah tercantum pada game plan Persib. Alasan ini bisa saja diterima namun menimbulkan pertanyaan yaitu kenapa Michael Essien dibebaskan begitu saja mengambil tugas pemain lain? Apakah Atep sebagai kapten tidak ditegur karena pemain tidak mengikuti arahan pelatih? Kenapa alasan ini tidak mengemuka ketika Essien sukses melakukan penalti ke gawang Persipura? Tentunya hanya Djanur yang tahu.

Michael Essien, another world class player in Persib, also received sharp critic from the coach when he failed to score penalty last week. He was accused didn’t follow the team order, because as Djanur said that before the match last week he already decided which player become  penalty, corner kick and free kick’s executor. However that was not Essien first penalty. When Persib met Persipura in week 5, he scored penalty and the coach was happy.

Kedua, performa Persib minggu lalu tetiba menghadirkan ancaman manajer kepada Carlton Cole. Padahal striker bertubuh jangkung ini tidak dimainkan. Manajer menganggap fisik dan stamina Cole sulit untuk ditingkatkan dan karenanya tidak akan dimainkan. Ia merasa membeli kucing dalam karung, karena tidak tahu fisik dan stamina Cole ada di titik terendah. Hal yang aneh tentunya, karena informasi soal Cole kini bisa diakses dimana saja. Sepertinya pak manajer jarang googling.

carlton-cole-dapat-ancaman-lagi-dari-manajer-persib-17341937_thumb

Yesterday, the manager claimed that Carlton Cole in Persib just for half season, because as the coach said his physic and stamina can’t be improved anytime soon.

Tentunya semua bobotoh tahu, alasan dari pelatih dan manajer ini hanyalah sebuah penyangkalan atas buruknya penampilan Persib sampai dengan pekan 7 Liga 1. Memang Persib belum mengalami kekalahan dan sementara runner up klasemen.  Namun penampilan tim memang mengkhawatirkan. Sampai dengan saat ini Djanur belum memiliki formasi ideal dan dalam dua pertandingan terakhir ia tidak pernah melontarkan senyum sekalipun Persib mencetak gol.

Statistik Persib dalam lima pertandingan terakhir membuat waswas. Dalam empat pertandingan terakhir baik shot off target dan on target lawan selalu lebih tinggi. Jumlah corner kick lawan selalu lebih tinggi. Memang saat melawan PBFC, statistik ini mulai naik tapi hanya tiga pemain lawan saja bisa menggoyang hebat pertahanan Persib. Terlebih penampilan pemain ketika melawan PBFC seperti kehabisan bensin.

Menurut manajer, Pertandingan pekan ke – 8 melawan Bali United akan menjadi tolok ukur Djanur apakah stay or out dari Persib. Namun sampai hari Rabu nanti, 31 Mei 2017, rasanya keduanya akan tetap mengumbar alasan – alasan tidak perlu.

 

 

Persib : In pemain we trust..Janur..

5 poin dari 3 pertandingan Liga 1 hasil 2 kali imbang dan 1 kali menang, menempatkan Jajang Nurjaman (Janur), pelatih Persib di kursi panas. Ditambah dengan usulan perubahan jadwal yang diterima PT.Liga Indonesia Bersatu (PT.LIB), sehingga membuat 5 pekan awal Liga I memasukkan PS TNI dan Persegres, Persib seharusnya sudah mengumpulkan 7 poin seandainya laga melawan PS TNI di pekan 2 Liga I tidak berakhir imbang.

Memang Persib belum mengalami kekalahan, jika sudah, kursi pelatih tentunya akan merah membara. Hasil imbang di pekan 2 melawan PS TNI, telah membuat Janur sasaran kritikan pedas terutama dari bobotoh.

Ada beberapa hal yang nampaknya masih belum ditemukan solusi idealnya oleh Janur :

Pertama, regulasi harus menurunkan 3 orang pemain berusia maksimal 23 tahun minimal selama 45 menit atau 1 babak. Pada periode pertama kepelatihannya (2012 – 2016), Janur bukanlah pelatih yang sering mempromosikan pemain muda. Ia lebih suka memasang pemain yang sudah jadi, sudah berpengalaman. Ketika ia memegang posisi pelatih, Jajang Sukmara merupakan salah satu pemain muda berbakat Persib. Dipercaya oleh pelatih sebelumnya, Drago Mamic. Tetapi ketika Janur masuk, Jajang Sukmara kehilangan tempatnya di tim utama.

5907b6a080edf-gelandang-persib-bandung-febri-haryadi_663_382

Saat membawa Persib juara Liga Super Indonesia tahun 2014, Janur hanya memberikan porsi jam bermain sedikit kepada para pemain muda ketika itu seperti, M.Agung Pribadi, dan Rudiyana.

Periode kedua kepelatihannya ( 2016 – ….. ) , ia mulai mau memasang pemain muda. Febri “bow” Haryadi mendapatkan banyak kesempatan bermain karena Bow menempati posisi winger sesuai dengan skema permainan Janur yang lebih banyak mengandalkan lebar lapangan. Juga karena saat ia mengambil kembali tampuk pelatih dari Dejan Antonic, Persib kekurangan winger di sisi kanan setelah ditinggalkan M.Ridwan.

Tetapi dengan regulasi wajib pemain muda di liga I mau tidak mau ia harus menurunkan pemain muda. Sehingga ia memberikan kepercayaan kepada Gian Zola, Henhen Herdiana, Angga Febriyanto dan Ahmad Basith. Dua nama awal lebih sering diturunkan. Tetap saja Janur terlihat masih ragu dan kurang percaya dengan pemain muda. Regulasi minimal bermain 45 menit untuk pemain muda diterapkan oleh Janur sehingga sering sebelum kick off babak kedua dimulai Zola dan Henhen diganti pemain berusia lebih senior.

Sejauh ini Gian Zola sudah tampil 111 menit, Henhen 135 menit, Ahmad Basith 45 menit, Angga Febriyanto 36 menit, Fulgensius Billy Keraf 62 menit dan Febri Haryadi 180 menit.

Dua kali pergantian pemain muda ini bisa dibilang agak kurang tepat karena mereka diganti ketika tengah on fire. Gian Zola diganti di babak kedua ketika Persib menghadapi Arema, kemudian Billy Keraf diganti di menit 74 saat Persib menghadapi PS TNI.

Kedua, belum ditemukannya susunan sebelas pemain yang ideal. Jika saja, tanpa ada regulasi pemain muda rasanya susunan starting eleven tetap sudah dimiliki Janur. Sehingga Janur lebih mengandalkan kepada kemampuan individu setiap pemain.

Melihat di lini pertahanan, dari mulai sektor penjaga gawang sudah memiliki pilihan tetap, I Made Wirawan (3 pertandingan 270 menit). Sedangkan empat pemain bertahan, duet centre back dipercayakan kepada Vladimir Vujovic (3 pertandingan 270 menit)  dan Ahmad Jufriyanto (3 pertandingan 270 menit). Sedangkan disektor full back, terlihat Janur agak kebingungan karena terimbas peraturan pemain muda. Ia akan memasang Henhen (3 pertandingan 135 menit) di babak pertama dan Supardi Natsir (3 pertandingan 180 menit) di babak kedua untuk di full back kanan. Sedangkan di kiri Tony Sucipto (2 pertandingan 180 menit) sudah diturunkan dalam dua pertandingan. Pada pertandingan ketiga ia diistirahatkan dan perannya diganti oleh Supardi juga Wildansyah (1 pertandingan 45 menit).

Ditengah yang “banjir” pemain dengan tipe sama, Hariono diberikan kepercayaan turun di 2 pekan awal selama 180 menit full. Dedi Kusnandar diberikan kepercayaan di pekan 1 dan 3 dengan total 113 menit bermain. Kim Jeffrey Kurniawan tampil di pekan 2 selama 90 menit. Raphael Maitimo bermain di pekan 3 bermain 90 menit, Michael Essien diturunkan dalam setiap pertandingan dengan total menit bermain 136 menit. Ahmad Basith bermain dipekan 2 selama 45 menit.

5f5b3b3b-74a8-4782-8006-b5a60af92648_169

Sedangkan di sektor gelandang serang dan penyerang, ada 3 pemain yang menjadi pilihan yaitu Atep, Febri Haryadi dan Matsunaga Shohei. Atep bermain di 3 pertandingan dengan total 225 menit. Febri 2 pertandingan mengumpulkan 180 menit. Matsunaga Shohei bermain di 3 pertandingan sebanyak 225 menit. Gian Zola bermain pada dua pertandingan dengan 111 menit bermain, Billy Keraf turun di pekan 2 dan 3 dengan 62 menit bermain. Tantan diturunkan di pekan ketiga selama 76 menit. Angga Febriyanto pekan kedua selama 36 menit (cedera), dan Carlton Cole bermain di dua pertandingan mengumpulkan 61 menit bermain.

Dengan melihat kepada fakta tersebut, terlihat Janur masih terus merotasi skuadnya untuk menemukan komposisi ideal sambil beradaptasi dengan regulasi pemain muda di Liga I.

Ketiga, belum optimalnya beberapa pemain. Hal ini sangat kentara pada diri Matsunaga Shohei. Pemain asal Jepang ini semenjak datang ke Persib seperti kehilangan sentuhannya seperti yang pernah ia tampilkan bersama Persiba Balikpapan. Padahal Matsunaga sudah bergabung sejak Piala Presiden 2017, namun penampilannya tidak kunjung membaik. Pada pekan kedua melawan PS TNI, ia sangat mudah dihentikan oleh pemain lawan bahkan jarang pula mengancam gawang lawan. Ia adalah pilihan Janur sendiri dan ditunjukkan dengan selalu memberikan tempat bagi Matsunaga di lapangan meski datang dari bangku cadangan.

Dua pemain yang menjadi sorotan di Persib musim ini, Michael Essien dan Carlton Cole, belum sepenuhnya dipercaya oleh Janur dengan alasan stamina yang masih harus diperbaiki. Memang kedua pemain sempat absen beberapa bulan dari lapangan hijau sebelum bergabung dengan Persib. Tetapi diluar itu, sepertinya memang Janur masih enggan memberikan kepercayaan penuh kepada kedua ditambah sekali lagi regulasi wajib pemain muda. Atau ini tanda – tanda Janur masih grogi menangani dua pemain eks liga Inggris tersebut? seperti yang pernah ia kemukakan ketika Essien datang.

Jika melihat pada pemain berstatus marquee player di klub lain, apa yang ditunjukkan oleh Michael Essien dan Carlton Cole (non marquee player) masih kurang namun tidak terlepas dari kesempatan yang diberikan Janur kepada mereka selama 3 pekan Liga I.

persib-arema-imbang.jpg

Khusus untuk Carlton Cole, meskipun memiliki posisi striker murni, tetapi Janur saat ini lebih memilih penyerang bertipe forward seperti Atep, Matsunaga Shohei, Tantan dan “memaksa”  Febri sebagai goal getter. Janur masih menunggu Sergio Van Dijk (SVD) sembuh karena memang telah terbiasa bekerjasa sama dengan SVD. Sejauh ini baru Atep yang subur dengan 2 gol, sedangkan gol persib lain disumbang Essien 1 gol dan Febri 1 gol.

Keempat, last but not least. Janur merupakan seorang pelatih yang jarang melakukan perubahan. Sejak membawa Persib meraih gelar Liga Super Indonesia tahun 2014, skema permainannya selalu sama. Kekuatannya ada pada kemampuan individu para winger. Seiring dengan waktu, meski masih bisa diandalkan tetapi pelatih lawan sudah demikian paham dengan gaya permainan ini. Febri ketika tampil di Indonesia Soccer Championship tahun 2016, masih sulit dihentikan lawan. Tetapi sekarang, lawan sudah tahu bagaimana menghambat Febri. Ini merupakan salah satu bukti Janur harus merubah gaya permainannya.

Jarang melakukan perubahan juga ditunjukkan dalam pergantian pemain. Henhen yang selalu diganti Supardi, membuat lawan sudah dapat mengantisipasi apa yang terjadi di babak kedua.

Baru dipekan 3 saat menghadapi Sriwijaya, Janur sedikit berani merombak lini depan dengan menurunkan Tantan dan terbukti berhasil. Gerakan – gerakan Tantan berhasil membuat pertahanan Sriwijaya lengah.

Pekan ini di awal bulan Mei, Persib akan menjalani jadwal padat. Rabu (03/05) tandang ke Gresik dan Minggu (07/05) kembali ke Bandung untuk menghadapi Persipura. Kunci keberhasilan Janur dalam dua pertandingan tersebut adalah apa yang ia tunjukkan pada saat melawan Sriwijaya yaitu mendobrak pola tetapnya.

Penuh dengan pemain mumpuni, Janur harus segera menetapkan pola permainan baru yang efektif. Regulasi pemain muda bukanlah sesuatu yang sulit untuk klub karena klub yang lain pun bisa, tinggal keberanian dan kepercayaan yang harus dimiliki Janur karena tanpa itu, kursinya akan semakin panas.