World Cup 2018 : Ball posession isn’t everything

Arab Saudi, Peru dan Maroko menjadi kloter pertama negara – negara yang kandas di Piala Dunia 2018. Dalam 2 pertandingan ketiga negara tersebut mengalami kekalahan dan dipastikan tidak akan lolos ke babak 16 besar.

Gagal lolos bagi ketiga negara tersebut cukup menyakitkan karena berdasarkan statistik pada pertandingan kedua setiap negara yakni Arab Saudi vs Uruguay, Peru vs Prancis dan Maroko vs Portugal, mereka yang kalah menguasai jalannya pertandingan dengan penguasaan bola lebih dari 50 %.

Selain lawan yang mampu memaksimalkan satu peluang yang dimiliki untuk menciptakan gol ada beberapa faktor lagi yang mengakibatkan penguasaan bola banyak namun sia – sia, check this video analysis

subscribe my youtube channel ya

Advertisements

VAR dan Kegalauan Wasit

Video Assistant Referee ( VAR ), teknologi yang diharapkan meredam munculnya pertanyaan soal keputusan wasit dilapangan hijau kini untuk pertama kalinya digunakan dalam turnamen Piala Dunia. Pada Piala Dunia 2018 ini, penonton disuguhkan dengan pemandangan ruangan VAR sebelum setiap pertandingan dimulai.

VAR pertama kali terlihat perannya ketika pertandingan Grup C antara Prancis vs Australia. Gol penalti Antoine Griezmann ke gawang Australia diberikan wasit setelah melihat tayangan ulang video. Hanya sehari berselang, dalam pertandingan Grup D antara Islandia vs Argentina, terlihat beberapa handball didalam kotak penalti oleh pemain Islandia dan Argentina, namun wasit tidak memutuskan memberi hukuman pun tidak sekali meminta review video.

TOPSHOT-FBL-WC-2018-MATCH5-FRA-AUS

Jika mengacu pada keterangan penggunaan VAR dari situs http://www.theifab.com , satu prinsip yang pasti adalah VAR tidak mengganggu kewenangan wasit dan VAR hanya digunakan setelah wasit mengambil keputusan. Setiap keputusan di lapangan hanya wasit yang berhak mengeluarkannya. Penggunaan VAR sendiri adalah pada kejadian – kejadian berikut yang dianggap dapat mengubah jalannya pertandingan (Match changing):

a. Keputusan mengesahkan gol;

b. Keputusan memberikan penalti atau tidak;

c. Kartu merah langsung (bukan kartu merah akumulasi 2 kartu kuning);

d. Kepastian Identitas (agar wasit tidak salah menghukum pemain).

VAR sendiri bukan pengambil keputusan. Asisten wasit yang berada diruangan VAR hanya diperbolehkan merekomendasikan wasit meninjau tayangan ulang pada 4 kejadian tersebut. Kembali ke atas bahwa setiap keputusan ada ditangan wasit.

Perlu diingat dalam keputusan gol atau tidak gol, proses terjadinya gol (diluar terjadi pelanggaran) meskipun wasit salah mengambil keputusan tidak boleh diulangi dan VAR tidak dilibatkan. Contoh satu situasi corner kick/tendangan penjuru berujung pada gol padahal semestinya bukan tendangan penjuru tetapi lemparan ke dalam / Throw in. Wasit tidak diperkenankan mengubah keputusan itu.

Pasal 5 Laws of the game, memastikan hal tersebut. Bahwa seorang wasit tidak boleh mengubah keputusan sekalipun ia menyadari kemudian (setelah keputusan diambil dan permainan dilanjutkan) bahwa keputusannya salah. Oleh karena itu pasal 5 ini memberikan pengertian yakni dalam memutuskan satu gol sah atau tidak, wasit hanya akan melihat apakah terjadi offside atau pelanggaran lainnya. Hal ini juga berlaku pada 3 situasi penggunaan VAR lainnya seperti yang dijelaskan diatas.

VAR merupakan jawaban saat ini yang ditawarkan oleh FIFA (badan sepakbola dunia) karena banyaknya protes atas satu keputusan wasit. Kontroversi yang muncul pasca satu pertandingan coba diredam dengan penggunaan teknologi. Hal ini juga sudah dilakukan sebelumnya lewat Goal Line Technology (Teknologi Garis Gawang). 

Namun berbeda dengan teknologi garis gawang yang hanya memastikan apakah bola sudah lewat dari garis gawang atau tidak, penggunaan VAR lebih rumit dan tujuan untuk meredam kontroversi justru menimbulkan kontroversi baru. Salah satunya melalui prinsip bahwa ketepatan lebih diutamakan dibandingkan kecepatan. Sehingga tidak ada acuan pasti berapa lama seorang wasit boleh meninjau tayangan ulang VAR. Apakah 1 menit? 2 menit? 3 menit? tidak ada kepastian karena diharapkan seorang wasit teliti.

Ketiadaan acuan pasti soal waktu tersebut tentunya memiliki dampak negatif bagi para pemain. Kita sering melihat bahwa ketika satu alur permainan tiba – tiba dihentikan seringkali alur tersebut rusak.

VAR rasanya belum bisa menjadi jawaban absolut untuk meniadakan protes atas satu keputusan wasit. Selama kesalahan keputusan wasit masih dilindungi dalam Laws Of The Game , kemudian VAR hanyalah sebuah rekomendasi, dan keputusan mutlak ditangan wasit maka teknologi ini tidak akan meredam kontroversi.

Memang kewenangan wasit pun tidak bisa digugat lebih jauh, karena apa gunanya jika terlalu banyak “wasit”. Sejauh ini pun tidak ada sanksi pasti jika wasit memutuskan misal satu gol sah padahal menurut VAR tidak. Penggunaan VAR masih akan tetap direview karena saat ini masih dalam tahap pengembangan. Namun pastinya ini memberikan beban lebih berat kepada seorang wasit karena justru tekanan kepada seorang wasit pasca pertandingan bisa jauh lebih besar, jika setelah melihat VAR pun keputusannya dirasa merugikan satu pihak. Lalu FIFA pun berusaha “cuci tangan” dengan belum melakukan amandemen pada Laws Of The Game karena setelah wasit meniup peluit panjang 2×45 menit setiap hasil tidak akan diubah dan apapun ketidakpuasan yang timbul akibat keputusan wasit akan tetap menjadi beban wasit tersebut.

Satu hal yang perlu FIFA sadari adalah kontroversi selepas pertandingan akan selalu terjadi karena sepakbola bukan hanya 11 vs 11.

 

 

 

AFC Cup : Satu Patah, Satu Masih (bisa) Melaju

Bali United menjadi tim ketiga dari Indonesia yang gagal melaju ke babak 16 besar sepanjang keikutsertaan Indonesia pada kompetisi “level 2” setelah Liga Champions Asia.  Kehilangan topskor, Sylvano Comvalius juga playmaker Marcos Flores terasa menurunkan kekuatan Serdadu Tridatu, julukan Bali United musim ini. Persiwa Wamena pada tahun 2010, Persibo Bojonegoro pada tahun 2013 dan kini Bali United meskipun nasib tim asuhan Widodo C Putro ini lebih baik dibandingkan kedua klub tersebut karena memiliki poin 5 dan berada diposisi runner up Grup H.

Namun sejak musim lalu, Piala AFC menerapkan sistem yang berbeda. Dengan menerapkan sistem zona, maka tidak lagi pencampuran klub di fase grup (contoh Asia Tenggara dengan Asia Barat). Hingga menerapkan semifinal dan final Zona dan antar zona.

Sistem ini membuat 3 grup yang dihuni klub – klub Asia Tenggara hanya meloloskan para juara grup dan 1 runner up grup terbaik ke babak selanjutnya yaitu semifinal zona Asia Tenggara dan Final Zona Asia Tenggara.

Persija yang saat ini berada diperingkat pertama Grup H memiliki peluang besar lolos ke babak selanjutnya dengan catatan tidak kehilangan poin pada pertandingan terakhir melawan Tampines Rovers 24 April mendatang. Persija saat ini memiliki poin 10 dan unggul head to head dari pesaing terdekat mereka yaitu Song Lam Nghe An Vietnam (SLNA) ( 1-0 & 0-0) juga Johor Darul Ta’zim Malaysia (JDT) (0-3 & 4-0).

Skenario yang bisa terjadi agar Persija lolos adalah jika pada pertandingan terakhir menang lawan Tampines Rovers. Kedua, mereka bisa lolos jika pada pertandingan terakhir imbang dan dipertandingan lainnya SLNA dan JDT juga berbagi skor imbang namun dengan catatan keunggulan selisih gol tetap terjaga.

Tetapi jika Persija kalah, maka akan menggantungkan harapan kepada JDT untuk mengalahkan SLNA. Jika Persija sampai harus turun ke peringkat kedua andai kalah, maka dipastikan tidak akan lolos karena peringkat kedua terbaik saat ini adalah Home United Singapura yang memiliki poin sama 10 namun lebih produktif dengan 13 gol meskipun pada pertandingan terakhir Home United kalah. Bahkan Jika pada akhirnya Home United di Grup F menggeser Ceres Negros Filipina dari posisi pertama, maka jatah runner up terbaik akan menjadi milik Ceres Negros.

 

Screenshot_83

Screenshot_82

sumber : wikipedia

Sejak tahun 2010 ketika Indonesia mendapatkan dua jatah wakil di AFC Cup, sejarah mencatat setidaknya ada 1 klub yang lolos ke babak selanjutnya. Pada tahun 2010 ketika Persiwa Wamena kandas, Sriwijaya FC yang maju ke babak 16 besar. Tahun 2013, Semen Padang melaju ke babak 16 besar meski Persibo gagal.

Piala Presiden : No more Secret

Piala Presiden 2018 tuntas sudah pada akhir pekan lalu. Persija tampil sebagai juara setelah mengalahkan Bali United 3-0 lewat penampilan impresif striker baru mereka asal Kroasia, Marko Simic.

Kompetisi pramusim yang pada postingan sebelumnya saya tulis terlalu serius ini, setidaknya tidak menimbulkan seorang pemain cedera parah, hanya kelelahan fisik saja. Saking seriusnya, para pelatih cenderung menurunkan skuad terbaiknya dalam setiap pertandingan. Pramusim yang bertujuan untuk mencoba seluruh skuad, menyiapkan semua pemain menjelang Liga 1 2018, dari sudut pandang persiapan tim secara menyeluruh rasanya kurang mengenai target.

Kelemahan lain dari kompetisi pramusim ini, jika boleh dibilang kelemahan, adalah tidak ada lagi “rahasia” antar klub karena cenderung menurunkan skuad terbaik untuk meraih prestasi pada piala tahunan ini.

Sebagai contoh, Bali United. Klub yang musim lalu di Liga 1 2017 menjadi runner up, dalam Piala Presiden ini terlihat mengalami penurunan kualitas materi pemain. Nick Van der Velden salah satu pemain asing yang dipertahankan, dalam Piala Presiden ini difungsikan sebagai pemain serba bisa. Musim lalu ia sering ditempatkan di sisi kiri dalam formasi 4-2-3-1. Tapi sekarang ia ditempatkan sebagai gelandang bertahan sekaligus playmaker atau lebih sebagai deep lying playmaker. Tetapi juga ia ditugaskan untuk menutup lini belakang ketika dua centre back meninggalkan celah. Bahkan di pertandingan final, ketika Demerson diganti, Van der Velden menempati posisi centreback.

Lini depan yang ditinggalkan oleh topskor Liga 1 2017, Sylvano Comvalius, cukup kesulitan. Ilija Spasojevic, pemain naturalisasi, belum terlihat mampu menggantikan peran tersebut. Ilija memang memiliki kemampuan menahan bola tetapi ia terlalu sering jatuh (body balance kurang bagus). Jika musim lalu Van der Velden  diposisikan sebagai pelayan Comvalius dengan umpan – umpannya, musim ini Bali United dikarenakan perubahan posisi yang dilakukan tidak memiliki keunggulan tersebut.

Sriwijaya FC dengan materi pemain bintang mereka terlihat Overload. Namun Rahmad Darmawan, sebagai pelatih, memiliki pemain yang akan diandalkan untuk menempati satu posisi salah satunya Makan Konate. Meski masih memiliki gelandang kreatif lain seperti Esteban Vizcarra, namun Makan Konate adalah yang utama.

Dengan materi skuad utama dan cadangan yang mumpuni, belum terlihat ada chemistry yang bagus diantara mereka.

Piala Presiden 2018 menelanjangi kelemahan klub sejak awal sebelum liga dimulai. Sebetulnya ini merupakan kerugian, meski pada liga nanti pelatih mencoba mengotak – ngatik kembali taktik, namun dengan dasar gaya permainan di Piala Presiden ini tentunya kekuatan satu klub dapat terbaca dengan baik.

Bagusnya seperti pada tulisan yang lalu, agar gelaran Piala Presiden ini dijadikan kompetisi resmi saja yang mendampingi Liga 1. Memang pada tahun ini, Piala Indonesia akan ditandingkan kembali namun tidak ada salahnya jika tahun depan ada 2 kompetisi pendamping seperti halnya FA Cup dan EFL Cup di Inggris.

Kompetisi pramusim lebih baik diserahkan kembali kepada klub, biar klub membuat kompetisi mereka sendiri. Tahun ini saja kita melihat Suramadu Cup Madura United dan Asian Cup PSM Makassar yang mampu menghadirkan klub luar negeri. Karena jika diserahkan kembali kepada PSSI, maka nuansa serius itu akan selalu ada, dan klub akan sejak dini memperlihatkan kekuatan dan kelemahan mereka.

Bagi Marko Simic yang tampil sebagai topskor Piala Presiden 2018, Liga 1 2018 akan menjadi sesuatu yang lebih berat karena setiap klub sekarang sudah sadar dengan kemampuannya.

 

AFC Cup atau Piala Presiden??

Tidak salah nampaknya ketika pada akhir bulan Januari yang lalu, pelatih PSM Makassar asal Belanda, Robert Rene Alberts, mengkritik penyelenggaraan Piala Presiden 2018 karena dianggapnya terlalu serius untuk turnamen pra musim yang ditujukan untuk mempersiapkan tim menjelang Liga 1 tahun 2018.

Hasil dua wakil Indonesia pada pertandingan perdana AFC Cup 2018 mengonfirmasi kritikan tersebut. Bali United kalah di Stadion I Wayan Dipta oleh Yangon United Myanmar dan Persija kalah oleh Johor Darul Ta’zim (JDT) Malaysia. Keduanya menderita kebobolan 3 gol.

Pada pertandingan melawan Yangon United, Bali United menyimpan kekuatan terbaik mereka, karena sehari kemudian setelah pertandingan AFC Cup mereka harus melawan Sriwijaya FC pada leg II semifinal Piala Presiden.

 

Hal yang sama dilakukan oleh Persija ketika tandang ke markas JDT. Tampil tanpa skuad terbaik karena seperti diungkapkan oleh pelatih Stefano Cugurra para pemain mereka kelelahan karena jadwal padat Piala Presiden 2018.

Jadwal marathon pada babak semifinal Piala Presiden 2018 dijalani oleh kedua tim. Bahkan untuk Bali United, sejak babak penyisihan mereka harus membagi tim dan memiliki 2 pelatih agar bisa tampil baik di Playoff Liga Champions Asia dan Piala Presiden.

Bali United tampil di semifinal Leg 1 melawan Sriwijaya pada tanggal 10 Februari, kemudian 13 Februari menghadapi Yangon United, dan 14 Februari menjalani Leg II semifinal Piala Presiden. Sedangkan Persija sebelumnya menghabiskan energi di dua leg semifinal Piala Presiden pada 10 dan 12 Februari 2018.

Kedua klub lebih memprioritaskan meraih prestasi turnamen pra musim Piala Presiden. Mungkin pertimbangan mendapatkan kas keuangan menjadi alasan karena juara akan mendapatkan 3,3 Milyar Rupiah. Ditambah dengan match fee yang didapatkan dengan nilai uang kalah, imbang, dan menang yang berbeda. Dengan faktor tersebut, sah saja memang jika memprioritaskan Piala Presiden. Tetapi jangan dilupakan, bahwa untuk tampil di AFC Cup adalah sebagai perwakilan Indonesia yang telah didapatkan susah payah dengan berprestasi bagus pada Liga 1 2017.

Memang benar apa yang dikatakan oleh Robert Rene Alberts bahwa Piala Presiden yang seharusnya merupakan pertandingan ujicoba menjadi terlalu serius. Bahkan ia sendiri khawatir para pemainnya mengalami cedera sebelum kompetisi sebenarnya yaitu Liga 1 2018 dimulai. Jika seperti itu, maka manfaat Piala Presiden untuk membantu klub mempersiapkan diri menjelang Liga 1 akan mubazir.

Andai saja berdalih masih ada 5 pertandingan lagi di AFC Cup untuk Bali United dan Persija sehingga pertandingan perdana “dilepas” dengan tidak menampilkan kekuatan terbaik adalah pemikiran terbalik. Karena mereka membawa nama negara dalam ajang kompetisi antar klub Asia ini.

PSSI lebih baik mempertimbangkan ulang penyelenggaraan turnamen pra musim. Bagusnya sih, turnamen pra musim yang serius ini dimasukkan saja ke dalam agenda resmi kompetisi yang dilaksanakan ketika Liga 1 sudah bergulir dan statusnya sebagai turnamen pendamping liga 1. Turnamen pra musim sudahlah tidak perlu dikoordinir oleh PSSI, karena tahun ini pun klub membuat turnamen pra musim mereka sendiri bahkan lebih memiliki greget karena mengundang tim dari luar negeri seperti Suramadu Cup.

 

Timeline Singkat Persib Liga 1 Tahun 2017

  1. Pemain Baru : Supardi, Wildansyah, Dedi Kusnandar, Matsunaga Shohei (Jepang), Michael Essien ( Ghana /Marquee player), Carlton Cole ( Inggris), Raphael Maitimo, Fulgensius Billy Keraf, Iman Arif Fadhillah

2. Mempromosikan pemain muda : Gian Zola, Ahmad Basith, Puja Abdillah, Agung Mulyadi, Angga Febriyanto.

3. Pelatih Jajang Nurjaman mundur dari kursi kepelatihan, pasca kalah dari Bhayangkara FC, 5 Juni 2017.

4. Pertengahan bulan Juni 2017, Sergio Van Dijk dinyatakan tidak bisa tampil membela Persib tahun ini karena cedera berkepanjangan

5. Manajer, Umuh Muchtar mengkambinghitamkan Carlton Cole karena performa Persib terpuruk.

6. Melepas Carlton Cole diakhir putaran pertama. Mengontrak dua pemain baru yaitu Ezechiel N’Douassel (Chad) dan Purwaka Yudhi.

7. Pada akhir putaran pertama, Persib berada di peringkat 14.

7. Emral Abus ditunjuk menjadi pelatih Persib pada awal bulan September 2017.

8. Bulan Oktober 2017, Persib meminjamkan Jajang Sukmara, Ahmad Basith, Puja Abdillah dan Agung Mulyadi ke PSGC Ciamis untuk Babak Playoff Liga 2.

9. Pada akhir Liga 1, Persib terpuruk di peringkat 13.

Screenshot_33

10. Pemain paling banyak tampil : Ahmad Jufriyanto (31 Pertandingan, kurang lebih 2784 menit bermain);

11. Pemain muda paling sering tampil : Fulgensius Billy Keraf ( 24 Pertandingan/ 2 kali starting eleven 22 kali bermain dari bangku cadangan). Henhen Herdiana (23 Pertandingan/ 23 kali starting eleven).

12. Pemain cadangan yang paling sering mencetak gol : Fulgensius Billy Keraf (5 gol).

13. Pemain dengan kedisiplinan terburuk : Vladimir Vujovic ( 9 Kartu Kuning, 1 Kartu Merah), Michael Essien ( 9 Kartu Kuning ).

14. Pemain asing dengan caps terbanyak : Michael Essien ( 22 kali starting eleven, 6 kali bermain dari bangku cadangan)

15. Topscore : Raphael Maitimo ( 9 gol )

Screenshot_32.jpg

16. Top assist : Raphael Maitimo ( 7 Assist )

raphael-maitimo-persib-bandung_nqngq9i0zb2u13q9jyrw7mrqu
Man Of the Season ( 9 goals, 7 assists, 1 hattrick)

17. Pemain tanpa menit bermain : Iman Arif Fadhillah (Penjaga gawang ketiga)

18. Cleansheet : 11 kali Cleansheet .I Made Wirawan ( 2 kali cleansheet dari 10 kali bermain), M.Natshir (9 kali cleansheet dari 24 kali bermain).

19. Rekor Kandang – Tandang Persib :

Screenshot_34

20. Kemenangan terbesar : melawan Persegres (6-0) pada 5 Agustus 2017.

21. Kekalahan terbesar : melawan Madura United (1-3) pada 9 Juli 2017.

22. Back to back kemenangan : Persegres Gresik United ( 0-1 & 6-0)

23. Back to back kekalahan : Perseru Serui (2-1 & 0-2).

24. Back to back imbang : Arema ( dua kali bertemu skor 0-0), Semen Padang ( 0-0 & 2-2).

25. Best Youngster : Fulgensius Billy Keraf

billy_selebrasi_2_kukar_jat

27. Best game (my opinion) : Persib vs PSM Makassar 2-1, 5 Juli 2017.

Ending Liga 1 : Anti Klimaks.

Bhayangkara FC akhirnya menjadi Juara (sementara) Liga 1 Indonesia. Kenapa sementara? Sebab PT. Liga Indonesia Baru (PT.LIB) selaku pengelola Liga 1 belum mengeluarkan pengesahan juara kepada Bhayangkara FC masih menunggu jika Mitra Kukar mau melakukan banding terhadap keputusan Komisi Disiplin PSSI yang memberikan kemenangan kemenangan WO (3-0) kepada Bhayangkara FC karena Mitra Kukar dinilai menggunakan pemain yang sedang dalam hukuman kartu merah yaitu Mohammed Sissoko.

Persaingan tiga besar klasemen Liga 1 musim perdana berlangsung ketat. Sebelum keputusan WO dari Komisi Disiplin untuk Mitra Kukar, pemuncak klasemen adalah Bali United yang bersusah payah mengalahkan PSM Makassar di Stadion Andi Mattalatta pada 6 November yang lalu. Kemenangan Bali United menghentikan ambisi juara PSM Makassar yang sebelum pertandingan memiliki poin yang sama dengan Bali United yaitu 62 poin. Sedangkan saat itu, Bhayangkara FC masih memiliki 63 poin.

Harapan untuk melihat ketegangan penentuan juara hingga pekan – 34 mulai hangus ketika Komisi Disiplin menjatuhkan sanksi kepada Mitra Kukar.  Semakin menjadi abu, ketika dalam pertandingan semalam (8/11) antara Madura United vs Bhayangkara FC di Stadion Gelora Bangkalan Madura, 3 kartu merah diberikan kepada Madura United ditambah 3 gol Ilija Spasojevic maka pertandingan yang dijaga ketat dari luar stadion sampai ruang ganti pemain walau tanpa penonton, menjadi milik Bhayangkara FC. 68 poin untuk bhayangkara FC masih mungkin terkejar oleh Bali United apalagi di partai terakhir Irfan Bachdim dkk. akan menghadapi Persegres Gresik yang pekan lalu dihajar Sriwijaya FC 10-2.

Secara catatan gol, kemenangan dipartai ke – 34 akan menjadi milik Bali United karena mereka adalah tim paling produktif di Liga 1 dengan 73 gol plus striker mereka, Sylvano Comvalius, memecahkan rekor Peri Sandria dengan torehan 35 gol untuk sementara berbanding terbalik dengan Persegres yang menjadi tim dengan pertahanan buruk sudah kemasukan 101 gol.

Namun akhirnya yang “membunuh” harapan Bali United , selain WO Mitra Kukar dan 3 kartu merah untuk pemain Madura United, adalah rekor head to head dengan Bhayangkara FC. Dalam dua pertemuan, Bhayangkara selalu unggul atas mereka (menang 1-3 dan 2-3). Secara aturan jika ada dua tim dengan poin sama maka penentuan peringkat dilihat berdasarkan head to head pertemuan kedua tim, kemudian jika masih berimbang selisih gol yang akan jadi rujukan peringkat.

Mitra Kukar, Sang Penentu

Mau tidak mau, ending liga 1 yang antiklimaks ini menyisakan penyesalan dan banyak pertanyaan mengapa Mohammed Sissoko dimainkan Mitra Kukar ketika melawan Bhayangkara FC. Berikut Kronologis yang dihimpun dari beberapa sumber :

  1. Mohammed Sissoko mendapatkan kartu merah pada saat Mitra Kukar melawan PBFC tanggal 23 Oktober 2017.
  2. Regulasi Liga 1 pasal 57 mengenai sanksi pemain yang mendapatkan kartu merah adalah 1 kali tidak boleh bermain pada pertandingan berikutnya.Berdasarkan aturan tersebut, Mitra Kukar tidak memainkannya pada saat melawat ke Persib Bandung tanggal 27 Oktober 2017.
  3. Sehari kemudian, 28 Oktober 2017, Komisi Disiplin mengeluarkan keputusan bahwa Mohammed Sissoko disanksi 2 pertandingan dan denda Rp.100 juta.
  4. Anehnya, Mitra Kukar mengaku tidak tahu mengenai keputusan ini, karena dalam Nota Larangan Bertanding yang dirilis oleh PT.LIB sebelum laga melawan Bhayangkara FC, hanya Herwin Tri Saputra (Mitra Kukar) dan Indra Kahfi (Bhayangkara) yang dilarang bermain.
  5. Dimainkanlah, Mohammed Sissoko melawan Bhayangkara FC pada 3 November 2017, dengan skor akhir 1-1. Bhayangkara FC ditengarai mengetahui hukuman terhadap Sissoko dan kemudian selepas pertandingan mengajukan protes karena Mitra Kukar memainkan pemain yang sedang menjalani hukuman.
  6. 5 November 2017, Komisi Disiplin mengeluarkan keputusan memenangkan Bhayangkara dengan skor 3-0 karena Mitra Kukar memainkan Mohammed Sissoko.

Sejak keputusan Komisi Disiplin tersebut dirilis, Mitra Kukar diberikan waktu 7 hari untuk melakukan banding. Seyogyanya, banding dilakukan oleh Mitra Kukar karena mau tidak mau, dalam drama ini mereka menjadi lakon.

Apapun hasil banding mereka nantinya, setidaknya ada 1 hal yang dapat terungkap yaitu kurang profesionalnya PT.LIB. Karena Komisi Disiplin telah mengeluarkan keputusan tentang Mohammed Sissoko pada 28 Oktober dan pertandingan digelar 3 November, ada jarak 5 hari yang perlu dipertanyakan kepada PT.LIB kenapa tidak  mencantumkan Mohammed Sissoko di Nota Larangan Bertanding.

Mitra Kukar beralasan bahwa keputusan Komisi Disiplin masuk ke email yang dikelola CEO Mitra Kukar tetapi tidak terpantau dengan kemungkinan ia tengah dalam kesibukan. Apakah alasan tersebut email tidak terpantau juga digunakan PT.LIB ?

Kuda Hitam

Sambil menunggu keputusan dari Mitra Kukar apakah mengajukan banding atau tidak, memang kemunculan Bali United dan Bhayangkara FC kejar mengejar gelar juara diluar prediksi awal musim.

Dua klub yang muncul setelah mengakuisisi klub lain pada tahun 2015 ini ( Bali United mengakuisisi Persisam, Bhayangkara FC mengakuisisi Persikubar) berada diluar peta juara. Bali United yang lebih duluan diperhatikan karena mendatangkan beberapa pemain terkenal seperti Irfan Bachdim dan I Gede Sukadana.

Bhayangkara muncul belakangan ke peringkat atas dimotori eks pelatih timnas Filipina, Simon Mcenemy. Keberhasilan keduanya ke papan atas juga disebabkan ketidakstabilan yang dialami klub – klub langganan peringkat atas pada Liga 1 ini. Hal ini dapat terlihat dari pergantian pelatih klub – klub langganan papan atas tersebut.

PT.LIB Perlu Berbenah

Bukan hanya sekali ini PT.LIB melakukan kesalahan. Pada playoff Liga 2, PSBK Blitar dan Persewangi Banyuwangi adu jotos karena ketidakjelasan PT.LIB. Aturan pemain U-23 yang direvisi, padahal ini sudah merupakan suatu hal yang sangat baik. Sempat tertundanya babak 8 Besar Liga 2.

Dengan kesalahan pada Nota Larangan Bertanding, maka terlihat ada kelemahan administrasi pada PT.LIB yang harus diperbaiki musim depan agar tidak ada antiklimaks lagi.

Oh ya, rasanya Komisi Disipilin pun perlu menyelidiki lebih lanjut kenapa pemain Madura United sampai lepas emosi!!